BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Keluar Dari Lapas


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, dan aku sudah berdandan rapi, siap berangkat ke lapas, menjemput sahabatku, Fania. Sekertaris Ve bilang, dia dan pengacaranya sudah mengurusnya dengan cepat.


Sembari aku menunggu sekertaris Ve. Dimas mengirimiku pesan.


[Kau berangkatlah dengan sekertaris Ve. Nanti aku menyusul. Maaf ... karena tidak bisa menjemputmu. Pukul delapan nanti, aku harus melakukan operasi pasien.]


[Tidak apa. Bekerjalah dengan baik, Sayang.]


[I love you, Nia.]


[I love you too.]


Ibuku yang baru masuk ke rumah, sepulang berbelanja sayur bertanya padaku, "Loh, kok, enggak pakai seragam kerja?"


"Iya, Bu. Aku akan ...." Loh, bukankah ibuku tidak tahu bahwa Fania terjerat kasus? "Ah, ma-maksudku hari ini boleh memakai pakaian bebas," jawabku.


"Oh ...."


Mobil sekertaris Ve terdengar datang. Aku pun beranjak dari sofa ruang keluarga.


"Ibu!" Aku berbalik sebentar. "Arka masih tidur. Tolong, urus Arka, ya, Bu."


"Bukankah biasanya memang begitu?" kata ibu seraya tersenyum. "Tenang saja."


"Terima kasih, Bu."


Dengan semangat, aku keluar dari rumah dan menuju mobil sekertaris Ve. Aku langsung masuk dan mendapati sekertaris Ve sedang menatapku.


"Kau tampak begitu semangat," katanya.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Fania."


"Baiklah, mari meluncur!" kata sekertaris Ve sembari menghidupkan mobilnya.


Kami pun melesat menuju lapas, tempat Fania ditahan. Sesaat aku memperhatikan wajah sekertaris Ve, ada yang berubah menurutku.


"Ada apa memperhatikanku begitu?" tanya sekertaris Ve heran setelah memergokiku yang tengah mengamatinya.


"Ada yang berbeda dengan tampilanmu hari ini," ujarku.


"Oh, ya? Coba tebak!"


"Kau mengganti warna lipstikmu kah?" tanyaku.


"Ya, kau benar. Ternyata kau begitu memperhatikanku, ya," jawabnya seraya tersenyum.


"Tumben," ujarku lagi.


"Imania, biar kuceritakan kejadian kemarin di lapas. Itu sangat memalukan."


"Kenapa, Kak Ve?" tanyaku penasaran.


"Saat aku mengunjungi Fania. Tiba-tiba dia berkata padaku, 'Wah, serigala betina habis makan mangsa lagi rupanya', begitu. Seluruh polisi jadi terfokus pada bibirku. Mereka langsung menertawaiku. Itu memalukan!" papar sekertaris Ve kesal.


Aku tertawa mendengarnya.


"Ada lagi. Fania juga mengataiku 'Hei, serigala betina! Pakaianmu itu tidak pantas dibawa ke sini. Kulit keriputmu juga sudah terlihat jelas! Kau tidak pantas berpakaian seseksi itu lagi. Berpakainlah sesuai umur, Nyonya!' Begitu dia mempermalukanku. Menyebalkan!" jelas sekertaris Ve dengan kesal.


Sekertaris Ve pun bercerita sepanjang perjalanan, tentang tingkah Fania di lapas. Sekertaris Ve bilang, Fania tidak mau makan dari makanan yang disediakan oleh polisi. Fania pun meminta sekertaris Ve untuk membelikannya makanan yang enak-enak.


Fania juga sempat mengerjai polisi di sana. Begitu banyak ide konyol Fania untuk membuat para polisi kewalahan menanganinya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, kami pun sampai di lapas. Kami turun dan langsung menuju tempat Fania ditahan.


"Kak Ve." Aku menahan lengan sekertaris Ve yang berjalan di sebelahku.


"Ya."


"Kau serius, Fania boleh pulang hari ini juga?"


"Kenapa?" Sekertaris Ve malah balik bertanya.


"Bukankah kasus Fania begitu cepat?" ujarku.


"Semua beres, asal ada keuangan yang maha kuasa, ha-ha!"


Aku mengangguk mengerti. Kami pun kembali berjalan menuju tempat Fania ditahan polisi. Sesampainya di sana, mataku langsung mencari-cari Fania. Satu per satu sel kuselidiki, tapi tidak ada Fania di sana.


"Kamu mencari siapa?" tanya sekertaris Ve seraya tersenyum.


"Di mana Fania?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Dia tidak ada di sel.”


