
Pagi pertama di rumah baru. Aku bangun pukul empat. Aku langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuh. Akibat kemarin sore tidak mandi, tubuhku terasa lengket sekali. Usai mandi dan memakai pakaian, aku mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat subuh. Setelah itu aku pergi ke kamar Fania untuk membangunkannya.
"Fania!" Aku membangunkan Fania yang masih terlelap di kamarnya.
Fania malah memiringkan tubuhnya, membelakangiku.
"Fania, cepat bangun!"
"Hm ...."
Karena tidak kunjung bangun, aku mencubit pinggangnya lirih.
"Fania, ayolah?"
Akhirnya Fania bangun. Ia mengucek kedua matanya. "Di mana ini?"
"Oh, ya, ampun, Fania! Kau lupa, ya? Kita, kan, sudah pindah?"
Sontak Fania mendudukkan tubuhnya, matanya menyapu pandang.
"Imania, aku tidak sedang bermimpi?"
Aku menghela napas kasar. "Sudah cukup aktingnya. Ayo, bangun!" Aku pun menyeret tangannya agar segera berdiri.
"Imania, kapan kau membawaku ke sini?"
"Fania! Ayo, nanti aku telat!"
Akhirnya Fania berdiri. Aku langsung memintanya untuk mandi. Tentu saja dia menolak. Dia, kan, paling anti mandi pagi. Fania hanya mandi jika sudah siang hari. Namun, kali ini aku mulai lebih memperhatikannya. Mengarahkannya untuk menyukai mandi pagi.
"Imania, aku masih ngantuk."
"Mulai sekarang, kau kuberi tanggung jawab untuk mengurus Arka. Jadi, kau juga harus bangun pagi, mandi pagi. Untuk urusan masak dan lainnya, biar aku saja."
"Hm ... baiklah."
Setelah kubujuk, Fania pun mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan aku kembali ke kamar untuk mengambil handphone, lalu turun menuju dapur untuk memasak.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari Dimas saat aku akan memasak air.
[Selamat pagi, Sayang.]
[Pagi juga.]
[Kamu sudah bangun?]
[Belum,] balasku bercanda.
[Terus, siapa yang membalas pesanku ini?]
[Ibu Peri, penjaga mimpi,] balasku.
[Oh ... Ibu Peri, sampaikan kepada kekasihku bahwa aku mencintainya.]
[Dia sudah tahu.]
[Kalau begitu, sampaikan kepadanya bahwa aku ingin memilikinya.]
[Dia juga sudah tahu.]
[Kalau begitu, sampaikan padanya bahwa aku ingin memberinya vitamin C lagi.]
[Dimas! Jangan bercanda. Aku mau masak!]
Saat sedang menunggu balasan darinya, tiba-tiba handphone-ku berdering.
"Halo."
"Kau mau masak?" tanya Dimas.
"Iya."
"Memangnya ada bahan makanan di situ?"
Pertanyaan Dimas menyadarkanku bahwa dia benar. Bukankah aku belum membeli sayuran? Lagi pula, bumbu-bumbu dapur, garam, gula dll, juga belum ada.
"He-he, aku lupa."
"Ya, sudah. Kau tunggu aku sebentar. Aku menuju ke rumahmu sekarang."
"Dimas, mau ngapain? Ini masih terlalu pagi."
"Tunggu aku, Sayang. Emmuach!"
__ADS_1
Panggilan pun diakhiri. Aku menatap layar ponsel tersebut. Ada apa dengannya? Mengapa dia tampak terburu-buru?
Kuletakkan handphone di atas meja. Lalu aku duduk di kursi makan, menunggu Dimas yang katanya akan segera ke sini.
***
Setelah menunggu sekitar 15 menit, Dimas pun datang. Kubuka pintu membiarkannya masuk. Aku terkejut melihatnya masih memakai kaos dan celana pendek santainya. Lebih terkejut lagi mendapati dua kantong plastik besar di tangannya.
"Dimas, apa yang kau bawa?"
