BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Sekertaris Ve dan Fania


__ADS_3

Sudah pukul tujuh pagi. Aku bangun kesiangan. Mungkin gara-gara semalam aku tidur pukul satu pagi. Oleh sebab itu, segera kubangunkan Fania yang masih terlelap.


"Fan, cepat bangun! Kau harus mengantarkanku ke kantor!"


"Hoam ...!" Fania menguap. "Aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur setengah jam lagi, ya?" jawabnya yang masih terpejam.


"Tidak bisa! Nanti aku telat!"


"Kau bersiap-siaplah. Setelah siap, baru bangunkan aku."


Fania selalu saja bermalas-malasan untuk bangun tidur. Kugoyang-goyangkan tubuhnya kembali.


"Fania, ayolah! Kau bilang ingin masuk kantor, kan? Kali ini kuizinkan!"


Dan kalimat itu mempan. Sontak Fania membuka kelopak mata. Ia pun segera duduk. "Kau serius?" tanyanya dengan mata kantuknya yang melebar.


Aku pun mengangguk. Dan Fania tampak sangat senang. Ia tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar.


"Tapi kau harus mandi dulu dan berdandan yang rapi!" kataku.


"Oh, Imania. Aku tidak mau mandi. Aku berdandan saja, ya?" pintanya memohon.


Aku menggelengkan kepala. "Terserah jika tidak mandi. Aku tidak mengizinkanmu ikut masuk ke kantor!"


"Apakah ada aturan orang yang mau masuk kantor harus mandi?"


"Oh, Fania, cepatlah! Jangan banyak bertanya. Bisa-bisa aku telat!"


Aku dan Fania pun bergegas mandi. Karena sudah siang, terpaksa kami mandi bersama. Setelah itu memakai pakaian dan berdandan.


"Fania, lepas pakaianmu!" kataku yang memperhatikan pakaian seksi Fania. "Kau mau ke kantor atau mau ke pesta?"


Fania mengamati dirinya sendiri di depan cermin. Ia melenggak-lenggokan tubuhnya, lalu berkata, "Ini sudah cocok, kok?"


"Lepaskan ini!" Aku menarik dress seksi yang Fania kenakan.


"Oh, Imania. Kau ribet sekali!" ucap Fania kesal.


"Aku punya dress yang lebih sopan. Tunggu sebentar!" Aku pun mengambil sebuah dress yang kusimpan di dalam lemari.


Setelah itu kuberikan kepada Fania, agar dia memakainya. Dress kuning ini pernah kupakai dulu sewaktu ada acara ulang tahun kampusku.


"Wah, ini pas sekali!" ucap Fania senang.


"Terlihat cocok untukmu!" pujiku.


Setelah selesai berdandan, kami pun bergegas berangkat menuju kantor. Tak lupa kucium kening Arka, yang masih tidur. Kemudian berpamitan pada Ibu.


Kami pun berangkat mengendarai mobil. Fania tampak bersemangat sekali. Aku sampai heran padanya. Sebenarnya, apa yang membuatnya tertarik untuk masuk ke dalam kantor? Itu membuatku penasaran.


"Fania," panggilku.


"Hm ...."


"Kenapa kau tertarik untuk masuk kantor?" tanyaku heran.


"Tidak tahu mengapa, aku hanya penasaran dengan kantormu," jawabnya seraya tersenyum.


"Kau ingin masuk kantor, tetapi tidak tahu alasannya untuk apa?" tanyaku semakin heran.

__ADS_1


"Sejak aku mengantarkanmu ke kantor untuk pertama kalinya. Entah mengapa jiwaku sepertinya terpanggil untuk mengunjunginya," jawabnya dengan mata berbinar-binar.


Aneh. Alasan Fania tidak masuk akal. Namun, apa itu penting? Ah, sudahlah. Paling-paling dia hanya penasaran saja. Atau mungkin, Fania tertarik pada salah satu karyawan laki-laki di kantorku?


"Jangan-jangan kau mengincar seorang pria, ya?"


"Bisa iya, bisa tidak. Eh, enggak, kok? Serius, aku hanya penasaran. Aku merasa ingin masuk kantor. Itu saja!" kata Fania sembari menyetir mobilnya.


"Baiklah, terserah apapun alasanmu. Tapi ingat! Jangan membuat onar di kantor, ya?"


"Siap, Bos!"


Setelah berkendara selama lebih dari setengah jam, kami pun sampai. Aku mengambil handphone untuk melihat waktu. Aku telat lima belas menit. Dan kami pun turun setelah Fania memarkirkan mobilnya.


"Fania, aku telat!" kataku seraya berjalan menuju pintu bagian belakang kantor.


"Apa akan ada yang menarahimu?"


"Tidak tahu."


"Aku akan memarahinya balik, bila seseorang berani menarahimu."


Sesampainya masuk, semua yang sedang sibuk bekerja dengan tugas masing-masing pun menoleh ke arah kami. Aku tetap masuk, bergabung dengan mereka. Sedangkan Fania mengekor di belakangku.


