BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Tulisan Hati Fania


__ADS_3

Aku bangun dengan kepala yang terasa pening. Kukerjap-kerjapkan mataku. Oh, rumah pun terasa berputar-putar. Tubuhku terasa lemas. Tapi aku harus berangkat ke kantor. Sebentar lagi sekertaris Ve akan menjemputku.


Tiba-tiba aku teringat akan foto yang semalam kulihat. Foto dan buku tersebut masih berada di atas kasur. Sepertinya aku lupa memasukkannya kembali ke dalam tas. Seingatku, semalam aku berpikir untuk mencari sesuatu di dalam lemari yang berisi pakaian Fania.


Aku segera bangkit, berjalan sempoyongan menuju lemari. Kubuka lemari tersebut, mencoba mencari sesuatu. Kuambil beberapa pakaian Fania dan meletakkannya di keranjang pakaian. Satu per satu pakaian Fania kuselidiki. Akan tetapi, dari sekian banyak pakaian, tidak kutemukan ada sesuatu yang kucari di sana.


Apa mungkin Fania membawa foto tersebut. Akan tetapi, kenapa, ya, rasanya aku perlu menyelidiki Fania? Padahal sesungguhnya, itu privasi Fania. Namun, apa salahnya mengetahui tentang seluk-beluknya? Saat ini Fania sedang terjerat masalah. Siapa tahu ada orang terdekat, semisal keluarganya yang turut mengkhawatirkan atau mencari keberadaan Fania.


Dengan kepala yang terus berdenyut-denyut, aku kembali menghampiri foto yang tergeletak di atas kasur. Aku memperhatikan secara seksama, dua wajah yang berada di dalam foto itu. Mata Fania ... mata Fania mirip dengan mata seseorang. Hidungnya, bibirnya, itu mirip sekali dengan wajah seseorang. Tapi siapa? Aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana?


Oh ... dalam keadaan kepala sepusing ini, aku tidak bisa berpikir jernih. Kuletakkan kembali foto itu. Kuambil buku tersebut. Ada sebuah tulisan yang tertulis di sana. Ini seperti ... curahan hati Fania. Aku pun membacanya.


Ibu ... aku dilahirkan ke dunia ini dengan warna abu-abu. Warna yang kelam. Karena aku pun tidak mengerti, apakah kelahiranku ke dunia ini adalah sebuah anugerah atau malapetaka. Karena saat aku turun ke dunia, justru kau malah pergi meninggalkanku. Kau pergi begitu jauh, usai mengeluarkan aku dari rahimmu. Apa kau membenciku, ibu .... Sehingga kau memilih pergi saat diriku berusaha hadir ke duniamu? Ibu ... apa kau tidak ingin membesarkanku? Mengapa kau pergi meninggalkanku?


Dan lebih menyedihkan lagi, aku terlahir di dunia ini tanpa sosok seorang ayah. Itu kata tetanggaku. Semua orang menganggapku sebagai anak haram. Mereka juga bilang, bahwa aku adalah anak dari hasil perzinahan. Aku dianggap sebagai anak yang hina.


Lucunya, saat kutanya siapa ayahku, pada paman dan bibi yang merawatku. Mereka hanya bilang bahwa ayahku sudah meninggal dunia. Tetapi aku merasa bahwa paman dan bibiku berbohong. Aku masih merasa bahwa ayahku masih hidup. Bertahun-tahun aku mencari sosok ayah kandungku. Namun tidak kutemukan.


Aku menyusuri jalanan yang terik, sendirian. Tak peduli panasnya matahari. Tak peduli dinginnya angin malam. Aku terus berjalan sendirian, demi menemukan sosok ayah. Hanya dia yang masih kuharapkan untuk hadir, meski sekadar menjelaskan cerita tentang ibuku. Bahwa aku bukanlah anak dari hasil perzinahan. Bahwa aku terlahir atas dasar cinta dan kasih sayang.


Aku malu pada teman-temanku. Sejak kecil aku terhina. Mereka terus menyebutku anak haram. Ayah ... ibu ... aku sangat menderita sejak kecil. Terlebih, paman dan bibiku sangat kasar padaku. Dia sering memukuli tubuhku. Bahkan untuk kesalahan yang tidak pernah kulakukan.


Sejak lahir, aku sudah dibenci. Tidak ada yang menginginkanku hidup. Semua menghinaku, semua menyiksaku. Jadi, untuk apa aku terlahir ke dunia ini? Ibu ... bawa aku kembali bersamamu. Aku juga ingin menanyakan sesuatu, tentang apa maksud aku dilahirkan.


Sampai sekarang ... aku masih berharap akan sosok ayah kandungku. Aku ingin bertanya padanya, mengapa aku dicampakkannya begitu saja. Mengapa dia membiarkanku menderita. Dan ... mengapa mesti ada aku di dunia ini.


Aku sudah lelah mencari. Aku memutuskan untuk menimbun segala sesuatu tentangku. Aku tidak suka ada yang membahas apa-apa tentang kelahiranku. Karena aku benci dilahirkan. Bahkan, yang turut andil dalam penciptaan diriku pun pergi meninggalkanku. Semua orang membenciku.


Jika suatu saat nanti aku dapat menemukan sosok ayahku. Aku ingin memukulinya berkali-kali. Aku ingin memintanya penjelasan. Untuk apa aku diciptakan. Jika untuk ditinggalkan. Seandainya bisa memilih ... aku lebih baik tidak terlahir. Atau pergi sesegera mungkin dari dunia ini. Tuhan ... aku sudah sangat lelah ....


