
"Halo, Pak."
"Fania sudah siuman."
Betapa bahagianya mendengar kabar tersebut. Aku langsung mengatakan kepada pak Wibowo, bahwa aku segera menuju rumah sakit.
Setelah menutup telepon, aku bergegas memesan taksi online. Dan berpamit pada ibu untuk menjenguk Fania di rumah sakit.
Aku berjalan kaki menuju jalan raya, menunggu taksi pesananku di tepi jalan. Tidak lama, taksi yang kupesan datang dan mengantarku ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung berlari menuju ruang ICU. Dan sampai di depan pintu ruang ICU, aku mengatur napas yang terengah-engah karena saking senangnya dan terlalu gugup. Pelan-pelan kubuka pintu tersebut. Sudah ada pak Wibowo, Rudi, seorang dokter beserta dua orang perawat, juga ... Fania sendiri, yang tengah memandang ke arahku.
"Fania." Pak Wibowo berdiri tepat disampingnya.
Fania tampak mengerjapkan mata beberapa kali. Ia menoleh lirih ke arah pak Wibowo. Kemudian memandang ke sekeliling ruangan. Matanya mulai mengamati kami satu per satu. Tatapannya masih kosong. Aku tidak tahu apakah otaknya dapat berfungsi secara normal.
Kata dokter, cedera pada kepala Fania, akibat benturan yang sangat keras, mengakibatkan pendarahan di otak, yang dapat mengganggu fungsi otaknya.
"Fania," panggilku.
"Harap jangan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tertekan, ya? Biarkan dia rileks terlebih dahulu," kata sang dokter.
Kami semua menatap harap-harap cemas kepada Fania. Dia masih bergeming dan hanya menatap sesekali ke arah kami.
"Fania," panggil pak Wibowo lagi.
Fania menoleh lagi ke arah pak Wibowo. Tetapi ia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia malah mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia pun menunjuk diriku menggunakan telunjuknya.
"Aku?" ucapku.
Fania melambaikan tangannya padaku, memintaku mendekat. Aku pun segera beranjak lebih dekat di sisinya. Untuk beberapa saat kami hanya saling menatap. Aku tidak tahu apakah otaknya masih berfungsi dengan baik. Apakah kau mengingatku, Fania?
Melihatnya hanya diam, menatapku. Membuatku sedih. Sepertinya ... Fania tidak mengenaliku lagi. Tak terasa bulir-bulir bening di mataku mulai turun. Antara bahagia melihatnya kembali dan sedih melihatnya tak lagi mengingatku.
"Imania," ucapnya lirih.
Aku cukup terkejut mendengarnya menyebut namaku.
"Kau ... kau mengingatku?" tanyaku sembari mengusap bulir bening di pipiku.
Fania menggelengkan kepalanya pelan. Senyum yang hampir saja mengembang di wajahku meredup lagi. Apa ... dia hanya mengingat namaku?
Tiba-tiba saja Fania meraih jemari tanganku. Aku menatapnya bingung. Ekspresi wajahnya yang datar membuatku cemas, apakah dia amnesia?
"Imania," ucap Fania lagi.
Aku hanya menatapnya was-was. "Ya."
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin memelukku?"
"Apa kau mengingatku?" tanyaku cemas.
"Apa aku akan semudah itu melupakanmu?"
Sesungging senyum lebar ia kembangkan di wajahnya. Itu membuatku langsung memeluk tubuhnya sembari terisak haru.
"Kau jahat! Kau membuatku sangat cemas!" ucapku pada Fania yang turut memelukku erat.
Setelah cukup saling memeluk, kami pun saling melepas. Fania meraih wajahku. Ia mengusap bulir-bulir bening yang membasahi pipiku.
"Dasar cengeng!" katanya sembari tersenyum tengil. Ciri khasnya.
Aku terus menangis bahagia. Tuhan mengabulkan doaku. Dia menjaga sahabatku.
"Apa aktingku keren?" tanya Fania dengan mimik muka menyebalkan, tapi selalu kurindukan.
"Kau membuatku sangat takut."
Fania tertawa kecil. "I'm back."
"Ya, i know. Lagipula kau masih berhutang padaku. Kau tidak boleh pergi kemana-mana."
"Hutang apa?"
"Kau harus membuatkanku kue yang enak, bukan?"
Kami saling berpelukan melepaskan kerinduan dan rasa syukur atas kemurahan Tuhan.
