
Ibu pun keluar menghampiri kami.
"Ada apa ini? Mengapa kalian menangis?" tanya ibu bingung.
Aku dan Fania pun saling memandang. Dan kami tertawa bersama.
"Aku lapar, Bibi?" kata Fania pada ibuku.
"Kau menangis karena lapar?" tanya ibuku heran.
"Iya, Bibi?" jawab Fania memelas.
"Kebetulan Bibi baru selesai masak rendang. Ada tumis kangkung juga. Ayo kita makan!"
"Wah, asik! Ayo kita makan, Arka!" ajak Fania seraya menuntun Arka.
Kami pun menuju ruang makan. Di meja makan, Fania makan dengan sangat lahap. Aku selalu merindukan setiap makan bersamanya. Apalagi jika ada banyak makanan. Sebenarnya, Fania tidak pernah memilih-milih makanan. Asal dimasak dengan enak, pasti dia makan.
"Bu, ayah di mana?" tanyaku.
"Ayahmu sedang pergi ke bengkel. Sepeda motor ayahmu itu sudah tua. Sudah sakit-sakitan," kata ibu.
"Yaelah, Bibi. Sepeda motor, kok, kayak manusia saja, pakai sakit-sakitan," cetus Fania.
"Iya, Fan. Ibarat manusia, tuh, rewel, gitu!"
"Minta diganti yang baru, tuh, Bi!" kata Fania seraya menikmati masakan ibuku.
"Bu, mulai besok, Ima akan bekerja."
"Kamu akan bekerja di mana?" tanya ibu yang tampak terkejut.
"Aku akan bekerja di ... di bank, Bu?"
"Wah, benarkah? Ibu senang mendengarnya," ucap ibu terlihat gembira.
"Doakan semoga segalanya lancar, ya, Bu?"
"Aamiin ... ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak?"
Kami pun melanjutkan makan. Dan usai makan, aku, Arka, dan Fania duduk sembari menonton televisi.
"Imania, kau serius, besok akan bekerja?" tanya Fania.
"Hm ...." Aku mengangguk.
"Kenapa? Pacarmu itu, kan, kaya. Dia bisa mentransfer uang berapapun yang kau minta, bukan?"
"Aku hanya bosan. Aku ingin berkarir. Lagi pula, aku tidak mau bergantung pada Dimas. Selama aku bisa bekerja sendiri, mengapa tidak?"
Fania terdiam sejenak mendengar pernyataanku. "Ya, kau benar!"
Aku mengamati mimik muka Fania. "Fania, kata-kata itu aku lontarkan untuk diriku sendiri, loh ... bukan untuk menyinggungmu."
"Aku tidak tersinggung. Aku hanya sedang berpikir, aku akan kesepian nantinya. Karena kau pasti akan sibuk bekerja.”
"Jika kau kesepian, kan, ada Arka, teman sepermainanmu?" ledekku seraya tertawa.
"Ya, benar! Dia teman sepermainanku!" balas Fania seraya merangkul pundak Arka. "Lalu, siapa yang akan kumintai memasak untukku?" katanya dengan wajah sedih.
"Jika kau ingin makan, Bibi siap memasak untukmu!" jawab ibu dari dalam kamarnya.
"Wah, terima kasih, Bibi!" seru Fania senang.
__ADS_1
"Tante? Kapan Tante beliin Arka mainan puzzle lagi?" tanya Arka dengan polosnya.
"Besok, ya? Pasti akan Tante beliin lagi untuk Arka," jawab Fania seraya mencubit pipi Arka dengan gemas.
Dering handphone-ku berbunyi. Aku segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Assalamualaikum, Sayang ...."
"Waalaikumsalam ...," jawabku.
"Nia, besok jangan lupa untuk masuk ke kantor, ya?"
"Iya. Bukankah semalam kau juga sudah mengingatkan?"
"Ya, benar. Tapi Nia, apa kau sudah ada pakaian untuk berangkat ke kantor?"
"Aku sudah memilih beberapa pakaian untuk kukenakan saat bekerja."
"Aku mau mengajakmu ke mall, hari ini," katanya tiba-tiba.
"Untuk apa ke mall?"
"Aku mau kau memilih beberapa pakaian untuk kau kenakan bekerja."
"Itu tidak perlu. Aku sudah ada pakaian yang masih baru, kok?"
"Kau tidak akan memakai gamis untuk bekerja, bukan?"
Aku terhenyak mendengarnya. Ya, itu benar. Mana mungkin aku memakai gamis untuk bekerja di kantor? Tapi ... aku hanya punya pakaian gamis.
"Nia? Aku meluncur ke rumahmu sekarang, ya? Kau bersiap-siaplah! Kita akan pergi berbelanja!"
Tanpa menunggu persetujuanku, Dimas menutup teleponnya. Dia langsung menuju ke sini. Sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang fashion. Sebelum menikah, aku suka menggunakan rok panjang selutut, dipadu dengan blouse atau atasan biasa. Atau jika tidak, aku hanya memakai celana jeans dipadu dengan atasan lengan panjang. Sedangkan setelah menikah, setiap hari yang kukenakan adalah pakaian gamis. Aku benar-benar tidak tahu banyak tentang fashion.
