BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Apa Dia Cemburu?


__ADS_3

Pagi kembali menyapa. Ditemani kicau burung yang terdengar ramai sekali. Arka masih tertidur. Aku membiarkannya dalam lelap. Kami tidur di rumah ibu dan ayah kandungku. Niatnya, hari ini aku akan pergi mengunjungi ayah. Jadi, Arka aku tinggal bersama neneknya--ibu kandungku. Dengan semangat aku memasak untuk kubawa ke rumah sakit. Ibu masih belum mau makan. Dan hari ini aku akan membujuknya lagi. Agar ibu mau makan.


Aku pun berangkat naik ojek online. Kutenteng rantang berisi nasi dan lauk pauk. Sesampainya di sana, kulihat ibu baru keluar dari ruangan tempat ayah di rawat. Ibu duduk menunduk, seraya merapikan rambutnya yang tak terurus, dengan kedua tangannya. Memperhatikan ibu mertuaku yang saat ini, cukup menyayat hatiku.


Tiga hari ayah sudah di rawat di rumah sakit. Dan selama itu, ayah masih belum sadar. Yang saat ini kukhawatirkan adalah kondisi ibu mertuaku. Tubuhnya terlihat kurus dan lemah. Wajahnya pucat, matanya cekung. Entah bagaimana caranya membujuk ibu agar mau makan.


Pantang menyerah, aku kembali membujuk ibu. Kubawakan tumis kangkung dan perkedel untuknya. Ibu selalu menyukai tumis kangkung dan perkedel buatanku. Aku pun menghampiri ibu dan duduk di sebelahnya.


"Ibu ... makanlah terlebih dahulu. Jika ibu sakit, siapa yang akan menjaga ayah?" bujukku.


"Tidak, Ima. Ibu tidak lapar." Lagi-lagi ibu menolak.


"Ibu ... aku mengerti perasaan ibu. Tetapi, bagaimanapun ibu harus sehat. Ibu harus tetap mendoakan ayah. Ibu harus sabar. Jangan terus menyalahkan mas Bastian, Bu. Ini semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Tugas kita hanyalah menjalani dan pantang menyerah."


Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ima ... maafkan ibu. Ibu selalu saja merepotkanmu."


"Sst ... jangan bicara begitu, Bu. Ini sudah kewajibanku sebagai seorang anak."


"Ima? Puteraku bodoh sekali! Tidak bisa menjaga wanita setulus dirimu!"


"Ibu? Jodoh adalah kehendak Tuhan. Jika kami berjodoh, kami pasti bersatu kembali."


Aku kembali membujuk ibu untuk makan. Kubuka rantang tersebut, menaruh nasi dan lauk di atas piring, kemudian kusuapi ibu. "Kumohon ... makanlah. Biar aku suapi. Aku tidak tahu kapan aku harus pergi. Maka dari itu, izinkan aku menyuapinya, Ibu."


Dengan segenap perjuangan untuk membujuknya, akhirnya ibu mau membuka mulutnya. Aku pun tersenyum senang. Saat itu juga, mas Bastian datang menghampiri kami. Mas Bastian duduk di sebelahku. Ia terus memperhatikan kami.


"Kamu mau makan, Mas?" tawarku.


"Aku sudah makan."


"Kapan?"


Mas Bastian terdiam sesaat, lalu menjawab. "Tadi, di kantin."


Aku melihat sinar kebohongan di matanya. Jadi, setelah menyuapi ibu, aku langsung menawarinya makan.

__ADS_1


"Mas, ini, makanlah!" Seraya menyodorkan rantang berisi nasi dan lauk pauk tersebut.


"Aku tidak lapar!"


"Mas? Aku sengaja memasak ini untukmu dan ibu."


Mas Bastian terdiam lagi. Aku tahu, dia sebenarnya lapar. Tapi dia ingin menghukum dirinya sendiri. Mas Bastian pun menatapku, lalu melirik rantang yang masih berada di tanganku. Perlahan ia gerakkan tangan itu untuk meraih rantang tersebut dariku, tapi ....


Seseorang lebih dulu meraih rantang tersebut. "Wow! Ini apa?"


Aku mengembus kesal padanya. "Kembalikan!" Seraya mengulurkan tanganku.


"Ini untuk siapa?"


"Untuk suamiku, lah!"


"Tidak, aku tidak lapar!" Mas Bastian berubah pikiran lagi. Ini semua gara-gara Dimas.


"Kalau begitu, ini untukku saja." Dimas dengan seenaknya mengambil rantang tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" Ibu bertanya.


"Tapi, lama sekali. Sudah tiga hari dia belum makan ataupun minum," keluh ibu.


"Ibu ... Ima yakin, ayah akan mampu melewatinya." Aku menggenggam tangan ibu erat. Namun, ia beranjak pergi. Aku tidak tahu ibu mau ke mana. Dia kembali diam. Tanpa sepatah katapun.


Setelah ibu beranjak, Dimas langsung mengambil duduk di sebelahku. Ia mulai membuka rantang tersebut.


"Bisa tolong pegangkan ini?" Dimas menyodorkan kembang rantang itu padaku.


"Kenapa? Tadi kau bilang, kau mau?"


"Pegangkan sebentar!" suruhnya. Akupun menurut saja.


"Sebentar lagi, aku akan ada operasi. Bisa tolong suapi aku sebentar saja?"

__ADS_1


Aku terkejut mendengarnya. Begitupun mas Bastian, yang sedari tadi memperhatikan kami.


"Apa kau gila? Ini rumah sakit. Tempat umum! Kau ingin mempermalukan diriku?"


"Aku juga ikut andil dalam kesembuhan ayah mertuamu itu. Apa kau tidak mau membantuku? Aku lapar sekali!"


"Bukankah itu sudah tugasmu sebagai seorang dokter?"


"Oh, ayolah! Aku tidak punya banyak waktu. Cepat suapi aku!" Dia pun membuka mulutnya, mengarahkannya padaku. "Aa ...?"


"Ish!" Aku mengumpat dalam hati. Menyebalkan! Sedangkan mas Bastian diam saja. Mungkin, dia sadar, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi, dia membiarkan kelakuan nyeleneh Dimas.


"Tanganku harus tetap steril. Oh, ayolah? Aa ...?"


Dengan terpaksa, aku pun menyuapinya. Dia tersenyum, seraya memainkan kedua alis tebalnya ke arah mas Bastian.


"Masakanmu enak! Besok, bawakan aku lagi, ya? Apapun masakanmu, pasti kumakan!" katanya.


Aku kembali menyuapinya. "Cepatlah! Malu dilihat orang!"


Dia pun kembali membuka mulutnya. Mas Bastian berdiri seraya mengepalkan tangannya. Kemudian pergi meninggalkan kami. Aku tidak tahu apakah mas Bastian marah. Tetapi untuk apa dia marah? Bukankah dia tidak mencintaiku? Sedangkan Dimas hanya tertawa melihat mas Bastian pergi.


"Lelaki bodoh!" umpatnya.


-- BERSAMBUNG --


___________________________________________


Wow! Ada apa dengan Bastian?


Pokoknya, jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA, YA?


Nanti malam Author janji bakal UP lagi yang banyak. Jadi, tungguin, ya?


Author hari ini ada urusan penting. Tetapi kalian juga penting, kok, buat Author? (ceileh so sweet).

__ADS_1


Tungguin, ya?


Thank You ....


__ADS_2