BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Gaun Pengantin Dari Vanessa


__ADS_3

Kuucapkan terima kasih kepada pengantar paket tersebut. Lalu, pengantar paket itu pun pergi, usai kutandatangani surat tanda terima barang.


Rudi dan Fania yang juga baru turun dari mobil bersamaku, turut melihat apa yang pengantar paket itu kirimkan. Fania memegang bingkisan kotak yang terbungkus indah dengan dihiasi pita warna pink. Kami pun duduk di kursi teras.


"Apa ini, Imania?" tanya Fania penasaran.


Aku tidak menjawab. Segera kubaca surat tersebut.


Teruntuk, Imania Saraswati.


Mungkin, saat kau membaca surat ini, aku sudah tiada di dunia ini. Mungkin, aku sudah pergi untuk selama-lamanya. Mungkin, kita sudah beda alam lagi.


Imania ....


Kau tahu, bahwa aku sangat menyukai Dimas. Aku mencintainya. Aku sangat menginginkannya. Akan tetapi, Dimas malah mencintaimu.


Apalah dayaku. Aku sudah memaksanya untuk tinggal di hatiku, tapi dia selalu pergi, dia selalu berlari, melabuhkan hatinya padamu. Bahkan, aku sampai memaksanya untuk menepati janji masa lalunya, untuk menikahiku. Namun, tetap saja, Dimas hanya ingin bersamamu.


Kau tahu ....


Apa isi di dalam kotak itu?


Itu adalah sebuah gaun pengantin yang sangat indah. Aku memesannya khusus untukmu. Kau tentu bingung, kenapa aku melakukan ini.


Sejak kecil aku sudah sakit. Aku sering bertaruh nyawa di atas meja operasi. Hingga, dadaku terlalu sering dibelah-belah, aku lelah. Usiaku diprediksi tidak lama lagi. Hanya di angka 25. Angka yang paling kubenci dan paling kutakuti.


Aku ingin hidup normal sepertimu. Yang bisa stabil ketika marah, sedih, atau bahkan jatuh cinta. Namun, aku tidak bisa. Dadaku selalu sesak dan nyeri setiap kali memiliki perasaan yang berlebihan. Termasuk mencintai seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku. Itu rasa paling menyakitkan seumur hidupku. Cintaku bertepuk sebelah tangan.


Aku membaca isi surat tersebut sembari berurai air mata.


Setelah kupertimbangkan, sepertinya mengikhlaskan Dimas untukmu adalah pilihan terbaik. Lagi pula, aku tidak akan hidup lama. Percuma juga, bukan? Sekeras apapun usahaku menahan Dimas, Tuhan justru menahanku. Mungkin, ini sudah takdirku.


Dimas hanya menganggapku sebagai sahabat. Dia menyayangiku dan menjagaku selayaknya kasih sayang seorang sahabat. Tidak lebih.


Setelah bicara denganmu di atap gedung rumah sakit waktu itu, sebenarnya ... aku sadar bahwa aku takkan bisa memiliki cinta dan hati Dimas. Aku hanya menahannya beberapa waktu agar bersamaku. Itu semata-mata ... karena aku ingin berada di dekatnya di sisa-sisa hidupku. Aku sudah tidak berharap banyak. Dimas hanya mencintaimu.


Imania ... pakailah gaun pengantin ini di pernikahanmu. Aku akan sangat bahagia, melihatmu dan Dimas berbahagia. Aku sudah memesannya khusus dari designer ternama Indonesia. Kulepaskan Dimas di pelukanmu. Berbahagialah. Labuhkan kembali cinta kalian. Maafkan atas segala kesalahanku.


Sincerely,


Vanessa Lilliana


Air mataku terus berderai membaca surat dari Nessa. Aku tidak menyangka, Nessa benar-benar melakukan ini. Dengan wajah yang basah, kubuka isi bingkisan tersebut.


Sebuah gaun pengantin berwarna putih lembut, dengan design yang sangat indah dan mewah, tergeletak di dalam bingkisan tersebut. Aku semakin terisak saat menyentuhnya. Tidak menyangka, Nessa begitu baik padaku. Dia mempersiapkan ini jauh-jauh hari sebelum umurnya berakhir.


"Terima kasih, Ness ...."


Fania turut berlinang haru dan mengusap pundakku. Sepertinya Nessa benar, yang menang adalah yang masih bertahan. Mungkin inilah makna tersembunyi di balik kalimat Nessa waktu itu, di atap gedung rumah sakit. (Episode 161)

__ADS_1


"Pada akhirnya, yang menang adalah yang masih bertahan. Dan yang kalah adalah yang harus pergi."


"Imania, bagaimanapun kau memiliki kehidupan yang lebih beruntung dariku. Kita sama-sama cantik. Kita mencintai laki-laki yang sama. Kita sama-sama disayangi olehnya. Bedanya, kau memiliki kesempatan yang luas, sedangkan aku tidak."


