BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
My Name Is 'Mbah Mar'!


__ADS_3

Diam-diam aku sudah memfoto KTP Fania dan menyimpannya di handphone-ku. Kutunjukkan kepada sekertaris Ve tentang foto tersebut. Sekertaris Ve hanya mengerutkan keningnya.


"Imania, bagaimana kalau kita ke sana sekarang?"


Aku cukup terkejut mendengar ajakan sekertaris Ve. "Kak, Ve? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Apa kau ada hubungannya dengan Fania?"


Sekertaris Ve tiba-tiba tampak gugup. "Ah, ti-tidak juga. A-aku hanya ingin membantu saja."


Alasan sekertaris Ve tidak masuk akal oleh pemikiranku. Kuraih kembali handphone-ku. Dan kumasukkan ke dalam tas.


”Imania, melihat kejadian kemarin, bukankah kau sangat mencemaskan Fania? Bagaimana dengan keluarganya? Mereka tentu juga sangat cemas," tutur sekertaris Ve.


Meski meragukan alasan sekertaris Ve ingin membantu Fania. Namun, aku juga penasaran akan tempat tinggal Fania. Kami pun mengurungkan niat untuk pergi ke kantor hari ini. Dan kami langsung meluncur menuju alamat yang tertera di dalam KTP Fania.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami turun dari mobil, di sebuah perkampungan kumuh.


Sekertaris Ve mengajakku bertanya kepada salah seorang warga kampung X.


"Permisi, Bu? Mau tanya, RT. 2, RW. 6 itu di mana, ya, Bu?" tanya sekertaris Ve saat berjumpa dengan seorang wanita paruh baya yang sedang menjemur pakaian.


"Oh, itu ... kalian lurus saja dari pertigaan itu, nanti ketemu, ya?"


"Apakah masih jauh?" tanya sekertaris Ve.


"Tidak. Sekitar lima kilometer dari sini."


"Baik, terima kasih atas informasinya, Bu."


Kami kembali masuk ke dalam mobil. Kemudian menuju arah yang ditunjuk ibu-ibu yang tadi. Dan benar saja, setelah menempuh perjalanan sekitar lima kilometer, kami pun sampai di sebuah perkampungan lagi.


Kami segera turun, menanyakan perihal rumah tempat tinggal Fania. Kami menghampiri seorang laki-laki yang sedang memunggu rumput di punggungnya.


"Maaf, Pak, permisi. Saya ingin bertanya. Apakah di kampung ini ada yang namanya Fania?"


"Fania? Wah, kurang tau, ya, Bu. Coba tanyakan pada warga yang lain. Saya baru saja pindah dari Kalimantan ke sini."


"Baik, terima kasih, Pak," ucap sekertaris Ve.


Kami kembali berjalan kaki menuju salah satu rumah warga. Rumah-rumah di sini cukup sederhana dan kecil. Keadaan lingkungannya juga lumayan kumuh. Banyak sampah-sampah berserakan di jalanan dan juga memenuhi selokan. Apakah mereka tidak pernah memikirkan kebersihan lingkungan?


"Bau sekali!" Sekertaris Ve menutup hidungnya. "Apa kau membawa masker?"


"Tidak, Kak Ve."


"Oh, warga di sini tentu sangat jorok!" ucap sekertaris Ve sambil terus menutup hidungnya.


Sampai di salah satu rumah warga. Sekertaris Ve pun mengetuk pintu. Tidak lama, seseorang keluar membuka pintu tersebut.


Matanya langsung terbelalak saat melihat kami. "Maaf, ada apa, ya?" tanya seorang gadis berperawakan kurus, yang kuperkirakan usianya sekitar 15 tahun.


"Maaf, Dek. Mau tanya, apakah di sini ada yang namanya Fania?"


"Saya tidak tahu. Sepertinya tidak ada."


"Baiklah, terima kasih. Kami permisi," ucap sekertaris Ve.


Kami kembali mencoba menghampiri rumah lainnya. Kembali sekertaris Ve mengetuk pintu. Seorang ibu-ibu berdaster keluar sembari menggendong seorang bayi.


