BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Dikunjungi Orang Tua & Mertua


__ADS_3

Hari selanjutnya, pagi-pagi, saat aku tengah sibuk memasak, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kuminta bi Murti yang sedang menyapu lantai untuk membukakan pintu. Sedangkan seperti biasa, bi Surti membantuku memasak.


Tidak lama, bi Murti kembali dengan membawa tamu-tamu itu. Betapa terkejutnya melihat siapa yang datang, kedua orang tuaku dan kedua mertuaku. Buru-buru kucuci tangan dan menyalami mereka.


"Kamu masak sendiri?" tanya pak Wibowo.


"Iya, Ayah."


"Bukankah ada Bi Sur?" tanya bu Hera.


"Imania suka memasak, Ma. Daripada enggak ngapa-ngapain."


"Oh ...."


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya ibuku.


"Alhamdulillah, baik, Bu. Ibu apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik."


"Eh, ayo kita duduk di depan. Biar Imania buatkan minuman."


Aku dan bi Sur menyiapkan jamuan untuk mereka, sedangkan mereka menuju sofa dan duduk di sana. Setelah menjamu mereka, aku izin naik ke lantai atas untuk memanggil Dimas.


Sesampainya di kamar, aku tidak mendapati suamiku. Di mana dia? Bukankah dia bilang akan mandi? Apa dia belum selesai?


"Sayang?" Aku memanggilnya.


Tidak terdengar sahutan. Ah, mungkin Dimas masih di kamar mandi. Saat aku akan keluar dari kamar, tiba-tiba seseorang menarik tubuhku ke dalam pelukan.


"Dimas, dingin." Tubuh Dimas hanya terlilit handuk. Dia memelukku dari belakang.


"Kau kedinginan?"


"Bukan, maksudku, tubuhmu basah."


"Kalau terus memelukmu, tidak hanya tubuhku yang basah, tapi juga—"


Aku langsung berbalik dan menempelkan telunjukku ke bibirnya. "Sst ...."


Dimas tersenyum menatapku, lalu kembali membawa tubuhku ke dalam pelukannya. "Main, yuk!"


Tanpa menunggu persetujuan Dimas langsung menggendong tubuhku dan membaringkanku di ranjang. Ia menindihku.


"Dimas!" Baru aku mau mengatakan bahwa orang tua kita datang, dia langsung mengecup bibirku. "Emph!" Aku berusaha melepaskan diri.


"Ada apa? Kamu enggak pengen?"


"Bukan begitu, tapi—" Belum selesai bicara, tiba-tiba mataku dikejutkan oleh keempat orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku. "Dimas." Aku langsung menunjuk ke arah pintu menggunakan ekor mataku.


"Oh ... oke, biar kututup pintunya dulu, ya, Sayang."


Dimas beranjak dari tubuhku. Dan ia pun terkejut melihat siapa yang datang. "Ka-kalian se-sejak kapan di sini?"


Keempat orang tua itu menatap Dimas sembari menyilangkan kedua lengan di dada dan geleng-geleng kepala.


"Ha-ha, kami sedang bermain. Mengapa ekspresi kalian seperti itu? Bukankah kalian juga biasa melakukan hal serupa?" Dimas bicara sembari menggaruk-garuk kepalanya.


"Dimas!" seru mereka serentak, tapi dengan cepat Dimas menutup pintu kamar tersebut.


Dimas pun menghampiriku yang tengah berdiri sembari turut menyilangkan kedua lengan di dada.


"Mengapa tidak bilang bahwa mereka datang?"


"Baru saja aku mau bilang, tapi kamu langsung menyerangku."


Dimas kembali memelukku. "Ya, sudah, ayo kita lanjutkan!" Dimas kembali mendekatkan bibirnya.


"Dimas!" Aku langsung menahan bibir itu menggunakan telunjukku. "Nanti malam."


"Okay."


