
Saat telunjukku hampir menyentuh tulisan 'jawab' di layar handphone, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di halaman. Mas Bastian keluar, turun dari mobil tersebut. Sedangkan kulihat dokter elang itu masih duduk di kabin.
Mas Bastian menghampiriku. Suara dering handphone masih berbunyi.
"Mas, handphone-mu tertinggal. Ini--" Belum selesai aku bicara, mas Bastian merebut handphone itu dari tanganku dengan kasar.
Mas Bastian mematikan handphone-nya, sehingga deringnya pun terhenti. Lalu menatapku dengan marah. "Siapa yang mengizinkanmu mengutak-atik handphone-ku?"
"Ta-tadi handphone ini tergeletak di--"
"Diam! Ini handphone-ku! Berisi panggilan penting! Apa kau mengangkatnya?"
Baru kali ini aku melihat suamiku semarah ini. "Mas, aku tidak mengangkatnya. Tadi--"
Mas Bastian melotot tajam padaku. "Lain kali, jangan melakukan ini lagi!"
Aku menunduk. Terasa ada sesuatu yang menghantam dadaku. Ini hanya masalah sepele. Mengapa mas Bastian marah-marah? Lagi pula aku belum mengangkat telepon itu. Mengapa suamiku semarah ini? Apa salahku.
Mataku tertuju pada sosok di mobil itu. Dokter elang itu memperhatikan kami yang sedang berselisih. Mas Bastian sepertinya menyadari hal itu. Mas Bastian lalu memelukku. Mencium keningku, seraya berkata, "Maafkan, Mas, ya? Seharusnya aku tak membentakmu. Ini hanya panggilan biasa. Seharusnya aku tidak seemosional ini. Aku hanya ... khawatir ada panggilan penting mengenai pekerjaanku."
Aku segera menyembunyikan air mataku ke dada mas Bastian.
"Aku lelah sekali akhir-akhir ini. Sehingga aku sedikit stres. Sekali lagi, maafkan aku istriku Sayang."
Aku mengangguk. Mas Bastian pun pamit untuk berangkat bekerja. Kucium punggung tangannya.
***
Sore ini, aku masih di rumah mertua. Mas Bastian memintaku untuk menunggunya. Dia bilang akan membawa mobil barunya ke sini. Jadi, aku disuruhnya stand by di rumah mertua bersama Arka.
Dan benar saja, sebuah mobil berwarna hitam pun muncul di halaman rumah mertua. Mobil hitam yang tampak baru itu terparkir di depan rumah. Kami segera menyambutnya. Mas Bastian pun turun dari mobil.
Ibu dan ayah ikut menyambut mas Bastian. Lebih tepatnya, menyambut mobil hitam itu. Tak disangka, seseorang yang sangat menyebalkan ikut turun dari mobil tersebut. Seketika menghilangkan senyum di wajahku yang sedang mengembang.
Mas Bastian mengatakan yang sebenarnya tentang mobil tersebut. Bahwa dokter elang itu yang membantunya mendapatkan mobil tersebut. Sontak, ayah dan ibu berterima kasih pada dokter elang tersebut.
Walau aku masih terheran-heran pada mas Bastian. Padahal sebenarnya, tanpa harus mengikutsertakan dokter elang itu, dan tanpa harus dibantunya, kami masih bisa membeli mobil. Ya, walau sederhana, yang penting kita tidak merepotkan dan tidak perlu berbalas budi pada orang lain, bukan? Suamiku memang selalu memikirkan dua kali untuk peluang dan berhemat.
Usai mengenalkan sahabatnya itu, mas Bastian pun mengajak aku dan Arka untuk pulang. Aku pun duduk di belakang bersama Arka. Arka yang sudah berusia dua tahun, sudah pandai bicara, sangat senang menaiki mobilnya. Ya, mobil ini sangat nyaman. Walau tak semewah milik dokter elang tersebut. Namun, ini lumayan nyaman dan bagus.
Entah apa yang tengah dipikirkan si dokter elang itu. Dia terus menatapku dari spion tengah mobil. Membuat diriku yang nyaman, menjadi sangat risih. Sesekali ia kedipkan matanya, menggodaku lewat spion tengah kabin.
