
Aku berangkat ke kantor dijemput Rudi. Aku tidak memberitahukan padanya perihal mobil misterius itu. Jika itu dari Rudi, pasti dia akan menanyakannya. Akan tetapi, sepanjang perjalanan, Rudi sama sekali tidak menyinggung perihal mobil tersebut. Itu berarti, mobil misterius itu memang bukan darinya. Lagi pula, Rudi tidak tahu hari ulang tahunku.
Sesampainya di depan kantor, aku pun turun dari mobil.
"Hati-hati, Rud," ucapku sembari melambaikan tangan padanya. Menatap mobil Rudi yang beranjak pergi.
Saat aku hendak masuk ke dalam kantor, tiba-tiba sekertaris Ve memanggilku.
"Imania!" serunya sembari menghampiriku.
"Ya, Kak Ve."
"Kau diantar siapa?"
"Temanku."
"Dia laki-laki?"
"Iya."
"Pacarmu?"
Aku mengangguk sembari tersenyum.
"Aku seperti mengenalinya," kata sekertaris Ve.
"Kau memang mengenalnya, Kak Ve."
"Siapa dia?"
"Yang punya restoran termahsyur di kota ini."
Sekretaris Ve berpikir sejenak, lalu berkata, "Rudi?"
"Hm .... "
Aku pun masuk meninggalkan sekertaris Ve yang terpaku di tempatnya. Tidak lama ia pun beranjak mengejar langkahku.
"Imania."
"Ya, Kak." Aku terus berjalan, sehingga sekertaris Ve menahan lenganku.
"Kita bisa bicara di ruanganku saja," ajak sekertaris Ve.
"Dia akan bicara denganku."
Kami menoleh ke sumber suara. Pak Wibowo sudah berdiri, memandang ke arah kami.
"Ikut aku!" seru pak Wibowo padaku.
Pak Wibowo pun segera menuju ruangannya. Aku berjalan mengekor di belakangnya. Sesampainya di ruangannya, pak Wibowo langsung mempersilakanku duduk. Dan kami sudah duduk berhadapan.
"Ini dokumen berisi rencana kerjasama di Bali." Pak Wibowo menyodorkan dokumen tersebut padaku.
"Ini kerjasama yang sangat penting. Kau harus fokus mempresentasikan perihal bank kita. Jangan pikirkan hal lain dulu. Berkonsentrasilah. Besok, Kamis, aku akan menjemputmu."
"Baik, Pak."
***
Setelah jam kerja usai, aku keluar dari ruangan. Dan saat berjalan menuju lobby, tiba-tiba mataku dikejutkan oleh sosok seseorang yang tengah berdiri di hadapan resepsionis. Bukankah sebentar lagi kantor tutup? Untuk apa dia di sini? Ah, aku lupa bahwa dia adalah putra pak Wibowo. Tentu, dia bisa bebas melakukan apa saja.
__ADS_1
Sepertinya dia tidak melihatku, buru-buru aku keluar dari kantor, agar ia pun tidak melihatku. Tiba-tiba, saat menuruni undakan teras, aku terjatuh.
"Aw!" pekikku.
Sepertinya kakiku terkilir, sakit sekali. Rangga yang berada di pintu gerbang segera berlari ke arahku.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rangga sembari membungkukkan badan memegang kedua pundakku, mengajakku berdiri.
"Lepaskan dia!"
Sontak kualihkan pandangan ke arah pintu lobby. Dimas sudah berdiri dengan ekspresi dingin, persis ayahnya.
"Tapi ... sepertinya kakinya terkilir," kata Rangga yang masih membungkukkan badan di sebelahku.
"Hanya terkilir, kan, bukan patah. Dia masih bisa berdiri sendiri. Biarkan saja," ucap Dimas.
"Tapi .... "
"Benar. Aku masih bisa berdiri sendiri. Tidak perlu membantuku," ujarku pada Rangga.
Rangga pun berdiri dan menatapku iba. Sedangkan aku mencoba bangkit dengan kaki yang terasa sangat sakit. Susah payah aku mencoba berdiri. Hingga saat aku sudah berhasil berdiri, tiba-tiba aku terhuyung.
Dengan cepat Dimas menghampiriku dan menangkap tubuhku. Kini, posisinya berada di belakang tubuhku. Untuk sesaat jantungku berhenti berdetak, lalu berdetak kembali dengan ritme yang sangat cepat. Darahku berdesir, dadaku memanas.
"Aku bisa memijat. Dudukkan saja dia. Biar kupijat kakinya," kata Rangga.
"Kau kupecat!" ucap Dimas kepada Rangga.
"A-apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kau memecatku?" tanya Rangga heran.
"Menjauhlah dari sini. Atau aku akan menecatmu!"
Rangga menatapku sesaat, kemudian beranjak kembali menuju pintu gerbang.
Suasana kantor semakin sepi. Satu per satu pegawai kantor berlalu pulang. Hanya terlihat mobil sekertaris Ve yang masih berada di kantor.
"Aku bisa berdiri sendiri," ucapku sembari melepaskan diri darinya.
Dengan langkah tertatih, aku pun duduk di undakan teras. Kupegangi kali kananku yang terkilir.
"Sakit?" tanyanya sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Aku tidak menjawab. Kuambil handphone dari tas. Biasanya Rudi sudah datang. Kenapa lama sekali? Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Kuketik sebuah pesan untuk Rudi. Memastikan, apakah dia akan menjemputku atau tidak.