Kukecup bibirnya mesra. Setelah Dimas berpakaian rapi, kami pun turun menghampiri mereka yang sudah duduk kembali di sofa. Dimas menyalami mereka, lalu kami duduk bergabung bersama mereka yang masih menatap kami dengan sorot mata menyelidik.


"Apa kabar kalian semua?" tanya Dimas.


Mereka semua tidak ada yang menyahut. Sehingga membuat Dimas salah tingkah. Sepertinya memang mereka sengaja dan sudah sekongkol.


"Ha-ha, mengapa menatapku seperti itu?" tanya Dimas.


Mereka masih tetap bergeming, hanya menatapku dan suamiku dengan sorot mata tajam. Pasti gara-gara kejadian tadi. Ah, itu memalukan. Masak kepergok orang tua dan mertua sedang mau ninu-ninu.

__ADS_1


"Wajar, kan, pengantin baru," ujar Dimas tiba-tiba sembari menggaruk-garuk kepalanya.


Setelah sekian menit hanya saling pandang, akhirnya pak Wibowo meraih secangkir kopi dari atas meja dan bertanya, "Bagaimana honeymoon kalian?" Kemudian menyesap kopi tersebut.


"Alhamdulillah, enak banget, Yah," jawab Dimas blak-blakan.


"Uhuk!" Pak Wibowo tersedak.


Kami pun panik. Aku segera beranjak menuju dapur untuk mengambil air putih. Lalu kembali lagi untuk memberikannya kepada pak Wibowo. "Ini, Yah, minumlah."


Lagi-lagi, Dimas membuatku tersipu malu. Ibuku dan bu Hera pun turut tersenyum geli mendengar jawaban dari Dimas. Ini pertama kali melihat bu Hera tersenyum. Meski senyumnya itu karena geli, bukan ditujukan khusus untukku.


Aku kembali duduk. "Dimas, jangan berkata sembarangan!" tegurku.


"Sembarangan bagaimana? Aku berkata jujur. Memang rasanya enak banget, kok?"


Segera kucubit pinggangnya.


"Aww!"


"Senang melihat kalian akur dan harmonis," kata ibuku.


"Ayah jadi tidak sabar ingin punya cucu lagi," ucap ayahku kemudian menyesap kopinya.


"Doakan saja, Yah. Kami bikinnya tiap hari, kok? Supaya cepat jadi," celetuk Dimas lagi.


Ayahku hampir juga tersedak mendengar perkataan Dimas. "Eghem!" Untungnya cuma hampir.


Akhirnya, kami pun ngobrol dengan gembira. Senang rasanya melihat kedua keluarga akur dan harmonis. Berkali-kali yang mereka tanyakan adalah cucu. Padahal baru sepuluh hari menikah. Bu Hera juga sangat mendambakan seorang cucu. Itu membuatku semakin semangat untuk segera hamil.


Usai berbincang ria, kami pun makan bersama, dan setelah itu mereka berpamit untuk pulang.


***


Sore harinya, usai mandi aku dan Dimas sedang duduk di sofa. Aku sedang asyik chat WA dengan teman lamaku, Dewi. Betapa terkejutnya mengetahui kabar bahwa mereka akan bercerai.


[Kau serius?]


[Iya. Bagaimana lagi. Rangga tidak berubah. Lagi pula, aku sudah jatuh cinta pada orang lain.]


[Siapa?]


[Kapan-kapan aku kenalin, ya?]


[Tidak, Ima. Percuma juga. Kita sudah tidak saling mencintai.]


"Ada apa, Sayang? Serius sekali chating-nya." Dimas merapatkan tubuhnya padaku.


"Ini, Sayang. Temanku akan bercerai."


"Kok, bisa?"


"Suaminya suka selingkuh, mata keranjang!"


"Loh, kok, kamu ikutan emosi?"


"Siapa yang emosi?"


"Kamu," katanya sembari mencubit hidungku.


Aku melenguh. "Aku benci playboy."


"Yang penting aku tidak."


