
Menikah.
Siapa yang tidak ingin menikah?
Ya, setiap wanita tentu ingin menikah.
Dan ini adalah pernikahan ke-dua untukku dan terakhir.
Aku tidak pernah mendambakan untuk menggelar pesta pernikahan yang mewah. Bagiku, cukup bersama pilihan yang tepat, itu sudah dambaan wanita sepertiku.
Namun hari ini, semua tampak gemerlap, mewah, indah, dan mengagumkan. Acara pernikahan digelar di sebuah hotel bintang lima. Segalanya telah didekorasi semegah istana.
Hari ini aku semakin yakin, mau sekeras apapun kehidupan, seberat apapun cobaan, dan sepahit apa itu ujian. Asal kita ikhlas menjalaninya. Tetap mengagungkan nama-Nya. Selalu sabar dan istiqamah. Segalanya akan indah pada waktunya. Karena sesungguhnya, mau seindah apapun rencana kita, yang hakiki adalah rencana Tuhan.
Kita tentu pernah melawan dan membenci takdir. Pada akhirnya, takdir harus diterima. Suka ataupun tidak, bahagia ataupun tidak, kita harus ikhlaskan atas kehendak-Nya. Dan aku sangat bahagia dengan kehendak Tuhan, bahwa Dimas adalah takdirku.
Perjuangan berliku yang kami lewati tidaklah mudah. Aku bukan Tuhan, yang mampu menciptakan skenario sendiri. Namun, aku selalu percaya bahwa skenario Tuhan selalu indah. Asal selalu berada pada jalur yang benar, segalanya akan mudah. Dan jalur tersebut adalah tergantung pada pilihan diri sendiri.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Aku tengah duduk di depan cermin. Penata rias tengah meriasku. Gaun berwarna putih nan indah telah melekat di tubuhku. Gaun yang diberikan oleh Nessa untukku. Dari ujung rambut hingga kaki, semua terlihat sempurna. Mereka yang mengurus penampilanku, berusaha mengindahkan diriku semaksimal mungkin. Hingga aku sendiri terkagum dengan hasil riasan tangan mereka.
"Kau sangat ... dan sangat ... cantik," ucap Anpa Suha padaku.
Kalian tahu Anpa Suha? Dia penata rias yang sangat famous. Dia juga khusus didatangkan oleh keluarga Wibowo untuk meriasku. Riasan tangannya tak dapat diragukan lagi. Dia sudah begitu lihai dalam hal merias wajah. Bahkan, para artis pun sangat mendambakan riasannya. (Penasaran? Silakan browsing sendiri. Ha-ha)
"Kau bagai bidadari, Babe," puji Anpa Suha lagi.
"Ini semua berkat kau," balasku.
"Secara natural, kau memang sudah cantik. Dirias, makin cantik banget, deh."
Sepanjang merias wajah, Anpa Suha mengobrol denganku. Dia cukup mengasyikkan. Dan ... selesai. Aku berdiri, lalu kembali melihat diriku di cermin. Kuputar tubuhku sedikit. Aku sangat puas dengan hasil riasan kak Anpa.
"Luar biasa! Kau cantik sekali." Fania menghampiriku.
"Kau juga sangat cantik," balasku memuji.
__ADS_1
"Dimas pasti akan sangat terpesona padamu."
"Rudi juga akan terpesona melihat dirimu hari ini."
"Hm ... aku tidak yakin. Aku juga belum bertemu dengannya."
Fania tampil sangat cantik hari ini. Ia memakai gaun selutut berwarna kuning yang sangat indah dan cocok di tubuhnya.
"Acara akan segera dimulai. Mari bersiap!" Salah seorang wedding organizer datang dan memberitahu kami.
Aku dituntun menuju tempat acara. Sebuah lagu piano mengalun indah sekali menyambut kedatanganku. Semua mata tertuju padaku. Hingga mataku dipertemukan dengan sepasang mata elang, yang menatapku hampir tak berkedip.
Arka ... hari ini mama akan menikah. Kuharap ... Arka suka dengan pilihan mama dan merestui mama. Apa kabarmu di surga sayang? Semoga Arka turut berbahagia menyaksikan mama yang sangat bahagia ini. Doa terbaik untukmu sayang. Doakan mama juga, agar di kehidupan selanjutnya akan selalu merasai bahagia, seperti hari ini. Mama selalu sayang Arka ....
Langkah kaki ini pelan-pelan sampai padanya. Sampai di singgasana raja dan ratu sehari. Dimas menyambutku dengan senyuman yang juga tak lepas dari wajah tampannya. Kami pun duduk berdampingan bak raja dan ratu.
Vanessa ... semoga kau merestui hubungan kami. Bagaimanapun, kau telah turut andil dalam penyatuan kami. Kau harus pergi, sehingga aku dapat menggantikanmu berada di sisi Dimas saat ini. Seandainya tidak, mungkin kaulah yang berada di sisi pangeran elangku. Terima kasih atas gaun yang sangat indah ini. Tentu ini sangat mahal. Namun takkan semahal keikhlasanmu merelakan kami bersatu. Semoga kau telah tenang dan damai. Doa terbaik untukmu. Terima kasih sekali lagi atas segalanya ....
Acara dimulai. Meski wajahku tersenyum, tapi sejujurnya, diri ini tak lepas dari perasaan gugup. Bagaimana tidak? Semua mata seakan tengah menyoroti kami.
"Sayang, kau sangat cantik," puji Dimas yang duduk di sampingku.
