BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Aku Hamil?


__ADS_3

Detik-detik menuju ENDING NOVEL BUKAN PELAKOR. Jangan lupa untuk selalu LIKE dan tinggalkan KOMENTAR, ya? Bantu VOTE dong yang banyak?


Thank you ...!


_____________________________________________


"Fania."


"Ya."


"Masalah kemarin itu ...."


"Tenang saja, Rud. Aku bisa mengerti, kok."


"Fania, aku ... kemarin ... hanya ingin bilang, bahwa—"


"Bahwa kau tidak mencintaiku, kan? Tidak apa-apa, Rud. Aku tahu kau hanya kasihan padaku. Itulah sebabnya kau menerimaku, kan?"


Rudi meraih jemari tangan Fania. "Bukan begitu."


"Atau karena kau cemburu dan belum bisa move on dari Imania. Jadi, kau menggunakanku sebagai pelarian?" terka Fania.


"Fania ...."


"Tak apa, kok, Rud. Aku bisa mengerti."


Rudi menunduk dengan tangan tetap menggenggam jemari Fania. "Maafkan aku."


"Aku sudah memaafkanmu."


Rudi mengangkat kepalanya, menatap Fania. "Kemarin itu, aku hanya ingin bilang pada Imania, bahwa aku belum bisa move on darinya, tapi aku akan berusaha move on dengan berusaha mencintaimu, Fania."


Fania menarik tangannya dari genggaman Rudi. "Tidak perlu lagi dengan cara seperti itu, Rud. Cinta itu bukan sebuah paksaan. Cinta itu lahir dari keikhlasan hati. Jadi, tidak perlu memaksa dirimu untuk mencintaiku. Itu hanya akan menyiksa perasaanmu, dan juga ... perasaanku."


"Tapi, Fan."


"Rud, carilah wanita yang kau cintai dengan sungguh-sungguh dari hatimu yang terdalam. Jangan sekali-kali menambatkan hatimu kepada hati yang kau paksakan. Itu tidak baik untuk sebuah hubungan." Fania beranjak.


Buru-buru kuangkat kembali majalah, berpura-pura tengah membacanya. Baru pernah aku se-kepo ini terhadap hubungan seseorang. Aku hanya ingin kedua sahabatku itu berbaikan dan saling mencintai.


"Fania," panggil Rudi.


Fania berbalik. "Aku mau pulang. Sudah sore, Rud."


"Biar kuantarkan."


"Boleh," jawab Fania seraya tersenyum.


Mereka berdua pun pamit untuk pulang. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba sebuah paket besar datang. Aku sangat senang melihat isinya adalah sebuah piano. Lagi-lagi Dimas membuat kejutan yang tak kusangka-sangka. Dia bilang, aku bisa memainkannya sewaktu jenuh.


***


Dua bulan kemudian.


Suara detik beker mengalun indah di telinga. Pelan-pelan kelopak mata kantukku terbuka. Kudapati tubuhku yang berada di dalam pelukan suami. Dimas menyadari bahwa aku sudah bangun. Dengan sengaja, ia mengeratkan kembali pelukannya.


"Dimas, kamu bau! Hoek!" Tiba-tiba perutku merasa mual mencium bau badan suamiku.


Dimas membelalakkan matanya yang masih mengantuk itu. Ia menatapku. "Biasanya saja tidak pernah komplain." Dimas mengendus bau tubuhnya. "Biasa saja, kok. Tidak bau," ujarnya.


"Menjauhlah dariku, hoek!" Lagi-lagi aku mau muntah mencium bau tubuhnya.


Aku segera bangkit dan menuju kamar mandi. Kepalaku terasa pusing sekali. Kuambil handuk untuk menyegerakan mandi, menyegarkan tubuh. Usai mandi dan berpakaian rapi, aku turun menuju dapur. Seperti biasa, aku mau memasak.


Sesampainya di dapur, tampak bi Surti tengah mencuci piring.


"Pagi, Bi Sur," sapaku.


"Eh, Mbak Imania. Pagi juga," balasnya.


Aku langsung mengambil bahan-bahan masakan, seperti sayuran, tahu, tempe, daging, dan lain-lain. Anehnya, kepalaku terasa semakin pusing. Berkali-kali aku merasa ingin muntah.


"Mbak Imania terlihat pucat hari ini," ujar bi Surti yang tengah membantuku memotong bahan-bahan.


Kupegang kepalaku. "Sepertinya masuk angin, nih, Bi. Pusing banget."


"Ya, sudah. Biar bibi saja yang masak. Mbak duduk saja, ya? Mbak istirahatlah."


