
Jika biasanya Fania menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, kali ini tidak. Fania menyetir mobil dengan hati-hati. Mungkin karena ini mobil baru, jadi harus beradaptasi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 km, kami pun sampai di sebuah supermarket. Kami keluar dari mobil dan langsung masuk ke supermarket.
Sesampainya di dalam supermarket, Fania memberikan kunci mobil tersebut padaku. "Imania, aku boleh membeli apapun, kan?"
"Belanjalah sepuasmu."
"Wah, thanks, Imania. Kau memang luar biasa!" ucap Fania sembari mencubit pipiku.
"Sakit!" desisku sembari mengusap pipiku.
"Ayo, Arka, let's go!"
Fania menggandeng tangan Arka. Dengan semangat, ia langsung mengambil sebuah trolli, lalu menaikkan Arka di atasnya dan menuju rak bagian yang menjajakan makanan ringan. Sedangkan aku juga mengambil trolli, lalu menuju rak bagian kebutuhan pokok, seperti beras, minyak, dll.
Usai memilih berbagai kebutuhan pokok, aku menuju bagian yang menjual sayuran dan buah-buahan. Arka suka sekali buah anggur, jadi, kupilih beberapa ikat anggur merah segar. Saat aku akan berbalik dan memasukkan anggur tersebut ke dalam trolli, tiba-tiba aku bertabrakan dengan seseorang.
"Eh, maaf," ucapku, tetapi buah anggurku jatuh dan rontok, berhamburan di lantai.
"Kalau mau jalan, lihat-lihat, donk, Mbak!" omel wanita yang kuperkirakan usianya 40-an. Melihat dari penampilannya yang cukup modis nan glamor, dia pasti orang kaya.
"Maaf, Nyonya."
"Ada apa, Mah?" Seseorang tiba-tiba muncul, menghampiri kami.
"Ini, loh, Yah. Masak, mamah lagi jalan, tiba-tiba ditabrak sama dia!" keluh wanita tersebut.
Lelaki tersebut mengalihkan pandangannya padaku. "Kamu."
Aku pun menunduk. "Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja."
"Ayah kenal dia?" tanya wanita tersebut dengan wajah sinis.
"Dia pegawai kantor kita, Mah," jawab pak Wibowo.
Wanita tersebut tetap memasang ekspresi sinis padaku. Lalu aku pun membungkuk, mengambil buah anggur yang jatuh berserakan.
"Sudah, Mah, ayo lanjutkan belanjanya," kata pak Wibowo.
Wanita itu pun beranjak pergi, sedangkan pak Wibowo masih berdiri di tempat.
"Maafkan istriku."
Aku mendongak, memandang wajah pria paruh baya itu. Pak Wibowo memasang ekspresi dingin sebagai ciri khasnya, lalu beranjak pergi.
Apakah semua orang kaya harus bertingkah jutek seperti itu? Wanita itu yang berjalan menabrakku, hingga buah anggurku jatuh semua, tapi malah dia yang marah-marah.
Eh, apa ... dia adalah mamanya Dimas? Sejenak aku kembali mengingat foto di ruangan pak Wibowo. Ya, benar. Itu adalah mamanya Dimas. Kenapa jutek sekali.
***
__ADS_1
Selesai berbelanja segala kebutuhan, kudorong trolli menuju kasir. Wanita itu tampak sedang berdiri di depan kasir, menunggu belanjaannya yang tengah dihitung.
Tidak lama, Fania menyusulku dengan membawa trolli yang dinaiki Arka. Fania menjajarkan trolli-nya di sebelah trolli-ku. Aku tersenyum geli melihat betapa sesaknya isi di dalam trolli milik Fania.
Kami pun menunggu giliran di belakang mamanya Dimas. Belanjaan wanita tersebut cukup banyak, wajar jika lama sekali.
"Aih, lamanya!" keluh Fania agak keras.
Dan itu membuat wanita yang kuperkirakan adalah mamanya Dimas itu menoleh ke arah Fania. Dia tampak memperhatikan Fania dari atas ke bawah. Wajah masamnya tampak jelas saat memandang Fania. Mungkin, karena Fania berpakaian cukup seksi dengan celana hotpants-nya itu. Entah mengapa Fania memakainya lagi, padahal aku sudah melarangnya.
"Hei, Nyonya! Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Fania.
"Siapa yang memandangmu? PD sekali!"
Fania menurunkan Arka dari trolli, lalu ia berjalan menghampiri wanita tersebut.
"Apa kau bermasalah dengan matamu itu?" tanya Fania dengan gagah berani.
"Mama." Arka mendekat padaku.
"Sini, Sayang."
Wanita tersebut semakin memandang rendah Fania. Ia menarik satu sudut bibirnya, lalu berkata, "Dasar gadis murahan!"
"Jaga bicaramu itu singa betina!" Fania membuat julukan baru untuk wanita tersebut.
Wanita itu terbelalak mendengar sebutan itu dari mulut Fania. "Dasar gadis kurang ajar!"
Plak!
Plak!
Fania membalas tamparan menampar wanita tersebut. Aku segera menahan lengan Fania, sebelum ia berbuat lebih jauh.
"Fania," sergahku.