"Permisi, Bu. Apa di kampung ini ada yang bernama Fania?" tanya sekertaris Ve.


"Fania?" Wanita tersebut terkejut saat mendengar nama Fania.


"Iya, Fania," kata sekertaris Ve lagi.


"Ada apa memangnya dengan Fania?" tanyanya.


Aku dan sekertaris Ve saling memandang. Sepertinya ibu ini tahu tentang Fania.


"Fania itu teman saya, Bu," jawabku langsung dengan mata berbinar-binar.


Ibu itu mengernyitkan dahinya. Menatapku penuh selidik dari atas sampai bawah. Apa ada yang salah dengan penampilanku?


"Benarkah?" tanya ibu tersebut ragu.


Aku mengangguk cepat. "Ya, aku temannya Fania!"


Bukannya menanggapi, ibu tersebut justru masuk ke dalam rumahnya. Aku dan sekertaris Ve kembali saling memandang.


"Ada apa dengannya?"


Sekertaris Ve mengangkat bahunya, mengekspresikan kata 'entahlah'.


Ibu tersebut kembali menghampiri kami yang masih berdiri di teras. Ibu tersebut keluar tidak hanya dengan bayi dalam gendongannya, tetapi dengan menuntun seorang gadis kecil berusia balita. Dengan perasaan berdebar, aku kembali bertanya pada ibu tersebut.


"Apa Ibu tahu tentang tempat tinggal Fania di kampung ini?" tanyaku harap-harap.


"Ya, saya tahu."

__ADS_1


Akhirnya, setelah mencari begitu lama, kami menemukan orang yang tepat untuk ditanyai tentang Fania.


Ibu itu menatapku masih dengan tatapan bingung. "Fania tinggal di sini."


Aku semakin terkejut mendengar pernyataan ibu tersebut. Termasuk sekertaris Ve yang ikut terbelalak.


"Itu berarti, Ibu adalah Bibinya Fania?" tanyaku.


"Bukan. Saya ibunya Fania."


Kali ini, aku dan sekertaris Ve saling menatap karena bingung.


"I-ibunya Fania?" tanyaku. Dan ibu tersebut mengangguk. Bukankah ibu Fania sudah meninggal?


"Iya, ini Fania, putri saya. Refania Putri," katanya seraya memperkenalkan gadis berusia balita tersebut.


Aku dan sekertaris Ve pun saling menatap dengan kikuk.


"Oh, ini Fania putrimu? Sepertinya kami salah orang. Yang kami tanyakan adalah Fania Larasati. Usianya sudah dua puluhan tahun." Aku menjelaskan.


"Oh!"


Ibu tersebut pun membawa putrinya kembali ke dalam rumah. Dan menutup pintu tersebut dengan kasar.


"Oh, my God! Apa selain jorok, warga di sini juga tidak punya sopan santun?" gerutu sekertaris Ve.


Tidak menyerah. Kami kembali mengunjungi rumah satu per satu. Sayangnya, tidak ada satupun yang tahu tentang Fania. Aku dan sekertaris Ve pun merasa lelah. Kami duduk di kursi kayu, di depan sebuah teras rumah kecil.


"Imania, ini melelahkan! Bagaimana bisa mereka tidak ada satupun yang tahu perihal Fania? Coba cek kembali alamatnya. Jangan-jangan kita salah."


Kuambil handphone dari tas. Aku mengecek alamat yang tertera. "Ini benar, Kak Ve!" kataku yakin.


Sekertaris Ve menghela napas. "Ini aneh! Bagaimana bisa mereka tidak ada yang tahu?"


Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Badanku menggigil. Sebenarnya, sejak pagi tadi, aku sudah merasa tidak fit.


"Imania, apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Kak Ve."


Sekertaris Ve sepertinya memperhatikanku yang terus memegangi kepala.


"Ayo, kita pulang saja! Kau tampak sangat pucat!"


Aku menghela napas berkali-kali. Mencoba menenangkan pening di kepalaku. Sekertaris Ve menuntunku untuk berdiri. Dan saat kami beranjak dari teras tersebut, tiba-tiba ada yang memanggil kami.


"Hei, kalian!"


"Kemarilah!"


