
"Imania!" Sekertaris Ve mengambil KTP itu dari tanganku.
"Ma-maaf, Kak Ve."
Sekertaris Ve tampak sedikit gugup. Ia segera menyimpan KTP tersebut ke dalam tas.
Sedangkan Rangga yang mengikutinya, kembali mencuri pandang padaku.
"Kak Ve, tadi kau bilang ingin bicara sesuatu padaku?" Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan.
"Tidak jadi. Kau ... pergilah ke ruanganmu."
"Baik, Kak."
Aku pun beranjak pergi dari ruangan sekertaris Ve.
***
Seperti biasa, pukul 16.00 WIB, jam kerja berakhir. Aku tengah berdiri di depan kantor guna menunggu sekertaris Ve. Dan kami pun pulang bersama.
Di perjalanan menuju rumahku, aku memikirkan sejenak kejadian tadi pagi. Foto sekertaris Ve semasa muda sedikit mirip dengan Fania. Aku masih penasaran, apa itu hanya kebetulan saja.
"Kak Ve," panggilku.
"Ya, Imania."
"Apa kau tidak marah padaku?"
"Untuk apa, Imania?"
"Tadi pagi ... aku sudah melihat KTP-mu tanpa izin," kataku.
Sekertaris Ve tertawa kecil, kemudian berkata, "Tak masalah, Imania."
"Kupikir kau marah."
"Aku hanya ... tidak ingin melihat wajahku yang dulu. Aku ingin melupakan masa lalu. Meninggalkan segala penyesalan, akibat kecerobohan yang pernah kulakukan. Aku sungguh membenci diriku sendiri. Hingga tak ingin wajah masa laluku dikenal orang lagi. Aku ... aku telah berbuat salah, terhadap seseorang yang sangat berarti." Sekertaris Ve berkata dengan sedikit emosional.
"Lalu, kenapa kau masih menyimpan KTP tersebut, jika kau sendiri ingin menghilangkan jejak wajahmu dulu?" tanyaku penasaran.
"Kupikir, saat dia tahu tentang diriku, mungkin masih ada kata maaf untukku, atas kesalahanku yang tak pasti termaafkan," ucap sekertaris Ve dengan wajah yang tampak sedih.
Namun, ia segera meralat perkataannya. "Eghem! Maksudku aku hanya lupa meletakkannya di novel itu. Aku lupa untuk menyimpannya lagi."
Aku tidak tahu pasti perkataan yang mana yang jujur. "Kak Ve, foto masa mudamu sekilas mirip dengan Fania."
Mendadak sekertaris Ve mengerem mobilnya. Hampir saja kepalaku terbentur.
"Masak, sih, mirip, ha-ha! Kau ada-ada saja, Imania. Mana mungkin aku disamakan dengan gadis kurang ajar itu?"
"Hm ... tapi Kak Ve. Fotomu juga mirip dengan foto di ruangan pak Wibowo."
"Foto di ruangan pak Wibowo?" Kali ini, sekertaris Ve menatapku serius.
Aku mengangguk. "Iya, aku sempat melihat foto berukuran 4x3 cm yang terselip di balik bingkai foto Dimas saat wisuda di California."
Sekertaris Ve terdiam sejenak, lalu berkata, "Itu pasti bukan fotoku. Bukankah pernah kubilang, aku hanya baby sitter-nya. Yang kemudian diangkat menjadi sekertaris di perusahaannya," jelas sekertaris Ve.
Kak Ve? Adakah yang kau sembunyikan dariku? Pertama, kau bilang diutus Dimas untuk mengurusku di perusahaan. Kedua, ternyata kau tahu segalanya tentang hubunganku dengan Dimas. Ketiga, kau begitu penasaran sejak melihat Fania. Keempat, kau sampai rela meluangkan waktu untuk mencari tahu tentang seluk beluk Fania. Kelima, kau bilang hanyalah teman dari almarhumah ibunya Fania. Keenam, kau juga mengurus permasalahan Fania ketika ia terjerat kasus dengan Reza. Dan ... sekarang, aku menemukan fakta baru, bahwa foto semasa mudamu sekilas mirip dengan Fania.
Setelah berhenti sebentar, sekertaris Ve kembali menyalakan mobilnya. Ia mengantarkanku pulang. Sesampainya di depan gerbang, aku pun turun. Dan sekertaris Ve pun pergi.
Saat tanganku baru membuka pintu gerbang, tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klakson. Aku pun menoleh. Mobil hitam milik mas Bastian ternyata. Ia pun keluar dari mobil dan menghampiriku.
"Imania, kau tinggal di sini?" tanya mas Bastian.
