BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Mengenang Romansa Masa Lalu


__ADS_3

Aku pun pulang dari taman dengan langkah lunglai. Ingin rasanya meminta kejelasan langsung pada mas Bastian. Ingin rasanya menanyakan hal ini segera. Hati ini teramat sakit. Aku berjalan melewati rumah demi rumah, seraya menggandeng tangan Arka.


Aku dan Arka kembali ke rumah. Siang ini, matahari tampak menyembunyikan sinarnya di balik awan hitam. Angin berembus kencang. Menerpa diriku kuat-kuat. Mengguncang sanubari. Seakan mengerti perasaanku saat ini. Langit mulai meneteskan tangisnya. Bersamaan dengan tangisku.


***


Sudah pukul sembilan malam, mas Bastian tak kunjung pulang. Kutatap wajah tampan yang sedang tertidur pulas. Wajahnya persis mas Bastian kecil. Kata orang, rambut, hidung, dan matanya, persis papanya. Sedangkan bibirnya menuruni bibir tipisku. Dia buah cintaku bersama mas Bastian. Kuelus wajahnya perlahan.


Masih dengan rasa sakit yang sama. Tiba-tiba pikiranku melayang. Merenungi masa-masa pertemuanku dengan mas Bastian. Mengenai masa itu. Masa di mana kami saling mengenal. Ini berawal dari sebuah universitas, tempat kami kuliah. Saat aku sedang patah hati. Di balik pintu library.


Saat itu, aku sedang duduk di perpustakaan. Tanganku memegang sebuah novel. Ya, aku adalah pecinta novel-novel romantis. Sejak kepergian Dimas, aku memilih menyibukkan diri dengan membaca novel. Aku lelah memikirkannya. Lelah menunggunya, dengan komitmen hubungan yang tak pasti. Terlebih larangan dari orang tuanya itu. Aku semakin sedih. Bagaimana bisa kami bersama, tanpa adanya restu.


Aku masih sangat mencintainya kala itu. Move on darinya bukanlah hal yang mudah. Bertahun-tahun kami menjalani hubungan yang sangat manis. Kemudian aku harus menelan pil pahit. Menerima kenyataan bahwa kami sama sekali tak direstui. Ayahnya Dimas pernah memberikan peringatan padaku. Namun sesungguhnya aku tak mempedulikannya. Aku kekeuh untuk mempertahankan hatiku bersamanya.


Hingga akhirnya, aku merasa kacau, putus asa. Dimas semakin hari semakin membiarkanku. Kita menjalani long distance relationship. Baru setengah tahun, Dimas di negeri Paman Sam, sikapnya mulai berubah. Dia mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk belajar. Namun nyatanya, aku melihat seorang gadis cantik di akun Instagram-nya. Aku mencoba stalking akun tersebut. Banyak sekali foto-foto kebersamaan gadis tersebut dengan Dimas. Aku tidak tahu siapa gadis itu. Dia sangat cantik. Meski pose-posenya biasa. Namun, aku sangat cemburu.


Ya, aku cemburu. Sangat cemburu. Terlebih ketika dia mulai benar-benar mengabaikanku. Aku harus kuat-kuat menahan hawa cemburu yang disertai gumpalan rindu yang menyiksa. Dimas mungkin sibuk belajar untuk meraih gelar doktor-nya. Akan tetapi, haruskah dia melupakanku? Sedangkan di sana, dia bisa bersama gadis cantik nan seksi, yang kini telah kuketahui namanya adalah Nessa.


Dimas hanya membalas pesanku ketika malam hari. Aku harus pandai mencari waktu untuk mengiriminya pesan. Setiap hari aku harus memastikan jam, karena waktu California dengan Indonesia berbeda. Bila di Indonesia siang hari, maka di California adalah malam hari. Aku mematenkan jam tertentu untuk menghubunginya. Dia sibuk. Sehingga untuk membalas pesanku saja, hanya sepatah dua patah kata.


Aku semakin dilanda khawatir. Mungkin Dimas telah menanggalkan hatinya terhadapku. Melabuhkan cintanya kepada cinta yang lain, yang lebih baru dan menarik. Sejak saat itu. Aku enggan menghubunginya lagi. Bahkan Dimas tak kunjung menghubungiku. Aku hanya bergumam dalam hati, sesibuk itukah dirinya?