Dimas ngeloyor masuk dan menuju dapur. Aku pun mengikuti langkahnya dengan heran. Sebenarnya apa yang ia bawa?
Sesampainya di dapur, ia mengeluarkan isi di dalam kantong plastik tersebut. Mataku semakin terbelalak melihat berbagai macam sayuran, tahu, tempe, daging, dan ikan yang Dimas keluarkan dari kantong plastik tersebut. Tidak lupa, minyak, garam, gula, beserta bumbu-bumbu dapur.
"Apa ini cukup untuk masak pagi ini?" tanya Dimas.
"Darimana kau mendapatkan semua ini?" tanyaku heran.
"Dari dapurku, ha-ha!"
"Ini banyak sekali, Di," ujarku.
"Memang. Itu karena, aku membawa seluruh stok bahan makanan dan bumbu dari dapurku," paparnya. "Tapi tenang saja, aku sudah meminta Bi Ani untuk berbelanja lagi nanti."
Aku masih bergeming menatap seluruh bahan makanan yang Dimas bawa.
"Kenapa diam saja? Ayo masak!" ajaknya, kemudian mengambil pisau.
Aku pun segera memasak dan mengambil satu pisau lagi. Kuambil sayur sawi, dan memotongnya kecil-kecil. Sedangkan Dimas, mengupas bawang merah dan bawang putih.
"Di, memangnya kau bisa masak?"
"Bisa, donk?" jawabnya percaya diri.
"Kau bisa masak apa saja?" tanyaku meragukannya. Bukankah, Dimas memang suka bercanda.
"Apapun. Aku bisa memasak apa saja untukmu, Nia."
"Wah, keren!" pujiku. Namun, sesungguhnya aku meragukannya.
Usai mengiris sawi, aku mengambil wortel dan beberapa bahan untuk melengkapi tumis sawi spesial. Aku melirik Dimas yang tengah mengiris bawang merah. Ia beberapa kali menyedot napas dan mengusap matanya.
"Nia, aku sedih," ucapnya sembari terus mengiris bawang.
Aku tertawa melihat dirinya yang terus mengeluarkan air mata karena pedih.
"Dasar cengeng!" ledekku sembari tersenyum memperhatikannya.
"Nia, aku tidak kuat!"
Akhirnya Dimas meletakkan pisau dari tangannya dan berlari menuju wastafel untuk mencuci wajahnya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
"Dasar payah! Ha-ha!"
"Bagaimana bisa, mengiris bawang ternyata begitu menyedihkan," tuturnya.
Aku geleng-geleng melihat irisan bawang dari kerja tangan Dimas. Kupikir, Dimas memang bisa mengirisnya. Ternyata, dia hanya membelahnya menjadi dua bagian, ada juga yang tiga bagian. Oh, Dimas, kau payah sekali dalam hal memasak.
"Dimas, lebih baik kau mandi. Apa kau membawa pakaian kerjamu?"
"Ya, aku membawanya. Ada di mobil."
"Ya, sudah, sana, mandilah!"
Dimas menghampiriku, lalu mengecup pipi kananku. "Masaklah yang enak, ya? Aku mandi dulu di kamar mandimu," ucapnya lalu pergi.
***
Makanan pun siap. Aku berjalan menuju lantai atas, memanggil Dimas dan Fania untuk sarapan. Pertama, aku menuju kamarku terlebih dahulu.
Saat aku membuka pintu kamar, ia sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
"Di, ayo makan!"
"Nia, kemarilah," panggilnya.
Aku pun menghampirinya dan berdiri di sebelahnya yang tengah mengaca di depan cermin.
"Apa aku tampan?" tanyanya padaku.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. "Kau sangat tampan," ucapku.
Tiba-tiba Dimas meraih pundakku dan memposisikan tubuhku di depan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Dimas memeluk pinggangku. Mendekapku erat.
"Lihatlah dirimu di cermin. Lihat kita!"
Aku pun menatap bayangan diriku dan Dimas di cermin.
