BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Di Villa Romantis


__ADS_3

Pemandangan yang cukup indah. Nessa sepertinya tertidur di bahu Dimas seraya terus memeluknya. Dimas benar-benar pembohong. Saat dia masih menggodaku, dia bilang tidak mencintai Nessa. Namun, melihat kemesraan mereka sekarang, sudah tidak dipungkiri lagi bahwa, Dimas dan Nessa sebenarnya saling mencintai.


Aku melirik mereka dari spion tengah. Sambil berusaha menetralkan napas. Oh ... Imania, mengapa terasa sakit dan sesak? Cemburu kah aku?


Ibarat sebuah balon. Udara adalah cinta yang telah mengisi ruang kalbuku. Dimas adalah balon udara yang siap kulepas seutuhnya. Hari ini, bertepatan dengan pernikahan kami, kulepas balon tersebut di udara. Aku takkan pernah lagi memikirkannya, mengingatnya, dan mencintainya. Sepenuhnya, aku sudah melepasmu untuk terbang dan menggapai masa depan, bersama gadis yang kelak menemaninya untuk hidup dan mengarungi bahtera rumah tangga yang indah. Hari ini, aku IMANIA SARASWATI. Telah mengikhlaskan kepergian sang Elang, lahir batin. Kututup lembaran kertas masa lalu, akan kugantikan dengan kertas-kertas yang baru. Bersama lelaki pilihanku, MUHAMMAD BASTIAN. Selamat tinggal DIMAS ADI WIBOWO.


Aku mengingat setiap jengkal kalimat yang pernah terlontar dari mulut dan hatiku, sebelum menikah dengan mas Bastian. Bukankah telah kulepaskan dirinya? Kuakui, cinta tak semudah itu. Kadang-kadang cinta datang di waktu dan tempat yang salah. Pada saat dan hati, yang tidak seharusnya. Seandainya kita tidak dipertemukan kembali. Mungkin takkan terasa sesakit ini.


***


Di perjalanan, yang kami tempuh sekitar enam jam, mas Bastian dan Dimas bergantian menyetir, agar tidak kelelahan. Kini aku duduk di sebelah Nessa. Dimas dan mas Bastian duduk di depan.


"Sebentar lagi kita sampai!" ujar Dimas yang sedang mengambil alih kemudi.


Pemandangan yang sangat indah. Pepohonan hijau nan asri dapat kita nikmati di sepanjang perjalanan puncak Bogor. Hawa sejuk mulai menyeruak ke tubuh. Tak lama mobil pun berhenti. Kami pun keluar dari dalam mobil.


Udaranya sejuk, segar sekali. Mataku tak lepas dari pemandangan indah puncak nan asri. Villa ini tampak sangat mewah, besar, dan luas. Aku berpikir, biaya penginapan di sini pasti sangat mahal.


Mas Bastian dan Dimas memesan kamar masing-masing. Aku dan Nessa pun ikut berjalan masuk ke villa, seraya membawa koper.


"Apa baru pertama kali ini kau mengunjungi villa?" Nessa bertanya.


"Iya, ini pertama kalinya," jawabku.


"Aku juga, ini pertama kali Dimas mengajakku liburan."


"Benarkah?"


"Hm ...." Nessa mengangguk.


Ternyata Dimas dan Nessa jarang menghabiskan waktu berdua. Mungkin karena kesibukan masing-masing. Aku harap mereka dapat selalu bersama dan bersatu. Aku sudah merelakannya. Tidak perlu merasa cemburu lagi.


Usai mendapatkan kamar, kami pun segera masuk ke kamar masing-masing. Aku memilih satu kamar dengan mas Bastian. Sedangkan Dimas dan Nessa memilih satu kamar untuk mereka.


Kamarnya luas, dan sangat nyaman. Jika melihat dari jendela, mata kita akan menangkap sebuah pantai buatan. Indah sekali. Mataku tiada hentinya memandang keindahan dan suasana alam yang disuguhkan.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kami pun mandi terlebih dahulu. Kemudian makan di villa. Usai makan, kami kembali ke kamar. Mas Bastian menghampiriku yang sedang duduk di balkon.


"Apa kau suka?" tanya mas Bastian.


"Sangat! Udaranya sejuk, pemandangannya sangat indah."


Mas Bastian tersenyum, lalu membawaku ke tepi balkon. Kini posisinya berada tepat di belakang tubuhku. Ia memeluk pinggangku.


"Happy anniversary, Istriku." Kemudian meletakkan bibirnya pada bibirku. Angin sejuk membelai tubuh kami. Membawa sensasi tersendiri, untuk meneruskan aliran kehangatan ini.


"Aku kangen sekali," kata mas Bastian, kemudian menggendong tubuhku, membawaku ke ranjang.


Tubuhku dibaringkannya. Mas Bastian kembali memeluk, seraya mendekatkan wajahnya. Mengaliri kembali bibir ini dengan sentuhan-sentuhan hangat. Tangannya ikut menyentuh lembut, menererawang kulit. Aku hanya pasrah. Kemudian ia mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu.


Ting-Tung! Bel pintu berbunyi.


"Sialan! Mengganggu saja!" umpatnya kesal. Ia pun bangkit dan memakai pakaiannya kembali.


Ting-Tung! Bel itu berbunyi lagi.


"Siapa, sih!" geram mas Bastian. Lalu membuka pintu.


"Oh, kau!"


"Kenapa? Apa kau tidak suka melihat kedatanganku? Atau, jangan-jangan ... kalian sedang sibuk berninu-ninu, ya, ha-ha?" katanya meledek seraya melirikku yang masih duduk di ranjang.


"Ada apa, Di," tanya mas Bastian langsung. Raut muka kesal jelas tergambar di wajahnya.


"Aku hanya bosan. Bolehkah kita mengobrol?"


Tanpa meminta persetujuan, Dimas nyelonong masuk. Aku menghela napas kasar.


Mas Bastian melangkah ke arahku. "Kita lanjutkan nanti malam," bisiknya. Itu membuatku tersipu malu.


Kemudian mas Bastian menghampiri Dimas, yang sudah duduk di balkon. Mereka pun berbincang-bincang. Aku yang masih bingung akan melakukan apa, tiba-tiba teringat Nessa. Aku pun keluar kamar, lalu menuju kamar Nessa, yang berada dekat dengan kamarku.

__ADS_1


Kubunyikan bel. Dan wanita cantik itu pun membuka pintu.


"Oh, kau," ucapnya datar.


"Boleh aku masuk?"


Dia menjawab dengan senyuman disertai anggukan, mengisyaratkan kata 'iya'.


"Mari kita ke balkon," ajaknya.


Kami pun duduk berdua, memandang bagaskara yang mulai menenggelamkan diri.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku pada Nessa. Wajahnya menampakkan senyum, tetapi sorot matanya terlihat sayu. Apa Nessa habis menangis?


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Masih penasaran dengan kisah mereka kan? Iya, donk!


Eh, menurut kalian, Bastian dan Imania berhasil enggak, ya, ninu-ninunya? Aww!


(Ingat! Bukan pertanyaan give away, ya?)


A) Berhasil


B) Berkali-kali


C) Gagal Total


D) Mantap sekali


Tulis jawaban kalian di kolom komentar, ya?


Oh, ya? Ingat, jangan lupa FOLLOW, VOTE, COMENT, & LIKE ya?

__ADS_1


Antusias kalian mendukung Author, akan mempengaruhi mood Author Keceh untuk terus UP loh?


Sun Jauh Readers Tersayang.... 😘


__ADS_2