"Ya, Bi." Aku pun duduk di meja makan. Sebenarnya perutku merasa sangat lapar. Padahal ini baru pukul setengah tujuh pagi. Biasanya pukul delapan pagi juga belum sempat ini. Tidak biasanya seperti ini.


Selang setengah jam, beberapa masakan pun matang. Aku sudah tidak sabar ingin menyantapnya. Dimas yang sudah rapi dengan jas dokternya pun menghampiriku untuk sarapan pagi bersama.


"Wah, tumben buru-buru makannya. Biasanya nungguin aku," kata Dimas yang memperhatikanku tengah menyantap makanan. Dimas pun duduk di sebelahku.


"Aku lapar sekali, Sayang. Kepalaku juga sedikit pusing."


"Iya, nih, Mbak Imania masuk angin katanya. Tuh, lihat, mukanya saja pucat," sahut bi Sur.


"Kamu masuk angin?" tanya Dimas dengan mimik khawatir.


"Hanya ... sedikit kurang fit," jawabku, "ayo, Bi Sur, kita makan bersama."


"Saya nanti saja, Mbak. Belum terlalu lapar," jawab bi Surti sembari mengaduk masakan di wajan.


Aku dan Dimas sarapan pagi bersama. Saat aku hampir selesai menghabiskan makanan di piring, tiba-tiba saja perutku kembali mual. Aku segera berlari menuju kamar mandi. Dimas yang ikut panik pun mengejarku. Kumuntahkan seluruh makanan yang barusan kusantap. Setelah tuntas muntahnya, Dimas mengajakku duduk kembali di meja makan.

__ADS_1


"Bi, buatkan teh hangat buat istriku, ya?"


"Siap, Mas!" Bi Sur mematikan kompor dan langsung membuatkanku teh hangat.


"Sayang, biar kuambilkan obat untukmu, ya?"


Aku pun mengangguk. Lalu Dimas mengambilkan obat dan tidak lama ia kembali. Bi Surti juga memberikan teh hangat tersebut padaku.


"Ini, minumlah obatnya." Dimas memberikan obat tersebut padaku.


Aku pun meminumnya.


"Masih pusing banget?" tanya Dimas. "Jika iya, aku tidak akan berangkat ke rumah sakit hari ini. Aku akan menemanimu."


"Pusingnya masih, tapi tidak terlalu. Aku hanya merasa, hoek!" Lagi-lagi aku merasa mau muntah.


Dimas memijat punggungku dengan sangat perhatian.


"Eh, Mas. Jangan-jangan ... Mbaknya hamil," ucap bi Surti tiba-tiba.


"Hamil?" Aku dan Dimas serentak berucap. Kemudian saling pandang.


"Sayang, kamu hamil?" tanya Dimas.


"A-apa ... aku ... aku hamil?" Mengapa aku tidak berpikiran ke situ? Sewaktu mengandung Arka, aku juga sempat mengalami hal semacam ini. Apa ... aku ....


"Lebih baik bawa sekalian istri Mas ke rumah sakit untuk diperiksa," saran bi Surti.


Senyum mengembang tak lekang dari wajah tampannya. Dimas langsung memelukku erat sekali. Kemudian bersimpuh duduk di hadapanku sembari mengelus-elus perutku. "Apakah ... ya Tuhan, semoga ini benar. Ayo kita periksa, Sayang."


***


Sesampainya di rumah sakit, Dimas membawaku ke poli kandungan. Sejak berangkat menuju rumah sakit, Dimas sudah tidak sabar ingin mendengar pernyataan dari dokter. Jadi, dengan kurang sopan, Dimas tidak mau mengantri dan langsung mengajakku masuk ke ruang pemeriksaan.


Lebih ribet lagi, Dimas tidak mau dokter yang memeriksaku laki-laki, jadi, untuk dokter spesialis kandungan, dia sendiri yang memilih. Setelah menunggu beberapa menit, Dokter Susi datang dan memeriksaku. Aku disuruhnya untuk melakukan testpack.


"Bagaimana hasilnya, Dokter Susi?" tanya Dimas yang sedari tadi gelisah menanti pernyataan dari dokter Susi.


Wanita berperawakan sedang tersebut tersenyum. Kemudian berkata, "Selamat, istrimu tengah mengandung, Dokter Dimas."


"Istriku hamil?" Dimas membelalakkan kedua matanya tak percaya.


"Iya, istrimu hamil. Selamat."


Betapa bahagianya mendengar kabar ini. Dimas menciumi pipiku berkali-kali di depan dokter Susi. Kemudian menciumi perutku. Dokter Susi hanya tersenyum geli melihat tingkah Dimas.


