
Pak Wibowo tak dapat lagi membendung air matanya. Dengan segera ia usap bulir-bulir bening berisi penuh penyesalan itu menggunakan kedua tangannya. Jangankan pak Wibowo. Aku yang mendengar kisahnya saja turut menangis. Menyesakkan dada sekali.
"Kasihan sekali wanita itu," ucapku sembari mengusap wajahku yang basah.
"Aku adalah seorang pengecut! Aku mengorbankan wanita yang paling kucintai demi keegoisan ini."
"Di mana wanita itu sekarang?" tanyaku penasaran.
Pak Wibowo menundukkan kepalanya, kemudian menjawab, "Kabarnya, dia sudah meninggal."
"Innalilahi wainnailaihi rojiun .... "
"Setelah istriku melahirkan putra pertamaku, Surya. Aku meminta orang untuk mencari keberadaan Arumi. Sayangnya ... aku mendengar kabar bahwa dia sudah meninggal usai melahirkan anakku." Pak Wibowo kembali terisak.
Aku bisa merasakan penyesalan di benak pak Wibowo. Dia pasti tengah mengutuk dirinya sendiri. Kuusap punggung pak Wibowo lembut.
"Maaf ... apa ... Anda tahu keberadaan anak dari wanita itu?"
Pak Wibowo menggeleng. "Orang suruhanku sama sekali tidak menemukan keberadaan anakku. Sepertinya Arumi benar-benar berusaha menyembunyikan identitas anaknya dariku. Mungkin, dia sangat membenciku. Sehingga ia tidak membiarkanku tahu perihal buah hatiku itu sendiri."
"Aku juga tidak tahu apakah dia masih hidup. Tetapi jika suatu saat aku menemukan anak dari Arumi. Sebagian besar hartaku akan kuberikan padanya. Bahkan, aku rela melakukan apapun untuk menebus dosa-dosaku padanya," lanjutnya.
"Aku sadar. Dosa-dosaku kepada Arumi dan anaknya begitu besar. Bahkan ... jika Arumi masih hidup, dia tidak pantas memaafkanku."
"Apa Anda tahu ... anak tersebut laki-laki atau perempuan?"
"Aku tidak tahu."
Tiba-tiba aku teringat akan foto di ruangan pak Wibowo yang mirip sekali dengan foto ibu Fania. Apa ... ya, Tuhan. Ini ... ini ... apa ... mereka ... ada hubungannya?
"Maaf, Pak."
Pak Wibowo mengusap wajah basahnya. Kemudian berkata tanpa menolehku. "Kembalilah ke hotel. Istirahat dan makanlah. Besok pagi, kita akan menemui seseorang."
"Pak, aku ... ingin mengatakan sesuatu," ucapku.
Akan tetapi, pak Wibowo beranjak meninggalkanku. Padahal aku ingin mengatakan tentang foto yang sangat mirip itu. Jangan-jangan ... ini benar. Fania ada hubungannya dengan pak Wibowo.
Aku menatap punggung pak Wibowo yang terus beranjak masuk ke hotel. Sepertinya ... lebih baik kubiarkan saja dulu pak Wibowo menenangkan perasaannya. Besok, aku akan membahasnya.
***
Malamnya, tiba-tiba aku merindukan Arka. Sedang apa mereka sekarang? Lebih baik aku menghubungi Fania. Kulakukan panggilan video call padanya. Tidak lama pun tersambung.
"Hai, Imania. Kau sedang apa?" tanya Fania yang tengah berada di kamarnya bersama Arka dan Rudi.
"Aku sedang merindukan kalian."
"Termasuk aku?" Tiba-tiba Rudi menampakkan wajahnya menyerobot Fania.
"Ish! Diam kau! Jangan ikut-ikutan!" larang Fania sembari mendorong Rudi.
__ADS_1
"Mama?"
"Hai, Sayang."
Arka pun mengatakan bahwa dia senang bermain bersama Fania dan Rudi. Dia bilang tidak kesepian karena ada mereka.
"Mama, kalau pulang belikan Arka pesawat, ya, Ma. Arka ingin terbang, naik pesawat ke langit," kata Arka dengan polosnya.
Aku tersenyum mendengarnya. Ada-ada saja. Kami pun asyik mengobrol hingga pukul sepuluh malam. Sedangkan Fania dan Rudi asyik ribut sendiri. Kuharap ... mereka segera memiliki chemistry.
***
Paginya, aku bangun, mandi, dan bersiap-siap untuk pergi bersama pak Wibowo. Setelah itu, aku keluar dari kamar hotel. Tampak pak Wibowo sedang berdiri di depan kamar hotelnya, menghadap pemandangan samudera Hindia yang luas. Aku pun menghampirinya.
Dia menoleh saat aku baru sampai di dekatnya. "Sudah makan?"
"Belum," jawabku.
"Kalau begitu, mari kita makan dulu."
Pak Wibowo melangkah menuju ke restoran khusus hotel Bulgaria. Aku pun mengekor di belakangnya. Kami duduk dan makan bersama di restoran yang sangat megah dengan makanan super lezat. Pelayanannya sangat memuaskan. Aku senang bisa berada di hotel ini.
***
Usai makan, kami berangkat menuju Beachwalk Mall menggunakan kendaraan mobil pribadi. Dan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, kami pun sampai di Beachwalk Mall.
Sesampainya di Beachwalk Mall, kami langsung disambut oleh pemilik mall tersebut. Selain memperkenalkan diri, ia juga mengajak kami jalan-jalan mengelilingi Beachwalk Mall ini.
Yang menjadi ciri khas Beachwalk Mall ini adalah designnya yang unik, elegan, dan futuristik. Selain luas tempatnya, view pemandangan di mall ini bisa menjadi lokasi jalan-jalan yang menyenangkan bagi para pelancong.