Aku pun memilih untuk fokus pada kuliahku. Meraih gelar S1. Masih dengan rasa kecewa dan rindu yang menggebu. Menyibukkan diri adalah cara yang tepat untuk mengalihkan pikiran. Mengikuti berbagai kegiatan sosial di kampus. Mengikuti berbagai kegiatan lainnya. Dan memilih perpustakaan sebagai tempat menyendiri. Usai jam mata kuliah, aku selalu pergi ke sana. Inilah awal dari pertemuanku dengan mas Bastian, seorang cowok ganteng nan manis yang kini telah menjadi suamiku.


Saat itu mataku sibuk membaca buku, sehingga tak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikanku. Seseorang yang sebelumnya belum pernah kulihat.


"Eghem!"


Sesaat aku melirik ke arah seorang cowok yang duduk berhadapan denganku. Dia tersenyum padaku. Akan tetapi aku cuek, mengabaikannya. Melanjutkan buku bacaan di tanganku.


"Boleh kenalan?" ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Kuletakkan buku tersebut di atas meja. Menyambut tangan cowok ganteng, dengan senyum menawan tersebut.


"Muhammad Bastian."


"Imania Saraswati."


Kutarik tangan ini kembali. Melanjutkan novel roman di hadapanku. Cowok berperawakan tinggi itu masih memandangiku. Sesekali aku meliriknya, dan setiap mata kami bertemu, ia pun langsung mengulum senyum. Ini adalah awal kami bertemu dan bertatap muka.


Selama kurang lebih setengah jam, cowok itu duduk terdiam, hanya memandangiku yang sedang sibuk membaca. Meski terasa risih, dalam hati merasa sebal, aku tetap menyelesaikan bacaanku yang tinggal beberapa episode. Ditemani cowok yang masih duduk berhadapan denganku. Dia hanya diam, sesekali mengulum senyum, sambil terus memandangiku.


Usai membaca, kututup novel itu. Aku beranjak untuk pulang. Ia pun ikut beranjak keluar dari perpustakaan. Dasar cowok aneh! Sedari tadi dia hanya diam menemaniku tanpa sepatah kata pun, kecuali nama, Muhammad Bastian.

__ADS_1


Aku pun pulang. Besoknya di perpustakaan, cowok bernama lengkap Muhammad Bastian itu kembali muncul saat aku sedang membaca. Selama tiga hari, dia hanya menemaniku duduk tanpa sepatah kata. Ia hanya memandangiku. Kadang-kadang ia sampai tertidur. Dan saat aku beranjak untuk pulang, dia pun ikut pulang. Sungguh, cowok aneh!


Hari ke-empat, masih di tempat yang sama, yaitu perpustakaan. Aku kembali membaca novel. Aku menduga, pasti dia datang lagi, nyatanya tidak. Hari ini dia tak datang menemaniku. Hingga seminggu berlalu. Dia tak lagi muncul di perpustakaan.


Ini mengingatkanku pada Dimas. Sewaktu SMA, kami sering bertemu di perpustakaan. Mencari waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu. Kebetulan saat itu, siswa-siswi SMA di sekolahku, tidak terlalu tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. Hanya beberapa makhluk kutu buku yang datang ke perpustakaan. Mungkin, bagi mereka perpustakaan adalah tempat yang sangat membosankan, karena hanya ada buku-buku dan rak buku di sana. Mereka lebih tertarik untuk pergi ke kantin, untuk makan, ngemil, atau sekadar nongkrong.


Namun bagiku dan juga Dimas. Perpustakaan memiliki kenangan tersendiri. Tempat itu adalah tempat terbaik untuk mencuri kesempatan berpacaran di sekolah. Sekadar meluangkan waktu bersama. Karena kami jarang bertemu di luar, kecuali malam Minggu.


Hari cepat berlalu. Masih dengan rasa sakit yang tak kunjung reda karena Dimas. Aku kembali ke perpustakaan. Membaca novel-novel roman favoritku. Setidaknya ini bisa mengalihkan pikiran untuk tidak terus menerus memikirkannya. Bastian mengingatkanku kembali pada Dimas. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, dan postur tubuhnya yang tinggi atletis. Seperti pangeran elangku.