Selang beberapa menit, mobil hitam miliknya itu berhenti di depan rumahku. Ibuku langsung keluar untuk melihat seseorang yang datang. Aku mengekor di belakang ibu yang masih mengintipnya dari gorden jendela.
"Siapa itu, ya, Ima?" tanya ibu seraya mengintip.
Aku tidak menjawab, karena Dimas pun langsung mengetuk pintu. Aku pun membuka pintu tersebut.
"Assalamualaikum?" ucapnya memberi salam.
"Waalaikumsalam ...," jawabku seraya tersenyum.
"Wah, ganteng sekali?" kata ibu tiba-tiba.
Dimas pun segera menyalami ibuku.
"Kok, Ibu merasa tidak asing denganmu, ya?" kata ibu seraya mengamati wajah Dimas. "Oh ... kau bukannya dokter itu ya? Yang menangani Pak Ahmad!"
"Benar, Bibi. Apa kabarmu?"
"Alhamdulillah, baik. Ayo masuk, Pak Dokter?"
"Ah, tidak usah Bibi? Aku hanya ingin meminta izin untuk mengajak Imania pergi jalan-jalan," jawab Dimas seraya tersenyum.
"Oh, kalau begitu, silakan, Pak Dokter!" ucap ibu seraya tersenyum lebar.
"Panggil 'Dimas' saja, Bibi?"
"Oh, baiklah, Nak Dimas."
__ADS_1
Aku melihat ada signal yang baik dari pandangan ibu kepada Dimas. Ibuku sepertinya langsung memberi lampu hijau terhadapnya. Ibu dengan senang terus menerus mengajak Dimas ngobrol. Meskipun Dimas tampak rikuh, karena sesekali ibu mencubit pipinya.
"Kau adalah dokter yang sangat ganteng! Pasien wanita pasti sangat senang, jika kau yang menangani, ya?" celoteh ibuku seraya mencubit pipi Dimas.
"Ah, tidak juga, Bibi," ucap Dimas dengan kikuk.
Aku pun masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas. Fania yang memperhatikanku pun ikut mengekor di belakangku.
"Kau mau ke mana? Aku ikut!"
"Mama? Arka juga mau ikut?" rengek Arka.
"Baiklah, kalian boleh ikut!" jawabku.
Kami pun berpamit kepada ibu. Sedangkan Dimas menggaruk-garuk kepalanya, melihat Fania turut serta masuk ke dalam mobilnya.
"Dimas! Aku ikut, ya?" pintanya setelah masuk ke dalam mobil. Fania duduk di jok belakang.
"Hm ... sebenarnya aku tidak suka kau ikut. Tapi ... sepertinya, kau cukup mengerti tentang fashion. Jadi, bantulah kekasihku untuk memilih pakaian yang modis, ya?" kata Dimas kemudian menyalakan mobilnya.
"Siap, Komandan! Kalau soal itu, serahkan saja padaku!" jawab Fania semangat.
"Kalau begitu, kau juga boleh berbelanja sepuasmu!" Dimas menambahi.
"Yes! Thank you ...!" jawab Fania gembira.
"Nia, kau harus menyesuaikan dirimu mulai dari sekarang. Aku tidak melarangmu berpakaian apapun. Tetapi ... kau juga harus tampil mengesankan di depan ayahku."
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku tahu, Dimas ingin yang terbaik untukku. Oleh sebab itu, aku akan menurutinya. Lagi pula, ini demi kebaikan kita bersama.
"Benar, itu, Imania. Dan buatlah Bastian semakin menyesal karena telah mengkhianatimu! Padahal menurutku, kau jauh lebih cantik daripada si boneka Annabella itu!" celetuk Fania seenaknya.
"Fania! Jangan begitu!" ucapku seraya menatapnya.
"Kau benar, Fania. Imania memang jauh lebih cantik segala-galanya. Hanya saja, dia tidak tahu caranya tampil lebih modis!" ucap Dimas seraya melirikku.
"Arka! Kau duduklah sama, Tante. Sini!" Fania pun mengajak Arka untuk duduk bersamanya.
"Fania?" panggil Dimas yang sedang menyetir mobilnya.
"Ya."
"Kau boleh mendaftar sebagai baby sitter kami, kelak, ha-ha ...!"
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Tersayang ...!
Malam ini sampai di sini, dulu ya? Besok Author Keceh akan Up yang banyak.
Oh, ya? Kepada pemenang GIVE AWAY, yaitu Ahmad Suandi dan Widya, hadiah pulsa sudah berhasil dikirim, ya?
Jangan lupa, untuk nantikan GIVE AWAY selanjutnya, ya?
Maka dari itu, mulailah VOTE dari sekarang. Sampai nanti Author Keceh umumkan, tentang GIVE AWAY selanjutnya.
Author Keceh kasih bocoran sedikit, nih, ya?
Bahwa GIVE AWAY selanjutnya, akan dinilai berdasarkan VOTING TERBANYAK, dan juga KEAKTIFAN.
Hadiah tidak hanya untuk satu orang. So, mulailah VOTE dari sekarang, ya?
__ADS_1
THANK YOU ...!