BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Berangkat Ke Puncak


__ADS_3

"A-aku ... aku ... aku ...."


Mas Bastian menggenggam jemariku. "Ada apa? Katakan saja," katanya lembut.


Aku menatap wajah mas Bastian. Senyumnya masih terus mengembang. Aku merasa tidak tega menanyakan hal ini. Ini adalah hari anniversary kami. Apa aku harus menggagalkan moment indah kami, hanya sebab ego. Akan tetapi, aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Bahwa aku masih penasaran dan menaruh curiga, tentang apa yang mas Bastian lakukan di belakangku selama ini.


"Aku ... aku mau." Hanya itu yang terlontar dari mulutku. Melihat binar di matanya, seakan membuatku ragu, untuk tidak mempercayainya. Bukti memang sudah ada. Namun, mungkin saja itu dulu, sekarang ... mungkin mas Bastian sudah tidak melakukannya lagi. Lagi pula, jika itu benar, dan masih dilakukannya sampai sekarang. Mana mungkin dia mempedulikan liburan berdua bersamaku?


Mas Bastian menyambut jawabanku dengan pelukan. Perlahan ia dekatkan bibirnya, menyentuh bibir ini lembut. Aku hanya diam tanpa mengimbangi sentuhan bibirnya. Sejujurnya, aku masih terbawa dilema. Sehingga aku hanya pasrah menerima sentuhan-sentuhan lembut darinya.


Dibaringkannya perlahan tubuhku ke sofa. Sentuhan bibirnya semakin terasa hangat. Aliran napasnya mulai memburu. Jemari itu mulai turut membelai lembut. Ditariknya pelan jilbab yang masih menutupi kepalaku. Aku hanya pasrah, meski dalam perasaan yang entah. Aku masih berusaha mempercayainya.


Saat tangannya mulai menyentuh kancing bajuku, tiba-tiba terdengar suara Arka memanggil. Mas Bastian pun segera menghentikantikan dirinya.


"Kita lanjutkan besok, ya, Sayang," ucap mas Bastian seraya tersenyum nakal.


Sudah tiga tahun kami menikah, tetapi aku masih tersipu malu untuk melakukan hal itu. Aku pun beranjak dari sofa, membenahi pakaian, kemudian menuju kamar.


"Mama?" panggil Arka.


"Iya, Sayang," jawabku, lalu tidur bersamanya.


***


Keesokan paginya, aku mulai mempersiapkan barang-barang untuk dibawa menginap ke villa. Royal Tulip Gunung Geulis Resort Megamendung, yang bertempat di Bogor menjadi tujuan kami. Itu villa pilihan mas Bastian. Katanya, villa tersebut sangat asri dan menyajikan pemandangan yang sangat indah.


"Halo?" Mas Bastian mengangkat sebuah panggilan di handphone-nya.


"Oh, tiga hari aku mengambil cuti. Jadi, aku tidak masuk kerja. Aku sudah izin pada ayahmu." Mas Bastian menjawab suara seseorang di seberang telepon.


"Iya. Ini hari istimewa kami. Kami akan merayakan anniversary di puncak Bogor," katanya lagi.


"Iya, kami akan berangkat dua jam lagi."


Setelah selesai berbicara, mas Bastian pun menutup teleponnya.

__ADS_1


"Siapa, Mas?" tanyaku sembari melipat pakaian untuk dimasukkan ke dalam koper.


"Oh, itu, Dimas yang meneleponku."


Deg! Mendengar namanya saja, sontak membuat jantungku berdebar. Sudah lama dia tidak muncul. Sejak kejadian terakhir itu, usai aku menamparnya. Kuharap dia benar-benar sudah kapok.


"Selesai!" ujarku bersemangat.


Arka dijemput neneknya--ibu mertuaku. Dengan berat hati, aku menitipkannya pada ibu mertua.


"Kalian memang harus sesekali berlibur berdua. Bukankah Iyan selalu sibuk bekerja? Waktu kalian untuk berpacaran setelah menikah pasti akan sangat sulit. Terlebih ada Arka, yang setiap malam akan mencuri waktu Ima. Sangat bagus jika kalian menghabiskan waktu berdua," kata Ibu mertua seraya tersenyum. "Jangan khawatirkan Arka. Dia aman bersamaku. Tenang saja!"


Iyan adalah panggilan kesayangan ibu pada suamiku.


"Terima kasih, Bu," ucapku.


Mas Bastian pun mengantar Ibu dan Arka terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, mobilnya kembali. Kami bersama memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi. Kami pun siap untuk berangkat.


Sebuah mobil hitam yang kukenal, tampak masuk ke halaman rumahku. Mobil itu pun berhenti, tepat di sebelah mobil kami. Jantungku mulai berdebar lagi. Untuk apa dia ke sini? Bukankah dia tahu, bahwa kami akan pergi? Yang lebih membuatku terkejut. Dimas turun dengan Nessa, seraya membawa koper masing-masing.


"Menurutmu?"


"Kau dan Nessa akan turut kami ke villa?" tanya mas Bastian dengan tatapan melebar.


"Tentu. Kami jarang liburan. Tak ada salahnya kan, sesekali menghabiskan waktu berdua," jawab Dimas seraya tersenyum.


"Hai, Ima?" sapa Nessa.


"Hai, Ness."


"Arka tidak ikut?"


Aku menggeleng seraya melempar senyum.


"Ah, maaf, ini liburan honeymoon kalian untuk merayakan anniversary, ya? Kita akan double date, kalau begitu," ujar Nessa bersemangat.

__ADS_1


Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Kenapa mas Bastian tidak bilang jika mereka akan ikut? Apa ini sebuah kejutan? Jika saja tahu, tentu aku akan langsung menolaknya. Aku tidak akan menyetujui semua ini.


Mereka pun masuk di jok belakang mobil kami. Sedangkan aku menahan lengan mas Bastian.


"Mas! Kenapa kamu tidak memberitahukan ini terlebih dahulu padaku?" tanyaku lirih, agar tidak terdengar Dimas dan Nessa.


"Ini di luar rencana. Dimas mengatakan untuk ikut, setelah meneleponku tadi. Kukira dia bercanda. Tidak menyangka, dia serius."


Aku melenguh kesal. Kemudian masuk ke mobil bersama mas Bastian. Mengapa mereka harus semobil dengan kami? Bukankah mereka juga membawa mobil?


"Maaf, tak apa kan, kami semobil saja dengan kalian?"


"Tak apa. Ini pasti menyenangkan, Di. Santai saja." Mas Bastian menimpali.


Aku hanya diam, sambil berharap, Dimas tidak akan mengacau lagi!


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Setelah ini, akan lebih seru. Apakah Dimas akan mengganggu liburan Imania dan suaminya? Atau Dimas memang ingin menghabiskan liburan berdua bersama Nessa?


(Ini bukan pertanyaan give away, ya?)


a. Dimas sengaja ikut untuk mengacau.


b. Dimas ingin berduaan dengan Nessa.


c. Dimas ingin double date.


d. Dimas sudah move on dari Imania.


Tulis jawaban kalian di kolom komentar, ya?


Jangan lupa LIKE, FOLLOW, COMENT, dan VOTE ya?

__ADS_1


Salam Sayang dari Author Keceh .... đź’–


__ADS_2