
Hola, para penduduk Keceh? Masih ada yang melek, nih?
Hm ... khusus episode ini, nih, up pukul 24.00 WIB. Dan juga pakai POV 3 (sudut pandang orang ke-tiga).
WARNING!!
Bagi usia under 18, disarankan untuk melewati chapter ini. Karena chapter atau episode ini mengandung adegan dewasa alias ninu-ninu.
______________________________________________
Dimas kembali mendekati wanita yang telah sah menjadi istrinya tersebut. Dimas pun duduk kembali di samping istrinya. Hasrat yang selama ini terpendam rasanya sudah ingin sekali ia tumpahkan sore ini.
Ia melirik jam dinding, yang menunjukkan pukul empat sore. Ini masih sore, tetapi hasrat untuk segera melakukan sesuatu yang paling dinanti para pengantin baru mendesak jiwanya terus menerus. Apalagi penampilan Imania yang sangat cantik, dengan balutan gaun pengantin yang melekat indah di tubuhnya, seakan memompa gairahnya.
"Sayang ...." Dimas mulai membelai lembut pipi istrinya.
Imania masih menatap lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu dengan gugup.
"Aku mencintaimu, Nia," bisik Dimas lembut di telinga.
Dimas mulai meraih wajah istrinya, menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan ia sapukan bibirnya ke bibir Imania. Keduanya sama-sama merasakan kelembutan dan gelora gairah yang mulai membasahi jiwa masing-masing. Imania pun memejamkan kedua matanya, membiarkan suaminya menguasai bibir manisnya.
"Oh ... oh ... oh ... Mas Surya ... oh ...." Suara racauan dari kamar sebelah terdengar jelas.
Dimas dan Imania sama-sama terkejut mendengar racauan Nonita. Akan tetapi, mereka tetap berusaha melanjutkan romantisme yang tengah melanda jiwa dua sejoli itu.
"Bagaimana bisa racauan seperti itu terdengar? Bukankah kamar hotel kedap suara? Ini aneh." Dimas membatin. "Pasti ada yang tidak beres."
"Ah ... Mas Surya ...."
Imania mulai terganggu dengan racauan yang terdengar itu. Kedua kelopak mata indahnya pun terbuka. Ia merasa geli sendiri mendengar betapa agresifnya racauan Nonita. Namun, Dimas tetap berusaha tidak terganggu.
"Yeah ... oh ... yes!" Suara Nonita semakin mengganggu keromantisan pasangan pengantin baru tersebut.
Dimas pun akhirnya menghentikan cumbuannya terhadap istrinya. Ia menarik wajahnya menjauh dari Imania, lalu mengembuskan napas kesal. "Oh, shilt!" umpatnya.
Imania menangkap mimik kesal pria yang telah sah menjadi suaminya tersebut. Suasana hotel yang dibayangkan nyaman dan tenang, menjadi terusik oleh suara kenikmatan Nonita dan Surya.
__ADS_1
Dimas pun berdiri dan mengulurkan tangan pada Imania. "Ikut aku."
Imania menatapnya heran. "Kita mau ke mana?"
"Ikut saja."
Imania pun berdiri dan berjalan bersama suaminya ke luar dari kamar. Imania membiarkan tangannya digenggam erat oleh Dimas. Suaminya itu membawanya berjalan dengan hati-hati karena gaun pengantin yang menyulitkan wanitanya itu.
Dimas membawa Imania menuju sebuah kamar di lantai teratas. Dengan menggunakan lift, maka mereka pun sampai. Dimas menelepon seseorang untuk mengantarkan kunci kamar tersebut. Tidak lama kemudian, seseorang datang untuk memberikan kunci kamar tersebut kepada Dimas.
"Maaf, Mas Dimas, apa kamar yang kami dekor kurang indah?" tanya wanita pengantar kunci tersebut.
"Kau boleh pergi," ketus Dimas kepada wanita tersebut. Ia tidak menanggapi pertanyaan wanita itu.
Kemudian mereka masuk ke kamar yang juga luas, tapi tak seluas kamar sebelumnya. Ia segera menutup dan mengunci pintu tersebut. Suasana di kamar itu sangat tenang. Seperti yang mereka inginkan. Sunyi. Hanya terdengar helaan napas mereka berdua.
Perasaan Imania kembali gugup, ketika Dimas tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dimas melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Imania dan berbisik, "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Imania merasakan sekujur tubuhnya bak teraliri oleh listrik asmara. Bisikkan pangerannya itu benar-benar memabukkan. Dimas mencoba melepaskan kerudung yang menutupi kepala istrinya tersebut, tetapi tidak bisa, karena ada kancing di bagian leher Imania.
