BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Di Balik Bingkai Foto


__ADS_3

"Oh, dia temanku. Namanya Fania," jawabku.


Sekertaris Ve seperti sedang berpikir sejenak. Aku pun memperhatikan keningnya yang mengkerut.


"Kenapa memangnya, Kak Ve?"


"Oh, tidak ada apa-apa, kok?" Sekertaris Ve pun beranjak masuk ke dalam kantor.


Aku mengekor di belakangnya. Sampai di meja kerjaku, aku duduk dan langsung menyalakan komputer.


Tidak lama setelahku, mas Bastian datang. Dia pun langsung duduk di meja kerjanya.


"Mas," panggilku.


"Iya, Imania."


"Kenapa Arka tidak kau antarkan pulang?"


"Oh ... itu. Arka belum mau diajak pulang," katanya.


"Benarkah?"


Mas Bastian mengulum senyum tipis. "Aku berencana membuat pesta kecil-kecilan. Kau harus datang, ya?"


"Pesta?" Aku terkejut mendengarnya.


"Iya. Tiga hari lagi, Arka ulang tahun. Apa kau lupa?"


Ya, aku ingat. Aku selalu ingat. Bagaimana bisa aku lupa? Dia anakku, ulang tahunnya, tentu aku selalu ingat.


"Kenapa tidak bilang padaku terlebih dahulu?" Aku menatapnya dengan heran. Seharusnya, mas Bastian mengambil keputusan setelah bicara denganku dulu. Dia juga anakku, bukan?

__ADS_1


Mas Bastian menghela napas kasar. Kembali ia layangkan senyum tipisnya padaku. "Ini aku baru bilang, kan?"


Aku menatapnya tidak mengerti. Sebenarnya, aku juga ingin merayakannya sendiri di rumahku. Aku sudah berencana mengundang teman-teman Arka di hari itu. Namun ... jika memang mas Bastian ingin merayakan pesta ulang tahun Arka di rumahnya. Mungkin aku bisa merayakannya di hari setelah itu. Ya, baiklah.


Aku kembali mengerjakan pekerjaanku. Dan kulihat sekertaris Ve datang menghampiriku.


"Imania!" panggilnya yang sudah berdiri di sampingku.


"Ya, Kak Ve?"


"Kerjakan yang ini, ya? Jika sudah, langsung antar saja ke ruang direktur utama, ya?" kata sekertaris Ve seraya meletakkan sebuah berkas di mejaku.


"Direktur utama?"


"Hm, segera kerjakan, ya!"


Sekertaris Ve pun kembali ke ruangannya. Aku menatap berkas yang diberikan sekertaris Ve. Oh, Tuhan, kali ini aku benar-benar akan berhadapan langsung dengan pak Wibowo. Apa dia akan segera mengenaliku? Lalu ... apa dia akan memarahiku? Apa dia akan mendampratku seperti dulu?


Oh, Imania tenanglah! Tenangkan dirimu! Aku mencoba untuk tidak gugup. Aku menghela napasku berkali-kali. Hingga setelah sedikit rileks, aku dapat mulai mengerjakannya. Di saat mengerjakan pekerjaan tersebut, sebisa mungkin aku melupakan, bahwa setelah ini, aku akan menemui orang yang paling kutakuti.


Saat pikiranmu kacau, dan kau tidak bisa fokus. Maka, berikanlah sejenak ruang di otakmu, untuk melupakan segala risaumu. Baru setelahnya, kau bisa memikirkan masalah itu lagi. Ini salah satu cara agar tidak mudah stress. (Kak Thamie/Author Keceh)


***


Satu jam aku mengerjakannya. Akhirnya selesai juga. Dan tiba saatnya aku harus mengantarkan berkas yang sudah kubuat ke ruang direktur utama. Sebenarnya, aku bisa meminta sekertaris Ve saja yang memberikan berkas tersebut. Akan tetapi, biasanya atasan akan menanyakan beberapa hal tentang data-data yang kumasukkan di dalam berkas itu. Jadi, ini memang harus kuantar sendiri.


Kembali aku menghela napas panjang. Sudah saatnya aku harus bertemu dengannya. Mengapa tiba-tiba tanganku terasa dingin? Aku benar-benar takut bertemu dengannya.


"Benar. Dimas yang memintaku untuk mengurusmu di sini. Dan kau tahu? Pak Wibowo adalah Pimpinan Direksi di sini, sekaligus pemilik bank swasta ini. Dia sangat galak. Kau harus kuat mental menghadapinya. Apalagi ... dia tidak menyukaimu."


"Tidak mudah mengambil hatinya. Sebenarnya, keputusan membawamu ke dalam kantor ini bukanlah keputusan yang tepat."

