
Aku bangun lebih pagi. Sengaja, agar dapat berangkat ke kantor lebih awal. Bergegas aku mandi, kemudian menyiapkan diri agar tampil rapi. Aku duduk di depan meja rias. Kupoles make up tipis-tipis di wajahku.
"Hoam?" Fania menguap.
Aku meliriknya. Kulihat ia sedang mengucek kedua matanya. Kupikir Fania akan tidur lagi, ternyata tidak. Ia bangun dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Tumben," gumamku.
Fania pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dengan gontai. Aku memperhatikannya dengan heran. Mungkin hanya akan buang air kecil.
Kuambil handphone, kuhubungi sebuah nomor.
"Halo." Suara di seberang telepon.
"Bisa antarkan aku ke kantor sekarang?"
"Sekarang?"
"Ya, Pak."
"Oke, siap!"
Kututup telepon, lalu mengambil lipcream warna peach. Kupoles bibir ini dengan warna lembut. Aku suka dengan warna-warna yang tidak terlalu mencolok. Itulah diriku.
Sedangkan Fania keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Dia tampak segar setelah mencuci muka. Fania pun menghampiriku.
"Baru jam enam. Buru-buru sekali, sih?" tanya Fania seraya mengerutkan dahinya. Menatapku heran.
"Enggak apa-apa. Aku hanya ... ingin ... berangkat lebih awal."
Fania sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya padaku. Menatapku dengan tatapan menyelidik. "Kau tampak aneh akhir-akhir ini. Apa kau sedang bertengkar dengan Dimas?"
"Ti-tidak, kami baik-baik saja." Aku mengalihkan pandangan dari Fania, tapi Fania menangkap wajahku.
Ia menghadapkan wajahku padanya. "Matamu ini bilang, bahwa kau sedang berbohong."
Kusingkirkan tangan Fania dari wajahku. "Jangan sok tahu."
"Oke, terserah. Tapi aku sarankan, agar kau bisa menjadi tegas tanpa harus bermasalah dengan Dimas sendiri."
"Aku tidak sedang bertengkar dengannya," bantahku.
"Jika tidak, kenapa kau berangkat pagi-pagi sekali. Dan kenapa harus memesan ojek?"
"Dasar tukang nguping!" umpatku.
Fania menyilangkan kedua tangan ke dadanya. Menatapku sembari mengerucutkan bibirnya. "Kemarin itu bukan ulang tahunmu, kan?"
"Apa maksudmu?"
"Jawab saja, iya!"
Aku menelan salivaku sendiri. "Tidak percaya, ya, sudah."
"Ulang tahunmu itu 25 Agustus. Jadi, jangan mencoba mengelabuhiku."
Aku terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa kau tahu?"
"Bibi yang bilang."
Aku segera beranjak dan mengambil tasku. Mencoba menghindari pertanyaan yang pasti akan terus muncul dari mulut Fania.
"Apa itu perbuatan Nessa?"
Pertanyaan Fania membuat langkahku terhenti.
"Kemarin, saat melihat status di Instagram Nessa, aku langsung membuat akun baru untuk mengikutinya. Dan ... semalam, aku melihat status barunya. Apa kau sudah membukanya?"
"Itu tidak penting. Aku mau berangkat."
Aku pun bergegas keluar dari kamar. Menuju teras, untuk menunggu tukang ojek datang. Aku duduk di kursi teras, lalu mengeluarkan handphone. Kubuka Instagram, mengecek status Nessa. Apa maksud ucapan Fania, sih? Apa benar, tragedi pelemparan telur itu ada kaitannya dengan Nessa?
[Wanita murah*n! Bau amis!]
__ADS_1
Begitu status di Instagram Nessa, disertai video ayam betina berdurasi 15 detik yang sedang berkokok.
"Tuh, kan, bener!"
Suara Fania tiba-tiba mengagetkanku. Dia muncul dari pintu dan langsung duduk berhadapan denganku. Sontak kumasukkan handphone tersebut ke dalam tas.
