
Serpihan kertas berisi surat perjanjian kerjasama itu berserakan di lantai.
"Apa maksud Anda, Pak Wibowo?!"
"Saya membatalkan kerja sama ini!"
Wajah Antonio berubah merah padam. Begitupun pak Wibowo, yang menatap Antonio dengan tajam. Kedua lelaki itu saling menatap, dengan amarah masing-masing.
"Kau akan menyesal, Wibowo!"
"Masih banyak yang menginginkan kerjasama dengan bank kami! Kau tidak usah khawatir. Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku!"
Antonio mengalihkan pandangannya padaku. Ia berjalan ke arahku. Akan tetapi, pak Wibowo langsung menahannya.
"Jangan pernah berani menyentuhnya lagi!" geram pak Wibowo.
"Wah, ada apa dengan Anda? Ini mencurigakan. Jangan-jangan ... wanita ini adalah simpananmu!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Antonio. Itu membuat Antonio semakin naik pitam.
"Keluar!!" usir Antonio kepada pak Wibowo.
"Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di tempat ini lagi!" ucap pak Wibowo dengan emosi membakar jiwa.
"KELUAR!!"
"Attitude-mu sangat rendah, Antonio! Sayang sekali," ucap pak Wibowo seraya mengangkat satu sudut bibirnya.
Kami pun segera pergi dari tempat ini. Aku mengikuti langkah pak Wibowo yang begitu cepat. Dan kami masuk kembali ke dalam mobil.
Pak Wibowo menginstruksikan agar sopir pribadinya langsung melajukan mobil.
Di dalam mobil, aku masih berpikir, mengapa pak Wibowo sampai membatalkan kerjasama itu. Padahal, aku sudah bersikeras mempresentasikan rencana kerjasama itu. Apakah ... pak Wibowo rela melakukan itu untukku? Untuk membela diriku yang dilecehkan oleh Antonio?
Namun, ini aneh. Pak Wibowo membenciku, kan? Untuk apa dia rela kehilangan kerjasama itu? Kulirik wajah pak Wibowo. Ia selalu bersikap dingin. Apa aku perlu untuk meminta maaf?
"Pak," panggilku.
Aku tahu pak Wibowo mendengarku, tapi dia tidak menjawabku.
Dengan perasaan gugup, aku pun berucap, "Maafkan aku. Gara-gara diriku, Anda jadi kehilangan kerjasama ini."
"Jangan terlalu percaya diri. Aku membatalkannya tidak semata-mata karenamu. Namun, ada alasan lain," tuturnya dengan dingin tanpa menolehku.
Jadi, dia membatalkan kerjasama ini, sebab ada alasan lain?
__ADS_1
"Bagaimanapun, aku sangat berterima kasih, karena Anda telah membelaku."
"Tidak ada yang membelamu!"
Meskipun pak Wibowo mengelak, tetapi tetap saja, aku sangat berterima kasih. Sekaligus meminta maaf, karena turut menjadi penyebab kegagalan ini.
"Sekali lagi, maafkan aku."
Lagi-lagi, pak Wibowo mengabaikanku. Aku tidak mengerti, mengapa pak Wibowo bersikap sedingin itu. Apa ... itu memang merupakan ciri khas dirinya?
Setelah setengah jam perjalanan, tiba-tiba saja pak Wibowo meminta agar sopir berhenti.
"Kita berhenti di GR!" seru pak Wibowo kepada sopirnya.
GR? Apa itu GR?
Benar saja, mobil pun berhenti di sebuah restoran yang kukenal, Giant Restauran.
"Pak, kita mau ngapain ke sini?" tanyaku.
Pak Wibowo menolehku dengan tatapan dingin, yang membuatku harus menundukkan kepala agar tak menatap tatapan menakutkan itu.
"Tadi kau bicara begitu lancar saat presentasi. Padahal hanya membaca sekali saja. Harusnya kau tidak perlu berpikir keras untuk menyimpulkan, mengapa orang suka pergi ke restoran."
Setelah mengatakan itu, pak Wibowo turun. Aku pun mengekor di belakangnya. Rudi menyambut kedatangan kami. Dan mempersilakan kami untuk duduk dan memilih menu. Kami pun memesan menu masing-masing.