Untuk memastikan lagi, dokter Susi mengajakku untuk melakukan USG. Setelah itu, ia memberikan vitamin untukku. Wanita yang kuperkirakan usianya adalah kepala empat itu juga memberikan anjuran dan larangan yang harus dipatuhi oleh seorang ibu hamil. Meskipun sebenarnya, aku juga sudah tahu, karena ini bukanlah kehamilan pertamaku, tapi kedua.


***


Dimas membelikanku banyak sekali susu dengan berbagai rasa, seperti vanila, coklat, strawberry, mocca, dan kacang hijau. Setelah itu kami keluar dari supermarket.


"Hai, Dimas!" seru seseorang yang membuat kami terkejut.


"Ra-Ratna," ucap Dimas ketika mendapati seorang wanita yang berada tidak jauh dari kami.


Wanita itu menghampiri kami. "Wah, kita ketemu lagi. Apa kabar?" Dia mengulurkan tangannya kepada Dimas.


Dimas pun menyambutnya. "Baik."


"Kau ... habis belanja, ya?" Ratna melirik ke arah belanjaan yang Dimas bawa.


"Iya, istriku hamil. Kami habis beli susu," jawab Dimas.


"Wah, cepat sekali hamilnya. Dan itu


... banyak sekali susunya."


"Biar istriku tidak bosan dan bisa minum susu bergonta-ganti rasa."


"Ah, kamu, mah, bisa saja. Seperti pasangan saja, ya, bisa gonta-ganti biar enggak bosan," ujar Ratna sembari mengedip-ngedipkan matanya kepada Dimas.


"Bagiku, wanita itu cukup satu. Asal selalu romantis. Kita tidak akan pernah bosan," tutur Dimas.


Segera kukalungkan lenganku ke lengan Dimas. Aku bergelayut manja di lengannya. "Ayo, Sayang kita pulang."


"Iya, Sayang, ayo."


Aku dan Dimas pun beranjak menuju mobil. Dimas membukakan pintu mobil tersebut untukku. Aku pun segera masuk ke dalam mobil.


"Dimas!" seru wanita itu lagi.


Dimas menoleh. "Apa lagi?"


Ratna menghampiri Dimas yang akan naik ke mobil. "Kamu, kok, gitu?"


"Ada apa, sih? Aku mau pulang. Istriku mau istirahat."


"Jangan cuek gitu, dong? Masak kita hanya bisa romantis di chat? Aku sudah kasih kamu foto-foto seksi, loh? Kurang apa coba. Aku, tuh, pengen kita ngobrol langsung tahu?" Ratna bergelayut di lengan Dimas.


Dimas segera mengempaskannya. "Apa-apaan, sih. Ada istriku saja kamu seberani ini. Minggir!"


"Dimas, tunggu!" Ratna menahan lengan Dimas.


Membuatku tak sabar untuk turun. Aku pun turun dan menghampiri wanita murah*n itu.

__ADS_1


Plak!


Kutampar pipinya. Ratna sangat terkejut melihat apa yang kulakukan. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal. Mungkin, dia ingin membalas menamparku.


"Wanita gatel! Murah*n!" dampratku kesal. "Dasar tidak tahu diri! Dia itu suamiku!"


Saat Ratna akan melayangkan tamparan ke wajahku, Dimas segera mencekal pergelangan tangannya. "Apa-apaan kamu! Jangan menyentuh istriku!" Dia pun mengempaskan tangan Ratna.


"Kamu jahat, Dim. Kamu tidak seromantis saat di chatting!"


"Suamiku tidak pernah chatting denganmu! Ingat itu!" omelku.


Dia menertawaiku. "Asal kamu tahu, ya. Kami setiap hari chatting. Bahkan dengan kata-kata yang sangat romantis dan vulgar. Kau pikir, suamimu sesetia itu padamu? Kau sudah dibohongi!"


Plak!


Aku kembali menamparnya. "Aku peringatkan kembali! Suamiku tidak pernah chatting denganmu! Kalau kamu berani menggodanya lagi, aku tidak segan-segan untuk membotaki rambutmu!"


Ratna hanya bergeming. Ia tampak sangat marah. Dimas membawaku untuk masuk ke mobil. Dan saat Dimas akan masuk kembali ke mobilnya, tiba-tiba saja Ratna memeluknya.


"Kamu ini apa-apaan, sih. Kamu gila, ya?"


"Iya, Dimas. Aku sudah tergila-gila padamu." Tiba-tiba Ratna mencium pipi Dimas.


