BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Berangkat Menuju Taman Hiburan


__ADS_3

Hari Minggu tiba. Yang berarti aku libur bekerja. Sebenarnya, hari libur kerjaku adalah hari Sabtu dan Minggu. Akan tetapi, hari ini berbeda dengan hari-hari yang lain. Hari ini adalah hari yang sangat spesial.


Ya, ini adalah hari ulang tahun Arka. Aku berencana untuk mengajaknya pergi jalan-jalan bersama Fania. Sebenarnya aku sempat berpikir untuk merayakan pesta di rumah, dan mengundang teman-teman Arka. Akan tetapi, Arka minta jalan-jalan dan membeli kue saja. Jadi, aku pun setuju.


Kami sudah bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Aku dan Arka duduk di sofa, menunggu Fania yang masih bersolek. Dan setelah menunggu beberapa menit, Fania ke luar dengan tampilan yang berbeda dari biasanya.


Fania tidak memakai pakaian seksi nan hot seperti biasanya. Kali ini, Fania mengenakan pakaianku sewaktu remaja. Pakaian yang lebih terlihat sopan. Ia memakai rok panjang selutut dan atasan blouse yang tidak ketat.


"Wow, tumben!" kataku seraya memperhatikan penampilan Fania.


"Sebenarnya sayang sekali. Pakaian saat berbelanja dengan Dimas waktu itu banyak sekali. Namun, aku ingin terlihat lebih baik. Tidak bisa sepertimu, tetapi berusaha lebih baik agar bisa menjadi sepertimu." Fania berkata dengan binar mata yang tampak serius.


"Fania, ini kau?" Aku beranjak mendekat padanya seraya menatap Fania serius.


"Ya, Tuhan. Kau pikir siapa aku?!"


"Kau serius ingin berubah?" tanyaku seraya melebarkan mata.


"Enggak! Hanya bercanda!"


"Ish!" Aku mengerucutkan bibir, lalu berjalan ke luar dari rumah, seraya menuntun Arka. Kukira Fania serius mengatakan hal tersebut. Aku terlalu berharap lebih.


Saat aku dan Arka akan naik ke mobil Fania. Tiba-tiba sebuah mobil hitam muncul. Seseorang turun dari mobil tersebut.


"Arka," panggilnya seraya mendekati Arka.


"Papa ...," seru Arka lirih.


"Maafkan, papa, ya, Nak?" Mas Bastian langsung memeluk tubuh Arka. "Maaf ... papa enggak bisa menepati janji, ya? Papa enggak jadi merayakan pesta ulang tahun Arka," kata mas Bastian seraya memeluk tubuh Arka.


"Tidak apa-apa, Mas? Hari ini kita juga akan merayakan pesta ulang tahun Arka. Jadi ... tidak usah merasa bersalah," kataku.


Mas Bastian melepaskan pelukannya terhadap Arka. Dia mengalihkan pandangannya padaku. "Kalian mau jalan-jalan? Kalau begitu, biar aku ikut!"


Aku terhenyak mendengar pernyataan mas Bastian yang akan ikut kami jalan-jalan.

__ADS_1


"Tidak bisa! Ini acara keluarga! Dan kau, kau pergilah ke boneka Anabella-mu itu!" Fania tiba-tiba berkata dengan sedikit kasar.


"Fania," sergahku.


"Kalian masuklah ke mobilku. Biar aku yang mengantar kalian. Aku akan sangat senang," tawar mas Bastian.


"Mas ... bukannya menolak. Aku hanya ingin kita menjaga diri dari fitnah. Aku bukanlah mahrammu lagi. Kau juga sudah beristri. Jadi ... lebih baik kita jangan pergi bersama," tolakku lembut.


"Ya, aku tahu. Lagi pula ... aku hanya ingin ikut merayakan pesta ulang tahun Arka. Tidak lebih! Ayolah, Imania!"


"Mama? Biarkan Papa ikut, ya? Arka ingin jalan-jalan bersama dengan Papa dan Mama?" kata Arka dengan wajah polosnya.


Aku berpikir sejenak, sesekali memandang wajah Arka. Hari ini ... adalah hari spesial bagi Arka. Jika aku tidak menuruti keinginan putraku, dia akan sangat sedih. Mungkin,pergi bersama mas Bastian sesekali tidak masalah. Dan akhirnya ... aku pun mengangguk pelan. Arka sangat senang.


"Horey!" seru Arka.


"Tapi jangan pakai mobilmu, Mas."


"Oke tidak apa-apa!" jawab mas Bastian cepat.


Kami pun meluncur menuju taman hiburan. Mas Bastian yang membawa mobil Fania. Aku dan Arka pun duduk di belakang. Dan Fania di sebelah mas Bastian. Arka tampak sangat bahagia. Padahal ini baru akan berangkat, tapi Arka tampak begitu girang di sepanjang perjalanan. Mungkin karena ada papanya. Aku tersenyum memperhatikan tingkah ceria Arka.


"Arka, apa kau senang?" tanya mas Bastian yang menoleh ke belakang.


"Arka sangat senang, Pa. Kita harus sering pergi jalan-jalan bersama!" kata Arka terdengar antusias.


"Baik. Kita memang harus sering pergi bersama," kata mas Bastian setuju.


"Hei! Apa kau tidak waras? Boneka Anabella-mu itu akan murka bila tahu kau bersama kami!" tukas Fania.


"Mas, apa Bella tidak marah bila kau pergi bersamaku?" tanyaku heran.


Mas Bastian terdiam sesaat. Sedangkan tangannya masih mengemudi. "Arka adalah anakku. Aku pergi untuk Arka. Bukan karenamu. Jadi ... itu bukan masalah," tuturnya.


"Apa kau sudah izin kepada Bella, untuk pergi bersama kami?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Arka, kau mau bermain ke taman hiburan terlebih dahulu. Atau mau makan dulu?" tanya mas Bastian pada Arka.


"Ke taman hiburan terlebih dahulu!" jawab Arka semangat.


Mas Bastian tidak menjawab pertanyaanku. Dia sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan. Apakah ... itu berarti, mas Bastian tidak meminta izin kepada istrinya. Sebenarnya, ada apa dengan mas Bastian dan Bella? Bukankah mereka saling mencintai? Mas Bastian juga sangat ingin bersanding dengan Bella. Dia bilang, dia tidak bisa untuk tidak mencintai Bella. Namun, kuamati mas Bastian setelah menikah dengan Bella, dia menjadi sering murung. Aku memperhatikannya sesekali di kantor. Dan mataku menangkap kesedihan di raut muka mas Bastian.


"Bas! Bagaimana rasanya menikah dengan Bella?" tanya Fania tiba-tiba.


"Biasa saja."


"Biasa bagaimana? Bukankah kau ngebet sekali untuk menikahinya?" tanya Fania lagi.


Mas Bastian diam. Lagi-lagi ia tak menjawab. Ia hanya fokus menatap jalanan, seraya mengemudikan setir.


"Bas, sudah berapa bulan, usia kandungan Bella?"


"Lima bulan."


"Hasil USG-nya cewek atau cowok?"


"Bukan urusanmu!"


"Ck! Pelit sekali!" umpat Fania kesal.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Keceh?


Buat kalian yang belum melihat gambar piguran tokoh di novel ini.


Silakan buka kembali episode 1–9. Author sudah memberi beberapa tokoh piguran.


Untuk tokoh selanjutnya, masih review. Tungguin sosok Fania, Rudi, dan Bella, ya?

__ADS_1


Thank you ...!


__ADS_2