BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Pilih Aku Atau Dia!


__ADS_3

Apa yang akan terjadi selanjutnya padaku? Sekarang orang-orang kantor membully-ku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Perjalanan cinta kami benar-benar rumit.


Aku sangat membenci pelakor! Wanita janda itu ingin menghancurkan kebahagiaanku. Tidakkah kau berpikir, bahwa cintamu itu salah? Untuk seluruh wanita di dunia, kumohon ... jangan menjadi pelakor. Pelakor lebih hina dari pelac*r! Kau sangat memuakkan! Menjijikkan!


Begitu tulisan yang terpampang di Instagram Nessa, disertai sebuah foto diriku yang sedang turun dari mobil hitam milik Dimas. Foto itu memang dibuat sensor wajahku. Tapi mataku bisa menangkap jelas, bahwa itu foto diriku yang diambil tadi pagi. Entah Nessa yang mengambil foto tersebut atau siapa.


"Imania, kau kenapa?" tanya Fania yang sedang memperhatikanku.


"Tidak apa-apa."


Kuletakkan handphone di meja. Kurebahkan tubuh di sofa.


"Hei, wajahmu itu tidak seperti tidak ada apa-apa. Ceritakan padaku, ayolah!" paksa Fania yang duduk di sofa sebelahku.


"Jangan sok tahu!"


"Mama?" Tiba-tiba Arka yang sedari tadi duduk di sebelah Fania, menghampiriku.


"Iya, Sayang." Aku pun kembali duduk.


"Arka mau makan nasi goreng," kata Arka.


Aku membelai pipinya lembut. "Baiklah, Mama buatkan sekarang, ya?"


Arka mengangguk senang.


"Aku juga mau!" seru Fania.


Aku pun bergegas menuju dapur. Kusiapkan telur, sayur kubis, nasi, sosis, dan bumbu-bumbu. Selagi aku memotong bawang, tiba-tiba ... aku terngiang perkataan sekertaris Ve saat itu. Saat pertama kalinya berjumpa di kantor. (Episode 100)


"Dimas sangat mencintaimu. Dia tidak mencintai Dokter Vanessa."


"Dimas yang memintaku untuk mengurusmu di sini. Dan kau tahu? Pak Wibowo adalah Pimpinan Direksi di sini, sekaligus pemilik bank swasta ini. Dia sangat galak. Kau harus kuat mental menghadapinya. Apalagi ... dia tidak menyukaimu."


"Tidak mudah mengambil hatinya. Sebenarnya, keputusan membawamu ke dalam kantor ini bukanlah keputusan yang tepat."


"Karena ... jika kau tidak pandai mengatur emosimu. Kau hanya akan dipermalukan di sini."


"Karena ... jika kau tidak pandai mengatur emosimu. Kau hanya akan dipermalukan di sini."


"Aw!"


Ah, telunjukku teriris. Perkataan sekertaris Ve saat itu ... apakah mengarah ke sini?


"Kau kenapa?" Tiba-tiba Fania muncul mengejutkanku. "Kenapa jarimu?"


Fania tiba-tiba meraih jariku, mengisap darah yang keluar dari kulit yang teriris pisau. Sejenak aku memperhatikannya seraya tersenyum. Setelah mengisap darah segar itu, Fania melepaskan jariku. Lalu meludahkan ke wastafel.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku bukan lesbi*n."


"Kau memang bukan lesbi*n. Tapi mungkin, kau adalah vampir."


"Jika aku vampir, aku adalah yang tercantik di antara vampir lainnya."


"Terima kasih, Vampir Cantik," ucapku.


Aku tidak menyangka, Fania begitu perhatian padaku. Bahkan, ia tanpa jijik menyesap darah yang keluar dari jemariku. Bukankah, itu sangat romantis?

__ADS_1


"Sini, biar aku yang memasak!"


"Memangnya kau bisa?"


"Kau yang mengarahkan, aku yang mengerjakan, okay!"


Aku mengangguk mengerti. Satu per satu langkah Fania ikuti dengan baik. Kurasa, Fania ada keterampilan memasak.


"Imania, aku tahu kau sedang tidak konsen. Kau sedang memikirkan sesuatu, ya?" tanya Fania seraya menumis bumbu.


"Masukkan telurnya," perintahku.


"Kau belum menjawab pertanyaanku." Fania menoleh padaku.


"Pertanyaan apa?"


"Kau sedang ada masalah, kan?"


