BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Di Balik Pintu


__ADS_3

"Bagaimana mungkin aku mencintai Dimas? Dia, kan, pacarmu?"


Aku menatap kedua mata Fania lembut. "Maaf ... aku terlalu berlebihan."


Fania pun tidak menanggapi lagi. Ia pun langsung berbaring membelakangiku. Begitu juga aku, yang tidur membelakanginya.


Kita adalah sahabat. Oleh sebab itu, jangan sampai kita mencintai laki-laki yang sama. Aku selalu mengkhawatirkan hal itu, ketika kau mengaguminya. Tetaplah menjadi sahabatku yang setia dan juga jujur. Jangan biarkan aku menjadi cemas, ketika kau begitu dekat dengannya. Tetaplah menjadi Penggoda, Bukan Pelakor! Mungkin, itu lebih baik.


***


Keesokan harinya, dengan semangat, aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Aku pun mengambil satu pakaian lagi yang baru. Kali ini, aku memakai celana berwarna abu-abu. Dipadukan dengan outer warna putih tulang. Kemudian kupoles make up dengan kesan natural. Dan lipstik warna peach. Setelah itu kuambil pashmina bercorak bunga dengan warna senada dengan pakaian yang kukenakan.


"Imania? Ayo sarapan dulu?" panggil ibu dari depan pintu kamarku.


"Baik, Bu!"


Karena dirasa waktu akan cukup, jadi, aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.


"Bangunkan Fania dulu, ya?" perintah ibu.


"Ya, Bu?"


Ibu pun kembali ke dapur. Dan aku membangunkan Fania.


"Fan, bangun!" Kugerakkan tubuhnya yang berbaring di samping Arka.


"Nanti, ya? Sebentar lagi!"


"Ayolah, Fan? Kapan kau tidak bermalas-malasan seperti ini, sih?"


"Ah, aku ngantuk sekali!" Fania memiringkan tubuhnya membelakangiku.


"Kalau begitu, tidak ada jatah makan pagi ini!" ancamku. Dan itu manjur. Fania langsung membuka kelopak matanya.


"Nah, gitu, donk?"


Dengan malas, akhirnya Fania pun bangun. Dia mencuci muka, setelah itu kami sarapan pagi bersama.


Usai makan, aku meminta Fania agar mengantarkan aku ke kantor.


"Please ... antar aku Fan?" pintaku seraya menunggunya selesai makan.


"Kenapa tidak dijemput Dimas?" tanya ibu tiba-tiba.

__ADS_1


Aku juga tidak tahu kenapa Dimas tidak menghubungiku lagi semalam. Biasanya juga, pagi ini dia menghubungiku lagi. Menawarkan padaku untuk menjemputku, dan mengantarkan aku ke kantor.


"Dimas sibuk, Bu? Dia, kan, juga bekerja. Jadi, tidak mungkin setiap hari mengantarku." Aku berusaha meyakinkan ibu.


"Oh, syukurlah. Ibu kira kalian bertengkar."


"Enggak, kok, Bu."


"Ya sudah, biar Fania mengantar Ima, ya?" pinta ibuku pada Fania.


"Jika Bibi yang meminta, aku tidak mungkin bisa menolak!"


Fania pun mengantarkanku menuju kantor. Dan sesampainya di kantor, aku langsung masuk menuju tempat kerjaku.


Suasana kantor masih sepi. Aku berjalan menuju meja kerjaku. Hanya ada beberapa orang karyawan yang telah hadir mengisi meja kerja masing-masing. Aku pun segera menyalakan komputer. Mengerjakan tugas dari sekertaris Ve yang kemarin belum sempat terselesaikan.


Saat aku sedang asyik mengisi data-data yang ada dalam berkas, tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja kerjaku.


"Imania!" sapa seorang laki-laki berseragam security seraya tersenyum.


"Rangga!" Aku sangat terkejut melihatnya.


"Kau bekerja di sini?" tanyanya sembari tersenyum lebar.


