
Fania terlihat sangat kaget melihat wajah Dimas.
"A-aku mau ke toilet sebentar!" Fania langsung berdiri. Masih dengan makanan yang memenuhi mulutnya. Dia ingin melarikan diri dari Dimas. Tapi Dimas segera beranjak dan menahan lengannya.
"Kau mau ke mana? Dasar pencopet!"
"Pencopet?" Aku sangat terkejut mendengar pernyataan Dimas. Fania pencopet?
"Iya. Dia yang mengambil dompetku waktu itu. Saat itu aku sedang mabuk. Dan dia menghampiriku. Dia pura-pura jatuh, lalu aku menolongnya. Dan saat itu pula, uang di dompetku hilang. Kejadiannya adalah sebelum aku menghajar Bastian waktu itu!" papar Dimas.
"Benarkah itu Fania?" tanyaku.
"Bukan! Bukan aku!"
"Sudah jelas itu kau! Kalau kau bukan pengecut, akui saja!" terka Dimas.
"Dimas, biarkan dia duduk."
Dimas pun melepaskan Fania. Fania duduk kembali di sebelahku.
"Aku menyesal sudah mengikutimu ke sini!" sesal Fania.
Kuhadapkan tubuhku pada Fania. "Fania ... apa susahnya meminta maaf? Dia juga tidak akan memenjarakanmu," kataku.
"Siapa bilang? Aku tetap akan memenjarakannya!"
"Di!" sergahku.
Aku pun kembali menatap Fania yang masih terlihat ketakutan. "Ayo, meminta maaf itu mudah, bukan? Tidak akan menguras energimu juga." Aku berusaha menyarankan.
"Baiklah! Maaf ...," ucap Fania tanpa menatap mata dokter elang tersebut.
"Tidak bisa! Aku akan tetap menghukummu!"
Fania pun mulai kesal. "Aku sudah meminta maaf, bukan? Aku mau pergi!"
"Fania? Berapa banyak uang yang kau ambil darinya?" tanyaku.
"Lima juta!" jawabnya.
__ADS_1
"Lima juta?" Aku mengulangi jawaban Fania.
Fania mengangguk. "Tapi aku mengembalikan dompetnya. Aku hanya mengambil uangnya!" Fania pun mengakuinya.
"Sekarang, kembalikan uangnya, ayo!" Dimas mengulurkan tangannya pada Fania.
"Tidak ada! Aku tidak punya uang!"
"Fania, bukankah kau juga punya mobil. Hidupmu kecukupan. Pakaian yang sering kau pakai juga, bukan pakaian yang murah. Mengapa sampai harus mencopet?"
Fania menunduk dalam, kemudian berkata, "Mobil itu milik pacarku. Pakaian yang kukenakan juga dari uang pemberian pacarku. Biaya hidup dan makan, juga dari pacarku."
Dimas tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. "Jadi, karena pacarmu tak memberimu uang lagi, lantas kau mencopet?"
"Dimas! Jangan begitu!"
Aku menatap gadis alien ini iba. Entah mengapa aku merasa sedikit kasihan padanya.
"Aku akan menggantinya kapan-kapan!" tukas Fania.
"Kapan-kapan? Kapan-kapan itu kapan?"
"Baiklah, kupegang janjimu! Jika sampai kau tidak melunasinya, aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancam Dimas.
Mereka pun menjabat tangan. "Deal!"
Kami kembali melanjutkan makan. Fania terlihat tidak seperti biasa. Dia tampak lebih diam. Mungkin, dia masih memikirkan ucapan Dimas. Padahal aku yakin, Dimas hanya mengerjainya. Lagi pula, uang lima juta bagi Dimas, tentu bukanlah apa-apa.
Pukul lima lebih seperempat, kami pun pulang. Di dalam mobil, aku menginterogasi Fania dengan berbagai pertanyaan.
"Fania! Apa kau sering melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Mencopet!"
"Iya," jawabnya jujur. "Tapi mulai sekarang, aku tidak akan melakukannya lagi."
"Mengapa harus mencopet? Mengapa kau tidak mengambil sebuah pekerjaan saja?"
__ADS_1
"Aku hanya lulusan SMA. Aku sudah pernah bekerja, dan itu adalah sebagai sopir taksi online. Dan aku mengalami kejadian buruk. Aku hampir mengalami pemerkosaan. Untung aku diselamatkan, dan itu oleh laki-laki yang sekarang menjadi pacarku. Sejak saat itu, aku tidak mau bekerja lagi," jelas Fania.
"Lalu, setelah itu ... kau hanya mendapatkan uang dari pacarmu?"
"Ya. Itupun setelah aku melayaninya. Jika tidak, aku tidak mendapatkan uang," katanya seraya tersenyum samar.
Aku sangat sedih mendengarnya. Tetapi aku tidak ingin terlalu ikut campur ke dalam kehidupannya saat ini. Aku sendiri tidak banyak tahu tentang seluk beluknya. Dia seperti seorang alien, yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kemudian menjadi sering mengunjungiku. Ini terasa aneh, tapi aku menyukainya. Gadis alien yang blak-blakan dan penuh misteri di balik keceriaannya.
"Jadi ... sejak kau sering menemuiku, itu berarti, kau tidak melayani pacarmu, kan?"
"Sejak bertemu kau di water park waktu itu, entah mengapa, aku ingin berubah. Aku ingin memperbaiki kehidupanku. Aku ingin menjadi wanita baik-baik sepertimu. Jadi ... itulah alasannya, mengapa aku sering mengunjungimu dan numpang makan di rumahmu, ha-ha ...!"
Aku terenyuh sekali mendengar kejujurannya. Aku pun menyentuh pundak Fania. "Kau boleh makan sepuasnya di rumahku. Bahkan, kau juga boleh tinggal di rumahku!"
Dia hanya melempar senyum padaku.
Kami pun sampai di rumah. Aku meminta Fania untuk tinggal di sini, tapi Fania menolak. Dia bilang akan sering-sering mengunjungiku. Fania pun pamit pulang.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Uhuw! Sudah mulai respeck-kah Readers Tersayang dengan sosok seorang Fania?
Masih banyak kejutan dan misteri di balik sosok Fania, loh?
Ikuti terus perjalanan hidup mereka, ya?..
Jangan lupa FOLLOW ✓ Karena Author Keceh akan menghadirkan novel terbaru selanjutnya. Jadi, wajib Follow, ya? Supaya enggak sampai ketinggalan. Setelah novel ini END tentunya.
Jangan lupa LIKE✓ Kalau kalian suka dengan novel BP ini, tinggalkan jejak jempol kalian, donk?
Jangan lupa COMENT ✓ Karena Author juga suka, loh, baca komentar-komentar kalian yang gemesin banget! Author suka senyum-senyum sendiri kalau baca komentar fanatik kalian. Jadi makin semangat, deh, nulisnya.
Jangan lupa VOTE ✓ Voting kalian ini sangat berharga bagi Author untuk mendukung karya ini. Author berharap, karya ini dapat digemari banyak orang, sekaligus dapat dicintai para Readers Tersayang.
Dan jangan lupa KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA ✓ Bantu Author menaikkan RATING ya?
Thank You So Much All ...? 💖
__ADS_1