Aku dan sekertaris Ve merasa bingung. Kenapa nenek tersebut memanggil kami. Namun, kami pun menghampirinya.


"Masuklah!" kata nenek tua itu seraya mempersilakan.


"Tidak, Nek, terima kasih. Kami buru-buru mau pulang," tolak sekertaris Ve lembut.


"Bukankah kalian mencari seseorang?"


Kami menatap nenek tua tersebut ragu. Jangan-jangan nenek ini sudah pikun dan hanya akan membuat kami berbasa-basi saja.


"Tidak, Nek. Kami akan pulang saja." Sekertaris Ve mencoba beralasan lagi untuk menolak.


"Ya, baiklah. Pulanglah! Jika tidak ingin tahu tentang gadis yang kalian cari!" kata wanita berambut putih tersebut.


Aku dan sekertaris Ve kembali saling memandang.


"Nenek mendengar kalian bertanya tadi pada warga di sini."


"Apa ... apa Nenek tahu tentang Fania?" tanya sekertaris Ve dengan tatapan ragu. Wajar saja, kami sudah berkeliling kampung, dan tidak ada satu pun yang mengetahui tentang Fania.


"Masuklah!" Nenek itu meminta agar kami masuk ke rumahnya. Kami pun menurutinya.


"Duduklah dulu!"


Kami juga menuruti perintah nenek tersebut, untuk duduk di kursi kayu tua di rumahnya yang cukup kecil. Dindingnya terbuat dari kayu, yang sudah mulai lapuk. Sepertinya, ini rumah yang sudah sangat tua.


Nenek tersebut pergi ke belakang, kemudian kembali menghampiri kami dengan membawa dua cangkir teh.


"Nenek, tidak usah repot-repot," ucapku merasa tidak enak. Sepertinya hanya dia yang memperlakukan kami dengan ramah di kampung ini. Sebab, warga yang lain seperti takut ketika ditanya oleh kami.


Nenek tua itu meletakkan dua cangkir teh di atas meja. "Nenek cuma punya ini." Kemudian ia duduk berhadapan dengan kami.


"Terima kasih, Nek," ucap sekertaris Ve.


"Kau terlihat lelah. Apa kau sakit?" tanya nenek itu padaku.


"Aku hanya sedikit pusing," jawabku.


"Kau tampak cantik. Tapi kau janda, ya," kata Nenek tersebut seraya tertawa.

__ADS_1


"Bagaimana Nenek tahu?" tanyaku heran.


"Hanya ... menebak! Kau juga sedang menjalani hubungan yang rumit dengan laki-laki. Dia sangat tampan. Kalian cukup serasi."


Aku sangat terkejut dengan pernyataan nenek tersebut. Bagaimana dia tahu?


"Namun, berhati-hatilah. Diantara kebahagiaan kalian, ada kehidupan seseorang yang terancam."


"Benarkah?" tanyaku.


"Kau dicintai banyak laki-laki. Tetapi jodohmu hanya satu. Dia yang terus berjuang dan berani berkorban untukmu. Dialah jodohmu!" tutur nenek itu lagi.


"Apa kau juga bisa meramalku?" tanya sekertaris Ve penasaran.


Nenek itu mengalihkan pandangannya terhadap sekertaris Ve. Ia pun terdiam sejenak. Kemudian berkata, "Kau ... kau memiliki karir yang cukup bagus. Namun, itu bukan karena prestasi. Kau hanya beruntung karena menempel pada seseorang. Dan kau juga memanfaatkan situasi masa lalu untuk peluangmu sendiri," tutur nenek tersebut.


Sekertaris Ve semakin terbelalak mendengar penuturan nenek berambut putih tersebut.


"Bukan hanya itu. Kau sudah melakukan hubungan terlarang dengan banyak pria."


Tiada hentinya sekertaris Ve terbelalak mendengar perkataan nenek tua tersebut.


"Ada lagi." Nenek tersebut memperbaiki posisi duduknya. "Kau sudah melakukan perubahan terhadap wajahmu, untuk mempercantik penampilan."


"Ba-ba-ba-bagaimana kau ta-tahu??" Sekertaris Ve sampai sebegitu gugupnya berkata-kata.


