BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Besok Pindah


__ADS_3

Di dalam mobil Rudi.


"Rud, mobilmu jadi kotor gara-gara aku."


"Tidak masalah, Imania. Kau tenang saja. Bisa dicuci juga."


"Terima kasih ... sudah menolongku, Rud."


"Sama-sama."


Aku tidak tahu, bagaimana bisa tiba-tiba saja Rudi muncul. Apa lebih baik kutanya saja?


"Rudi, kau tiba-tiba muncul tadi. Memangnya, kau darimana?"


"Kebetulan sedang mampir di kedai kopi," jawab Rudi seraya tersenyum.


"Kau tidak sengaja menungguku, kan?"


Aku menggigit bibir bawahku sendiri. Seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Oh, Imania, PD sekali!


"Aku memang menunggumu."


Jawaban Rudi membuatku terkejut. Untuk apa dia menungguku?


"Sebenarnya, aku juga menabung di bank milik ayahnya Dimas. Lalu, tiba-tiba saja kepikiran untuk menunggumu di kedai."


"Menungguku? Untuk apa?"


Rudi terdiam sesaat, lalu menjawab, "Untuk mengajakmu pulang bersama."


***


Sesampainya Rudi mengantarkanku pulang. Aku pun berterima kasih padanya. Dan, Rudi segera pulang juga. Tubuh kami sudah sangat amis, akibat bau telur yang menyengat. Menyegerakan mandi adalah solusi terbaik.


Aku pun masuk ke dalam rumah. Dan langsung dicecar dengan berbagai pertanyaan oleh Fania. Untung saja ibu dan ayah sedang pergi. Jadi, hanya Fania dan Arka yang tahu keadaanku saat pulang.


"Ini hari ulang tahunku." Itu alasan yang kugunakan agar Fania tidak begitu cerewet padaku.


Setelah mandi, aku mengajak Fania dan Arka untuk makan malam. Di meja makan, kami saling mengobrol seperti biasa sembari menyantap makanan.


"Sebenarnya, ibu dan ayah kemana? Kok, belum pulang, ya?"


"Bilangnya pergi kondangan," kata Fania.


"Mama? Kapan kita jalan-jalan lagi sama papa?" tanya Arka tiba-tiba.


"Kapan-kapan, ya, Sayang," jawabku sembari tersenyum.

__ADS_1


"Arka kangen sama papa!"


"Iya, Sayang. Besok, kalau mama libur, kita akan pergi jalan-jalan."


Arka mengangguk mengerti. Ia pun melanjutkan makan.


"Imania," panggil Fania.


"Hm ...." jawabku sembari mengunyah makanan.


"Aku merasa tidak enak, bila terus menerus di sini."


Aku menghentikan makan. Kuletakkan sendok dan beralih menatap Fania. "Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Aku sudah lama hidup menumpang di sini. Tidur gratis, mandi gratis, dan makan gratis. Aku merasa ... lama-lama tidak enak juga pada ibu dan ayahmu, Imania."


"Fania ... mengapa kau berpikir begitu? Kami semua senang kau berada di sini. Apalagi, kau sudah seperti baby sitter Arka. Kau menjaga Arka dengan sangat baik. Kau menyayangi Arka dengan tulus. Kau sudah menjadi teman sepermainan Arka. Dan kau melakukan semua itu dengan keikhlasan. Jadi ... kami sangat beruntung kau ada di sini. Please ... jangan berkata seperti itu."


"Imania, aku akan tetap pergi."


Aku terbelalak mendengarnya. "Fania, jangan pergi dari sini. Kumohon ...." Aku benar-benar sedih mendengar pernyataan Fania. Hingga tidak ingin melanjutkan makanan yang masih berada di piring.


"Maafkan aku, Imania. Aku tetap akan pergi."


"Kau akan tinggal ke mana, selain di rumah ini."


"Tidak tahu."


"Kau tidak menghabiskan makananmu?" tanya Fania.


"Aku sudah tidak nafsu makan."


Usai menunggu Arka menghabiskan makanan di piringnya, kami pun duduk di sofa sembari menonton televisi. Akan tetapi, pikiranku melayang kepada Fania. Aku tidak bisa membiarkan Fania terombang-ambing di jalanan. Apalagi, Fania sudah tidak memiliki siapa-siapa. Kecuali, ayahnya yang entah siapa. Dan saudara perempuan dari ibunya, yang juga entah siapa.


Ting! Pesan masuk dari Dimas.


Aku sedang tidak ingin memikirkan betapa rumitnya hubunganku dengan Dimas. Itu sangat memusingkan. Lebih baik kubiarkan saja.


