BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Aku Rapuh Serapuh-rapuhnya


__ADS_3

"Dimas."


Dimas melepaskan tangan Nessa yang mengalung di lengannya. Dimas segera melangkah ke arahku, tetapi Nessa menarik lengan Dimas, menahan langkahnya. Dan Dimas pun berhenti. Ia menatap Nessa sesaat, kemudian menatapku.


Aku segera memalingkan pandangan. Beranjak menuju kasir dan membayar seluruh belanjaanku. Fania pun menghampiriku, dan usai membayar seluruh belanjaan, kami segera menemui Arka dan Rudi di playground.


"Imania, ada apa denganmu?"


"Aku ingin pulang."


Kupercepat langkah untuk mengajak Arka dan Rudi pulang.


"Hei!" Fania menahan lenganku. Lalu menghadapkan wajahku padanya.


"Kau menangis? Ada apa?"


Kuusap wajahku yang basah. Aku sudah mencoba menahannya, tapi tak bisa.


"Aku mau pulang."


"Tapi kenapa? Apa yang terjadi?"


Kusingkirkan tangan Fania dari lenganku. Kuserahkan belanjaanku pada Fania. Dan aku lebih mempercepat langkah.


Kebetulan Arka dan Rudi baru keluar dari playground. Kami pun segera keluar dari mall ini dan masuk ke dalam mobil.


Rudi yang sedari tadi memperhatikanku pun sepertinya menangkap sesuatu hal yang tengah terjadi padaku. Setiap air yang terus meluncur dari mataku langsung kuusap. Berusaha menutupi kepedihan hatiku. Tetapi tak bisa. Ini terlalu sakit.


Dia membatalkan janjinya untuk mengajakku jalan-jalan. Dia bilang karena ada urusan penting. Dan aku mempercayainya. Mengapa aku sebodoh ini? Sampai kapan hatiku terluka? Bahkan, ini terasa sangat memuakkan.


Sepenting itukah Nessa? Sehingga Dimas tega membohongiku. Aku tidak bisa terus seperti ini. Sudah cukup, Dimas!


"Imania, apa kau baik-baik saja?" tanya Rudi yang tengah melajukan mobilnya.


"Aku baik-baik saja, Rud."


"Mampir ke restoku dulu, ya?"


"Terima kasih, Rud. Tapi aku mau pulang. Aku mau istirahat."


"Oh, baiklah."


Rudi mengantarkan kami pulang. Setelah itu, Rudi pun segera pamit.


***


Pukul delapan malam. Arka sudah tidur. Dan Fania sedang asyik makan snack di sofa. Sedangkan aku memilih duduk di balkon, menghirup udara segar. Hatiku masih sesak mengingat kejadian tadi di mall.


Nessa menggandeng lengan Dimas begitu mesra. Dan Dimas membohongiku. Ini menyakitkan.


"Imania, kau tidak mau mencoba snack ini? Ini enak, loh?" seru Fania dari dalam.


Aku tidak menjawab. Aku masih sibuk menetralkan hatiku.


Kalian tahu? Lebih berat mana antara mencintai dan memiliki? Bagiku, mencintai itu sama sulitnya dengan memiliki. Karena semakin ke sini, aku semakin merasa tidak pantas bersanding dengannya.


Aku duduk sendiri di balkon. Kubiarkan angin malam berembus kencang menerpa tubuhku. Agar jiwaku merasakan dingin, di antara panas yang membakar hatiku.


Waktu semakin larut. Tak terdengar lagi suara Fania yang mengunyah snack. Dan tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke halaman rumahku. Aku pun segera beranjak untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini. Dari balkon, kulihat mobil berwarna hitam tersebut.


Dimas. Ya, itu Dimas. Aku segera beranjak menuju kamar. Saat melewati sofa, kulihat Fania sudah tertidur di sana. Ah, biar saja.


Di dalam kamar, aku langsung mengunci pintu. Kumatikan lampu kamarku. Dan bergegas tidur. Aku tahu mengapa ia datang. Pasti untuk meminta maaf. Ah, biarlah. Tidak akan kubuka pintu untuknya.

__ADS_1


Ting-tung!


Terdengar bunyi bel berkali-kali. Kubungkus tubuhku dengan selimut. Aku tidak akan bicara lagi dengannya.


Akan tetapi, tidak begitu lama, terdengar bunyi langkah kaki seseorang. Apa itu Fania?


Tok-tok-tok!


Pintu kamarku diketuk. Aku masih berpikir, tentang siapa yang datang.


Ceklek!


Seseorang membuka pintu tersebut dengan kunci. Aku menjadi panik. Apa itu ... Dimas. Bukankah dia punya kunci rumah ini juga?


Dalam gelap, terdengar suara langkah kaki seseorang menghampiriku. Aku yakin, itu Dimas. Aku akan pura-pura tidur.


Tiba-tiba sebuah tangan membelai lembut wajahku. Itu membuatku membuka mata. Dan sebuah ciuman lembut mendarat di bibirku. Sontak kudorong tubuhnya.


Dalam gelap, aku berusaha untuk beranjak dari kamar. Tapi tiba-tiba lampu kamarku menyala. Dan benar saja. Dimas sudah berdiri dengan tangan menyentuh saklar lampu.


"Mau ke mana, Sayang."


"Untuk apa lagi ke sini?" tanyaku dengan dingin.


Dimas pun menghampiriku.


"Aku mau menjelaskan kesalahpahamanmu."


"Siapa yang salah paham?"


Dimas meraih jemariku.


"Maafkan aku, sudah berbohong padamu."


"Nia, andai kau tahu, tentang apa yang terjadi pada Nessa. Tentu kau akan memahamiku. Itulah alasan, mengapa aku masih bersamanya sampai saat ini."