[Rudi, apa kau jadi menjemputku?]
Kuletakkan kembali handphone ke dalam tas.
"Pergilah. Aku bisa mengatasi diriku sendiri," ucapku tanpa memandangnya.
"Kalau begitu, kau saja yang pergi dari sini."
Aku memandang ke arahnya. Ekspresinya begitu cuek. Menyebalkan sekali! Apa setelah hubungan kami selesai, dia menjadi setega itu? Padahal aku sedang kesakitan begini. Jahat.
Dengan kesal, aku pun bangkit dan berusaha menapakkan kaki kananku yang terkilir. Oh ... ini sakit sekali. Aku kembali terhuyung, tetapi lelaki berjas dokter itu dengan sigap menangkap lenganku.
"Tidak perlu!" ketusku sembari mengempaskan tangannya dari lenganku.
Untuk sesaat kami saling diam, tanpa saling memandang. Meski kami berdiri bersebelahan.
"Duduklah," katanya.
__ADS_1
Aku tidak menanggapi perintahnya. Aku ingin berjalan, tapi kaki ini terasa sangat sakit. Jadi, terpaksa diam di tempat, sembari menunggu Rudi.
"Pergilah," usirku.
"Duduklah," perintahnya.
Tiba-tiba saja Dimas mendudukkan tubuhku dengan paksa ke undakan teras. Sehingga kakiku yang terkilir terasa sakit sekali. Aku pun terduduk dan Dimas segera membungkuk di hadapanku. Ia meraih sepatu pantofel-ku dengan cepat. Melucuti kedua telapak kakiku. Dan aku hanya menatapnya terkejut.
"Apa yang kau lakukan!"
Dimas tidak menjawab. Ia mengecek kedua telapak kakiku. Dan setelah ia mendapati bagian telapak kaki kananku yang terkilir, ia segera memijatnya dengan serius.
"Ah, sakit!" pekikku lirih menahan pijatannya.
"Tahan sebentar," katanya.
Kakiku yang dipijat, tetapi rasa sakit itu justru menjalar ke hati. Sejujurnya, ada perasaan sesak di dadaku yang belum bisa terobati.
"Ah, jangan keras-keras!"
Dimas mengalihkan pandangannya padaku. Menatap wajahku yang tengah meringis kesakitan. Dan itu membuatku merasa sangat gugup. Segera kualihkan pandangan ke arah lain.
"Kenapa? Kau takut jatuh cinta lagi padaku?" tanyanya.
"Jangan harap! Aku sudah punya Rudi," ujarku tanpa memandangnya.
Tiba-tiba ia menekankan jemarinya sedikit keras ke bagian yang terkilir.
"Ah, sakit! Apa yang kau lakukan?" Kini, aku menatapnya dengan kesal.
Untuk sesaat mata kami saling bertemu. Dan lagi-lagi aku tak mampu menatapnya lama-lama. Segera kualihkan pandangan ke arah lain.
"Apa kau masih mencintaiku?"
"Sudah kubilang. Aku hanya mencintai Rudi."
Dimas kembali menekankan jemarinya ke telapak kakiku yang terkilir.
"Ah, sakit! Apa kau hanya ingin menyakitiku? Jika tidak bisa memijat, biarkan saja! Aku bisa mengatasi diriku sendiri!" ketusku sembari menatapnya kesal. "Lepaskan aku!"
Dimas sama sekali tidak menuruti perintahku. Ia kembali menatap telapak kaki kananku, lalu memijatnya dengan konsentrasi. Ia melakukannya dengan sangat lembut. Sehingga pelan-pelan aku tak merasai rasa sakit di kakiku lagi.
Untuk beberapa menit, kami saling diam. Dimas fokus memijat kakiku, sedangkan aku fokus menetralkan degup jantungku.
Usai memijat kakiku, Dimas memakaikan kembali sepatu pantofel ke kedua kakiku. Kemudian ia berdiri dan berkata dengan wajah sok cuek, "Lain kali, kau harus bisa berkonsentrasi saat melihatku. Jangan buru-buru berlari. Karena kau bisa terjatuh lagi. Bahkan ke hatiku."
Tak!
Terdengar suara benda jatuh. Bersamaan aku dan Dimas menoleh ke arah pintu lobby. Sekertaris Ve sudah berdiri di sana. Dengan kikuk ia berkata, "Ha-ha, lanjutkan saja. Aku mau pulang."
Sejak kapan sekertaris Ve berada di situ? Apa dia tengah memperhatikan kami tadi?
Sekertaris Ve pun meraih kunci mobilnya yang jatuh. Kemudian berjalan melewatiku dan masuk ke dalam mobilnya. Ia pun segera beranjak bersama mobil merahnya dari kantor.
Tidak lama setelah sekertaris Ve berlalu, Rudi datang menjemputku bersama mobilnya. Aku segera berdiri dan berjalan pelan-pelan menghampiri Rudi. Kakiku sudah tidak sesakit tadi. Kurasa, dia memang bisa memijat.
"Dasar bodoh!"
Umpatan Dimas membuatku menghentikan langkah. Kami berdiri dalam posisi saling membelakangi.
"Menggunakan Rudi untuk berlari dariku, heh!"
__ADS_1
"Fokus saja pada Nessamu. Tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar," ucapku lalu pergi menghampiri mobil Rudi.
-- BERSAMBUNG --