"Imania, kau telat. Kupikir kau tidak masuk kerja hari ini," ujar mas Bastian.


"Aku bangun kesiangan, Mas," kataku seraya duduk.


"Fania, ngapain kau ke sini?" tanya mas Bastian yang melihat Fania ikut masuk denganku.


"Bukan urusanmu!" jawab Fania ketus.


"Elli, dia bilang apa?" tanyaku.


"Dia pikir kau tidak masuk kerja. Tadi Miss Ve membawa sebuah dokumen ke mejamu. Dan dokumen itu sudah dibawa lagi ke ruangannya."


"Terima kasih, Elli."


Aku pun berdiri. "Kau tunggulah di sini, Fania."


"Kau mau ke mana?" tanya Fania seraya duduk di bangkuku.


"Aku akan menemui sekertaris Ve."


Aku beranjak menuju ruangan sekertaris Ve. Kuketuk pintunya tiga kali. Dan terdengar sahutan 'masuk' dari dalam. Aku pun masuk ke ruangannya.


"Duduklah," perintahnya seraya tersenyum.


"Terima kasih, Kak Ve." Aku pun duduk.


"Kau terlambat datang. Ada apa? Apa kau habis begadang semalam?" tanya sekertaris Ve dengan tatapan menyelidik.


"Tidak, Kak," jawabku. Karena aku tidak tahu harus beralasan apa.


Sekertaris Ve mendekatkan wajahnya padaku. Tangan kanannya menopang wajahnya di atas meja. "Katakanlah, apa yang terjadi semalam?"


"Kak Ve, apa maksudmu?"


"Imania, katakan saja. Apa ada yang mengganggu tidurmu semalam?" tanyanya masih dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti maksudmu, Kak Ve. Aku ...." Melihat tatapan sekertaris Ve, tiba-tiba saja aku merasa gugup.


"Imania, jangan bohong. Apa semalam terjadi sesuatu? Apa semalam menyenangkan?" tanyanya seraya mengedipkan mata.


Aku terkejut dengan pertanyaan sekertaris Ve. Apa dia ... mempunyai indra keenam? Dia seperti tahu tentang kejadian semalam. Tapi apa itu mungkin?


"Kak Ve, Elli tadi bilang kau mencariku?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan."


Aku menelan salivaku sendiri. "Kak Ve—"


Belum sempat aku bicara, tiba-tiba pintu ruangan sekertaris Ve terbuka. Aku dan sekertaris Ve pun langsung melihat sesosok wanita yang sudah berdiri di depan pintu.


"Fania, ngapain ke sini?" tanyaku.


Fania tidak menjawab. Dia hanya menatap bingung ke arahku. Kemudian berbalik dan menutup pintunya kembali. Sedangkan sekertaris Ve langsung berdiri.


"Tunggu!" seru sekertaris Ve.


Fania pun kembali membuka pintu itu. Kini pandangan Fania tertuju pada sekertaris Ve. Begitupun sekertaris Ve, ia terus menatap Fania dengan wajah penuh tanya.


"Kemarilah!" seru sekertaris Ve.


Fania berjalan pelan menghampiri kami. Dengan mata yang terus menyapu seluruh ruangan.


Sekertaris Ve mendekati Fania yang sudah berdiri di sampingku. Kini mereka berhadapan. Dan seperti biasa, wajah sekertaris Ve terus menyelidik Fania.


"Kau siapa?" tanya sekertaris Ve kepada Fania.


"Aku Fania. Fania Larasati," ucap Fania memperkenalkan diri. Fania pun mengulurkan tangannya pada sekertaris Ve.


Bukannya menjabat tangan Fania, sekertaris Ve malah menatap Fania tak berkedip.


"Apa kau terpesona padaku?" tanya Fania dengan sikap santainya.


"Kau ...."


Ada apa dengan sekertaris Ve? Mengapa dia memperhatikan Fania seperti itu?


"Kau ...."


Sekertaris Ve tidak melanjutkan bicara. Dia pun duduk kembali ke kursinya. Sekertaris Ve tiba-tiba memegangi kepalanya, keningnya mengkerut. Mimiknya sangat berubah sejak melihat Fania. Fania yang bingung pun beberapa kali menyikut pundakku pelan dengan lengannya.


"Kak Ve? Kau tidak apa-apa?" tanyaku melihat wajah sekertaris Ve yang mendadak pucat.


"Aku tidak apa-apa." Sekertaris Ve pun kembali menatap wajah Fania. "Kau ... wajahmu itu ... membuatku teringat akan sesuatu."


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Hai Readers terKeceh?


Author minta maaf, nih. Belum bisa crazy up.


Tapi demi kalian, besok Author Keceh akan up lebih dari dua episode.


Oh, ya? Seneng deh baca komentar kalian yang penuh terka. Author akan membuka rahasia satu per satu. Silakan menebak-nebak, itu boleh kok?

__ADS_1


Author Keceh Sayang kalian ... Love You ...!


__ADS_2