
Hola, penduduk Keceh ...?
Sebenarnya ini up dijadwalkan siang, tetapi berhubung sekarang sedang bulan puasa (bagi yang menjalankan), dan karena ada sedikit adegan FANAS!! So, Author Keceh UP malem hari, ya?
Warning! Untuk di bawah para Keceh under 21+ disarankan untuk skip Episode ini, ya?
Oh, ya, nanti pukul sembilan UP lagi.
Happy reading, gaes!!
_____________________________________________
Dua Minggu lagi, kami akan menikah. Dan hari ini, Dimas mengajakku untuk membuat undangan pernikahan, sekaligus foto pre-wedding. Aku mengajak Fania juga untuk ikut.
Aku dan Fania keluar dari kamar, usai rapi dan wangi. Dimas yang tengah menungguku di ruang tamu pun pamit untuk mengajakku pergi.
"Hari ini, ayah masih membiarkan kalian bepergian. Tapi mulai Minggu besok, kalian hanya boleh di rumah. Tidak baik untuk calon pengantin bepergian menjelang hari-H pernikahan." Ayah menasihati kami sebelum pergi.
"Iya, Ayah," jawab Dimas sembari mencium punggung telapak tangan ayah.
"Hati-hati di jalan, ya, Nak?" pesan ibu.
"Iya, Bu," jawabku sembari mencium punggung telapak tangannya.
Kami pun berangkat menuju tempat percetakan terlebih dahulu. Sesampainya di sana, kami memilih undangan yang didesain sesuai selera yang kami inginkan. Kami diminta untuk mengambil foto berdua, untuk dicetak ke undangan pernikahan kami. Kebetulan juga kami akan mengambil foto pre-wedding, jadi, usai memilih desain yang pas, kami langsung pergi ke tempat photo studio.
Sesampainya di tempat pre-wedding, kami langsung dilayani dengan sangat baik, karena Dimas memang sudah mengontak pihak pengurus pre-wed terlebih dahulu. Fotografer kami sudah siap, begitupun dekorasi dan gaun yang akan kupakai.
"Silakan, mau pilih yang mana dulu." Seorang wanita yang mengurus pre-wed kami pun menunjukkan beberapa helai pakaian dan gaun pre-wed kepada kami.
"Aku mau pakai yang ini dulu," kata Dimas sembari menunjuk pakaian dokter dan suster.
"Fania, kau tunggu di sini saja, ya? Aku mau ganti pakaian dulu," ucapku kepada Fania yang tengah duduk cemberut di sofa ruang pre-wed.
"Hm ...."
Aku dan Dimas segera mengganti pakaian ala dokter dan suster. Kami pun mengambil beberapa foto. Ada pose-pose yang mesra, seperti Dimas melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, dan kami saling menatap dalam, dengan satu tanganku menyentuh dadanya, satunya lagi menyentuh pipi tampannya.
Selain itu, kami juga berpose konyol, dengan Dimas menempelkan stetoskop ke dahiku dan aku berekspresi cemberut seperti sedang ngambek. Ada juga yang tengah membawa jarum suntik dan menghadapkan jarum itu ke hatiku. Sedangkan aku meletakkan stetoskop ke dahinya. Pokoknya banyak, deh, pose mesra dan konyol kami. He-he.
Belum puas dengan pakaian bertema doctor and nurse, kami melanjutkan foto dengan gaun yang sangat indah. Aku memakai gaun berwarna pink lembut yang didesain khusus oleh Ivan Gunawan. Gaun ini melekat indah dan seksi di tubuhku, karena memang sengaja dibuat membentuk postur tubuh barbie. Ketat di bagian atas, dengan rok mengembang. Sedangkan Dimas memakai setelan jas warna pink senada dengan gaun yang kupakai.
Riasan make up di wajahku pun disesuaikan lagi. Kami berpose dengan sangat romantis. Beberapa pose berhasil diambil oleh sang fotografer terkenal dan profesional Indonesia, yaitu Stanley Allan. Saat berada di pose terakhir, Dimas memeluk pinggangku erat, kedua tanganku mengalung di lehernya, dengan tatapan yang sangat romantis, tiba-tiba dia mencium bibir warna peach-ku di depan kamera. Aku pun terbelalak dengan apa yang Dimas lakukan.
__ADS_1
Jepret!
Gambar sudah berhasil diambil oleh Allan. Aku hanya bisa tersenyum malu melihat ekspresi para crew pre-wed. Sepertinya kedua pipiku semakin bersemu merah. Semua orang bertepuk tangan atas kelancaran proses pre-wedding kami.
Aku dan Dimas segera mengganti pakaian. Melihat hasil jepretan Stanley Allan, memang tidak diragukan lagi. Dia sudah sangat piawai dalam hal jepret-menjepret. Di ruang ganti, aku langsung melepaskan kerudung yang menutup kepalaku. Betapa terkejutnya, tiba-tiba Dimas masuk dan menutup pintunya, memeluk tubuhku dari belakang.
"Dimas, lepaskan! Apa yang kau lakukan?" desisku lirih.