Rudi kembali datang bersama seorang waitress. Mereka mengantarkan pesanan kami. Rudi memang bos yang ramah dan tidak sombong. Ia selalu siap melayani pelanggan restoran dengan senang hati. Sangat jauh dengan julukan 'Mr. Arogant' seperti yang Fania ekspektasikan padanya.
Rudi mempersilakan kami untuk makan. Ia pun duduk di sebelahku.
"Tumben mampir, Om."
"Kebetulan lewat," balas pak Wibowo.
Aku dan pak Wibowo pun segera menyantap menu makanan kami.
"Imania, apa nanti malam kau ada waktu?" tanya Rudi.
"Nanti malam?"
"Aku mau mengajakmu menonton film terbaru berjudul 'Bukan Pelakor' di bioskop." (haha Author Keceh berharap banget!)
"Sepertinya tidak bisa, Rud," sesalku. "Aku tidak mungkin meninggalkan Arka dan juga Fania."
"Oh, baiklah. Lain waktu saja. Tapi nanti malam boleh main ke rumahmu, kan?"
"Boleh," jawabku seraya tersenyum.
__ADS_1
"Yes!" sahut Rudi gembira. Lalu beranjak meninggalkan kami.
Seharusnya Rudi di sini saja. Aku benar-benar canggung duduk berdua dengan pak Wibowo. Dia adalah lelaki yang nyaris tak pernah menampakkan senyum di wajahnya. Bahkan, dia selalu berbicara dengan dingin.
"Tidak baik seorang wanita menerima tamu malam-malam." Tiba-tiba pak Wibowo berkata padaku.
Aku menatapnya sesaat, lalu menunduk lagi setelah mata itu terlihat menyorotiku.
"A-aku tidak tinggal sendirian. Ada temanku juga di rumahku," jawabku sembari menatap piring berisi main course di hadapanku.
"Memangnya kau tidak tinggal dengan orang tuamu," tanyanya dengan nada datar.
Apa pak Wibowo akan marah, jika tahu bahwa putranya memberikan rumah untukku?
"A-aku tinggal bersama kedua orang tuaku juga," jawabku terpaksa berbohong. Lalu kembali menyuapi mulutku dengan makanan.
"Makanlah! Setelah ini kuantarkan kau pulang!"
"Uhuk!"
Mendengar pak Wibowo ingin mengantarku membuatku terkejut, hingga kerongkonganku tersedak. Berkali-kali kunetralkan napas. Kemudian mengambil minum.
"Kenapa terkejut?" tanya pak Wibowo tanpa rasa iba melihatku tersedak.
"Tidak ada apa-apa, kok, Pak."
Selesai makan, pak Wibowo membayar kepada kasir. Dan meminta pelayan restoran untuk membungkus satu makanan. Kemudian kami keluar dari restoran, kembali masuk ke mobil.
Di dalam mobil, pak Wibowo memberikan makanan yang tadi dipesan. Ia memberikan makanan tersebut kepada sopir pribadinya. Aku merasa melihat sisi yang lain dari pak Wibowo. Meski terlihat dingin, tapi dia sangat mempedulikan orang lain, bahkan seorang sopir pribadinya sendiri. Itu pendapatku.
"Di mana rumahmu?"
"Em ... Pak. Bagaimana kalau kita kembali ke kantor saja?" Aku mencoba menolak tawaran pak Wibowo untuk mengantarku.
"Pekerjaanmu sudah selesai hari ini. Untuk apa ke kantor?"
"Ah, aku ... aku ada beberapa dokumen yang belum ku-cek." Aku mencoba beralasan lagi.
"Bisa dikerjakan besok!"
Sepertinya aku tidak bisa menolaknya. Dengan hati dan pikiran yang was-was, aku mencoba terlihat tenang. Aku pun menunjukkan arah menuju rumahku. Tidak lama, kami pun sampai.
"Ini rumahmu?" tanya pak Wibowo.
"Iya."
Saat aku hendak turun dari mobil, kulihat Fania dan Arka sedang berada di depan pintu gerbang. Mereka tengah membeli es krim.
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --