
Rindu tak harus dimiliki oleh mereka yang long distance relationship. Kadang rindu akan sesuatu hal seperti ini, lebih memacu gairah. Sayangnya, aku hanya melakukannya berdasarkan nafsu saja. Nafsu, ya. Aku wanita normal. Dapat terlena bila terus menerus bersentuhan dengan kenikmatan yang dianggap surga dunia itu. Meski sejauh ini, aku tidak tahu bagaimana rasanya melakukan berdasarkan cinta. Bukan sekadar nafsu sesaat.
Sejujurnya, aku tidak tahu caranya melakukan ini dengan cinta. Kedatangan mas Bastian dalam hidupku spontan saja. Ia seperti sebuah celah untuk mengalihkan perhatian dan pikiran resahku. Ia hanyalah pintu lain yang membuka ke arah kehidupan yang lebih baru. Ini masih menjadi rahasia, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Kalian takkan mengerti. Nanti ... ada saatnya segalanya terungkap.
Saat tangan mas Bastian menyentuh kancing terakhir yang masih mengunci bajuku. Aku segera melepas bibir dari bibirnya. Dan tanganku menahan gerak mas Bastian.
"Ada apa?" Mas Bastian menatapku bingung.
"Aku ...."
"Ayolah, aku sudah tidak bisa menahannya."
"Aku ... aku sedang menstruasi," bisikku di telinganya.
Matanya melebar, mendengar penuturanku. "Sejak kapan?"
"Sejak tadi pagi."
Bagaimana bisa aku lupa? Ada noda yang harus kusembunyikan, ulah si dokter elang. Jadi, terpaksa berbohong, karena sebenarnya aku tidak sedang menstruasi.
Mas Bastian pun beranjak dengan perasaan kecewa. Bagaimana tidak. Ini adalah hari terakhir kami di villa. Anniversary yang terbayang akan sangat romantis. Enyah begitu saja. Apa boleh buat. Kami harus pulang. Ia harus kembali bekerja.
Saat mas Bastian sedang memakai pakaian, aku meminta izin padanya untuk pergi menemui Nessa. Aku keluar dari kamar villa. Bersamaan itu, aku melihat Nessa juga keluar dari kamarnya. Segera kulangkahkan kaki menghampiri.
"Nessa," panggilku.
Ia menoleh seraya mengulum senyum. "Mau keluar?"
Kupikir dia masih marah padaku. Melihat ekspresi wajahnya saat ini, sepertinya Nessa bukan wanita yang mudah menjadi pembenci.
"Kenapa diam? Mari kita jalan-jalan," ajaknya.
Kami pun pergi ke taman belakang villa. Bunga-bunga ditata rapi nan elok. Banyak orang yang sedang bersantai juga di sana. Untuk sekadar menikmati udara segar dan mentari pagi yang mulai menghangat.
Aku duduk bebas bersama Nessa di atas rerumputan taman yang tercukur rapi. Seraya memikirkan kejadian kemarin. Saat Nessa sedang berbincang denganku di balkon. Sungguh terkejut, ternyata Nessa mengetahui bahwa aku dan Dimas pernah berhubungan.
__ADS_1
"Ness?"
"Hm?"
"Tentang kemarin ... sebenarnya ...."
"Aku tahu. Itu hanyalah masa lalu."
"Kau tidak marah?"
"Untuk apa marah?" Nessa balik bertanya.
"Kau ... tidak membenciku, kan?"
Dia menarik napas dalam. "Awalnya, sempat terpikirkan olehku. Bahwa kamu akan merebut cinta Dimas dariku. Bukankah itu konyol? Aku sempat tak ingin mempercayaimu. Bahkan, sejak berjumpa denganmu pertama kali, aku sudah membencimu."
"Kenapa? Apa kau sudah mengetahui tentang diriku sejak awal?"
Nessa menghela napas dalam, lalu mengembusnya. "Ya, kamu adalah orang yang berhasil masuk ke dalam hati Dimas. Bahkan, sampai sekarang. Hingga sampai saat ini, sepertinya belum ada celah bagiku untuk masuk."