__ADS_1


"Karena ... jika kau tidak pandai mengatur emosimu. Kau hanya akan dipermalukan di sini."


"Keluarga Wibowo bukanlah orang sembarangan. Untuk masuk dalam keluarga itu juga tidaklah sembarangan. Aku harap ... kau dapat mencerna dengan baik kata-kataku ini."


Kalimat-kalimat yang dilontarkan sekertaris Ve kembali membayang di otakku. Pak Wibowo sangat galak. Keputusan membawaku ke kantor ini bukanlah sesuatu yang tepat. Jika aku tidak pandai mengatur emosi di sini, aku akan dipermalukan. Dan keluarga pak Wibowo bukanlah orang sembarangan. Aku tidak akan mudah masuk ke dalam keluarga itu.


Ya, Tuhan. Mengapa mentalku tiba-tiba menciut? Aku merasa, bahwa aku tidak akan bisa membuat pak Wibowo menyukaiku. Akan tetapi ... aku sudah berada di sini. Cepat atau lambat, aku juga akan pergi dari sini. Dan pak Wibowo sendiri yang akan mengusirku. Jadi ... apa boleh buat. Aku harus menemuinya.


Aku pun berjalan menuju ruangannya. Kakiku melangkah satu demi satu, hingga terdengar langkah kakiku berbunyi, tap-tap-tap! Bunyi dari sepatu pantofel-ku mengiringi degup jantungku yang berdebar-debar.


Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut. Aku kembali menghela napas. Kulirik sesaat berkas yang berada di tanganku. Lalu berusaha kuat kunetralkan rasa gugupku. Kuketuk tiga kali pintu tersebut.


Aku menelan salivaku sendiri. Tidak terdengar ada sahutan dari dalam ruangan tersebut. Aku pun kembali mengetuk pintu tersebut. Dan lagi-lagi tidak ada sahutan. Karena tidak ada sahutan, aku langsung membuka pintu itu perlahan.


Benar saja, pak Wibowo tidak ada di ruangannya. Aku kembali menghela napas lega. Dan aku segera masuk, untuk meletakkan berkas yang kupegang. Usai meletakkannya, aku pun bergegas ke luar dari ruangan ini. Tetapi langkahku terhenti, saat aku menyadari sebuah foto berbingkai, yang terpajang di samping meja kerja pak Wibowo.


Aku berbalik dan menghampiri foto tersebut. Aku mengambilnya dan mengamati foto tersebut. Ada Pak Wibowo yang sedang tersenyum di dalam foto tersebut. Berdiri di tengah anak-anaknya. Dan wanita yang kuperkirakan adalah istrinya pak Wibowo, yang sedang tersenyum lebar, menghadap ke arah Dimas yang memakai toga. Dan ada dua orang lagi, yaitu laki-laki yang kuperkirakan adalah kakaknya Dimas. Dan satu anak perempuan yang masih balita, berdiri di depan sendiri dengan gayanya yang lucu.


Mungkin, ini adalah foto yang diambil sewaktu Dimas wisuda di California. Keluarga ini tampak sangat hangat dan bahagia. Aku pun meletakkan kembali foto tersebut di atas meja. Dan tiba-tiba ada sebuah foto yang lain, terjatuh dari balik bingkai foto tersebut.


Aku pun meraihnya dari lantai. Mataku menyipit, ketika melihat sesosok wanita yang berada di dalam foto tersebut. Foto itu sudah sedikit luntur. Warnanya juga hitam putih. Foto berukuran 3x4 cm tersebut mengundang rasa penasaranku. Siapa wanita ini? Sepertinya, ini bukan istrinya pak Wibowo.


Aku pun membandingkan wajah yang berada di dalam foto tersebut dengan wajah istri pak Wibowo yang ada dalam potret wisuda tadi. Hm ... ini sama sekali tidak mirip. Meskipun foto berukuran 3x4 cm tersebut sudah sedikit memudar, tetapi aku masih bisa melihat jelas kedua matanya, bibirnya, hidung, dan juga rambut ikalnya. Wanita dalam foto tersebut tampak masih muda, mungkin sekitar dua puluh tahun-an. Namun, dilihat-lihat, ini pasti foto lama. Sebenarnya, siapa wanita itu? Mengapa foto ini terselip di balik bingkai?


Ah, untuk apa aku penasaran. Itu bukanlah urusanku. Ya, tidak baik terlalu penasaran dengan urusan orang lain. Dan saat aku hendak meletakkan kembali foto tersebut, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Aku pun menatap wajah yang berdiri di depan pintu dengan mata terbelalak. Begitupun laki-laki tersebut, menatapku dengan tatapan yang sama terkejutnya denganku.


"Pak Wibowo!" bibirku bergetar saat menyebut namanya.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________

__ADS_1


__ADS_2