
"Mungkinkah, sekarang kau masih mencintainya?" Tiba-tiba Dimas bertanya pada mas Bastian. "Apa kau masih mengingat dirinya? Atau kau belum bisa move on darinya?"
Sontak pertanyaan Dimas membuatku kaget. Dimas seperti mengetahui perasaanku. Semua pertanyaan yang ia lontarkan, sama persis dengan apa yang ada dalam benakku.
Nessa menyikut lengan Dimas. "Apa yang kau tanyakan itu konyol! Mana mungkin Bastian belum bisa move on. Lihatlah mereka sekarang. Ima dan Bastian sangat serasi. Lagi pula, mereka akan liburan untuk merayakan anniversary. Kamu jangan membuat hari indah mereka terganggu, Sayang," tegur Nessa.
Mas Bastian tak menyahut. Ia fokus pada setir di tangannya. Wajahnya masih menampakkan rasa sedih di hatinya. Tentu saja aku mengerti. Aku berusaha tetap tenang dan memahami. Bukankah itu hanya masa lalu?
"Aku hanya bercanda, Brother! Jangan cemas! Imania sangat mempercayaimu, bukan? Maafkan pertanyaan konyolku," ucap Dimas seraya tertawa.
"Baik, Sekarang giliran siapa, Bas? Kamu yang menunjuk!" sela Nessa langsung.
"Em ... siapa dulu, ya? Dimas, deh!"
Aku terdiam. Harap-harap dia tidak membahasku. Akan tetapi, mana mungkin? Bukankah mantannya adalah aku? Atau mungkin dia punya mantan SMP, atau saat kuliah di California. Entahlah!
"Mantanku ... dia cantik. Sangat cantik!" Dimas mulai berbicara.
Sedangkan diriku mulai berdebar-debar. Harap-harap cemas akan apa yang ia ucapkan. Apa yang akan dia katakan?
"Aku menembaknya saat dia SMA. Tepat di hari ulang tahunnya."
"Wah, kisah kita hampir mirip! Aku putus di hari ulang tahunku. Dan kalian jadian di hari ulang tahunnya. Keren!" ucap mas Bastian.
"Dia gadis yang polos. Dia sangat istimewa. Di sebuah taman kami jadian. Dia menerima cintaku. Hari-hari kami pun menjadi sangat indah."
Aku menatap wajah Nessa dari spion tengah kabin. Dia seperti tidak senang. Namun, tetap berusaha tenang, mendengarkan Dimas dengan sabar.
"Dua tahun kami menjalin hubungan. Awalnya berjalan lancar. Hingga pada akhirnya. Kami berpisah. Dikarenakan aku harus ke negeri Paman Sam."
Jantungku semakin berdetak kencang mendengar penuturannya. Sekilas otakku menangkap satu per satu memori itu.
"Terakhir kami bertemu di taman. Aku berpamitan padanya. Di taman tersebut, kami berpelukan. Bahkan aku menciumnya untuk pertama kali. Dan itu merupakan ciuman pertamaku dan pertamanya."
"Bagaimana rasanya ciuman pertama menurutmu, Di?" Mas Bastian bertanya dengan sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Manis ... enak ... gurih ... lezat!" ujar Dimas seraya tertawa. Disusul tawa mas Bastian. Nessa masih terpaku mendengarnya. Sedangkan diriku semakin terperangah atas sikap blak-blakan dokter elang itu.
"Dan kemudian hujan turun. Seolah memahami suasana hati kami. Yang takut untuk berpisah, ragu untuk saling melepas. Hujan pun mengguyur tubuh kami hingga basah. Aku memperhatikan dirinya yang basah. Rambutnya, matanya, bibirnya, dia sangat cantik dan seksi saat basah-basah begitu. Ha-ha ...," lanjutnya lagi.
Dasar mesum! Apa harus mengatakan sebegitunya!
"Bahkan, aku pun ikut basah saat dia tiba-tiba menciumku terlebih dahulu!" Dimas tertawa. Mas Bastian pun ikut tertawa. "Bibirku yang basah maksudnya, ha-ha ...."
"Sudah cukup! Kasihan Nessa, Di. Sekarang giliran istriku. Ayo, Sayang, katakan, seperti apa mantanmu?"