Nenek tersebut hanya tertawa terpingkal-pingkal. Dan tawanya itu terdengar sangat menakutkan di telingaku. Aku sampai merinding mendengar tawanya.


"Aku juga bisa menerawang lebih jauh. Tentang kehausanmu akan laki-laki!" Suara nenek itu diiringi tawa yang mengerikan.


Sekertaris Ve berhasil dibuatnya ketakutan dan gugup. Ia berkali-kali meremas rok mininya sendiri.


"Cukup, Nek, jangan katakan apa-apa lagi tentangku!" ucap sekertaris Ve.


Entah mengapa, berada di rumah ini membuat bulu kudukku berdiri. Apa nenek ini punya six sense? Atau dia adalah dukun? Sungguh, dia nenek keramat.


Aku pun berbisik kepada sekertaris Ve. "Apa yang dikatakan Nenek itu benar?"


"Apa maksudmu? Itu tidak mungkin!!" bantah sekertaris Ve dengan ekspresi gugup sekali.


"Nenek? Kau bilang, kau tahu tentang tempat tinggal orang yang kucari? Namanya Fania Larasati." Aku mencoba memulai interogasi.


"Kalian belum mengenalkan diri, bukan?" katanya diiringi tawa misteriusnya.


"Bukankah kau bisa meramal? Seharusnya kau juga tahu nama kami, bukan?" ucap sekertaris Ve dengan nada kesal.


Nenek itu tertawa lagi. "Jika begitu, aku akan menerawang kelakuanmu saat berada di ranjang!"


"Imania! Ayo kita pulang!!" Sekertaris Ve tampak sangat kesal. Dia pun berdiri dan menarik lenganku.


Namun, aku menahannya. "Kak Ve, hanya dia satu-satunya harapan kita untuk tahu segalanya tentang Fania!"


Sekertaris Ve pun kembali duduk. Dan kami segera memperkenalkan diri. Setelah itu, nenek keramat itu yang memperkenalkan dirinya.


"Panggil saja aku mbah Marry."


Namanya lumayan keren untuk usianya yang sudah seabad itu. Sekertaris Ve ikut tak percaya mendengar namanya.


"Nama panjangku, Marimar Martinah Marinem," ucap nenek tersebut seraya tertawa cekikikan. Tawa yang terus membuatku merinding.


"Yang benar adalah yang terakhir. Panggil saja, mbah 'Mar'. Tetapi bukan mbah Maridjan, ya? Namaku 'Mar'. Cukup 'Mar' saja. Jangan ditambah dengan lainnya," katanya seraya tertawa.


"Bukan Marshanda? Atau Marshmellow?" kata sekertaris Ve yang masih kesal.


"Jangan kurang ajar kamu! Mau kukutuk sekarang?"


"Ampun, Mbah! Ampun?!"


Sekertaris Ve langsung menunduk di hadapan nenek tua tersebut. Dan nenek tua itu semakin tertawa terpingkal-pingkal. Tawa yang mengerikan. Aku tidak tahu, apakah kami memutuskan pilihan yang tepat untuk bicara dengannya. Tetapi, jika dilihat-lihat, nenek tua ini bukan orang sembarangan."


Setelah puas tertawa, Mbah Mar itu pun berkata, "Baiklah, akan kuberitahu pada kalian, perihal gadis yang kalian tanyakan itu."


Mbah Mar : Tapi nanti malam, ya? Jam tujuh malam nanti, Mbah Mar akan kembali lagi! 😂


Sekertaris Ve : Oh my God! Lindungilah kami dari malapetaka dan kutukan keramat nenek tua ini?!" 🙄


Imania : Aamiin .... 🤲


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Hayo? Pasti ada yang lagi senyum-senyum sendiri, ya? Atau lagi ketawa cekikikan sendiri? Awas, loh! Nanti Mbah Mar datang. wkwk!


Tunggu kelanjutannya nanti malam, ya?


Author Keceh akan kembali bersama Mbah Mar! So, stay on!


Ingat! Jangan lupa apa?

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, SHARE JUGA BOLEH BANGET, TUH!


THANK YOU ...!!


__ADS_2