Aku bergidik, membuang muka. Memalingkan diri dari pandangannya. Di mataku, dokter elang ini semakin hari semakin menyebalkan. Untuk apa juga dia mengikuti kami? Benar-benar tidak tahu malu! Padahal jelas-jelas aku tidak senang atas keberadaannya yang selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan. Aku sangat sebal dibuatnya.
Kami sampai di rumah. Aku dan Arka pun turun. Disusul dokter elang dan mas Bastian. Aku tidak sempat bertanya pada mas Bastian, perihal maksud si dokter itu mengikuti mas Bastian. Bukankah itu tidak penting? Menyebalkan!
"Sayang ... buatkan kopi untukku dan Dimas, ya?" perintah mas Bastian, saat kami memasuki rumah.
"Ya, Sayang," jawabku seraya tersenyum.
Aku membawa Arka ke kamar. Arka bilang mengantuk sekali, karena tidak tidur siang di rumah neneknya.
"Sayang, tunggu sebentar, ya? Mama buatkan kopi dulu buat Papa. Kamu tunggu di sini sebentar," kataku.
__ADS_1
Arka hanya mengangguk, kemudian membaringkan tubuhnya di kasur.
Aku segera melangkah ke dapur. Kubuatkan dua cangkir kopi. Kemudian kuantar ke ruang tamu.
Aku berusaha bersikap ramah pada dokter elang itu, supaya suamiku tidak kecewa. "Silakan, kopinya."
"Terima kasih," ucap dokter tersebut.
"Sayang, Dimas akan istirahat sebentar di sini. Nanti Nessa yang menjemputnya," kata mas Bastian.
"Ya, Sayang." Aku mengangguk seraya mengulum senyum.
Istirahat di sini? Sampai Nessa menjemputnya? Sampai kapan? Oh ... semoga tidak lama.
Aku kembali ke kamar. Kulihat Arka sudah tidur. Aku mengelus puncak kepala Arka, dia pasti sangat lelah. Kucium keningnya. Arka memang sudah lepas dari ASI. Jadi, biasanya cukup aku memijatnya agar tertidur. Kadang juga Arka tidur dengan sendirinya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Suara dua orang tersebut, masih terdengar dari kamar. Aku membaringkan tubuh ke ranjang. Seraya berharap, agar dokter elang itu segera pulang.
Aku mengantuk. Mataku mulai sulit kutahan untuk tidak terpejam. Dalam sayup-sayup rasa kantuk, terdengar suara langkah kaki menuju kamar. Sontak rasa kantukku hilang. Mendadak diri ini terkejut saat seseorang datang membuka pintu kamar. Aku langsung berdiri dari tempat tidur. Dengan kelopak mata yang langsung terbuka lebar. Diri ini merasa was-was.
Krek!
"Mas Bastian!"
"Ya, ini aku. Siapa lagi kalau bukan?"
"Mengapa kau kaget?" Mas Bastian menatapku bingung, melihat ekspresi wajahku yang gugup.
"Ah, a-aku cuma sedikit mengantuk. Aku kira kau akan pergi. Jadi aku kaget." Entah apa yang aku katakan. Itu terucap spontan saja.
"Iya, aku memang mau pergi."
Mulai lega, mendengar mas Bastian akan pergi. Mungkin akan mengantar dokter elang itu pulang.
"Ah, baguslah."
Mas Bastian mengangkat kedua alisnya. "Loh, kok bagus?"
"Iya ma-maksudku, bagus juga. Berarti aku bisa istirahat sekarang. Aku ngantuk sekali."
Mas Bastian tersenyum menatapku. Dia mengambil jaket dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Mas Bastian mencium keningku. "Keluarlah sebentar!"
Aku mengikutinya menuju ruang tamu. Kulihat dokter elang itu beranjak dari sofa.
"Bas, biar aku menunggu Nessa di luar saja. Tidak baik berada di dalam, tanpamu. Takut menimbulkan fitnah," kata si dokter elang itu.
"Baiklah. Aku pergi dulu, ya."
"Mas!" sergahku. "Kau bukan pergi untuk mengantarkannya pulang?"
