
Fania masih menatap tajam Rudi yang menertawainya. Hingga Rudi pun berhenti tertawa.
"Sudah cukup tertawamu?" tanya Fania dengan wajah kesalnya.
"Percuma menyamar, dasar jelek! Wajah jelekmu ini sudah familiar di mataku. Jadi, tidak usah menyamar! Kau pasti ketahuan olehku!"
"Aku hanya tidak suka harus bertemu kau lagi!"
"Oh, ya? Jika tidak suka, ngapain ke sini? Bukankah kau ke sini untuk mendekatiku?"
"Kau terlalu PD! Kau sama sekali bukan tipeku!"
"Hei, Pirang! Tidak usah sok mengkategorikan tipe. Untuk wanita sepertimu, harusnya cukup menerima saja jodoh yang digariskan Tuhan. Lagi pula, laki-laki yang menyukaimu itu tentu sangatlah tidak beruntung, ha-ha ...!"
"Bagaimana denganmu? Wanita yang kelak menjadi jodohmu, tentu juga sangat tidak beruntung. Kau arogan! Menyebalkan!"
Aku dan mas Bastian memperhatikan mereka sembari geleng-geleng kepala. Sebenarnya mereka cocok, sama-sama lucu. Sayangnya, mereka benar-benar seperti Tom and Jerry.
"Apakah sudah cukup perdebatannya? Kami sudah lapar, mau makan!" kata mas Bastian.
Rudi pun mengalihkan pandangannya ke arah kami. "Oh, iya, silakan. Selamat menikmati?" ucap Rudi ramah.
Kemudian Rudi berdiri dan beranjak dari meja kami. Sesaat sebelum melewati Fania, Rudi meraih topi yang masih bertengger di kepala Fania. Kemudian menangkup wajah Fania dengan gemas menggunakan topi tersebut. Fania semakin kesal. Rudi pun meninggalkan meja kami seraya tertawa. Tawa yang ia suarakan untuk Fania.
"Menyebalkan! Dia selalu saja begitu!" gerutu Fania.
"Jangan terlalu membenci. Kalian cocok, kok?" tukasku.
"Amit-amit, ih!" umpat Fania seraya memanyunkan bibirnya.
Kami pun menyantap hidangan bersama. Menu-menu di sini selalu enak. Rasanya tidak membosankan. Itulah sebabnya, aku belum bisa move on dari hidangan resto ini. Bahkan, Arka juga sangat menyukai dessert yang tersaji di resto ini.
"Apa kau senang hari ini?" tanyaku pada Arka.
"Senang sekali, Ma!" jawab Arka yang sedang sibuk menyantap dessert kesukaannya.
"Lain waktu, kita akan pergi bersama lagi," ucap mas Bastian kepada Arka.
Setelah hidangan di atas meja hampir habis, Rudi datang menghampiri kami lagi. Ia membawa sebuah kue ulang tahun yang cukup besar. Ia pun berdiri di samping Arka.
"Apa sudah selesai makannya?" tanya Rudi pada kami.
"Sudah," jawabku seraya tersenyum.
Rudi memanggil beberapa orang waitress untuk membersihkan meja kami. Setelah itu, Rudi meletakkan kue ulang tahun tersebut di atas meja.
"Selamat ulang tahun, Arka. Ini hadiah dari, Om," kata Rudi kepada Arka.
"Terima kasih, Om?" ucap Arka gembira.
"Terima kasih banyak, Rud," ucapku.
Rudi pun tersenyum. "Ini dibawa pulang saja, ya? Lagi pula kalian pasti sudah sangat kenyang," kata Rudi.
__ADS_1
"Iya, Rud. Kami bawa pulang saja," jawabku.
"Boleh, kan, mengambil foto bersama?" tanya Rudi.
"Tentu saja," jawabku.
Lalu Rudi mengeluarkan handphone dari sakunya. "Fania, sini!"
"Tidak mau!"
"Oh, cepatlah! Tolong ambilkan beberapa gambar."
"Sekali tidak, tetap tidak!"
Akhirnya Rudi meminta mas Bastian untuk mengambilkan foto. Terlihat sekali ekspresi wajah mas Bastian yang tampak malas. Tetapi dia pun berdiri dan mengambil handphone tersebut dari tangan Rudi.
Rudi meminta Arka berdiri, kemudian berfoto bersama Arka yang sedang tersenyum lebar di depan kue ulang tahun tersebut. Mereka berpose bak iklan pasta gigi. Selanjutnya, Rudi memintaku berdiri di sebelah Arka untuk mengambil foto lagi. Namun, mas Bastian tidak mau mengambil gambar kami.
"Aku capek!" kata mas Bastian seraya meletakkan handphone Rudi di atas meja. Mas Bastian pun duduk kembali di kursinya.
"Ayolah, Bas! Satu saja, ambilkan!" kata Rudi.
"Tidak!" tolak mas Bastian.
Rudi mengalihkan pandangannya ke Fania. "Fania, Cantik? Bisa tolong ambilkan gambar kami?" ucap Rudi lembut. Mungkin ia sengaja merayu Fania agar mau memfotokan.