Kulepaskan tanganku dari genggamannya. "Apa aku harus selalu memahamimu?"


"Tidak banyak, Nia. Cukup mengerti betapa sulitnya aku meninggalkan Nessa."


"Apa yang menyulitkanmu?"


"Aku tidak bisa mengatakannya."


"Kalau begitu tinggalkan aku!"


"Aku tidak bisa. Aku bisa mati tanpamu, Nia."


"Bukankah ada Nessa? Kalian serasi. Tidak usah menggangguku lagi!"


Dimas meletakkan kedua telapak tangannya ke pipiku. "Nia, aku mengerti perasaanmu. Tapi ... aku ... aku hanya mencintaimu."


"Kalau begitu, tinggalkan Nessa. Menikahlah denganku!"


"Nia, aku akan menikahimu. Tapi tidak untuk sekarang."


Aku melepaskan tangan Dimas dari wajahku. Kutatap mata elang itu dalam-dalam. Kuhela napas panjang. Dengan menahan rasa sesak di dada, aku berkata, "Dimas, aku mau putus!"


Dimas terbelalak kaget mendengar pernyataanku. "A-apa barusan kau bercanda, Nia?"


"Aku mau putus!"


Dimas meraih pundakku erat. "Nia ... kau tidak serius mengatakan ini, bukan?"

__ADS_1


Aku kembali menghela napas. Dan dengan mata yang sudah basah, aku kembali mengatakan padanya, "AKU MAU KITA PUTUS!"


Untuk beberapa detik, Dimas menatapku bergeming. Mata elangnya memastikan sesuatu yang terpancar jelas dari kedua mataku. Seperti sedang mencari-cari, adakah yang salah denganku.


"Kau bohong, Nia. Kau tidak serius mengucapkannya, bukan? Kau ... kau tidak bisa memutuskanku. Aku ... aku sudah menantimu bertahun-tahun dalam kepedihan, Nia. Aku menunggumu bercerai dari Bastian. Dan kini ... kini kita hanya tinggal melangkah lebih jauh," tutur Dimas seraya menggoyangkan punggungku.


"Tapi sayangnya, kita masih di titik yang sama. Kau sama sekali tidak pernah menunjukkan, bahwa kau benar-benar ingin melangkah lebih jauh."


Dimas menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Jangan pergi dariku, Nia. Sungguh ... aku bisa gila tanpamu."


Kusingkirkan tangan Dimas dari pundakku. "Aku lelah dengan hubungan kita yang tak pasti. Aku wanita biasa, bukan malaikat. Dan aku bukan bonekamu, yang bisa kau perlakukan apa saja. Aku manusia biasa, punya batas kesabaran. Aku ...." Kuseka kembali wajahku yang terus berderai air mata.


"Nia, kumohon ... beri aku waktu."


"Dengar!" Kuacungkan telunjukku di depan wajahnya. "MULAI SEKARANG, KITA PUTUS!!"


Dimas merapatkan rahangnya. Menahan sesuatu yang sepertinya ingin terucap. Mata elangnya memerah, menahan bulir-bulir bening yang sudah memaksa untuk tumpah.


"Pergilah!" usirku. "Jangan temui aku lagi!"


Tanpa berkata-kata, Dimas langsung mendorong tubuhku ke dinding. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuhku. Dengan penuh amarah, ia mencoba mendekatkan bibirnya pada bibirku.


Plak!


Sontak kulayangkan tamparan ke wajahnya.


Dimas semakin menatapku tajam. Tangannya mencekal kedua pergelangan tanganku, memakunya ke dinding. Lalu, ia kembali mendekatkan bibirnya.


"Aku sangat membencimu!" ucapku seraya memalingkan wajahku yang berlumuran air mata.


Dimas meremas pergelanganku erat. Jarak wajah kami sangat dekat. Tetapi ia berhenti. Ia tetap menatapku bergeming.


"Menjauhlah dariku! Lupakan aku! Dan aku akan segera menghapusmu dari ingatanku!"


Kulirik wajah Dimas yang sudah basah. Dan ini adalah kali pertama, aku melihatnya rapuh. Kali pertama melihatnya menangis.


"Hubungan kita sudah berakhir. KITA PUTUS!!"


Dimas melepaskan tanganku perlahan. Untuk sesaat, ia terisak di depanku. Namun ia segera beranjak pergi meninggalkanku. Ia keluar dari kamarku dengan langkah cepat. Dan kini giliranku yang terisak di dalam kamar.


Ini menyedihkan. Kami sudah berjuang melawan berbagai macam ujian dalam hubungan kita. Dan semua bukanlah langkah yang mudah. Aku meratapi kepedihanku. Mengapa harus berjumpa, bila akhirnya harus berpisah. Mengapa harus mencintai, bila akhirnya terluka.


Kuluruhkan tubuhku, hingga terduduk di atas lantai. Kupeluk lutut, memasukkan wajahku ke dalam pelukan. Kubiarkan mata dan hatiku mengeluarkan segenap emosi. Bahwa aku sedang sangat rapuh, serapuh-rapuhnya.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Readers Keceh masih setia, ya?


Ini menuju ending, loh. Kalian wajib tahu endingnya.


Episode selanjutnya, besok, Author Keceh akan membuka alasan, mengapa Dimas tidak bisa meninggalkan Nessa.


So, stay on!


Jangan lupa FOLLOW DAN MASUK GRUP. Ikuti GIVE AWAY VOTING, ya?


Jangan lupa VOTE sebanyak-banyaknya!


Yuk, ah, kasih dukungan ke Author Keceh!


Tiga pemenang VOTE akan mendapatkan HADIAH. PLUS tiga pemenang KOMENTAR TERKECEH.

__ADS_1


Thank You, and LOVE YOU ...! 😘


__ADS_2