
Aku mengamati Fania yang tengah menyetir. Dia terlihat lebih anggun mengenakan pakaianku. Tidak memakai pakaian seksi seperti biasanya. Dia memakai atasan lengan panjang warna kuning. Dipadu dengan rok hitam panjang selutut.
"Kenapa memperhatikanku seperti itu?"
"Kau terlihat berbeda."
"Apa aku terlihat cantik?"
"Ya."
"Kau mau memuji diriku atau pakaian pemberianmu ini?"
"Pakaian pemberianku, ha-ha ...!"
Fania memajukan bibirnya. Kemudian ia tersenyum. "Aku senang kau masih bisa tertawa."
Dan setelah menempuh perjalanan, kami pun sampai di cafe. Aku dan Fania segera masuk. Mataku menerawang seisi cafe. Mencari satu sosok wajah tampan yang kurindukan.
"Fania! Kau mau ke mana?"
"Aku akan ke toilet sebentar? Aku pengen pipis!" katanya seraya berlari kecil.
Apa tingkat gadis alien memang mutlak seperti itu? Dia sama sekali tidak memperdulikan pandangan orang terhadapnya. Aku kembali geleng-geleng kepala. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Segera kuambil handphone tersebut, mengangkat panggilan.
"Halo, kau di mana?"
"Di hatimu."
"Serius, Di? Aku sudah sampai di cafe, ini!"
"Aku juga serius."
__ADS_1
"Kau di mana?"
"Di hatimu."
"Ish!"
"Kau terlihat cantik dengan baju warna pink yang kau kenakan. Lipstikmu juga bagus."
Aku sangat terkejut. Sontak kuterawang kembali seisi cafe. Tetapi tak kutemukan ada dia di sini.
"Jangan bercanda, Di! Aku tidak punya banyak waktu!"
"Apa kau sudah tidak sabar untuk bertemu denganku?"
Seseorang menepuk punggungku lirih. Aku pun membalikkan badan. Seseorang berwajah tampan yang kurindukan sedang tersenyum padaku. Aku pun membalas senyuman itu. Dan kami segera mengambil tempat duduk.
"Kau mau pesan apa?" tawar Dimas.
"Gadis alien yang tadi kau ceritakan itu, dia ikut?" Dimas sedikit terkejut mendengarnya.
"Aku tidak punya alasan lain, selain izin pada ibu untuk pergi bersamanya."
Dimas menghela napas kecewa. "Tidak apa-apa. Di mana gadis alien itu?"
"Dia sedang ke toilet."
Dimas pun memesan banyak makanan. Dan tiga gelas minuman.
"Nia, bagaimana dengan perceraianmu dengan Bastian?"
"Aku belum mengurusnya. Mas Bastian belum memberikan gugatan apapun ke pengadilan."
__ADS_1
"Apa kau masih sering menemuinya?"
"Aku sudah mengemasi pakaianku dan pakaian Arka dari rumah itu," jawabku seraya mengukir sebuah senyum tipis.
"Mengapa Bastian tidak segera mengurusnya?"
"Tidak tahu. Aku hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi. Lagi pula, mas Bastian terlihat aneh."
Dimas semakin menatapku dengan penuh penasaran. "Aneh bagaimana?"
"Dia seperti dilema untuk menceraikanku. Beberapa hari yang lalu mas Bastian juga menemuiku. Dia memintaku untuk bertahan demi Arka. Katanya, dia tidak tega melihat Arka harus berada pada permasalahan kami," paparku.
Dimas meraih tanganku. "Tidak bisa! Itu hanya akal-akalan si Bastian untuk menahanmu! Lagi pula, dia sudah menjatuhkan talak tiga. Mana boleh kalian bersama lagi. Jangan! Kumohon ... tetap pada pendirianmu!" tutur Dimas seraya menggenggam erat jemariku.
Pesanan kami pun datang. Seorang pelayan cafe pun pergi setelah selesai meletakkan pesanan kami di meja.
"Nia, besok, aku akan menyewa seorang pengacara untuk menyelesaikan perceraianmu dengan Bastian! Jadi, kau tidak usah khawatir. Aku akan mengurus segalanya. Aku tidak mau kau pusing memikirkannya."
Aku pun mengangguk. Tiba-tiba Fania datang menghampiri kami.
"Woi!" Dia menepuk pundakku. Kemudian duduk di sebelahku. Matanya langsung tertuju pada apa yang telah tersaji di atas meja. "Wah, banyak sekali! Ini pasti lezat!"
Tanpa memperhatikan kami, ia langsung mengambil sendok dan garpu, kemudian mengisi mulutnya dengan makanan tersebut.
"Ini enak!" katanya sambil mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
"Hei! Kau! Bukankah kau yang mencopetku waktu itu?" tuding Dimas tiba-tiba.
Fania segera mengalihkan pandangannya dari makanan ke arah Dimas. Matanya langsung terbelalak melihat wajah laki-laki yang sedang duduk berhadapan dengannya.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1
______________________________________________