
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung mencari ruang rawat ibunya Rudi. Sebuah parsel berisi buah-buahan menemaniku untuk pergi mengunjungi ibunya Rudi.
Aku berjalan melewati koridor rumah sakit, sembari menengok kiri-kanan. Di mana letak ruangannya? Hm ... aku berhenti sejenak, melihat denah yang terpajang di dinding. Setelah cukup jelas, aku kembali berjalan mencari ruang rawat inap yang diberitahukan Rudi lewat WhatsApp.
Saat sedang berjalan menaiki tangga rumah sakit, tiba-tiba aku melihat seorang lelaki berjas dokter yang tengah turun dan sebentar lagi akan berpapasan denganku. Untuk sesaat langkah kami tertahan ketika mata kami saling menangkap.
Seolah merasakan hal yang sama denganku. Dokter elang itu seakan mengatur napasnya sebelum melanjutkan langkahnya, hal yang sama kulakukan. Kemudian, dengan wajah berusaha cuek, kami pun berjalan kembali. Aku menaiki tangga, sedangkan Dimas menuruni tangga.
Saat tubuh kami benar-benar berpapasan, napasku seakan tertahan. Ada gemuruh dalam dada yang tak dapat dijelaskan.
Sesampainya di ujung tangga, aku menoleh ke bawah. Dan saat mataku menangkap sosoknya yang juga tengah menolehku, ia pun segera memalingkan wajah dariku dan bergegas pergi.
Tidak. Aku tidak boleh goyah lagi. Bagaimanapun caranya, aku harus melupakannya. Dia bukan takdirku. Bukan untukku. Biarlah dia bahagia dengan pilihannya. Dan aku ... juga harus bahagia tanpa kehadirannya lagi.
Aku kembali berjalan menuju ruangan rawat ibunya Rudi. Setelah ketemu, aku langsung mengetuk pintu dan masuk.
"Assalamualaikum."
Dua pasang kepala langsung menoleh ke arahku. "Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
Kusunggingkan senyum untuk menyapa mereka. Lalu berjalan menghampiri mereka dan meletakkan parsel buah di atas meja, di dekat wanita yang kuperkirakan adalah ibunya Rudi.
Kuulurkan tangan kanan kepada wanita paruh baya tersebut. Dan dia pun menjabat tanganku, dengan disertai senyuman hangat di wajahnya yang tampak mulai menua.
"Ini wanita yang kau ceritakan?" tanya ibunya Rudi sembari mengeratkan genggaman tangannya padaku.
"Iya, Bu," jawab Rudi.
Rudi sudah menceritakan tentangku?
"Bagaimana keadaanmu, Bibi?"
"Sini, duduklah," pinta ibunya Rudi sembari mendudukkan tubuhnya dan menarikku untuk duduk di ranjang.
"Bibi sudah lumayan enakkan. Kan, sudah ditangani dokter," ujar ibunya Rudi sembari tetap menggenggam telapak tangan kananku.
"Oh, syukurlah. Bibi sakit apa?"
"Kadar gula darah Ibu tinggi, Imania," sahut Rudi.
"Namamu Imania?" tanya ibunya Rudi.
Aku mengangguk. "Iya, Bibi. Namaku Imania Saraswati."
"Nama yang cantik seperti orangnya," puji ibunya Rudi sembari tersenyum lembut padaku.
__ADS_1
"Ibu, sebenarnya ... rencananya hari Minggu, Rudi mau mengajak Imania untuk menemuimu. Tak disangka akhirnya hari ini sudah bertemu," tutur Rudi.
"Tidak apa. Ini membuatku semakin tidak sabar untuk segera pulang," ucap ibunya Rudi.
"Bibi harus benar-benar pulih, baru setelah itu boleh pulang," ucapku.
Wanita paruh baya itu melepaskan tangannya dari tanganku, lalu mengelus punggungku lembut seraya berkata, "Terima kasih, sudah mau mengunjungi bibi, ya? Terima kasih juga, sudah mau menjadi pendamping putraku."
Pendamping putranya? Mengapa terasa menohok sekali bagiku? Niatku tidak serius menerima Rudi, dan pada akhirnya menjadi rumit seperti ini. Aku terjebak keputusanku sendiri.
Handphone Rudi tiba-tiba berdering. Itu membuat Rudi harus mengangkatnya dan keluar dari ruang rawat ibunya.
Setelah Rudi keluar, kami pun kembali berbincang.
"Rudi adalah putra yang paling bibi banggakan. Dia sangat menyayangiku. Dia paling tidak bisa melihat bibi sakit atau menangis." Ibunya Rudi mulai menceritakan perihal putranya itu.
"Dia anak yang berbakti sekali. Tidak pernah sekalipun ia menyakiti perasaan bibi. Dia rela melakukan apapun demi bibi," lanjutnya. "Sejak kecil, Rudi sudah berjuang bersama bibi dengan hidup serba kekurangan. Oleh sebab itu, bibi selalu mengatakan, agar jika Rudi sukses, tidak boleh bersikap takabur terhadap siapapun."
"Rudi memang sangat baik dan ramah terhadap siapapun, Bibi," tambahku.