"Fania," panggilku.


"Hm .... "


"Kapan kau akan pergi dari sini?"


"Besok."


"Beri alasan yang paling jelas dan jujur padaku. Mengapa mesti pergi?"

__ADS_1


"Bukankah sudah kubilang, aku merasa tidak nyaman di sini?"


Aku berpikir sejenak sebelum memutuskan mengatakan hal ini. Mungkin, hanya ini cara satu-satunya untuk menahan Fania tetap bersamaku. "Baiklah, mulai besok." Aku menghela napas dalam. Bismillahirrahmanirrahim, semoga ini adalah keputusan terbaik. "Mulai besok, kita pindah ke rumah baruku."


Fania langsung melonjak senang mendengar penuturan dariku. Ia berdiri di sofa sembari menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. "Hore! Besok pindah! Besok pindah! Rumah baru! Rumah baru!"


Fania tampak begitu senang dan semangat. Kelakuannya selalu membuatku geleng-geleng kepala.


"Tante Fania berisik!" teriak Arka yang tengah menonton film Ultraman di televisi.


Fania dengan gemasnya langsung menciumi pipi Arka. Arka pun segera teriak kesal. Sedangkan aku, turut senang melihatnya senang.


"Kemasi barang-barang kita sekarang. Besok, sepulang dari kantor, aku akan menjemputmu."


"Siap, Komandan!"


Fania langsung berlari menuju kamar. Aku tersenyum sendiri melihat semangatnya. Entah mengapa, aku jadi berpikir, bahwa ini akal-akalan Fania saja agar aku mau pindah ke rumah baru. Karena sudah sering, Fania ingin tinggal di sana bersamaku.


Sejam kemudian, ayah dan ibu pulang. Aku pun mengutarakan niatku untuk pindah ke rumah baru. Atau lebih tepatnya untuk menempati rumah baru. Dan mereka mengizinkan.


***


Hari semakin larut. Aku menatap dua koper yang sudah berisi pakaian. Ada beberapa kardus juga, berisi barang-barang kami. Besok, kami akan menempati rumah baru. Semoga, ini adalah keputusan yang tepat.


Fania dan Arka sudah tidur. Aku mengambil handphone dari nakas. Kulihat pesan dari Dimas yang kubisukan. Ada seratus lebih pesan darinya. Dia pasti sedang memikirkanku sekarang. Namun, aku harus nekat. Tidak boleh lemah (kata Readers Keceh haha).


Baiklah. Ini adalah bagian dari ketegasanku. Lebih baik aku tidak membuka pesan darinya. Kuletakkan handphone di atas bantal, di dekat kepalaku, setelah menyetel sebuah lagu kesayanganku, 'Rivers Flow In You'. Aku pun segera memejamkan mata sembari mendengarkan alunan melodi piano yang menggetarkan hati. Melepaskan sejenak masalah, mendinginkan hati dan pikiran.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Keceh, sebenarnya bab ini panjang. Tapi karena Author Keceh sedang kurang fit hari ini. Jadi, mohon maaf karena ini terlalu pendek, ya?


Ini juga terpaksa Author UP. Niatnya enggak UP malam ini. Sebab seharusnya ini masih panjang.


Namun, Author Keceh tidak tega jika kalian menunggu dan Author tidak UP. Author Sayang kalian semua. Bahkan, saat perasaan para Author terguncang akibat peraturan baru pihak MANGATOON. Author masih memikirkan kalian.


Kesetiaan kalian menunggu Author UP sudah menjadi semangat dan rasa sayang tersendiri bagi Author kepada kalian.


Besok pagi, Author akan UP lagi. Mohon maaf, atas kekurangan malam ini, ya?


Author Keceh sayang kalian. Jika banyak Author yang meninggalkan MT. Author Keceh masih berpikir berkali-kali untuk meninggalkan kalian.


Doakan agar Author Keceh selalu sehat, ya? Supaya bisa rajin UP terus. Dan Author Keceh doakan agar kalian selalu sehat. Agar bisa terus mengikuti karya-karya Author Keceh.


INGAT! SEMENTARA INI DI RUMAH SAJA! JANGAN LUPA PAKAI MASKER SAAT TERPAKSA HARUS BEPERGIAN. SEMOGA READERS KECEH SENANTIASA SEHAT DAN TERHINDAR DARI COVID-19.

__ADS_1


Salam Hangat dan Salam Sayang Dariku ....


Good Night and Thank You ...! 😘


__ADS_2