"Sejak kapan kau di sini?" tanyanya yang masih berdiri di sampingku.


"Sejak kemarin," jawabku.


Rangga pun hanya tersenyum sembari memandangiku. Oh, ya Tuhan. Apakah Rangga belum tobat juga? Dia masih terus menggangguku. Kasihan Dewi, yang selalu disakiti perasaannya.


"Kok, kamu bisa tahu, aku di sini?" tanyaku heran.


"Sebenarnya, kemarin, aku sempat melihatmu saat pulang. Kukira aku salah orang. Sebab, kau sekarang semakin cantik. Pakaianmu berbeda dari biasanya. Dan mau terlihat sangat muda. Kukira perawan, ternyata janda, ha-ha ...!"


"Rangga! Kamu jangan macam-macam. Cepat pergi! Aku mau melanjutkan pekerjaanku!"


"Eh, Imania. Aku tidak menyangka bahwa kamu akan menjanda, loh? Apa ... ada kesempatan untukku mencintaimu?"


Aku menghela napas kasar. "Aku sudah punya pacar! Jadi, tolong jangan menggangguku!"


"Wow! Kau sudah punya pacar rupanya. Apa dia tampan? Lebih tampan dariku?" tanyanya seraya mendekatkan wajahnya padaku.


Aku pun langsung bangkit. "Rangga! Pergi sekarang!" usirku seraya menunjuk ke pintu.

__ADS_1


"Kau galak sekali!"


Beberapa karyawan yang ada di ruangan ini pun menatap ke arah kami.


"Ada apa ini?" Sekertaris Ve tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangannya.


"Kak Ve? Dia mengganggu pekerjaanku!" Aku langsung mengadu pada sekertaris Ve.


Dia pun berjalan seraya terus menatap tajam ke arah Rangga.


"Aku tidak mengganggunya. Aku hanya menyapa saja!" elak Rangga.


Tetapi sekertaris Ve terus berjalan menghampiri Rangga. Aku tidak tahu apakah sekertaris Ve marah. Dia terus mendekati Rangga, dan tiba-tiba ....


"Ikutlah denganku, Honey!" kata sekertaris Ve seraya merangkul pundak Rangga.


Aku terbelalak melihat kemesraan mereka berdua. Rangga pun melingkarkan tangannya ke pinggang seksi sekertaris Ve.


"Jangan menggoda wanita lain, Sayang?" ucap sekertaris Ve seraya mencium pipi Rangga.


"Maafkan, aku khilaf ...," ucap Rangga seraya membalas kecupan di pipi sekertaris Ve.


Aku masih terbelalak melihat ada adegan seperti ini di dalam kantor. Sedangkan karyawan yang lain, hanya memandang mereka biasa saja.


Sekertaris Ve pun menuntun Rangga untuk masuk ke dalam ruangannya. Sungguh, tidak habis pikir. Apa yang akan mereka lakukan?


"Imania!" seru salah seorang karyawan yang bernama Elly.


Aku pun menoleh padanya.


"Jangan kaget melihat mereka berdua, ya? Mereka memang berpacaran," kata Elly padaku.


"Berpacaran?" Aku semakin terkejut dibuatnya. Apa ini? Bukankah Rangga adalah suami dari salah seorang temanku? Ya, dia suaminya Dewi.


Elly tertawa melihat ekspresiku. "Jangan bingung dan jangan kaget. Mereka itu sangat serasi bukan? Ini pemandangan yang sudah biasa."


"A-apa yang mereka lakukan di dalam ruangan sekertaris Ve?" tanyaku bingung.


"Coba saja dengarkan dari balik pintu!"


Aku menelan salivaku sendiri. Apa mereka? Ah, tapi mana mungkin? Bukankah seluruh ruangan ini ada CCTV? Mana mungkin mereka melakukan hal yang tidak senonoh semacam itu di kantor?


Aku pun kembali duduk. Sekilas aku menatap pintu ruangan sekertaris Ve yang tertutup rapat. Apa yang mereka lakukan di sana?

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2