
Aku dan Fania langsung meluncur menuju rumah pak Ahmad—kakek Arka. Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, kami pun sampai di rumah pak Ahmad. Aku pun turun dari mobil, diikuti Fania yang mengekor di belakangku.
Kuketuk pintu rumah tersebut.
"Assalamualaikum," ucapku.
Tidak lama pintu pun dibuka. Bu Ahmad—nenek Arka— yang membuka pintu tersebut.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
"Ibu, apa kabarmu?" Aku langsung mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah, baik. Bagaimana kabarmu, Ima?"
"Ima juga baik, Ibu?" jawabku. "Bagaimana kabar ayah?"
"Sudah semakin membaik."
"Tante." Fania ikut mengulurkan tangannya, mencium punggung tangan ibu.
"Eh, Nak Fania, ya?"
"Iya, Tante."
"Ayo, masuk dulu?" ajak ibu.
"Tidak usah, Ibu. Mungkin lain kali saja, ya? Aku hanya ingin menjemput Arka."
__ADS_1
"Arka? Bastian tidak mengabarimu, ya? Barusan dia menjemput Arka untuk tidur di rumahnya," terang ibu.
Arka di rumah mas Bastian? Bukankah, Fania bilang, tadi Bastian dan Bella sedang berada di restoran Rudi?
"Sejak kapan Arka dijemputnya, Bu?" tanyaku.
"Barusan. Bastian sama Bella yang menjemput Arka," jawab ibu.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, kami permisi, ya, Bu?"
Aku dan Fania berpamit untuk pulang. Kami pun segera masuk ke dalam mobil. Dan pergi meninggalkan rumah ibu.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja, aku terpikirkan Arka lagi. Entah mengapa aku sangat merindukannya. Padahal baru semalam tak bertemu. Dan firasatku berkata agar menjemput Arka saja.
"Imania, kenapa melamun?"
Suara Fania membuyarkan lamunanku. "Em ... Fania. Kita ke rumah mas Bastian, yuk!"
"Entah mengapa aku ingin pergi ke sana. Ayo kita putar arah!"
"Ya, oke!"
Fania pun memutar laju mobilnya. Dan langsung meluncur menuju rumah mas Bastian. Sudah sehari semalam aku tak berjumpa dengan Arka. Wajar jika aku mencemaskannya. Akan tetapi ... kenapa mas Bastian mengajak Arka tinggal di sana? Aku khawatir, Bella tidak bisa menerima Arka dengan baik. Apalagi ... Bella sedang hamil.
Tidak lama, kami pun sampai di depan rumah mas Bastian. Kami turun dan melangkah menuju pintu rumah tersebut. Alangkah terkejutnya, ketika aku hendak mengetuk pintu, tiba-tiba terdengar suara gaduh yang berasal dari dalam rumah.
"Pokoknya aku tidak mau anakmu tidur di sini!"
__ADS_1
"Abel! Arka adalah putraku! Jika kau bisa menerimaku, maka kau juga harus bisa menerima Arka!"
"Mas! Dia itu putramu, bukan putraku! Aku tidak bisa menganggapnya seperti anakku sendiri! Kau tahu, kan? Aku sedang hamil! Ini anak kita! Jangan membuatku stress! Dokter sudah bilang, kan? Agar aku tidak stress! Ini bisa mempengaruhi perkembangan bayi yang kukandung!"
Aku dan Fania sama-sama terkejut mendengar perdebatan mereka. Aku tidak menyangka Bella berkata seperti itu. Namun, kenapa tidak terdengar suara Arka sama sekali? Apa Arka sudah tidur?
"Abel! Kenapa kau menjadi seperti ini? Kau berubah! Kau tidak seperti Abel yang kukenal dulu!"
"Kau yang berubah, Mas! Kau egois! Tidak pernah memikirkan perasaanku! Aku sedang hamil, Mas! Bisakah kau mengerti? Aku ingin dihargai sedikit saja!"
Suara Bella terdengar parau. Lalu terdengar isakan tangis Bella.
"Abel, kapan aku tidak menghargaimu? Aku selalu menghargaimu. Bahkan, demi menghargaimu, sampai-sampai aku menomorduakan Imania. Aku memilihmu, dan rela meninggalkan istriku!"
"Oh, jadi kau menikahiku karena terpaksa?"
"Abel, aku tidak bilang begitu!"
Suara isakan tangis Bella semakin terdengar jelas. Aku menjadi ragu untuk mengetuk pintu, sedangkan mereka sedang ribut. Apakah mereka sering ribut seperti ini? Ataukah ini karena Arka? Oh, di mana Arka? Mengapa aku sama sekali tak mendengar suaranya?
"Abel, tenanglah! Ini tidak baik untuk kesehatanmu dan juga anak kita. Kau harus bisa mengendalikan emosimu."
"Jika kau ingin aku tenang, bawa anakmu pergi dari sini. Sekarang!"
"Baik. Aku akan mengantarkannya pulang!"
Aku dan Fania pun saling berpandangan. Mas Bastian akan mengantar Arka pulang. Jadi ... lebih baik aku segera pergi dari sini. Fania pun mengerti, kami segera beranjak dari teras rumah ini. Akan tetapi, saat kami baru saja melangkah, tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka.
__ADS_1
Aku dan Fania menoleh bersamaan ke arah pintu. Mas Bastian sudah berdiri memandang kami dengan mata terkejut. Mata yang sama terkejutnya dengan kami. Sedangkan Arka tampak berada di sampingnya, bergelayut di lengan mas Bastian.
-- BERSAMBUNG --