__ADS_1
"Mendadak ada urusan penting. Aku harus pergi sekarang, Sayang."
Aku tersenyum kecut, sedikit kecewa. Kukira, dokter itu benar-benar segera enyah.
"Aku pamit, ya Sayang." Seraya mencium keningku.
Aku mengangguk.
"Kau serius akan menunggu di sini? Tidak mau bareng?" tanya mas Bastian pada sahabatnya itu.
Dokter elang itu mendudukkan tubuhnya di kursi teras. "Nessa bilang, sebentar lagi sampai," katanya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu, Di."
"Kau tampak sangat buru-buru, Bas!"
"Ini ... dia sudah menungguku. Klien, biasa lah, Di!"
"Oke, hati-hati, Bas!"
Mas Bastian menaiki mobil barunya itu. Aku pun segera masuk ke dalam rumah. Kukunci pintu rapat-rapat. Meninggalkan si dokter itu sendiri di teras.
Aku bergegas ke kamar. Kukunci juga pintu kamar. Kutarik napas lega. Membaringkan tubuh. Hidupku tak pernah tenang jika ada dirinya. Sungguh menyebalkan!
Selang sekitar satu jam, aku beranjak dari ranjang. Rasa kantuk yang tadinya mendera perlahan hilang. Aku penasaran, apa dokter itu sudah pergi? Sedari tadi tak terdengar suara mobil memasuki halaman. Atau mungkin, aku yang tidak mendengar.
Aku beranjak ke ruang tamu. Menyingkap gorden jendela, untuk memastikan si dokter itu telah pergi. Dan ... benar. Tak terlihat batang hidungnya di teras. Sepertinya dokter itu sudah enyah. Syukurlah.
Saat aku masih mengintip ke luar jendela, terasa ada sesuatu di belakangku. Rasa takut tiba-tiba saja datang. Bulu kudukku merinding. Ingin membalikkan badan, melihat apa yang berada di belakangku, tapi aku takut. Terasa ada yang meniup tengkukku. Kubalikkan badan, tidak ada siapa-siapa. Sontak aku berlari ke dalam kamar.
Jantungku berdetak sangat kencang. Tidak ada siapa pun di rumah ini, kecuali aku, dan Arka yang masih tertidur pulas. Aku segera menyelimuti seluruh tubuh dengan selimut, hingga menutupi wajah. Bulu kudukku masih merinding. Aku menahan napas saat mendengar suara aneh. Napasku tertahan, suara aneh itu kian mendekat. Keringat dingin mulai mengucur di seluruh tubuhku yang terbungkus selimut.
Tiba-tiba saja ada yang menyentuh kakiku. Aku semakin ketakutan.
"Jangan ganggu aku!" seruku pada sosok yang tak terlihat.
Suara aneh itu semakin keras. Mengerikan! Sepertinya aku mau pingsan. Takut sekali!
"Grr? Krr? Shh?"
"Pergi!" teriakku.
Kubuka perlahan selimut yang menutupi wajahku. Tak ada siapapun. Akan tetapi, gorden kamarku tampak bergerak-gerak. Langsung kututup wajah lagi dengan selimut.
Ada sesuatu yang menyentuh kakiku lagi. Kali ini kakiku dicekalnya.
"Hantu!" Aku menjerit seraya melepaskan kaki dari sosok tersebut.
Sosok tak nampak itu pun melepaskan kakiku, tapi tiba-tiba sosok itu memeluk tubuhku yang masih terbungkus selimut. Saat aku akan menjerit. Tiba-tiba selimut di wajahku disingkapnya. Bibir ini bungkam, karena sesuatu yang lembut berhasil mengunci bibirku.
Betapa terkejutnya diri ini. Melihat sosok yang lebih menakutkan daripada hantu. Dia memeluk tubuh ini, dan mengunci bibir ini pada bibirnya. Jantungku yang seperti mau copot, berubah irama menjadi tak beraturan. Mataku tak berhenti menatapnya. Menahan segala rasa yang hampir meledak. Antara ketakutan, kaget, marah, atau ... nervous, karena itu bukanlah sosok hantu. Melainkan sosok hantu jadi-jadian.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1