Aku membaca tulisan tangan itu dengan hati-hati. Hingga air mata kembali menetes, berjatuhan di pipiku. Aku tidak menyangka, Fania si gadis ceria itu, justru memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan.


"Aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya cinta. Lagi pula ... sejak kecil aku tidak pernah dicintai. Aku juga tidak pernah tahu rasanya kasih sayang dari orang tua."


"Ibuku sudah meninggal. Aku sendiri tidak pernah tahu seperti apa ibuku. Kecuali dari sebuah foto, yang kutemukan dari laci milik bibi. Sebenarnya, aku juga tidak yakin itu foto ibuku. Mereka semua menyembunyikan identitas ibuku."


"Kata paman dan bibiku, serta kata orang-orang, ibuku meninggal setelah melahirkanku. Dan ayahku ... aku tidak tahu siapa dan di mana. Semua orang yang kutanyai perihal ayahku, mereka tidak tahu. Termasuk paman dan bibiku, mereka seperti menyembunyikan itu semua dariku."

__ADS_1


Aku kembali mengingat perkataan Fania di mobil waktu itu. (episode 88)


Kututup buku itu. Kuusap kembali air mata yang bercucuran dari mataku.


Fania ... mulai detik ini, aku bertekad dan berjanji! Aku akan membantumu untuk mencari sosok ayah kandungmu. Dan apapun masalah dan beban hidupmu. Aku siap menjadi tempatmu berbagi!


***


Aku sudah mandi, sudah rapi. Meski dengan tubuh yang terasa berbeda dari biasanya. Mendadak tubuhku terasa begitu dingin. Kepalaku terasa semakin sakit. Akan tetapi, aku akan tetap berangkat ke kantor. Aku juga tidak tahu, apakah setelah kejadian kemarin, pak Wibowo murka dan berniat memecatku.


"Imania, ada seseorang yang menunggumu di luar!" seru ibu dari luar kamarku.


"Siapa, Bu?" Bahkan aku tidak mendengar ada suara mobil berhenti di depan rumah.


"Dia seorang wanita. Katanya temanmu," kata ibu yang sudah berdiri di depan pintu kamarku.


Apa itu sekertaris Ve?


"Ya, Bu. Aku juga sudah siap berangkat."


Aku tidak mungkin mengatakan tentang yang sebenarnya terjadi. Ibu akan khawatir jika mendengar tentang kejadian kemarin. "Oh ... itu. Fania ... dia sedang pulang ke rumah bibinya."


"Oh, kupikir kalian bertengkar."


"Tidak, kok, Bu."


"Kau tidak sarapan? Atau mau kubawakan bekal? Sejak kemarin kau belum makan."


"Tidak, Ibu. Aku tidak lapar. Aku berangkat dulu, ya?" Aku beranjak menuju pintu, kucium punggung tangan ibu.


"Ya, hati-hati, Nak?" Ibu pun beranjak menuju dapur.


Aku keluar menuju sebuah mobil berwarna merah yang terparkir di halaman. Aku pun segera masuk ke dalam mobil.


"Pagi, Kak Ve?" sapaku seraya mengulum senyum.


"Pagi, Imania." Sekertaris Ve pun membalas seraya tersenyum.

__ADS_1


Kami pun berangkat bersama menuju kantor. Di tengah perjalanan, kami mengobrol.


"Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?" tanya sekertaris Ve.


"Ya, Kak Ve," jawabku seraya tersenyum.


"Bohong! Jelas-jelas wajahmu pucat! Matamu juga bengkak. Apa kau terus menerus menangis semalaman?"


"Tidak, Kak. Aku ... aku hanya sedikit pusing."


"Jangan terlalu dipikirkan. Bisa-bisa kau jatuh sakit."


Sekertaris Ve tiba-tiba menghentikan mobilnya, menepi di sisi jalan. Kemudian ia menyentuh punggung tanganku. "Imania? Apa kau begitu menyayangi Fania?"


"Aku sudah menganggapnya sebagai sahabatku. Bahkan sebagai saudaraku sendiri."


"Apa kau sudah mengenalnya lama?"


"Baru sekitar setahun. Tetapi aku sangat menyayanginya."


Sekertaris Ve tersenyum mendengar jawabanku. "Itu berarti, kau sudah sangat memahaminya, ya? Aku yang baru bertemu dengannya saja, sudah dibuat naik darah."


"Kak Ve? Banyak sekali rahasia di balik tingkah Fania yang seperti itu. Dia tidak pernah mendapatkan perhatian khusus sejak kecil. Wajar bila tingkahnya seperti itu. Tetapi aku yakin, Fania adalah gadis yang baik."


Sekertaris Ve meremas tanganku lembut. "Boleh kutanya sesuatu darimu? Jawab saja sejauh yang kau bisa!"


Aku menatap binar mata yang terpancar dari sekertaris Ve.


"Apa kau tahu tempat Fania dilahirkan?"


Kenapa sekertaris Ve terus menerus menanyakan perihal Fania. Atau jangan-jangan ... sekertaris Ve ada hubungannya dengan Fania?


"Kak Ve, aku baru saja menemukan fakta tentang tempat kelahiran Fania tadi malam."


"Benarkah?" Mendadak kedua mata sekertaris Ve melebar.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2