"Bukankah kita sangat serasi?" ujarnya.
Aku tersenyum mendengarnya.
"Kecantikanmu ini begitu alami, Nia," gombalnya seraya meletakkan kepalanya di samping pundakku.
"Lebih cantik dokter Vanessa."
"Lebih cantik kau."
"Hm ...."
Dengan cepat Dimas mengecup pipi kananku lagi. "Jangan membicarakan orang lain saat kita hanya berdua."
"Ayo makan!"
"Ini hangat, Nia."
"Dimas."
"Apa kau merasakan sesuatu yang mengganjal di belakang tubuhmu?"
"Dasar mesum!"
Aku langsung melepaskan diri darinya. Dimas selalu saja menggodaku dengan kata-kata seperti itu. Aku pun segera berlalu dari kamar dengan kesal. Sedangkan Dimas terus tertawa melihat kekesalanku.
Aku berjalan menuju kamar Fania. Mengapa dia lama sekali? Kubuka pintu kamar Fania, tidak kutemui dia di sana. Apa jangan-jangan Fania masih mandi? Aku pun mengetuk pintu kamar mandi Fania. Tetapi tidak terdengar sahutan darinya.
Dan saat kusentuh gagang pintu kamar mandi, ternyata tidak dikunci. Aku pun masuk dan langsung mendapati Fania yang tengah berbaring di bathtub tanpa terisi air. Dan dia tertidur pulas di bathtub.
"Ya, ampun, anak ini!" gumamku. Kupikir dia sudah mandi, ternyata malah tidur di kamar mandi.
"Nia, kau sedang apa?" tanya Dimas yang mengikutiku.
"Tuh, lihat, kelakuan Fania. Bukannya mandi, malah tidur!"
Dimas pun menghampiri Fania dan dengan iseng, Dimas mengisi bathub Fania sampai terisi penuh air.
"Oh ... dingin Sayang," racau Fania yang masih terpejam.
Lebih iseng lagi, Dimas beberapa kali mentoel hidung Fania dengan telunjuknya.
"Ah, Sayang. Jangan nakal!" racau Fania lagi.
Dimas mengambil gayung dan mengambil air untuk mengguyur kepala Fania.
"Ow! Sayang, ah ... apa yang kau lakukan?!"
Fania pun terbangun, diusapnya wajahnya yang basah. Lalu menatap Dimas yang berdiri di hadapannya.
"Ha-hahtu!!" teriak Fania.
"Apa ada hantu setampan aku?" tanya Dimas seraya berkacak pinggang. "Dasar pemalas!"
"Dimas, sejak kapan kau berada di sini? Apa kau tidur dan menginap di sini?"
"Ya, aku tidur bersama Nia semalam. Oh ... itu indah sekali, Fania. Kita menghabiskan malam berdua," ucap Dimas sembarangan.
Fania segera mengalihkan pandangannya kepadaku. "Imania, apa itu benar?"
"Fania—" Belum sempat mengklarifikasi, Dimas langsung memotong perkataanku.
"Tidakkah kau lihat, aku baru saja mandi Fania. Itu menyenangkan. Ha-ha!"
"Dimas!" sergahku menahan candaannya.
"Imania, kau ...." Fania menatapku tidak percaya.
"Fania, tubuhku teramat segar setelah melakukannya," ucap Dimas.
Aku segera menarik lengan Dimas untuk keluar dan tidak mempengaruhi pikiran Fania. Fania pun menatap kepergian kami sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kalian membuatku iri saja!" teriak Fania.
Dimas pun menoleh Fania seraya berseru, "Fania, jangan melakukan apa-apa selain mandi di situ ya? Ha-ha!"
"Diam kau!"
"Fania, cepatlah mandi. Makanan sudah siap!" teriakku.
__ADS_1
"Aku tidak nafsu makan saat ini. Justru ada nafsu lain yang menggangguku. Dasar berengs*k, kalian!"
-- BERSAMBUNG --