"Iya, Mas. Bagaimana kau tahu, bahwa aku tinggal di sini?"
"Aku mengikutimu barusan."
__ADS_1
"Kau mengikutiku? Ada perlu apa?" tanyaku heran.
"Aku merindukan Arka. Beberapa hari yang lalu, aku ke rumah orang tuamu. Tapi kalian sudah tidak di sana. Sejak kapan kau pindah?"
"Em ... kita bicara di dalam saja kalau begitu, Mas, ya?"
"Baiklah," jawab mas Bastian semangat.
Kubuka pintu gerbang, mengizinkan mas Bastian masuk dan membawa mobilnya. Kemudian kubunyikan bel rumah. Dan Fania membuka pintunya.
Dia sempat terkejut melihat kedatanganku bersama mas Bastian.
"Ayo, masuk, Mas."
Mas Bastian pun masuk sembari menyapu pandang ke seisi ruangan.
"Duduk saja, Mas. Biar kubuatkan kopi," ucapku.
"Ini ... kau mengontrak rumah atau membelinya?" tanya mas Bastian dengan menatap kagum rumah baruku.
"Em ... aku ...."
Belum sempat menjawab, Fania langsung memotong perkataanku, "Ini rumah diberikan Dimas untuk Imania."
Mas Bastian tampak terkejut mendengarnya. Namun, ia tak menanggapi.
"Silakan duduk, Mas."
"Ada di mana Arka?"
"Arka sedang bermain di lantai atas," sahut Fania.
"Naik saja, Mas," ucapku.
Mas Bastian pun naik tangga, sembari masih memperhatikan keadaan rumahku.
"Imania, kenapa Bastian ke sini?"
Kuberikan tasku kepada Fania agar meletakkannya ke kamarku. Sedangkan aku langsung pergi ke dapur guna membuatkan kopi untuk mas Bastian.
Mas Bastian selalu menyukai kopi yang tidak terlalu manis. Aku masih ingat betul berapa takaran perbandingan antara gula dan kopinya. Usai membuat minuman dan membawa beberapa snack dan satu piring kue, aku menuju lantai atas.
Kuletakkan kopi, snack, dan kue tersebut di atas meja. "Ini kopinya, Mas."
"Terima kasih, Imania," ucap mas Bastian yang tengah duduk berbincang ria bersama Arka di sofa.
"Aku mandi dulu, ya?"
Aku pun beranjak menuju kamar untuk membersihkan tubuh.
***
Setelah mandi, aku keluar dari kamar dan menghampiri mereka yang tengah duduk di sofa. Aku pun duduk di sebelah Fania.
"Imania, rumahmu ini lumayan besar, ya?" kata mas Bastian.
"Ya, iyalah. Dimas gitu, loh. Dia selalu memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan Imania. Memangnya kamu!" sahut Fania.
"Fania!" sergahku.
"Fania benar. Maafkan aku, Imania. Karena tidak pernah bisa memberikan rumah yang sebagus dan sebesar ini padamu," sesal mas Bastian.
"Mas, kamu bicara apa, sih? Mau besar atau kecilnya rumah, jika tidak nyaman, ya, percuma. Yang terpenting adalah keharmonisan di dalam rumah. Bukan kemewahan rumahnya," ucapku merasa tidak enak gara-gara perkataan Fania.
"Ya, kau benar. Keharmonisan adalah yang terpenting."
Ada nada yang berbeda saat mas Bastian mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku mau mandi dulu, ya?" ucap Fania kemudian beranjak menuju kamarnya.
__ADS_1
"Silakan diminum kopinya, Mas. Nanti keburu dingin."
Mas Bastian pun mengambil kopinya, lalu menyesapnya. "Kopimu tidak pernah berubah, Imania. Rasanya selalu sama. Padahal kita sudah cukup lama berpisah. Kau masih mengingat betul selera kopiku," ujar mas Bastian sembari tersenyum.
"Minumlah. Nanti, biar kubuatkan lagi," ucapku senang.
Setelah menyesapnya setengah, mas Bastian meletakkan kembali kopinya di atas meja.
"Seandainya Abel bisa membuatkanku kopi seenak dirimu," ucap mas Bastian tiba-tiba.
Aku mengerutkan kening menatapnya. "Kenapa, Mas?"
"Abel tidak seperti dirimu. Dia terlalu manja. Bahkan terlalu banyak menuntut. Ternyata benar kata ibu. Dia jauh sekali bila dibandingkan denganmu, Imania," ucap mas Bastian dengan raut wajahnya yang sedih.