"Masukkan—"


"Imania! Aku tahu apa yang harus kumasukkan. Aku sudah pernah memasak nasi goreng!" katanya.


"Syukurlah."


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Aku biasa saja. Tidak ada masalah apa-apa," jawabku bohong.


"Lalu, tentang Instagram tadi, apa itu?"


"Fania, kau menyentuh handphone-ku?"


Aku terdiam sejenak. Kemudian mengambil kursi, dan duduk tidak jauh dari tempat Fania memasak.


"Imania. Menurutku, Vanessa sudah keterlaluan. Dia sengaja ingin mencemarkan nama baikmu. Akan tetapi ... dia tidak sepenuhnya salah." Fania mencoba berpendapat.


"Sebenarnya, kau juga ada salahnya. Berpacaran dengan seseorang yang telah bertunangan, bukankah itu lucu?" lanjut Fania. "Namun, Dimas adalah yang paling salah. Dia tidak tegas. Perbuatannya yang menggantung hubungannya dengan Nessa dan kau adalah egois. Dimas tidak mempertimbangkan bagaimana perasaan kalian. Seharusnya dia tegas. Bukan seperti ini!"


Perkataan Fania memang benar. Harusnya Dimas bisa memutuskan. Dimas hanya mengatakan segera, tapi tak kunjung melakukannya. Dan aku terus mempercayainya. Ini seperti kebodohanku atau aku yang terlalu mempercayainya.


"Dimas mungkin tidak mencintai Nessa. Tapi, bagaimanapun, Nessa adalah tunangannya. Dilihat dari sisi kewajaran, orang-orang tentu menyalahkanmu," ujar Fania kemudian mematikan kompor.


"Aku kasihan padamu, Imania. Aku tidak ingin kau sampai dianggap merebut laki-laki orang. Alias pelakor!"


"Fania, kami saling mencintai. Dan Dimas berjanji akan menikahiku."


"Kalau begitu, besok kau wajib menagih janjinya," ucap Fania sembari mem-plating nasi goreng.


"Jangan terlalu menyalahkan Nessa. Pada hakikatnya, dia juga berhak akan diri seorang Dimas. Justru, dirimulah yang akan terus menerus dicap sebagai pelakor."


Benar! Fania benar! Seharusnya aku berpikir ke situ. Bagaimanapun, aku harus meminta ketegasan dari Dimas.


***


Seperti biasa, paginya, Dimas menjemputku. Kami pun menuju ke kantor.


"Di, boleh kutanya sesuatu?"

__ADS_1


"Ya, Sayang."


"Kapan kita menikah?" Aku langsung memberikan pertanyaan yang menohok pada Dimas. "Aku tidak mau disebut pelakor!"


"Segera, Sayang."


"Kapan kau memutuskan hubungan dengan Nessa?"


Dimas sepertinya terkejut. Sejenak ia diam dan hanya fokus mengemudikan mobilnya.


"Dimas!"


"Imania, bersabarlah," katanya dengan santai.


"Aku sudah tidak bisa sabar!"


Dimas hanya menghela napas panjang. Tapi tidak menjawabku.


"Pilih salah satu di antara kami. Silakan kau pilih aku atau Nessa!"


Lagi-lagi ia hanya diam. Entah apa yang menyulitkannya melepaskan salah satu dari kami.


"Dimas!"


"Nia! Jangan membuatku pusing!"


"Kau yang membuatku pusing!"


"Kau bisa, kan, menunggu saat yang tepat?"


"Kapan itu, Di?" Pikiranku sudah dipenuhi amarah sejak kejadian kemarin di kantor. Mereka membully-ku. Apa aku harus selalu dihina?


"Nia, kita bisa bahas ini nanti, ya?"


"Aku mau turun!"


"Nia."


"Aku mau turun!" Bulir beningku mulai turun mengguyur make up tipisku.


"Aku akan menurunkanmu di depan kantor."


"Agar semua orang tahu bahwa aku pelakor?"


"Nia, apa maksudmu?"


"Apa kau belum tahu?" tanyaku heran.


"Ada apa denganmu? Please, jangan menangis, Nia."


"Bagaimana tidak menangis. Aku punya perasaan, Di. Aku butuh kejelasan darimu!"


"Nia, kumohon ... jangan seperti ini."


Aku terus terisak. Tiba-tiba ada sebuah truk berpapasan dengan mobil yang kami tumpangi. Truk tersebut melaju begitu kencang ke arah mobil kami.


"Dimas, awas!!"

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2