BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Berdua Di Atap Gedung


__ADS_3

Hari ke-enam, Fania masih belum bangun dari koma. Aku kembali menjenguknya. Saat aku masuk ke ruangan ICU tersebut, pak Wibowo tengah tidur di samping Fania, sembari terus menggenggam tangan Fania. Dia benar-benar menjaga putrinya.


Karena tidak ingin mengganggu istirahat pak Wibowo, aku pun keluar. Aku duduk di depan ruang ICU.


Ya Tuhan ... apa Engkau benar-benar akan mengambilnya. Engkau telah mengambil putraku. Kumohon ... biarkan sahabatku tinggal lebih lama di dunia. Jangan Engkau ambil semua orang-orang yang kusayangi.


"Imania."


Seseorang menghampiriku.


"Rudi."


Rudi duduk di sebelahku. "Bagaimana kabar Fania?"


Aku menggeleng pelan.


"Apa kata dokter?" tanyanya lagi.


Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya. "Dokter mengatakan, benturan yang terjadi di kepala Fania cukup keras. Sehingga terjadi pendarahan. Besar kemungkinan Fania akan mengalami gegar otak atau amnesia. Selain itu ... dokter juga tidak menjamin Fania akan terselamatkan. Meskipun telah dilakukan operasi di bagian kepala untuk menghentikan pendarahan di otak, tetapi ...nyawa Fania tetap bergantung pada keputusan dan takdir Tuhan."


"Ya Tuhan." Rudi menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya.


"Aku harap ... Tuhan memberikan keajaiban," ucapku lirih.


"Ini semua gara-gara aku. Seandainya aku tidak mengajak mereka pergi jalan-jalan malam itu. Mungkin, semua ini tidak akan terjadi. Semua adalah salahku," sesal Rudi.


"Itu semua adalah takdir. Bila pun Tuhan tidak menghendaki, maka semua ini takkan terjadi," ucapku lirih.


Rudi membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya. Kemudian menoleh padaku. "Imania, apa kau sudah tidak marah padaku?"


"Aku tidak pernah marah padamu."


"Benarkah? Kupikir kau marah padaku."


"Untuk apa?"


"Waktu di pusara Arka, kau tidak mau bersamaku."


"Itu karena ... aku masih sangat terpukul, Rud. Yang kulakukan saat itu hanyalah sendiri. Aku hanya ingin merasakan betapa sepinya hidupku tanpa Arka. Aku ingin merasakan betapa rasa perih itu menusuk dadaku."


Rudi menggenggam jemari tanganku. "Sekali lagi, maafkan aku. Aku akan menemani hari-harimu selanjutnya. Aku juga sangat kehilangan Arka. Aku masih tidak menyangka ini semua."


Aku menatap mata Rudi yang berkaca-kaca. Rudi menyadari bulir-bulir bening yang mulai meluncur dari mataku.


Ia pun segera mengusap kedua belah pipiku. "Kau pasti sangat sedih."

__ADS_1


Sembari mengusap lembut air mata yang menuruni pipiku, mata kami saling bertemu. Tiba-tiba saja Rudi mendekatkan wajahnya padaku. Saat bibir kami hampir menyatu, aku langsung menjauhkan diri darinya.


"Maaf ...," ucapnya.


Aku segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Tiba-tiba mataku terkejut melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatku duduk. Ia tengah memandang ke arahku. Ya, dia adalah Dimas.


"Imania, aku mau menjenguk Fania dulu." Rudi berdiri dengan kikuk, lalu masuk ke dalam ruangan ICU.


Orang yang sedari tadi memperhatikan diriku dan Rudi, menghampiriku.


"Eghem! Kupikir kau masih berduka. Ternyata tidak. Kalian masih bisa bermesraan seperti itu," ucapnya.


Aku mendongak, menatapnya. "Apa maksudmu?"


Dimas tersenyum menyeringai. "Ternyata ... wanita yang kukenal ini tidak selemah dan serapuh dugaanku. Kau bisa berpacaran di saat berduka seperti ini. Bagus."


"Apa maksudmu?" Sekali lagi aku bertanya tentang apa maksud dari ucapannya tersebut.


"Kau ingin tahu apa maksudku?"