Kedua mata kami saling bertemu sesaat. Ada pancaran sinar yang lembut dari kedua bola mata elangnya. Cahaya itu seakan masuk ke bola mataku dan menelusup sampai ke hati. Dia tampak lebih gagah dan karismatik dari hari-hari biasanya. Mungkin karena aura pengantin baru. Orang bilang, aura pengantin memang akan terpancar dan terlihat lebih bersinar.
"Eghem!" Sang penghulu tiba-tiba berdehem. Membuat mata kami segera focus kembali kepada sang penghulu.
"Mohon bersabar. Tunggu, sebentar lagi juga halal, kok," lanjut pak penghulu menggoda kami. Membuat wajahku semakin bersemu merah.
"Mempelai pria, apa kau sudah siap?"
"Sangat siap!" jawab Dimas semangat sekali.
"Baik. Mempelai wanita, apa kau juga sudah siap?"
"insyaAllah siap!" Aku turut menjawabnya dengan semangat.
"Wah, sepertinya keduanya sangat bersemangat. Kuperhatikan tatapan kalian itu very ... very hot and smooth. Pasti sudah tidak sabar untukโ" Pak penghulu menjeda perkataannya, sembari tersenyum geli melihat antusias kami.
__ADS_1
"Untuk apa, Pak Penghulu?" tanya Dimas dengan polos.
"Untuk ... ha-ha, untuk segera melakukan ijab kabul maksudku," katanya sembari tertawa.
Sebagian orang yang menyaksikan pun ikut tertawa melihat kekonyolan sang penghulu. Perasaan dulu, sewaktu bersama mas Bastian, penghulunya tampak sangat serius. Kali ini, penghulunya justru tampak sangat gaul dan konyol. Bila diperhatikan, penghulunya ini sangat mirip dengan ustaz Solmed. Apa ... beliau kembarannya? Kok mirip sekali? (Ha-ha, Author, mah, bebas menghalu. Wkwk)
"Baik, mari kita mulai," ucapnya mulai serius. "Eghem!" Ia mulai mempersiapkan nada bicaranya.
Pak penghulu mulai memberi petunjuk kepada Dimas. Setelah usai menjelaskan tentang bagaimana cara ijab dan kabul, beliau langsung memulai dengan menjabat tangan Dimas.
"Bismillahirrahmanirrahim." Pak penghulu menatap Dimas serius. "Saya nikahkan Engkau, Dimas Adi Wibowo bin Adi Wibowo, dengan Ananda Imania Saraswati binti Abdul Aziz dengan mas kawin surah Ar Rahman, perhiasan berlian, dan sebuah mobil Lamborghini Aventador. J, dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya, Imania Saraswati binti Abdul Aziz, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?" tanya pak penghulu.
"Sah!" Serentak para saksi menjawab.
"Alhamdulillah ...."
Tangis haruku pecah. Betapa bahagianya hari ini. Tuhan telah mengabulkan keinginan kami untuk bersatu dalam sebuah ikatan halal. Bukan tentang seberapa besar mahar yang diberikan Dimas untukku. Aku hanya meminta mahar surah Ar Rahman dari Dimas. Mahar yang lainnya itu, murni dari keinginan Dimas.
Tangis haru kami seisi ruangan semakin pecah ketika mendengar Dimas melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an sebagai mahar untukku. Dimas melafalkan surah Ar Rahman dengan sangat indah. Bahkan, pak penghulu yang sangat mirip dengan ustaz Solmed pun ikut menangis tersedu-sedu.
Aku merasa bagaikan wanita paling beruntung di muka bumi. Seiring Dimas membacakan ayat-ayat suci, aku berdoa agar keluarga kami selalu harmonis dan terselimuti kebahagiaan. Semoga ... kehidupan kami menjadi sakinah, mawadah, warahmah, aamiin.
Usai melafalkan surah Ar Rahman, pak penghulu memberikan petuahnya kepada kami, tentang kehidupan berumah tangga, sebagai suami dan istri yang baik.
Aku dan Dimas mendengarkannya dengan seksama. Tiba-tiba Dimas meraih jemariku, menggenggamnya erat. Aku pun tersenyum malu-malu padannya. Dimas terus memandangiku.
"Eghem! Mohon bersabar. Sebentar lagi, ya? Sepertinya mempelai pria sudah tidak sabar. Apakah itunya sudah berdiri?" Lagi-lagi pak penghulu menggoda kami. "Maksud saya, apakah kalian sudah lelah duduk? Dan tidak sabar untuk berdiri? Maaf, jangan salah paham."
Begitulah kekonyolan sang penghulu. Acara pun selesai dengan lancar.
***
Masih dengan gaun pengantin lengkap, aku dan Dimas akan langsung pergi honeymoon ke Bali. Dimas sudah menyiapkan pesawat untuk menuju sebuah tempat. Semua berkumpul untuk mengucapkan selamat bersenang-senang kepada kami.
__ADS_1
Pernikahan adalah sebuah penyatuan dua insan yang saling mencintai. Kami terikat dalam sebuah janji suci di hadapan Tuhan. Bukan tentang seberapa meriah dan mewahnya pesta, tetapi seberapa berartinya hari ini untuk dapat selalu dikenang. Sebab sebelum hari ini terjadi, kami harus melewati beberapa ribu hari, mendaki setiap ujian dan berbagai cobaan di dalam kisah cinta yang rumit. Terima kasih atas kuasa-Mu Allah SWT. Yang telah menyatukan kami dalam ikatan halal.
-- BERSAMBUNG --