"Awas, ya, kalau sampai lirik-lirik wanita lain. Yang lebih seksi, lebih cantik, lebih—"


"Sst?" Dimas segera menahan bibirku bicara lagi menggunakan telunjuknya. "Tidak ada yang lebih seksi, apalagi lebih cantik darimu. Di hatiku cuma kamu satu."


"Ya, aku percaya."


"Atas dasar apa kamu percaya padaku?"


"Parmin," jawabku.


Dimas tertawa mendengarku menyebut nama 'Parmin'. "Jadi, Parmin sudah bercerita sesuatu padamu?"


"Hm ...." Aku mengangguk, lalu memeluk tubuhnya.


"Apa ... dia bercerita banyak tentangku?"


"Tidak banyak. Tapi ... dari sedikit ceritanya, aku jadi tahu kalau aku sangat beruntung mendapatkan suami sepertimu," ucapku sembari mengeratkan pelukan.

__ADS_1


"Itu berarti ... kau dan Parmin bersahabat, dong, sekarang?"


"Dia lucu. Kau cukup beruntung memperkerjakannya."


"Lebih lucu mana denganku?"


Aku mendongak dan mencubit hidungnya. "Ya, kamu, lah." Dimas pun membalas pelukanku. "Tapi ... kasihan juga dia, ya? Masak sudah cukup umur, tapi belum menikah juga. Mana sering kena tampar cewek lagi, ha-ha. Gara-gara kamu."


"Loh, kok, gara-gara aku? Justru Parmin, tuh, beruntung. Karenaku dia jadi punya banyak gebetan, ha-ha."


"Sudah, ah, jangan ngomongin Parmin lagi. Entar panas kupingnya."


Dimas mencium keningku, lalu berkata, "Aku sedang memesan sesuatu untukmu."


"Apa?"


"Kejutan."


"Apa, sih, aku jadi penasaran."


"Besok akan ada paket datang."


"Hm ... penasaran."


"Kalau paketnya datang, malemnya kamu pakai, ya?"


"Baju?"


Dimas tidak menjawab. Dia hanya senyum-senyum sendiri. "Aku bahagia sekali bisa kembali bersamamu."


"Aku juga."


Dimas mengusap-usap perutku. "Semoga benih cinta yang tertanam lekas tumbuh. Kakek dan nenek sudah tidak sabar menanti kabar gembira darimu."


Aku tersenyum memperhatikannya. "Sayang, kamu mau anak cowok apa cewek?"


"Dua-duanya."


"Satu-satu, dong?"


"Aku mau cowok yang ganteng dan soleh seperti papanya. Yang cewek cantik dan solehah seperti mamanya," ujar Dimas sembari terus mengelus perutku.


"Aamiin ...."


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Hola, Readers terKeceh ...!


Sesuai janji, malam ini pengumuman give away!


PENGUMUMAN!!


Hasil VOTE terbanyak dimenangkan oleh ;


1. Nur Hanipah Siregar


2. Siti Kalimah


3. Eliyana Ragam


Selanjutnya, bonus 3 KOMENTAR TERKECEH ;


1. Yendra Keceh


2. Nonita Keceh


3. Cho & Cla Keceh


Silakan masuk ke grup untuk konfirmasi hadiah yang hanya kecil-kecilan dari Author Keceh. Tadinya sih kalau berhasil menduduki peringkat, mau dikasih yang lebih. Berhubung hasil VOTING YANG RENDAH tidak dapat membantu menduduki peringkat, dan penghasilan Author Keceh juga masih kecil dari view novel ini, jadi Author Keceh cuma bisa memberikan hadiah kecil-kecilan.


Ini hanya sekadar rasa terima kasih sudah mengikuti novel ini dan memberikan dukungan terbaik kepada novel ini. Jadi, Author Keceh mohon maaf, ya?


Penilaian diberikan secara objektif, ya?


(Bagi nama-nama yang tertera, mohon masuk grup dan tuliskan nomor HP dengan benar)


Yang belum beruntung semoga mendapat giliran di novel selanjutnya.


Tunggu terus sampai END ya?

__ADS_1


Thank you ...!


__ADS_2