BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Membaca Novel


__ADS_3

Perhatian!


Episode ini mengandung unsur iklan. Harap tenang. Ha-ha!


___________________________________________


Sesampainya di depan rumah, aku melihat mobil merah milik sekertaris Ve terparkir di halaman.


"Nia, bukankah itu mobil Kak Ve?"


"Iya."


"Sedang apa dia?"


Aku tidak menjawab dan hanya mengekspresikan senyum samar, karena akulah yang tadi pagi mengirim pesan kepada sekertaris Ve untuk segera datang menemui Fania. Kebetulan orang tuaku juga tidak sedang di rumah, jadi ... sekertaris Ve bisa memiliki waktu yang tepat untuk bicara dan meminta maaf kepada Fania.


Aku dan Dimas turun dari mobil. Kami melangkah menuju rumah. Sebenarnya, aku sedikit khawatir bila Fania tidak bisa membuka pintu maafnya kepada sekretaris Ve.


Kuketuk pintu rumah. Fania pun membuka pintu. Kudapati sekertaris Ve yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Aku menatap sekertaris Ve dan Fania bergantian. Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka memberikan tatapan datar padaku?


"Kalian ... apa ... sudah ... berbaikan?" tanyaku pelan.


Fania menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatapku tajam. "Menurutmu?"


Aku dan Dimas pun masuk.


"Duduklah, Di. Biar kubuatkan kopi," ucapku mempersilakan.


Aku langsung menuju dapur. Setelah membuatkan kopi, aku membawanya ke depan untuk Dimas. Kuletakkan secangkir kopi di atas meja. Kemudian aku duduk bersama mereka yang sedang duduk bergeming.


Aku menatap kembali wajah sekertaris Ve dan Fania bergantian.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Fania.


"Em ... sepertinya ... lebih baik ... kalian bicara saja berdua." Aku beranjak dan meraih secangkir kopi yang kuletakkan tadi. "Ayo, Di. Kita duduk di ruang tengah saja," ajakku.


Dimas pun bangkit dari duduknya. Dan saat kami akan beranjak, tiba-tiba sekertaris Ve berseru, "Hei, kalian! Apa kalian ingin bermesraan, sehingga harus berduaan terus menerus?"


"Kak Ve, aku ... hanya ingin memberikan kalian kesempatan untuk berbicara empat mata," ujarku.


Sekertaris Ve bangkit dari duduknya. "Tidak perlu. Aku mau pulang."


"Kak Ve ...," panggilku.


Aku menatap sedih punggung sekertaris Ve yang berlalu menuju pintu. Sepertinya ... mereka berdua sama sekali belum berbaikan.


"Hei, serigala betina! Lain kali kalau mau menjenguk keponakanmu ini, usahakan membawa buah tangan, ya?" seru Fania.


Sekertaris Ve menghentikantikan langkahnya tepat di depan pintu. Ia pun berbalik dan berkata, "Ubahlah panggilan kesayanganmu itu, Honey. Maka kemungkinan aku mau menerima saranmu itu. Atau tidak sama sekali."


"Okay, akan kupertimbangkan, female wolf."


"Oh, shilt!" Sekertaris Ve pun pergi dengan kesal.

__ADS_1


Aku dan Dimas saling memandang sesaat. Apa yang tengah kami pikirkan mungkin sama, 'apakah mereka sudah berbaikan?'. Dimas kembali duduk. Kuletakkan kembali secangkir kopi ke atas meja.


"Fania, apa ... kau sudah memaafkan Kak Ve?"


"Menurutmu?"


Fania beranjak pergi dari ruang tamu, tapi aku mengejarnya dan menahan lengannya.


"Fania, aku serius?"


Fania menghela napas panjang. "Bagaimanapun dia adalah keluarga dari almarhumah ibuku, satu-satunya yang tersisa."


Aku sangat senang mendengarnya. Jadi ... tinggal pak Wibowo saja yang belum berbaikan dengan Fania. Sepertinya sulit, tapi ... aku akan berusaha membantu agar mereka memiliki hubungan yang baik, sebagaimana ayah dan anak.


Bukankah tidak baik memelihara dendam? Dendam hanya membuat bumerang pada diri sendiri. Memelihara kebencian itu sama seperti memelihara api di dalam kamar. Kita tidak akan pernah bisa tidur nyenyak dan mimpi indah. Sebab yang ada di dalam selimut kebencian adalah aroma api yang siap membakar siapa saja. Termasuk diri sendiri. Jadi, berhati-hatilah untuk terlalu memelihara kebencian. (Pesan Moral dari Author Keceh)


***


Malam hari.