Setelah cukup saling memeluk, Fania meminta posisinya didudukkan. Dokter segera mengatur posisi ranjang agar lebih naik di bagian kepala. Kemudian Fania menatap ke arah Rudi.
"Rudi, kau juga menungguku?" tanya Fania.
Rudi berjalan mendekat, berdiri di sebelahku. "Tentu saja."
Fania mengulum senyum. "Kalian sangat serasi."
"Benarkah?" tanyaku.
"Ya," jawab Fania kembali tersenyum. Senyum yang sengaja ia tarik di bibirnya agar menutup patah hatinya.
"Sayangnya ... kami sudah putus," ucapku sengaja mengekspresikan mimik sedih.
Fania tampak terkejut mendengar penuturanku. "Ka-kalian putus?"
"Imania sudah kembali kepada lelaki yang paling dicintainya." Rudi memberitahu kepada Fania sembari tersenyum.
Fania langsung menatapku bingung. "Kau ... kau jadian lagi dengan Dimas?"
__ADS_1
Aku mengangguk sembari tersenyum.
"Lalu ... bagaimana dengan dokter Vanessa?"
Fania belum tahu kejadian yang baru saja menimpa Nessa. Rudi pun menceritakan tentang segala yang terjadi. Fania sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. Tentang kepergian Vanessa untuk selama-lamanya.
"Innalilahi wainnailaihi rojiun. Jadi ... penyakit jantung dokter Vanessa itu serius? Aku merasa berdosa karena sempat meragukannya," ucap Fania yang turut berduka.
Aku melirik ke arah pak Wibowo yang masih berdiri di belakangku. Pak Wibowo hanya menundukkan kepalanya. Raut wajahnya tampak tengah bingung. Mungkin, ia tak tahu harus bagaimana mengatakan segalanya. Bahwa dia adalah ayah kandung yang selama ini Fania cari dan sekaligus ayah yang Fania benci.
Pak Wibowo tiba-tiba beranjak dengan langkah gontai, menuju pintu.
"Om!" panggil Fania.
Pak Wibowo menghentikan langkah, menoleh sedikit ke arah Fania.
"Om kenapa pergi?"
Pak Wibowo tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan diam di tempat.
"Om? Apa Om turut menjagaku selama aku koma?"
Pak Wibowo terisak sejenak, lalu berkata tanpa menoleh ke arah Fania. "Aku menunggumu memukuliku seratus kali, Fania," ucapnya lalu keluar dari ruang ICU.
Fania masih menatap kepergian pak Wibowo dengan bingung. Sama denganku, aku juga tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan kepada Fania tentang pak Wibowo. Aku ingin menceritakan tentang segalanya, tentang pak Wibowo dan ibunya Fania, yaitu Arumi. Namun, aku khawatir jika Fania benar-benar sangat membenci dan tidak bisa menerima pak Wibowo.
Pak Wibowo sudah menjaga Fania setiap hari. Dia sangat mengharapkan putrinya segera sadar. Dia benar-benar menunjukkan keseriusannya untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Dan ... sekarang ... di saat Fania telah sadar, justru pak Wibowo pergi dan tak mengatakan apa-apa tentang dirinya.
"Imania, apa maksud pak Wibowo barusan?" tanya Fania padaku.
Fania menatapku dan Rudi silih berganti. "Dan ... dimana Arka?"
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Keceh Tersayang?
Novel ini akan segera TAMAT, usai masing-masing tokoh mendapatkan kebahagiannya.
So, stay dan ikuti saja, ya?
Sekali lagi, ayo dukung novel ini dengan memberikan kecupan BINTANG LIMA dan VOTE sebanyak-banyaknya agar dapat menduduki peringkat, serta dibaca oleh lebih banyak Readers Mangatoon.
Silakan juga, untuk rajin update Mangatoon ke versi terbaru, ya? Yang tentunya adalah versi terlengkap dengan fitur terbaru juga. Caranya tahu, kan? Cari aplikasi Mangatoon (bukan Noveltoon) di playstore, lalu klik UPDATE.
Bantu juga Author Keceh untuk memenangkan lomba DUBBING WANITA CANTIK! Dengan memberikan LIKE sebanyak-banyaknya. Yang hanya dapat diakses dengan aplikasi Mangatoon versi terbaru.
CARI SAJA NAMA 'KAK THAMIE' di lomba dubbing. Lalu LIKE.
__ADS_1
Thank you ...!