
Usai berganti pakaian, aku keluar dan menghampiri Fania yang tengah duduk sendirian di sofa studio.
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf ... pasti ini sangat membosankan untukmu, ya?" ucapku sembari duduk di sebelah Fania.
"Tidak juga. Aku hanya ... sedikit iri melihat kemesraan kalian. Aku belum pernah diperlakukan selembut itu oleh lelaki. Tidak semanis Dimas memperlakukanmu."
Kusentuh pundaknya. "Fania, aku yakin, nanti kau juga akan mendapatkan cinta terbaik."
"Kau beruntung sekali, Imania. Kau seorang janda dan Dimas menerimamu apa adanya. Sedangkan aku ... aku sudah tidak virgin lagi dan aku belum pernah menikah. Aku sendiri tidak yakin Rudi akan menerimaku apa adanya," tuturnya sedih.
Kuraih jemari tangan Fania, menggenggamnya. Lalu aku berkata untuk menenangkan hatinya, "Siapapun lelaki yang mencintaimu dengan tulus nantinya, ia akan menerimamu apa adanya. Tanpa mengulik bekas luka ataupun luka-luka lain yang pernah kau alami. Dia cukup memberimu cinta yang murni di setiap harimu. Dan kebahagiaan di setiap senyummu."
"Terima kasih, Imania."
"Eghem! Ayo kita jalan-jalan sebentar. Urusan pre-wedding sudah beres," ucap Dimas menghampiri kami.
"Okay," jawabku semangat.
Aku pun berdiri dan Dimas langsung menggenggam jemari tanganku.
"Ah, menyebalkan. Membuatku iri saja!" ucap Fania sembari melangkah mendahului kami.
Aku dan Dimas berjalan mengekor Fania menuju mobil. Kami pun masuk dan Dimas segera membawa kami meluncur ke sebuah tempat.
Kuambil handphone untuk mengirim pesan kepada seseorang. Aku sudah merencanakan ini semalam. Dimas juga tahu rencanaku. Semoga ini berhasil.
Setelah berkendara sekitar 30 menit, kami pun sampai di sebuah pantai. Kami turun dan langsung menikmati keindahan pantai. Fania terlihat sangat senang kubawa kesini. Ia berdiri di bibir pantai sembari menelentangkan tangannya. Fania mengambil napas dan mengembuskannya dengan segar.
Aku dan Dimas duduk di atas pasir pantai, menatap hamparan air nan luas. Sesekali kulirik handphone, ah, belum ada pesan balasan. Aku harap dia segera datang. Kembali mataku terarah pada ombak yang terus menari-nari. Di bawah matahari yang terik, sang bayu membelai-belai tubuh agar tetap merasakan kesejukan.
"Dari tadi kita belum memakan apapun. Apa kau mau makan sesuatu?" Dimas menawariku.
"Aku haus," jawabku.
"Baiklah, tunggu di sini. Aku akan segera kembali."
Dimas beranjak meninggalkanku yang masih duduk di atas pasir pantai. Mataku menangkap sosok Fania yang tengah bermain air sendirian. Dia terlihat sangat senang. Persis ibunya, seperti dalam cerita pak Wibowo. Arumi gadis pantai.
__ADS_1
"Dia suka sekali pantai. Dia senang bermain di pantai. Bagiku, dia seperti gadis pantai. Menyejukkan hati dan menenangkan." (Episode 170)
Aku jadi membayangkan, seperti apa ibunya Fania. Mungkin, ceria seperti Fania.
Cup!
Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipi kananku. Membuatku terkejut.
"Jangan melamun. Ini minumlah!" Dimas menyodorkan es kelapa muda padaku. Tentu saja, bersama kelapa mudanya.
Aku menerimanya dan langsung menyedot es kelapa muda tersebut. "Ah, ini segar."
"Lebih segar lagi kalau kita bisa saling menyedot," celetuk Dimas kemudian turut menyedot es kelapa muda di tangannya.
Aku menatap Dimas janggal dengan kalimatnya tadi. "Maksudmu?"
"Ya, saling menyedot."
Aku mendelik kepadanya.
"Menyedot es kelapa muda maksudku," lanjutnya sembari tertawa.
"Ish, tidak lucu!" ucapku kesal. Aku kembali menyedot es kelapa muda yang dingin dan menyegarkan.
"Uhuk!" Aku tersedak karena terkejut mendengar gurauan Dimas.
"Ya ampun. Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah bersalah.
"Kau gila!" umpatku kesal.
Dimas mengusap puncak kepalaku lembut. "Ya, deh. Maaf ... maaf, Sayang."
Kuletakkan kelapa muda di sampingku duduk. Tanganku kembali meraih handphone dari dalam tas. Ku-cek sharlok yang tadi kukirimkan kepada seseorang. Sudah centang dua, kenapa lama sekali?
"Kakak pencopet! Apa kau tidak haus?" seru Dimas kepada Fania.
Fania yang tengah asyik bermain air pun menoleh, kemudian berlari kecil menghampiri kami.
"Tidak adakah panggilan lain yang lebih pantas untukku?" tanya Fania cemberut.
__ADS_1
"Itu juga pantas untukmu," jawab Dimas.
"Kau adik durhaka! Jangan harap kau bisa bahagia menikahi Imania tanpa restu dariku!" ucap Fania kesal sembari meraih satu buah es kelapa muda yang ada di samping Dimas.
Ia pun duduk di sebelahku, sembari menyedot es kelapanya.
"Ah, menyebalkan!" Tiba-tiba Fania membuang sedotannya dan meletakkan kelapa muda itu.
"Fania, ada apa? Apa kau tidak suka?" tanyaku heran melihat mimik Fania yang begitu kesal tengah memandang ke arah Dimas.
Kualihkan pandangan kepada Dimas yang tengah senyum-senyum sendiri sembari menikmati es kelapa mudanya.
"Ada apa, sih, Fan?" tanyaku kembali memandangnya heran.
Hidung Fania kembang kempis, dengan bibir dimanyun-manyunkan. Tatapan matanya terus mengarah kepada Dimas. Fania pun bangkit dengan kedua tangan mengepal. Kemudian ia melangkah ke hadapan Dimas.
"Benar-benar! Adik durhaka!"
Dimas menjulurkan lidahnya, mengejek Fania, lalu meletakkan kelapa muda itu. Saat Fania hendak memukul, Dimas dengan sigap berlari sembari tertawa. Fania pun segera mengejarnya. Aku semakin heran terhadap mereka. Ada apa, sih?
Tanganku meraih es kelapa muda milik Fania yang tergolek di atas pasir pantai. Kuterawang isinya.
"Oh, pantas!" gumamku melihat kelapa muda itu kosong.
Saat mereka asyik berlari, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku.
"Imania."
-- BERSAMBUNG --
___________________________________________
READERS KECEH?
Sengaja Author perpanjang sedikit novelnya menuju ENDING untuk menemani kalian selama Ramadhan (bagi yang menjalankan).
Akan tetapi, tetap bulan ini END. Semoga lancar tanpa ada halangan, ya?
Author akan bungkus endingnya semenarik mungkin, agar kalian tidak bosan dan kecewa.
__ADS_1
Good night and have a nice dream, Babe.
Thank you ...!