"Sayang, buka kerudungmu. Aku suamimu. Kita halal untuk saling terbuka, pikiran, hati, dan pakaian," bisik Dimas lagi.
Imania tersipu malu menatap dirinya di cermin. Dimas melepaskan ikat rambut istrinya, membuatnya tergerai indah, lalu menyibakkan rambut itu ke bahu Imania sebelah kiri. Dimas segera mendekap kembali tubuh istrinya itu erat.
"Apa kau siap, Sayang ...." Tangan Dimas mulai bergerilya membelai lembut leher jenjang istrinya tersebut, hingga membuat seluruh tubuh Imania seakan bergetar.
"Dimas ...." Imania mulai mendesah.
Dimas semakin bergejolak mendengar desahan istrinya. Ia mulai menciumi leher jenjang Imania, menjilat naik menuju bibir Imania. Kedua bibir itu menyatu di dalam kelembutan yang manis.
Tangan kiri lelaki tampan itu mengelus tengkuk wanitanya lembut, lalu turun untuk menurunkan resleting gaun yang Imania kenakan. Setelah terbuka dan mengekspos punggung mulus istrinya, ia pun kembali membelai lembut punggung istrinya.
Gairah yang semakin meletup-letup, membakar kedua insan yang tengah dimabuk asmara. Dimas sudah lama ingin sekali melakukan hal ini, tapi dia masih bisa menahannya. Dan kini mereka sudah bebas untuk melakukan apapun.
Pelan-pelan ... Dimas mulai menurunkan gaun pengantin dari tubuh Imania, hingga gaun tersebut jatuh tergolek di lantai. Sesuatu di dalam dirinya semakin menegang, mendapati tubuh istrinya yang mulus dan eksotis.
Dimas melepaskan bibirnya, kemudian membalikkan tubuh wanitanya. Tatapan mata elangnya saat ini tampak begitu bergairah. Dimas kembali memeluk tubuh seksi istrinya. Tangan Dimas mulai nakal untuk menelusuri kulit tubuh wanitanya itu. Tangannya semakin nakal dari atas ke bawah, hingga menemui dua bukit nan indah.
__ADS_1
Imania hanya pasrah diperlakukan selembut itu. Ia hanya bisa mendesah. Sehingga Dimas semakin gemas untuk meremasnya.
"Dimas ...."
"Ya, Sayang ...."
Dimas melepaskan pelukannya, lalu menggendong tubuh Imania dan membaringkannya di atas ranjang nan empuk. Imania menatap Dimas dengan gairah yang sama mendera. Disertai degup jantung dan napas yang memburu. Apalagi ketika Dimas tengah melepaskan jas pengantinnya dan seluruh penutup tubuh bagian atas. Hingga terekspos dada bidang lelaki yang sangat seksi. Tubuhnya atletis sempurna, dengan perut yang six pack. Dimas tampan, macho, dan keren sekali.
Kini, Dimas bertelanjang dada. Ia pun kembali mendekati istrinya. Satu per satu pakaian dalam yang Imania kenakan pun mulai dilucutinya pelan-pelan. Dimas semakin terkagum melihat tubuh polos wanitanya yang sangat indah. Imania benar-benar menjaga dan merawat tubuhnya dengan sangat baik.
Dengan hasrat yang meletup-letup, Dimas kembali mencium bibir wanitanya dengan gairah membuncah. Seluruh inci kulit sang istri telah dipenuhi kelembutan-kelembutan darinya. Dari atas hingga bawah, tangannya semakin nakal untuk meremas sesuatu dan menelusup ke dalam sesuatu.
"Emph ... Dimas ...."
"Aku sudah tergila-gila padamu, Nia."
"Aku mencintaimu, Dimas ...."
"Aku sudah sangat tegang, Sayang ...."
"Lakukanlah ...."
Keduanya pun akhirnya melakukan hal itu dengan penuh gairah. Desahan dan keringat cinta seakan menyatu, berusaha membentuk sebuah ritme yang mengalun indah di malam pengantin baru.
Malam pertama adalah hal paling ditunggu oleh pengantin baru. Di dalam kelembutan dan kesyahduan desah nikmat yang menggebu. Persatuan dan peleburan hasrat yang menggelora jiwa. Dalam peraduan antara nafsu dan cinta.
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Keceh?
Adegan nanasnya cukup, kan? Author Keceh memotong sedikit adegan dewasanya. Sebab, demi menghargai kebijakan Mangatoon/Noveltoon ini. Jadi, tidak bisa sembarang memakai bahasa yang intim.
Intinya, jika terlalu vulgar, itu dilarang.
Jadi, seperti itu saja, ya?
__ADS_1
Besok pagi jam 6 tidak UP. Jadi UP-nya malam pukul 7 lagi, ya?
Thank you ...!