"Aku masih ingin memelukmu."
Dimas meletakkan kedua tangannya di pinggangku. Kemudian diletakkannya kepalanya ke pundakku. Ia berbisik, "Kau sangat cantik."
"Dimas, aku mau menggganti pakaian."
"Biar aku membantumu," bisiknya lagi.
"Dimas, jangan macam-macam. Kita belum halal."
Terdengar ketukan pintu.
"Mbak Imania? Apa kau di dalam?"
"I-iya?" jawabku gugup.
"Tidak mau!"
"Apa kau kesulitan untuk membuka gaunmu?" seru wanita yang turut andil meriasku tadi.
"Ah, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri, kok?" jawabku.
"Em ... baiklah kalau begitu. Jika butuh bantuan, panggil aku saja, ya? Aku stand by di sini," ucapnya dari balik pintu.
"I-iya," jawabku tak lepas dari perasaan gugup.
"Tenang saja. Ada aku di sini yang akan membantunya melepaskan gaun. Kau pergi saja," ucap Dimas yang membuatku sangat terkejut.
Rasanya malu sekali. Pasti, wanita yang berada di luar pintu tadi akan berpikiran yang tidak-tidak. Ah, ini memalukan.
"Ah, iya, ha-ha. Baiklah, aku pergi."
Suara langkah kaki wanita itu menjauh dari tempat ganti.
"Dimas, kau membuatku malu!" omelku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Biarkan saja."
"Dia akan berpikir macam-macam tentang kita."
"Berpikiran apa?" Dimas mengeratkan pelukannya. Membuat tubuh kami menempel tanpa celah.
"Dimas ...." Aku merinding ketika tangan Dimas menyentuh tengkukku. Kemudian melepaskan ikat rambutku.
"Biarkan tergerai seperti ini." Dimas menyibakkan rambutku ke bahu sebelah kiri.
"Dimas, apa yang akan kau lakukan?"
Dimas meraih daguku dengan tangan kanannya, menghadapkan wajahku ke wajahnya. Mata elangnya menatapku lembut. Tangan kirinya melingkar di pinggangku. Ia mencium bibirku sembari memelukku dari belakang.
Sesuatu yang lembut berhasil menempel di bibirku. Menyapu dan menggigit sedikit bibir ini dengan gemas. Kemudian menyusuri setiap jengkal rongga mulutku dengan Indra pengecap rasa. Deru napas kami mulai saling memburu. Kupejamkan kedua mataku menerima setiap kelembutan yang terus mengalir, membuat jiwa ini terasa memanas.
Dimas melepaskan tangan kanannya dari daguku, lalu membelai lembut leher jenjangku dari atas ke bawah. Sembari bibir kami saling melekat, tangannya perlahan turun membelai daerah dadaku yang sedikit menampakkan belahan bukit kembar bila tanpa tertutup kerudung.
Detak jantungku berdetak tak beraturan. Diiringi panas yang terus mengalir bak aliran listrik yang terus menyengat, menyebar ke seluruh tubuh. Rasanya seperti ... gemetar ... terbakar oleh rasa yang tak dapat diuraikan.
Kubuka sedikit kelopak mataku, menerawang wajah tampan yang tampak sayu memandangku. Tiba-tiba kurasakan tangan kirinya menurunkan resleting gaun dari punggungku. Pelan-pelan kurasakan punggungku terbuka seluruhnya. Tanpa melepaskan bibirnya, ia membelai lembut punggungku dari atas ke bawah, hingga terasa bulu-bulu romaku berdiri semua.
"Emph ...." Aku hendak melepaskan bibirnya, tapi Dimas semakin menekankan bibir itu lebih dalam.
Saat tangannya mulai semakin nakal untuk menyentuh bagian depan dadaku yang masih tertutup gaun, kesadaranku terbuka seluruhnya. Kudorong tubuhnya sedikit kasar.
"Dimas, jangan!"
Dimas sedikit terhuyung tetapi tidak jatuh. Ia menarik napas dalam untuk mengembalikan kesadarannya. Kemudian meremas rambutnya sendiri, seperti tengah menyesali apa yang barusan ia lakukan.
"Maafkan aku, Nia ...."
Aku memandangnya sembari melangkah mundur, menempelkan punggungku ke dinding, menutupi bagian punggungku yang telah terbuka.
Dimas mendekat padaku dan meraih jemari tanganku. "Maafkan diriku, Nia. Aku sudah terbakar gairah sejak berpose tadi."
Aku menatapnya bergeming, antara menyesal telah membiarkannya larut dalam gairah dan malu karena membiarkan dia menyentuhku berlebihan.
"Maafkan aku ...." Dimas mencium punggung tanganku lembut. Kemudian menyibakkan beberapa helai rambut dari wajahku. "Aku akan sabar menunggu hingga waktu itu tiba."
Dimas segera menjauh dariku, melepaskan jas pre-wedding-nya, dan dengan cepat memakai kembali pakaiannya. Lalu meninggalkanku di ruang ganti. Aku mengerti, dia pasti merasa sangat bersalah telah melakukannya tadi.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1