"Imania, kejadian kemarin itu perbuatan Nessa. Aku bisa membantumu membalas perbuatannya."
Aku terkejut mendengar tawaran Fania. "Jangan kekanakan!"
"Justru, aku ingin mengajari si dokter Vanessa itu tentang arti kedewasaan."
"Tidak boleh! Kau tidak boleh mencampuri urusanku."
"Ima, kau berangkat pagi sekali?" Ibu tiba-tiba juga muncul.
"Iya, Bu. Kebetulan, pekerjaan Ima yang kemarin belum selesai, jadi ... Ima mau cepat-cepat mengerjakannya," jawabku beralasan.
Tidak lama, ojek online pesananku datang.
Aku pun segera pamit pada ibu. Lalu naik ke motor. Sebelum pergi, aku menoleh ke arah Fania. "Fania, by the way, tumben kau bangun pagi. Biasanya siang baru bangun."
"Aku akan menunggumu pulang. Sembari menghitung waktu. Jadi, cepat jemput aku dan bawa aku ke rumah baru," katanya seraya tertawa.
Semangat Fania membuatku merasa terharu. Aku pun segera berangkat ke kantor.
***
Sesampainya di kantor aku langsung duduk, menunggu pintu gerbang dibuka. Aku duduk di kedai kopi. Saat melihat seorang berpakaian security, aku pun beranjak mengikutinya. Ternyata Rangga, dia yang bertugas hari ini. Dia yang membuka gerbang dan pintu masuk ke dalam kantor.
"Wow! Baby, kau berangkat pagi sekali. Apa kau sengaja menungguku?"
Aku tidak menanggapi pertanyaan nyeleneh Rangga. Aku pun segera masuk.
"Hei! Imania! Jutek sekali."
Aku melangkah menuju ruanganku. Sepi sekali. Sesampainya di ruanganku, aku langsung duduk dan mengambil handphone. Kubuka WhatsApp. Ada lebih dari 50 panggilan dan ratusan pesan dari Dimas.
[Sayang, kenapa enggak dibalas?]
[Sayang, apa kau marah?]
[Sayang, maafkan aku ....]
[Aku baru tahu kau dibully. Aku juga baru tahu, bahwa itu adalah salahku.]
[Nia, kumohon ... aku ingin bicara denganmu. Angkat teleponku.]
Begitu banyak pesan darinya. Namun, ada beberapa pesan yang sangat mengejutkanku.
[Nia, buka jendelamu!]
[Nia, please ....]
[Nia, aku menunggumu di bawah jendela.]
[Aku tidak akan pergi dari sini, jika kau tidak mau bertemu denganku terlebih dahulu.]
Kulihat waktunya pukul 23.45 WIB. Ya Tuhan ... Dimas semalam datang. Dia pasti menungguku lama. Sedangkan aku tidur, dan tidak tahu bahwa dia datang. Apa ... dia berada lama di halaman belakang rumahku semalaman?
Pesan lainnya dari Dimas hanya berupa stiker-stiker anime lucu. Stiker love, minta maaf, merayu, dan banyak lagi. Aku jadi merasa bersalah. Tapi ... aku harus tegas.
Ada sedikit perbedaan antara tega dan tegas. Tega itu ... berarti berusaha menutup segala perasaan termasuk menjadi egois. Sedangkan tegas berarti ... bersikap keras dan kekeuh pada prinsip dan komitmen, tanpa harus bersikap egois.
Jika dipikir ... sepertinya yang kulakukan adalah tega, bukan tegas. Oh ... maafkan aku, Dimas.
"Tidak! Aku harus konsen sekarang!" gumamku.
Kuambil beberapa dokumen untuk mengeceknya dan menandatanganinya. Aku bekerja dengan serius. Hingga, usai mengecek sepuluh dokumen, aku pun beranjak menuju ruangan pak Wibowo.
Seperti biasa, kuketuk pintu tersebut. Namun, tidak terdengar jawaban. Syukurlah. Aku langsung masuk dan meninggalkan dokumen tersebut di mejanya. Sebelum pergi, aku melirik kembali foto yang pernah membuat pak Wibowo marah padaku. Entah mengapa, ada sedikit rasa penasaran, tentang foto di balik bingkai tersebut. Foto berukuran 3x4 cm.