Mall ini tidak hanya berupa kumpulan store, melainkan juga terdapat bioskop XXI yang terkenal sebagai salah satu bioskop besar di Indonesia. Cafe dan Spa bagi yang mencarinya juga bisa ditemukan disini. Sungguh ... menakjubkan. Bahkan, setelah masuk dan mengelilingi mall, kita akan lebih terpukau dengan visual dan fasilitas mall.
Dan setelah puas berkeliling, perjanjian kerjasama pun dimulai. Dengan antusias aku mempresentasikan perusahaan kami. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar, sehingga perjanjian ini resmi disepakati.
Pemilik mall memberikan kami pelayanan yang sangat baik. Usai menandatangani surat perjanjian kerjasama, kami diajak makan dan diberikan fasilitas mall secara free, seperti spa, dll.
***
Usai melaksanakan tugas dengan baik dan lancar. Pukul tiga sore, pak Wibowo mengajakku keluar dari mall. Ia membawaku ke pantai Kuta yang letaknya memang dekat sekali dengan Beachwalk Mall. Kami langsung menuju ke pantai Kuta. Dan sesampainya di pantai Kuta, kami pun duduk di atas pasir pantai yang putih nan halus.
Pantai yang dikenal sebagai jantung pariwisata pulau Dewata ini memang sangat memukau. Selain bentangan garis bibir pantai yang sangat luas, pantai Kuta juga memiliki ombak laut yang besar. Sangat cocok pagi pecinta surfing.
"Dulu, aku pernah berjanji pada Arumi, untuk membawanya ke pulau Dewata ini. Dia sangat ingin pergi ke pantai Sanur untuk melihat sunrise bersamaku. Dan pantai Kuta, untuk melihat sunset," tutur pak Wibowo sembari menatap hamparan laut luas.
"Dia suka sekali pantai. Dia senang bermain di pantai. Bagiku, dia seperti gadis pantai. Menyejukkan hati dan menenangkan."
Aku terus mendengarkan cerita pak Wibowo dengan seksama sembari menikmati angin sejuk, pantai yang berada di sebelah selatan pulau Dewata ini.
"Andai saja dia masih hidup," katanya sembari menyunggingkan sedikit senyum.
Baru kali ini aku melihat sesungging senyum di wajahnya. Sepertinya, dia memang jarang sekali tersenyum. Dan ... dengan mengingat Arumi dia mampu tersenyum.
__ADS_1
"Pak, kenapa ... Anda tidak bisa menolak untuk dijodohkan waktu itu?"
"Karena ayahnya Hera mengancam untuk mencabut investasi dari perusahaan ayahku. Dia adalah satu-satunya investor terbesar di perusahaan ayahku. Saat itu, aku adalah harapan satu-satunya untuk menahan kebangkrutan perusahaan."
"Apa tidak ada jalan lain untuk permasalahan kebangkrutan perusahaan?"
"Tidak ada. Saat itu, Hera seperti nyawa bagi perusahaan keluarga kami. Terlebih lagi, dia jatuh cinta padaku. Dan ... terjadilah penawaran kerjasama dari ayah Hera—mertuaku."
"Dan ... Anda pun menyetujui begitu saja untuk menikahi Bu Hera?"
"Kupikir, setelah menikahinya, aku bisa mencari Arumi. Kemudian memberikan sebagian hartaku untuk menghidupinya. Sayangnya ... aku tidak bisa melacak keberadaannya. Dan ... setahun kemudian, aku mendapatkan kabar, bahwa Arumi telah meninggal dunia."
Wajah yang tampak menua itu kembali murung. Matanya sendu. Aroma penyesalan jelas dapat kurasakan.
"Setelah aku menikahi Hera, sebenarnya ... aku tidak pernah berhenti mencari keberadaan Arumi. Sayang ... kabarnya ... dia diusir dari kampung halamannya. Dan ... itu semua disebabkan karena mengandung buah hatiku. Buah hati kami."
Pak Wibowo kembali terisak dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Arumi sangat menderita gara-gara aku. Semua salahku. Aku adalah penyebab kematiannya."
Segera kuusap punggung pak Wibowo, berusaha menenangkannya.
"Pak ... itu adalah takdir. Sudah suratan Tuhan."
"Tidak! Semua itu adalah salahku. Arumi diusir oleh warga kampung. Dia pergi ke kampung terpencil. Dan saat orang suruhanku melacaknya, ternyata ... dia sudah meninggal dunia," katanya sembari terisak.
Pak Wibowo membuka telapak tangan itu dari wajahnya. "Sekarang ... aku hanya menginginkan anakku. Hanya anak dari Arumi yang menjadi harapanku untuk menebus dosa-dosa masa laluku. Meskipun aku tahu, itu takkan termaafkan. Tetapi setidaknya, aku bisa menyayangi anakku."
Mendengar seluruh kisah tentang pak Wibowo dan Arumi, membuatku berpikir, jangan-jangan dugaanku benar. Pak Wibowo ada hubungannya dengan Fania. Kisahnya sama persis dengan yang diceritakan mbah Mar.
"Maaf ... Pak. Kisah yang kau ceritakan padaku, benar-benar mirip dengan kisah sahabatku, Fania."
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Keceh Tersayang?
Author ingatkan lagi, kisah ini akan END sebentar lagi. Saya ucapkan terima kasih banyak atas dukungannya selama ini.
Oh, ya? Nanti malam akan terjawab tentang Arumi yaitu ibunya Fania. Tungguin ya?
Mohon untuk bersabar, karena Author selalu berusaha yang terbaik untuk memenuhi request kalian.
Semoga, ENDING nanti tidak mengecewakan, ya?
Jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE!
Sampai jumpa nanti malam?
Thank you!
__ADS_1