"Tidak terlalu penting!" Aku berdiri dan berjalan menjauh darinya.


Akan tetapi, tiba-tiba Dimas meraih pergelangan tanganku dengan sedikit kasar. Ia membawaku berjalan cepat bersamanya.


"Hei, apa-apaan ini! Lepaskan!"


"Di! Apa yang akan kau lakukan?"


Dimas tidak menjawab. Tanganku digenggamnya erat sekaki. Sesampainya di atap gedung, ia melepaskan tanganku.


"Apa-apaan ini?!"


"Aku hanya ingin tahu. Apa kau benar-benar kehilangan putramu."


Aku menatap Dimas dengan tatapan heran. "Bisa-bisanya kau berkata seperti itu!"


"Untuk seseorang yang tengah berduka, sepertinya tidak akan ada waktu baginya untuk berpacaran," katanya sembari mengangkat satu sudut bibirnya.


"Siapa yang berpacaran?" tanyaku tak mengerti.


"Kau. Siapa lagi?"


Aku menatap mata elangnya itu lekat-lekat. "Apa kau sama sekali tidak punya hati nurani? Perkataanmu itu sangat melukai perasaaanku."


Dimas mendekatkan wajahnya padaku dan berkata, "Sudah berapa kali Rudi menciummu?"

__ADS_1


Aku menatapnya dengan kesal, penuh amarah. "Itu bukan urusanmu!"


Dia tertawa kecil, mengejekku. Kemudian menyentuh bibirku, menyusurinya dengan jemari tangannya. "Apa ... Rudi melakukan sesuatu yang lebih dari ini?"


"Apa ... kau mengobral bibirmu dengan mudah?" lanjutnya.


Segera kutepis jemarinya yang menyusuri bibirku itu. "Apa aku semurahan itu di matamu?"


Aku tidak mengerti apa maksud semua ucapannya itu padaku. Teganya dia menghinaku seperti itu. Angin di atap gedung yang dingin, seakan berlomba-lomba untuk menenangkan perdebatan panas di antara kami.


Dimas kembali mendekatkan wajahnya padaku. "Apa ... ciuman Rudi lebih ganas dan lebih hebat dariku?"


"Kau lelaki yang tidak berperasaan!"


"Apa ... dia juga pernah menyusuri tubuhmu ini?" katanya lalu memeluk pinggangku.


Segera kudorong tubuhnya, lalu kutampar wajahnya.


Plak!


"Dengar! Tidak perlu menghinaku seperti itu. Aku tidak semurahan dugaanmu. Meskipun aku seorang janda, tapi aku tidak serendah dan segatel itu sebagai wanita!"


Dimas mengusap pipinya yang kutampar tadi, lalu tersenyum dan menatapku. "Benarkah? Itu berarti bahwa Rudi tidak pernah menciummu?"


"Berciuman atau tidak, itu bukan urusanmu!"


"Wow! Jadi ... jawabanmu itu yang mana? Rudi pernah menciummu atau tidak?" tanyanya dengan senyum sinis.


Aku menatapnya dengan geram. Karena enggan terus menanggapi ucapannya, aku pun berkata, "Ya, aku sudah berciuman dengan Rudi berkali-kali! Kau puas? Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!"


Saat aku hendak berbalik, dan berlari menjauh darinya. Tiba-tiba Dimas meraih lenganku, membawa tubuhku ke dalam dekapan. Kemudian ia merengkuh leherku dan melekatkan bibirnya dengan cepat. Jantungku seakan berhenti berdetak. Dengan mata terbelalak, aku merasakan emosi di setiap hujaman bibirnya.


Dimas merengkuh leherku kuat-kuat. Dengan ciuman yang penuh hasrat dan amarah. Seakan tengah meluapkan emosi di benaknya. Angin sepoi-sepoi membelai tubuh kami. Di atap gedung yang sangat sepi, hanya ada kami berdua.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Harap tenang, Readers Keceh Tersayang!


Karena ini menuju ENDING. Dimohon ikuti saja alurnya, ya?


Author sudah mengemas novel ini dengan sebaik mungkin. Nanti, akan terbuka lagi fakta baru. Jadi, bersabarlah.


Ikuti saja, ya? Sampai jumpa nanti malam.

__ADS_1


Thank you ...!


__ADS_2