Akan tetapi, aku tidak mau ceroboh lagi. Lebih baik, aku tidak menyentuhnya. Setelah dari ruangan pak Wibowo, aku langsung menuju ruangan sekertaris Ve. Ruangannya berada di sebelah kantor back office, tempatku bekerja dulu. Saat aku hendak masuk, kulirik jajaran karyawan back office masih sepi. Hanya ada mas Bastian dan beberapa orang karyawan lainnya. Aneh. Ini sudah pukul sembilan lebih. Apa orang-orang yang membully-ku kemarin tidak masuk kantor?
__ADS_1
Dan saat aku hendak meraih gagang pintu ruangan sekertaris Ve, tiba-tiba terdengar suara dari dalam. Itu membuatku mengurungkan niat untuk masuk ke ruangan sekertaris Ve.
"Kurang keras, Sayang." Suara sekertaris Ve.
"Apa kau suka yang keras?" Suara laki-laki.
"Aku selalu suka sentuhanmu itu. Oh, ayolah ... bagian sini, ya?"
"Yang ini?"
"Aw ... oh ... enak."
"Lebih lagi?"
"Uh ... iya ... oh ... disitu enak," racau sekertaris Ve. "Terus, Sayang. Ouh .... "
Aku menelan salivaku sendiri mendengar racauan sekertaris Ve. Aku tidak berniat lagi untuk masuk. Kugeleng-gelengkan kepala refleks mendapati kelakuan sekertaris Ve. Bagaimana bisa ia melakukan hal semacam itu di dalam kantor?
"Sedang apa di sini?"
Suara familiar mengagetkanku.
"Pak Wibowo," ucapku kaget.
"Masuk saja, jika ada perlu!"
"A-a-aku ti-tidak ja-jadi–" Oh ... kenapa aku menjadi begitu gugup saat mendapati mata lelaki itu yang menatapku tajam?
"Aku tidak jadi masuk, Pak," ulangku.
"Masuk saja!" katanya dengan ekspresi dingin.
"Nanti saja,"ucapku.
"Kalau begitu, minggir!"
"Bapak mau ke mana?"
Pak Wibowo menghela napas kasar. Lalu berkata masih dengan mimik dinginnya. "Saya mau masuk!
"Ja-jangan!" Aku berusaha menahan pak Wibowo. Dia tidak boleh masuk. Keadaan di dalam ruangan sekertaris Ve sedang tidak layak dilihat.
"Kenapa melarangku? Awas!"
Pak Wibowo tetap berusaha masuk. Dan aku menahan lengannya. "Pak, maaf ... sekertaris Ve ...."
"Ada apa dengan sekertaris Ve?"
Aku menunjuk telingaku sendiri, lalu mengarahkan lirikan ke daun pintu. Mengisyaratkan kepada pak Wibowo agar mendengar sesuatu yang mengharuskan kita agar mengurungkan niat untuk masuk.
Pak Wibowo mengerti, ia pun mendekatkan telinganya ke daun pintu bersamaku.
"Teruskan ... ya ... oh ... enak! Terus ... oh ...."
Suara racauan ganas sekertaris Ve terdengar jelas. Karena sekertaris Ve meracau dengan begitu bebasnya. Pak Wibowo pun menatapku dengan dingin. Kemudian tetap melanjutkan membuka pintu. Aku sangat terkejut dengan apa yang dilakukan pak Wibowo.
Saat pak Wibowo membuka pintu tersebut, sontak kututup wajahku dengan telapak tangan.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Readers Keceh ...!
Terima kasih, atas doa-doa kalian, ya? Thanks so much, buat semuanya, yang sudah mendoakan Author Keceh.
Author Keceh juga berdoa yang sama untuk kalian.
Nanti malam UP lagi.
Yang belum masuk grup, buruan masuk, ya?
Thank you ...!
__ADS_1