[Imania, thanks.]


[Sama-sama, Kak Ve.]


Aku baru saja selesai chatting dengan sekertaris Ve. Dia berterima kasih padaku karena sudah memberikan waktu yang tepat untuk bicara berdua dengan Fania. Dan ... sekarang, mereka sudah berhubungan baik lagi. Meski dengan sikap yang aneh. Ya, begitulah Fania. Dia punya caranya sendiri untuk bersikap.


Kulirik sahabatku yang sedang tengkurap sembari menangis.


"Fania, kau kenapa?" tanyaku terkejut melihatnya terisak di sebelahku.


Aku langsung mendekatinya. "Apa ... Rudi menolakmu?"


Fania menggeleng.


"Lalu kenapa?" tanyaku semakin heran.


Fania menghadapkan layar handphone itu padaku.


Sontak aku langsung tertawa melihatnya. Ternyata, Fania sedang membaca novel karya Author Keceh di Mangatoon. Haha. Sampai mewek begitu.


"Novel ini benar-benar bikin mewek," katanya sembari mengusap air matanya.


"Itu yang judulnya Bukan Pelakor, karya Kak Thamie, ya?"


"Ho, oh."


"Aku sudah lama enggak baca. Jadi penasaran. Memangnya sangat menyedihkan, ya?" tanyaku.


"Banget. Dia tuh, pinter banget bikin readers kecehnya nangis-nangis. Sampai habis tissue-ku," katanya sembari meraih satu tissue terakhir dari kotak tissue.


"Kok, keren banget, sih. Bisa bikin nangis begitu," ujarku kagum.


"Author Keceh memang Keceh Badai," ujar Fania sembari mengusap sisa-sisa air matanya dengan tissue.

__ADS_1


Aku langsung membuka aplikasi Mangatoon di handphone. Kubuka novel favoritku itu. Saat aku akan mulai membaca, Fania menyodorkan tissue bekas air matanya itu padaku.


"Ini untukmu. Tinggal satu tissue ini soalnya," katanya.


"Ih, jorok. Aku enggak bakalan mewek juga," tolakku.


"Ya, sudah." Fania meletakkan tissue itu di atas nakas.


Aku pun mulai membaca dengan konsentrasi. Setelah beberapa menit aku membaca episode yang sangat menyedihkan. Tiba-tiba air mataku keluar tanpa permisi. Aku terisak-isak. Saking sedihnya, aku sampai nangis sendiri seperti orang gila.


"Oh ... ini sangat menyedihkan," isakku sembari mengusap air mata. "Ini sangat mirip dengan kisahku. Hiks."


Fania menatapku sembari tertawa. "Tuh, kan, apa kubilang? Memang dasar Si Author Keceh keren banget. Nangis juga kau, ha-ha."


"Ini kapan, sih, tokoh utamanya bahagia?" tanyaku sedih.


"Eh, sebentar lagi tokoh utamanya mau menikah, loh? Katanya mau ada adegan ninu-ninu gitu. Ha-ha."


"Emang boleh ada adegan seperti itu di Mangatoon?" tanyaku heran.


"Ya, kita lihat aja besok. Katanya, Kak Thamie mau bikin adegan ninu-ninu dengan bahasa yang lembut. Kita tunggu saja."


"Wah, tambah penasaran, nih."


"Sama. Aku juga penasaran. Jadi pengen juga. Ha-ha."


"Pengen apaan?"


"Ninu-ninu, lah."


"Ish, dasar! Tunggu menikah sama Rudi, donk?" godaku sembari menyikutnya.


"Kalau kau, sih, sebentar lagi juga pasti bakal ninu-ninu sama Dimas. Ah, honeymoon. Itu pasti sangat menyenangkan," ujarnya sembari membayangkan.


Kumiringkan tubuhku membelakanginya. "Ah, aku mau tidur. Jangan ganggu!"


"Hm ... mimpiin, tuh, Dimasnya."


"Itu pasti," jawabku.


Saat aku tengah memejamkan mata, Fania malah menggoyang-goyang tubuhku.


"Imania, menurutmu ... Rudi kenapa, ya, kok, belum menerimaku menjadi pacarnya sampai sekarang?"


"Hm ... mungkin dia sedang meyakinkan dirinya dulu," jawabku tanpa mengubah posisi tubuhku.


"Menurutmu ... Rudi akan menerimaku atau tidak?"


"Fifty-fifty."


"Kok, gitu?"


"Ya, aku enggak tahu. Aku mau tidur."

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2