Aku terdiam. Semua mata mengarah padaku. Namun, aku dilema. Antara harus mengatakannya atau tidak.
"Ayo, Ima!" perintah Nessa seraya menepuk pundakku.
Aku pun memberanikan diri untuk mulai menggambarkan. "Mantanku itu?"
Aku mengambil napas dalam. Berusaha untuk rileks. "Mantanku ...." Aku berhenti, menahan bibirku sejenak.
"Katakan saja, Ima," timpal Nessa lagi.
Tiba-tiba Dimas tertawa. Karena dia tentu tahu. Siapa yang kumaksud. Dia adalah cinta pertama. Aku hanya berpacaran dengannya, sebelum menambatkan hati pada mas Bastian.
"Dia ... dia ... dia ... em?"
"Katakan saja? Aku tidak akan marah!" kata mas Bastian. "Sekarang kamu milikku. Tidak peduli masa lalumu. Aku akan menerima itu!"
Namun, masa laluku adalah Dimas. Apa kau akan tetap menerimanya?
"Awalnya aku sangat menyukainya. Setelah itu, aku sangat ... sangat ... sangat membencinya! Dia cinta pertama sekaligus pacar terburuk dalam hidupku. Dia tukang tipu. Pembohong! Aku sangat membencinya. Jadi ... aku tidak bisa mengingat persis sisi baiknya. Dia tersimpan cukup buruk di otakku!" ujarku dengan nada emosional.
"Setidaknya kau masih menyimpan mantan terburukmu itu, bukan?" Dimas bertanya kemudian tertawa mendengar penuturanku.
"Aku sudah lama mengusirnya dari hati ini. Sejak bertemu dengan mas Bastian. Aku sudah memutuskan untuk move on darinya!" jawabku antusias.
"Wow! Itu bagus!" sindir Dimas.
__ADS_1
"Berarti dia tak seganteng aku, kan?" tanya mas Bastian.
"Tentu saja! Dia jauh lebih buruk darimu! Dia ... dia sangat jelek!" jawabku.
"Kalau dia jelek, mengapa kamu mau berpacaran dengannya?" Dimas bertanya lagi.
Aku terdiam. Percuma berdebat dengannya.
Tiba-tiba napas Nessa tersengal-sengal. Nessa terus memegangi dadanya. Semua yang melihatnya pun panik. Termasuk Dimas yang tampak sangat cemas.
"Ness, kamu tidak apa-apa?" Dimas meletakkan kepala Nessa di bahunya, seraya mengusap-usap punggung Nessa.
Nessa tidak menjawab. Dia malah memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba rasa bersalah hinggap di benakku. Apakah ini semua gara-gara aku? Mungkinkah Nessa mengetahui tentang masa laluku dan Dimas? Apa dia shock? Sehingga tiba-tiba dadanya terasa sakit.
"Nessa, jangan membuatku takut! Kamu tidak apa-apa, kan?" Dimas bertanya dengan sangat cemas.
Mas Bastian menghentikan mobilnya.
"Aku tidak apa-apa. Aku tenang berada di pelukanmu. Jangan lepaskan aku! Aku ... aku nyaman bersamamu." Nessa melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Dimas.
"Tenanglah, aku di sini. Aku ada di sini! Aku selalu bersamamu. Aku akan terus menjagamu. Tenanglah. Atur napasmu," ucap Dimas dengan penuh perhatian.
"Kau tidak apa-apa, kan, Ness?" tanyaku ikut khawatir.
"Dia tidak apa-apa! Lihatlah ke depan! Biarkan dia tenang dulu!" Dimas berkata dengan sangat emosional.
Deg! Jantungku berhenti sesaat mendengar sebegitu khawatirnya Dimas pada Nessa. Itu berarti memang benar. Mereka saling mencintai. Lalu kenapa hatiku merasa nyeri melihat mereka berdua berpelukan?
"Kau, benar tidak apa-apa?" tanya mas Bastian yang juga khawatir.
"Dia baik-baik saja. Lanjutkan mengemudi! Nessa aman bersamaku." Dimas menimpali. "Aku di sini bersamamu. Tenanglah. Atur napasmu," ucap Dimas lembut seraya mencium kening Nessa. Sedangkan Nessa semakin mengeratkan pelukannya.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1