Aku merasa, mas Bastian seperti tidak bahagia menjalani hidupnya yang saat ini. Wajahnya tampak seperti lelah setiap harinya. Bahkan, di kantor pun dia menjadi sangat pendiam. Jarang sekali ia menampakkan wajah ceria seperti dulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam kisah rumah tangganya sekarang bersama Bella. Aku selalu berharap, bahwa perpisahan ini adalah keputusan terbaik bagi kami berdua. Sehingga, tidak ada satu pun di antara kami yang menderita akibat perceraian ini, termasuk Arka.
"Bagaimana kabar Bella, Mas? Apa kandungannya baik?"
"Kabarnya baik."
Sesingkat itu. Mas Bastian sepertinya sedang tidak ingin membicarakan tentang istrinya itu.
"Mama, Arka lapar," rengek Arka.
"Kamu mau makan apa, Nak?"
"Arka mau makan ikan," jawab Arka.
"Baiklah. Mama gorengkan ikan dulu untuk makan, ya?
"Horey!" sahut Arka senang.
"Mas, kita makan bersama, ya? Aku akan masak banyak!"
Mas Bastian pun mengangguk. Arka dan mas Bastian mengikutiku turun menuju dapur. Mereka bilang, ingin melihatku memasak.
Kuambil beberapa ikan dari kulkas. Aku selalu menyetok persediaan bahan masakan seminggu sekali. Kemudian aku mencuci ikan dan beberapa sayuran sebagai pelengkap lauk.
Aku memasak dengan senang hati. Untuk sekian lama, aku bisa memasak lagi untuk mantan suamiku. Kadang-kadang aku merasa kasihan melihat tubuhnya yang sedikit kurus sekarang. Mungkin, akibat beban pikiran atau apa, aku juga tidak tahu. Wajah dan tubuhnya tidak sesegar dulu.
Usai memasak, kuletakkan lauk pauk dan nasi di atas meja makan. Mas Bastian dan Arka yang sedari tadi mengobrol sembari menungguku memasak pun tersenyum gembira.
"Wah, lama sekali tidak memakan masakanmu, Imania."
Aku pun duduk dan mempersilakan untuk makan bersama. Arka tampak sangat senang bisa makan bersama papanya. Berkali-kali Arka menyuapi papanya. Aku pun tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka. Meski kami telah bercerai, tetapi hubungan kami tetap seperti sahabat.
"Imania, masakanmu sangat enak. Aku merindukan masakan ini setiap hari, usai bercerai denganmu," ucap mas Bastian tiba-tiba.
Aku menatapnya terkejut mendengar penuturannya.
"Abel tidak pandai memasak. Dia jarang sekali memasak. Aku sering kelaparan dibuatnya, Imania," katanya dengan berusaha menampilkan senyum di wajahnya.
"Mas, mungkin Bella capek. Dia, kan, sedang hamil."
"Tidak, Imania. Bella berubah setelah kami menikah. Dia terlalu boros dan selalu menuntut segala sesuatu. Gaya hidupnya, sangat jauh berbeda darimu ketika menjadi istriku."
Aku menangkap mimik sedih mas Bastian. Itu membuatku merasa sangat iba padanya.
"Imania, seandainya saja semua itu tidak terjadi. Seandainya aku tidak melakukan kesalahan. Seandainya aku ...." Mas Bastian menahan kata-katanya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mas, tidak ada yang perlu disesali. Aku yakin, Bella bisa menjadi istri yang terbaik untukmu."
"Dia selalu membentak dan membangkang bila kuperintah, Imania. Dia tidak sepertimu, yang penurut dan berbudi pekerti terhadap suami." Mas Bastian mengunyah makanannya seraya terisak.
"Mas, jangan seperti itu." Aku benar-benar tidak tega melihat dirinya seperti ini.
"Bella tidak peduli terhadapku. Bahkan ketika aku jatuh sakit. Ia malah memarahiku." Mas Bastian menyuapi mulutnya dan kembali terisak.
"Imania, aku ... aku menyesal telah menyakitimu. Aku menyesal telah menceraikanmu."
__ADS_1
Penyesalan memang selalu berada diakhir perbuatan. Itu sudah menjadi hukum alam. Oleh sebab itu, berhati-hatilah bertindak dan memutuskan segala sesuatunya. Karena kadang-kadang, akibat dari sebab, memberikan efek yang luar biasa disesalkan. Jangan sia-siakan kesempatanmu berada bersama orang-orang terkasih. Dan jangan sia-siakan orang yang selalu memberikanmu kasih, agar tidak merasakan pedih dan sesaknya penyesalan terdalam di kemudian. (By. Thamie AK)
-- BERSAMBUNG --