Hari berikutnya pun cowok ganteng dengan senyuman manis itu tak datang. Tiga hari ia tak tampak di sini. Aku masih duduk di bangku perpustakaan dengan novel yang baru, baru kubaca. Sesaat aku memikirkan cowok yang selama tiga hari menemaniku dengan duduk membisu. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat padanya. Atau jangan-jangan dia hantu. Makanya hanya datang sekejap, untuk berkenalan denganku.


Kuletakkan novel bacaanku di meja. Kepalaku menoleh, sesaat menerawang perpustakaan. Mungkinkah ada hantu penunggu di sini? Akan tetapi, mana mungkin? Tidak, itu tidak mungkin!


Dan saat aku mulai memfokuskan mata untuk membaca lagi. Terdengar suara memanggilku.


"Imania Saraswati!"


Aku menoleh ke arah sumber suara. Tak ada siapapun di ruangan ini. Kecuali aku, dua orang gadis di meja yang berbeda denganku. Serta seorang wanita penjaga perpustakaan.


"Imania Saraswati!" panggilnya lagi.


Mendadak bulu kudukku berdiri. Dan terdengar suara gelak tawa kecil di balik rak buku.


Buk!


Aku menabrak seseorang yang kukenal beberapa hari yang lalu. Dia spontan menangkap tubuhku yang hampir terjatuh karena menabraknya.


"Hati-hati," ucapnya. Sesaat mata kami saling menatap. Kemudian ia melepas tangannya yang menopang punggungku.


"Maaf, terima kasih," ucapku sedikit gugup.


"Maaf atau terima kasih?"


"Maaf ... karena menabrakmu. Terima kasih, telah menolongku agar tidak terjatuh,” kataku lagi dengan seuntai senyum.


Dia pun tersenyum manis. "Aku yang seharusnya minta maaf, telah menakutimu."


Aku terdiam, sedikit tersipu.


"Apa kamu mencariku beberapa hari ini?" katanya.


Aku terhenyak, lalu memandangnya.

__ADS_1


"Maksudku, apa kamu merindukanku?"


Aku menatapnya tak mengerti. Lalu beranjak pergi meninggalkan perpustakaan, dan meninggalkan cowok yang masih terpaku di samping rak buku seraya memandangku.


Aku memutuskan untuk pulang. Akan tetapi saat aku hendak meninggalkan kampus, seseorang mencegatku.


"Aku menyukaimu!" katanya tiba-tiba.


Aku memandangnya datar. Dalam pikirku, mungkin orang ini memang sudah sedikit gila. Kita baru berkenalan beberapa hari yang lalu. Kemudian dia mengatakan padaku bahwa dia menyukaiku. Apakah itu tidak aneh?


"Aku menyukaimu!" katanya lagi.


Aku menggeleng-gelengkan kepala, tak mengerti. Saat hendak berlalu, dia malah menahan lenganku.


"Aku bilang, aku menyukaimu!"


"Tapi aku tidak!" jawabku.


"Kenapa?"


"Aku hanya tahu namamu. Kita baru berkenalan beberapa hari yang lalu. Bahkan kita tak pernah ngobrol. Mana bisa kamu menembakku?" ucapku padanya.


Dia tertawa. "Aku tidak bilang menembakmu."


"Hah?" Aku menatapnya bingung.


"Aku hanya bilang, aku menyukaimu. Maukah menjadi temanku?" katanya.


Aku merasa malu. Mungkin aku yang telah salah mengartikan. Kupikir dia menembakku.


"Aku menyukaimu," katanya lagi. "Mungkin saja, besok atau lusa, aku sudah mencintaimu."


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Hai ... Readers Tersayang? Sengaja Author mau ajak kalian mengenang masa lalu, romansa Imania dan Bastian semasa kuliah. Kalian tentu belum tahu, kan? Bagaimana mereka bisa saling mencintai dan memutuskan menikah.


Apakah Ima memang benar-benar mencintai Bastian. Atau Bastian hanya sebagai pelarian Imania saja. Lalu apakah Bastian benar-benar mencintai Imania? Namun mengapa justru Bastian berselingkuh? Dan ada rahasia apa tentang Imania dan Ayahnya Dimas?


Wah, masih banyak rahasia yang akan terbuka di episode selanjutnya, ya? Author sengaja Flash Back masa lalu.


So, ikuti terus ya? Akan ada yang lebih bikin baper nantinya.

__ADS_1



__ADS_2