Ibunya Rudi kembali meraih tanganku. Menggenggamnya erat. "Kuharap kau adalah wanita paling beruntung. Karena mampu mendapatkan cinta putraku."
Ibunya Rudi tampak sangat baik, persis putranya. Mungkin benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itu penggambaran paling tepat menurutku. Akan tetapi, bagaimanakah jika ibunya Rudi mengetahui bahwa aku adalah seorang janda. Apa dia tetap bersikap baik dan menerimaku?
Ibunya Rudi tersenyum lembut. "Kau mau mendengarkan kisahku?"
"Tentu, Bibi."
Ibunya Rudi memulai bercerita, "Dulu, ketika Rudi berusia tujuh tahun, aku dan ayahnya Rudi bercerai. Ayah kandung Rudi memilih menikah lagi, dan bibi tidak bisa menerima kenyataan itu."
Mata teduh itu tampak meredup sendu. "Kami berpisah dan itulah awal hari berat dalam kehidupan kami. Bibi hanya bisa berjualan gorengan dan kue basah keliling. Dan itu tidak cukup untuk biaya hidup kami sehari-hari. Akhirnya, Rudi turut bekerja. Ia rela menjadi pembantu di warung makan pak Gianto—tetangga kami. Sepulang sekolah, dia selalu membantu apapun, mulai dari mencuci piring dan melayani pelanggan."
Seutas senyum tipis menghiasi wajah tua itu. "Dan kau tahu siapa pak Gianto itu?"
"Ayah tiri Rudi?" tebakku dari nama 'Rudi Gianto'.
"Benar. Ketika Rudi berusia dua belas tahun, ia menikahiku. Dia adalah duda tanpa anak. Dia orang yang sangat kaya dan dermawan kala itu. Dia sangat terkesan dengan kegigihan dan kerja keras Rudi."
Ibunya Rudi melanjutkan ceritanya, "Kehidupan kami berubah, ketika pak Gianto menikahiku, dan menjadikan Rudi sebagai putra semata wayangnya."
"Jadi, nama belakang Rudi pun diambil dari ayah tirinya?" tanyaku.
"Ya. Gianto yang menginginkan agar nama 'Rudi Suyandi' dirubah menjadi 'Rudi Gianto'."
"Lalu, di mana ayah tiri Rudi sekarang?"
__ADS_1
"Dia meninggal tiga tahun setelah menikah denganku. Ia juga mewariskan seluruh harta peninggalannya kepadaku dan putraku. Dia adalah lelaki terbaik yang mencintai dan mengasihiku beserta putraku, dengan sangat tulus." Kedua netra teduh itu berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Bibi. Aku membuat Bibi bersedih," ucapku sembari mempererat genggaman tanganku.
Ibunya Rudi tersenyum menatapku. "Kau tahu mengapa Rudi membangun restoran?"
Aku menggeleng.
"Itu adalah cita-cita Rudi sejak bekerja di warung makan ayah tirinya. Ia sangat menikmati dan menyenangi pekerjaannya. Baginya, membuat orang lain kenyang dan makan makanan yang lezat itu sangat membahagiakan. Jadi, usai menyelesaikan pendidikan SMA, Rudi tidak ingin kuliah. Dia mengambil kursus koki, kemudian setelah itu, ia membangun sebuah restoran."
Aku mengangguk-angguk memahami cerita wanita berambut panjang yang digelung rapi itu.
"Dulu, Giant Restauran, yang diambil dari nama ayah tirinya itu, tidak sebesar dan semewah sekarang. Namun, atas kegigihan dan kerja keras Rudi, akhirnya ... bisa sesukses sekarang. Dia adalah putraku yang paling kubanggakan." Senyum mengembang menghias wajahnya.
"Apa ... Rudi adalah putra Bibi satu-satunya?"
"Tidak. Bibi punya seorang anak perempuan. Namanya Ratna. Dia adik Rudi. Usianya dua tahun lebih muda dari Rudi. Ratna memilih tinggal bersama ayah dan ibu tirinya."
"Sekarang mereka tinggal di mana?"
"Mereka tinggal di luar kota."
Mendengar seluruh kisah tentang Rudi membuatku merasa sangat simpati dan terkesan terhadap Rudi. Sungguh ... Rudi adalah lelaki yang sangat mandiri.
"Nak Imania, jangan sampai menyakiti hati putraku. Dia selalu tulus ketika menyayangi seseorang. Jangan sampai perasaannya terluka. Dia sudah pernah terluka karena seorang wanita. Aku tidak tega jika Rudi menerima kisah cinta seperti dulu lagi."
Saat aku hendak bertanya lebih mengenai cinta masa lalu Rudi. Tiba-tiba seorang dokter masuk disusul Rudi yang mengekor di belakangnya.
"Ibu Widya. Saya akan mengecek kondisi Ibu, ya?"
Aku pun turun dari ranjang dan berdiri di samping Rudi. Memperhatikan dokter tersebut yang tengah memeriksa ibunya Rudi.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Readers Keceh?
Mana, nih, tim Rudi? Atau timnya Dimas?
Jangan lupa FOLLOW, LIKE, COMENT, VOTE, dan RATE BINTANG LIMA, ya?
Masuk GRUP yuk!
Thank You ...!
__ADS_1