"Apa masalah Anda denganku? Kenapa memandang seseorang seperti itu? Sikap Anda lebih buruk dari penampilanku. Anda tampak seperti wanita sosialita, tapi sikap Anda sama sekali tidak mencerminkan casing yang Anda perlihatkan itu. Anda menilai orang lain dengan sebelah mata. Sungguh ... tidak punya sopan santun! Anda lebih kurang ajar daripada aku!" cercah Fania dengan emosi.
"Ada apa, ini?" Pak Wibowo yang sepertinya tengah menunggu istrinya di luar pun masuk ke supermarket dan menghampiri kami.
"Ini, Yah. Gadis kurang ajar ini menamparku!" Wanita itu mengadu sembari memegangi pipinya.
Pak Wibowo mengalihkan pandangannya ke arah Fania. Dan pak Wibowo hanya bergeming menatap Fania.
"Ayo, Yah. Beri pelajaran padanya!" rengek wanita tersebut.
"Hei, Anda, Pak Tua. Lebih baik Anda fokus memberikan pelajaran kepada istri Anda. Agar dia tahu tata krama sebagai seorang wanita sosialita. Jangan casing-nya saja. Dan kalian tidak perlu repot-repot memberiku pelajaran. Karena aku tahu apa yang seharusnya kulakukan!" ucap Fania kepada pak Wibowo.
"Dasar gadis berengs*k!" Wanita itu menjambak rambut Fania, tetapi langsung ditahan oleh pak Wibowo.
"Sudahlah, Mah. Lepaskan tangannmu!"
__ADS_1
"Fania, sudah," ucapku sembari menahan Fania yang akan membalas mamanya Dimas.
Wanita tersebut pun menarik tangannya dari rambut Fania. Fania dan mamanya Dimas masih saling menatap dengan aura kebencian satu sama lain. Bak dua singa betina yang akan saling memangsa.
"Maaf, harap jangan ribut di sini!" ucap salah seorang kasir yang tengah berhenti menghitung barang.
Akhirnya, mereka berhasil dilerai, meski mereka masih tampak emosi. Fania masih mengumpat-umpat, sedangkan wanita itu sesekali melirik sinis ke arah Fania. Sehingga Fania pun berkali-kali menjulurkan lidahnya, mengejek wanita tersebut.
Setelah kasir tersebut selesai menghitung barang belanjaan, mamanya Dimas pun segera membayarnya. Pak Wibowo menenteng dua kantong besar berisi penuh barang belanjaan. Kemudian mereka beranjak untuk keluar. Aku menghela napas lega.
Akan tetapi, tiba-tiba Fania mengejar wanita tersebut dan menjambak rambutnya. Aku dibuat shock mendapati kenekatan Fania. Begitupun pak Wibowo yang terbelalak akan keberanian Fania.
Terjadilah adegan jambak menjambak. Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. Pak Wibowo dibuat kebingungan dengan tingkah mereka. Namun, untungnya seorang security segera datang dan melerai mereka berdua. Security tersebut mencekal kedua lengan Fania.
"Awas kau! Jika sampai kita bertemu lagi, aku akan menggunduli rambutmu!" ancam mamanya Dimas sembari mengacungkan telunjuknya di depan wajah Fania.
"Aku tidak takut! Dasar singa betina!"
Pak Wibowo meletakkan barang belanjaan di atas lantai. Ia segera menarik lengan istrinya, mengajaknya untuk keluar dari supermarket. Lalu ia menoleh dan berkata pada security tersebut, "Tolong, bawakan belanjaan kami ke mobil."
"Siap, Pak!"
Security itu melepaskan lengan Fania, lalu berkata pada Fania, "Cantik-cantik, kok, galak amat!"
Dengan cekatan, Fania mengambil tongkat hitam yang berada di pinggang security tersebut. Kemudian memukulkannya keras ke pantat security itu.
Aku kembali dibuatnya terkejut. Antara kaget dan geli. Security itu pun melotot kepada Fania. Lalu meringis kesakitan memegangi pantatnya yang dipukul Fania.
"Apa? Mau dipukul lagi? Atau mau bagian depan yang dipukul?!" ancam Fania sembari mengacungkan tongkat tersebut ke arah ulat naga security tersebut.
"Cantik-cantik enggak ada akhlak!" ucap security tersebut kesal.
Security itu pun meraih tongkat miliknya dari tangan Fania, lalu meletakkannya kembali ke pinggang, dan mengambil barang belanjaan yang tergeletak di lantai. Kemudian berjalan keluar dari supermarket.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh?
Hayo? Pasti ada yang lagi ketawa-ketawa sendiri, nih? Syukur, deh. Seneng, deh, bisa bikin kalian tertawa. Tapi besok mewek lagi, ya? WKWK.
Eh, Author Keceh suka banget baca komentar kalian, loh? Kalian, tuh, lucu-lucu dan gemesin banget! Pengen tak cubit satu-satu, ih!
Jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, & VOTE.
Author ingatkan lagi, ya? Novel ini menuju ENDING. Jadi, wajib stay sampai END.
Bagi yang belum masuk grup. Ayo, buruan masuk, ya? Agar tahu informasi tentang karya-karya Author Keceh. Selain itu, kalian juga boleh ngobrol bersama Sahabat Keceh lainnya. Kita bisa berbagi rasa alias baper bareng di GC. Juga ada poin-poin yang siap dibagi.
Thank you ...!
__ADS_1