"Tidak usah merayu! Percuma!" ucap Fania seraya menyilangkan tangan ke dadanya.
"Fania, Manis? Tolong, ya, ambilkan gambar kami ...." Rudi pantang menyerah meminta Fania untuk memfoto.
"Nih!"
"Terima kasih, Fania Cantik, tapi BOONG! Ha-ha ...!" Lagi-lagi Rudi meledek Fania.
Meski tampak kesal, Fania menanggapinya tersenyum sembari mengangkat satu sudut bibirnya.
Rudi segera membuka handphone-nya, dan tiba-tiba mimik wajah Rudi berubah. Senyum yang sedari tadi mengembang pun lenyap dari wajah Rudi. Kedua matanya langsung menangkap sosok Fania yang sedang tertawa.
"Fania! Kau sungguh sangat menyebalkan!" kata Rudi kesal.
"Ada apa lagi, Rud?" tanyaku.
"Lihat ini!" Rudi menyodorkan handphone-nya padaku.
Aku langsung menangkap gambarku dan Arka yang sedang tersenyum di depan kue ulang tahun tersebut. Dan saat kugeser layar handphone itu, untuk mencari gambar kami bersama Rudi, ternyata tidak ada satu pun. Fania hanya mengambil gambarku dan Arka. Oh, pantas saja Rudi tampak begitu kesal.
Rudi sudah mengambil banyak pose bersama. Dan Fania tidak mengambil gambarnya. Hanya ada foto tangan Rudi yang tampak sedang merangkul Arka.
Fania masih tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Rudi menatapnya dengan kesal.
"Dasar Pirang Jelek!" umpatnya.
"Wle!" cibir Fania kekanak-kanakan.
__ADS_1
Rudi mengambil handphone tersebut dari tanganku. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku. Aku ikut merasa lucu dengan tingkah mereka.
"Ya, sudah. Ayo pulang!" ajak mas Bastian.
"Kau belum membayar semua menu tadi, kan?" tanya Rudi pada mas Bastian.
"Rudi, apa kau lupa? Bukankah kejadian waktu itu, kau bilang aku boleh makan sepuasnya di sini gratis selama seminggu?"
Rudi terbelalak mendengar penuturan mas Bastian. "Kau!"
Mas Bastian tersenyum menyeringai. "Kau tidak amnesia, kan?"
"Menu sebanyak itu kau minta gratis?" tanya Rudi masih dengan mata melebar.
"Kau tidak akan menjilat ludahmu sendiri, bukan?" kata mas Bastian lagi.
Rudi mengalihkan tatapannya kepada Fania. "Ini semua gara-gara kau!"
"Kenapa aku? Bukannya kau sendiri yang mengatakannya waktu itu!" ujar Fania yang turut senang karena Rudi tampak sangat kesal.
"Iya. Tetapi jika saja kau tidak melakukan kesalahan, semua itu tidak akan terjadi!" bantah Rudi.
Aku jadi merasa tidak enak terhadap Rudi. Kami makan banyak sekali. Dan menu-menu pesanan kami, itu tidaklah murah. Kasihan Rudi. Kupikir, mas Bastian serius mentraktir kami. Kupikir dia benar-benar berusaha berlaku royal pada kami. Ternyata mas Bastian memanfaatkan kejadian malam itu, saat Fania menyiram Bella dengan juice.
"Rud, maaf ya ...." Aku merasa tidak enak sekali kepada Rudi.
"Oh, tidak apa-apa, Imania. Jika untukmu dan Arka, aku selalu ikhlas. Bahkan, restoran ini selalu siap sedia melayanimu. Termasuk aku," kata Rudi seraya tersenyum.
"Terima kasih banyak, Rud," ucapku.
Setelah itu, kami pun keluar dari restoran Rudi. Sebuah kue yang begitu besar, Rudi sendiri yang membawakannya untuk dimasukkan ke dalam mobil. Dan saat kami baru saja melangkah ke luar dari restoran Rudi. Tiba-tiba sebuah mobil yang kukenali muncul. Seseorang ke luar dari mobil tersebut. Dengan langkah cepat, ia menghampiri kami.
"Nia!"
"Dimas—"
Belum sempat aku bertanya 'kenapa kau di sini?' Dimas sudah menatap Rudi dengan wajah emosi.
"Rud! Apa maksudmu, ini!" semprot Dimas langsung, seraya menyodorkan layar handphone-nya ke wajah Rudi.
Rudi hanya tersenyum menyeringai. "Itu foto!" jawab Rudi yang menanggapi tatapan tajam Dimas dengan santai.
"Di, ada apa, sih?" tanyaku pada Dimas.
Dimas pun memberikan handphone-nya padaku. Aku menatap layar handphone tersebut. Ada gambarku dan Arka di dalam sebuah status WhatsApp. Ini, kan, foto yang tadi? Dan tertulis sebuah caption status WA Rudi, 'Semoga yang disemogakan tersemogakan. Calon đź’‘.'
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh ...?
Lanjutkan nanti malam, ya?
__ADS_1
Thank You ...!