Nessa menoleh seraya tersenyum sedih. Senyuman yang sengaja terlukis untuk menutupi kepedihan. "Sejak kami di California."
Aku tertegun sejenak mendengar penuturan Nessa. "Apa dia yang bercerita padamu?"
"Tidak banyak. Hanya ... pernah mengatakan, bahwa dia punya pacar."
"Bukankah ... kau dan Dimas berpacaran?"
Nessa tertawa kecil mendengar pertanyaanku. "Saat itu kami hanya sepasang sahabat. Hingga kami pun akhirnya bertunangan. Aku sangat mencintainya. Dia juga menyayangiku. Hanya saja, hatinya masih tertuju padamu."
Tidak habis pikir. Itu berarti mereka bertunangan tanpa saling mencintai. Lalu, kenapa Dimas mengabaikanku saat ia di California? Mengapa Dimas tak memberi kabar padaku? Dan mengapa Dimas seperti menjauhiku?
Jikalau Dimas tidak mencintai Nessa, lalu mengapa Dimas sangat khawatir dan panik, ketika Nessa pingsan kemarin. Dimas tampak sangat perhatian.
"Kami dijodohkan," ungkapnya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
Kulihat, mata Nessa berkaca-kaca. Seperti ada sesuatu yang ingin segera ia tumpahkan. Segala unek-unek yang terpendam di dadanya.
"Dijodohkan?" ulangku masih terperangah. Berarti, yang kudengar dulu itu benar.
"Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku mencintainya. Sayangnya, Dimas belum pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku."
"Apa reaksinya saat mengetahui bahwa kalian dijodohkan?"
"Apa yang membuat hatiku senang, dia pasti akan menyetujuinya. Dia sangat sayang padaku. Aku yakin dia juga mencintaiku. Hanya saja, Dimas masih enggan mengakui. Terlebih lagi, ia belum bisa mengusir masa lalunya. Yaitu kamu."
Aku tertunduk lesu. Merasa sedih saat Nessa menatapku dengan tatapan berair. "Aku sudah melupakannya."
"Benarkah?"
"Aku sudah berkeluarga. Aku tidak akan menerima laki-laki lain. Dimas hanya masa laluku. Dia sudah kubuang jauh-jauh sebelum aku memutuskan untuk menikah. Jadi, kau tak usah khawatir. Aku sudah tidak mencintainya." Entah mengapa bibirku bergetar mengatakannya. Ada sedikit sesak di dada saat mengatakan hal tersebut. Aku juga tidak mengerti.
Nessa meraih telapak tanganku. Menggenggam dan meremas jemariku erat. "Kumohon ... jangan biarkan Dimas meninggalkanku. Aku tidak tahu berapa kali Dimas akan menggodamu agar kembali padanya. Akan tetapi, aku percaya sepenuhnya padamu. Tolaklah Dimas! Dia takdirku! Dia jodohku! Kami terlahir untuk bersama selamanya. Jangan pernah kembali pada Dimas. Jangan pernah berkhianat padaku. Berjanjilah, untuk tidak kembali ke masa lalumu! Atau aku benar-benar akan membencimu! Berjanjilah! Kumohon, Imania ...," ucap Nessa dengan berderai air mata.
Dia sangat menginginkannya. Aku mengerti perasaan Nessa. Kutatap matanya dalam disertai anggukan. Hanya itu yang bisa kulakukan.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Hai, Readers Tersayang ....
Author Keceh akan terus mengungkap satu per satu permasalahan pelan-pelan. Jadi, tetap penasaran kan?
Kalian pasti masih nungguin tentang perselingkuhan Bastian ya?
Sabar ... nanti juga ketahuan. Sepandai-pandai menyimpan bangkai, toh akan tercium juga, ya kan?
Gemes deh! Makanya ayo VOTE, FOLLOW, LIKE & COMENT! Semangati Author Keceh dengan mendukung novel ini.
Salam Manis dari Author paling manis ini .... 😉
__ADS_1