***


Sebulan kemudian.


Malam, pukul delapan, aku tengah berdandan, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan keluarga Dimas. Keluarga pak Wibowo mengundangku untuk makan malam di rumahnya.


"Eghem! Ciye, yang mau ketemu camer," goda Fania yang tengah memperhatikanku bersolek.


"Camer?"


"Iya, calon mertua."


"Oh ...."


"Pasti dug-dug-ser!"


"Lumayan nervous."


"Semoga lancar, ya?" ucapnya sembari menepuk pundakku.


Fania membaringkan tubuhnya di atas kasur sembari bermain handphone. Dia tampak senyum-senyum sendiri menatap handphone-nya.


"Ciye? Pasti ada sesuatu, nih?" godaku balik.


"Pasti lagi jatuh cinta."


Fania tidak menyahuti ledekanku. Dia asyik membalas chatting dengan seseorang. Sehingga diam-diam aku mengintainya. Saking asyiknya, Fania tidak sadar bahwa sudah ada aku yang berdiri di sebelahnya.


Fania menolehku dengan terkejut. "Hei! Apa yang kau lakukan?" tanyanya terbelalak sembari menyembunyikan handphone-nya di bawah bantal.


"Oh ... ternyata," ucapku lalu beranjak mengambil tas.


Fania segera bangkit dan menahan lenganku. "Apa kau membacanya?"


"Iya," jawabku sembari tersenyum bangga bisa mengetahui apa yang tengah membuat Fania senyum-senyum sendiri beberapa hari ini.


"Apa kau serius membacanya?" tanyanya lagi dengan wajah panik.


Aku membisikkan sebuah kalimat ke telinga Fania. Fania semakin terbelalak dengan pipi bersemu merah. Lalu aku meninggalkan Fania yang berdiri terpaku, menatap kepergianku dengan malu.


"Fania, apa kau sedang menembak Rudi?" Itu adalah kalimat yang barusan kubisikkan.


Saat aku sedang berjalan keluar dari kamar, tiba-tiba handphone-ku berbunyi.


"Halo."

__ADS_1


"Halo, Sayang. Sudah siap?"


"Sudah," jawabku.


"Aku sudah menunggumu di depan rumah."


Aku terkejut mendengarnya. "Sejak kapan? Kok, aku tidak mendengar ada suara mobil masuk ke halaman?"


"Iya, lah. Aku, kan, pakai kereta kencana. Bukan mobil," katanya sembari tertawa.


"Serius?" Aku terus berjalan dengan penasaran dan membuka pintu rumah.


Langkahku terhenti. Mataku cukup terkejut dengan apa yang kulihat di depan rumah. Dimas sudah duduk di atas sebuah motor sport berwarna merah. Kaca mata hitam melekat menutupi kedua mata elangnya. Tatanan rambutnya yang sengaja ditata sedikit acak-acakan, membuatnya tampak begitu tampan. Mengingatkanku sepuluh tahun yang lalu, semasa muda kami. Saat tengah mekar-mekarnya merajut cinta. Dan pergi jalan-jalan naik motor bersamanya.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku tampan? Apa aku keren?" tanyanya sembari melepaskan kacamata hitamnya, kemudian mengangkat satu alisnya. Memamerkan style cool-nya tersebut.


Aku tersenyum melihatnya. Aku pun berjalan mendekat. Kupandangi Dimas dari atas ke bawah.


"Sudah cukup terpesona?" tanyanya.


"Kau tampak begitu muda dan keren," pujiku.


"Kau juga. Tampak cantik dan imut," katanya sembari menatap blouse panjang yang kupadu dengan celana yang tidak ketat. Make up tipis-tipis dan lip creame warna peach menghiasi wajahku.


"Naiklah."


Aku pun naik. Kuletakkan kedua tanganku di pundaknya. Lalu Dimas menolehku.


"Apa kau lupa cara orang berpacaran di atas motor?" tanyanya.


"Hah?"


Dimas segera meraih kedua tanganku dan melingkarkan ke pinggangnya. Jantungku berdetak cepat. Aroma tubuh Dimas dengan wangi parfum khasnya itu tercium melekat di Indra penciumanku.


Dimas menoleh dan berkata, "Pegangan yang erat. Kau tidak boleh jatuh kemanapun. Kecuali ke hatiku."


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Readers Keceh?


Terima kasih sudah banyak mendoakan Author Keceh untuk sembuh dan fit lagi.


Berkat doa dari kalian, Author Keceh begitu semangat untuk terus menulis dan segera menamatkan novel ini.


Ada beberapa yang request season 2. Tapi sepertinya tidak ada. Sebagai bonus, akan kuperpanjang sedikit. Sedikit saja, ya? Tentang kehidupan mereka setelah menikah.


Demi kalian Readers Tersayang.

__ADS_1


Thank you atas doa dan motivasinya.


Salam Hangat Dari Author Keceh ....


__ADS_2