"Ratna! Jangan kurang ajar! Aku tegaskan! Aku tidak pernah chatting denganmu. Jika tidak percaya, silakan saja hubungi nomorku."


Ratna mengambil handphone-nya, lalu menghubungi sebuah nomor. Dimas menyodorkan layar handphone-nya di depan wajah Ratna. Ratna begitu terkejut, karena handphone milik Dimas tetap tenang, tidak berbunyi sedikitpun.


"Lalu ... nomor yang kamu berikan padaku itu nomor siapa?"


"Kenapa tidak tanya saja sendiri saat chatting?"


Ratna menatap Dimas dengan sangat kesal. Sedangkan Dimas masuk dan menghidupkan mobilnya. Kami pun segera pulang. Di perjalanan kami berbincang membahas Ratna.


"Sepertinya Parmin belum ketahuan. Ratna masih menganggap teman chatting-nya itu aku."


"Itu salahmu. Bagaimana rasanya dicium sama Ratna?"


"Tidak enak. Lebih enak kalau kamu yang cium."


"Dia itu kenapa, sih, ganjen banget sama kamu. Sudah tahu aku istrimu. Masih saja mengganggu!"


"Sudah, Sayang. Jangan emosi begitu. Nanti dede bayinya ikut emosi. Tidak baik untuk ibu hamil. Tadi, sudah dengar, kan, dokter Susi bilang apa? Mood ibu hamil harus baik supaya pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan juga bagus." Dimas menasehatiku sembari menyetir mobilnya.


***


Hari selanjutnya.


Kukucek kedua mataku. Sinar mentari pagi yang memaksa menerobos masuk lewat gorden jendela, menggugah kesadaran bahwa lagi-lagi aku telat bangun. Padahal, aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku. Lebih terkejut lagi ketika kedua mata ini tak mendapati suamiku tidur di sisiku.


Klek! Pintu kamar terbuka.


"Selamat pagi, Sayang," ucap Dimas yang masuk dengan membawa nampan berisi segelas susu.


"Aku bangun kesiangan lagi," ujarku panik. "Maafkan aku ...."


"Kau memang seharusnya banyak istirahat. Aku sudah membuatkan susu untukmu. Cucilah mukamu, lalu minum susu ini," katanya sembari meletakkan segelas susu di atas meja.


"Apa kau sudah mandi?" tanyaku yang melihatnya telah rapi dengan jas kedokterannya.


"Jangan khawatirkan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau hanya perlu mengkhawatirkan dirimu sendiri serta bayi yang ada di dalam rahimmu."


Aku tersenyum. "Kau perhatian sekali."


Aku pun beranjak ke kamar mandi, mencuci muka dan membersihkan diri. Usai mandi, aku yang masih memakai handuk kimono pun segera menghampiri segelas susu hangat yang dibuatkan oleh suamiku, lalu duduk di tepi ranjang dan meminumnya.


Dimas kembali masuk ke dalam kamar. Ia duduk di sampingku dan menyodorkan semangkok bubur untukku. "Makanlah ini selagi hangat."


Aku menatapnya sesaat. Dimas meraih gelas kosong dari tanganku dan meletakkannya kembali ke atas meja. Kemudian menyendok bubur tersebut dan meniupnya. "Buka mulutmu."


Aku yang masih menatapnya bergeming pun membuka mulut perlahan. Dimas menyuapiku, memperlakukanku bak anak kecil saja. Baru pernah aku diperlakukan seperhatian ini oleh seorang suami. Saat hamil pertama, mas Bastian saja tidak memperlakukanku seperti ini.


"Bagaimana rasanya? Enak?"


Aku mengangguk. "Bi Sur yang buat bubur?" tanyaku.


"Bukan. Aku membuatnya sendiri," jawabnya.


"Serius?"


"Tadi pagi aku browsing di internet. Tapi didampingi bi Sur, ha-ha."


"Terima kasih banyak," ucapku terharu.


"Apa perutmu masih mual?"


"Kadang-kadang masih. Tetapi sudah lebih enakan."


"Tidak apa. Itu wajar kata dokter Susi."


Dimas benar-benar memperhatikanku seperti orang yang baru pertama hamil. Padahal aku sudah tahu bahwa ini namanya 'morning sickness'. Gejala mual dan muntah yang biasa dialami oleh ibu hamil saat trimester pertama kehamilan.


Usai menyuapiku, Dimas pamit untuk berangkat bekerja. Ia pun tidak lupa berpesan, "Jaga kesehatan dan jangan melakukan aktivitas yang membuatmu kelelahan, ya, Sayang." Dimas mengecup keningku.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2