"Lalu di mana?" tanyaku bingung.


Sekertaris Ve mengajakku ke sebuah ruangan. Di sana terdapat seorang polisi yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Pagi, Pak Polisi," sapa sekertaris Ve, lalu duduk di kursi depan meja polisi tersebut.


"Pagi, Nyonya," balas polisi tersebut.


Aku mengamati wajah polisi tersebut sepertinya tidak asing bagiku. Tapi siapa? Aku kembali mengingat-ingat, tapi tiba-tiba ....


"Hei, Nona!" Polisi tersebut memanggilku.


Aku menatapnya heran. Wajahnya ... sepertinya aku pernah melihatnya.


"Kau bukankah pacarnya dokter Dimas, ya?" tanya polisi tersebut.


Bagaimana dia tahu? Oh, iya! Dia, kan, temannya Dimas yang waktu itu. (Episode 21)


"Kau, polisi yang waktu itu, ya?" tanyaku setelah mengingatnya.


"Apa kabarmu?" tanyanya seraya tersenyum.


"Baik, Pak Fadil. Kau apa kabar?"


"Sangat buruk," jawabnya.


Aku menatapnya heran lagi. Dia terlihat sehat, tapi dia bilang dalam keadaan yang buruk? Sebentar ... tapi mata Fadil memang tampak sayu, seperti orang kelelahan atau orang yang tidak tidur semalaman.


"Fania sangat membuatku pusing. Sampai-sampai aku berharap agar dia segera bebas," katanya.


"Benarkah?" tanyaku terkejut. "Apa yang dia lakukan pada Anda?"


Fadil hanya mengisyaratkan pandangannya ke sebuah kasur yang berada di ruangan ini. Aku pun menatap sebuah kasur di sisi ruangan. Ada seseorang yang tidur di sana seraya membungkus dirinya dengan selimut.


"Apa itu Fania?" tanyaku bingung.


Fadil hanya mengangguk.


Aku langsung menghampiri Fania. Aku menarik selimutnya. Dan benar, Fania tidur di kasur itu. Perasaan bahagia bercampur haru bisa menemuinya lagi.


Aku kembali teringat kata-kata Dimas. (Episode 130)


"Aku masih mengantuk!" Fania menarik selimut itu kembali.


Aku pun menahannya, dan langsung memeluknya erat-erat. "Fania, aku bersyukur sekali kau masih hidup."


"Hei!" Fania mencoba melepaskan pelukanku. Namun aku semakin mengeratkannya.


"Aku sangat merindukanmu,” ucapku seraya terisak. Aku tak dapat menahan bulir-bulir kebahagiaan dari mataku.


Fania membuka matanya, ia menatapku. "Lepaskan!"


Aku pun melepaskan pelukan. Ada apa dengan Fania? Apa dia marah gara-gara aku sempat tidak mempercayainya? Dengan air mata yang terus bercucuran, aku menatap Fania cemas. Aku takut dia membenciku, karena sikapku waktu itu.


Fania pun menanggalkan selimut dari tubuhnya, kemudian duduk berhadapan denganku.


"Fania, maafkan aku ... waktu itu ...."


Fania hanya menatapku datar. Dengan rambut yang acak-acakan. Fania menguap dan terus menatapku dengan tatapan datar.


"Fania ...."


Tiba-tiba saja Fania memelukku dengan erat. Sontak aku terkejut.


"Aku juga sangat merindukanmu. Berapa banyak kau menangis setelah kepergianku?" tanyanya.


Aku tidak menjawabnya. Aku hanya membalas pelukannya erat.


"Terima kasih ... kau sudah mengkhawatirkanku sampai sakit pula," katanya lagi.


Aku melepaskan pelukannya, menatapnya bingung. "Darimana kau tahu?"


Fania melirik seseorang yang duduk di hadapan polisi. "Serigala betina itu yang menceritakan tentangmu."


Sekertaris Ve mengerucutkan bibirnya. "Dasar gadis tidak tahu berterima kasih!"


Aku dan Fania saling menatap. Ia mengusap wajahku yang basah. "Jangan cengeng! Aku lapar!"


Aku tertawa seraya menitikkan air mata. "Apa makananmu enak di sini?"

__ADS_1


"Bagaimana tidak enak? Aku harus bolak-balik mengantarkannya makanan yang kubeli dari restoran!" sahut sekertaris Ve masih dengan mimik kesalnya.


Aku tersenyum mendengarnya. "Bagaimana tidurmu, apakah nyenyak?" tanyaku lagi pada Fania.


"Bagaimana tidak nyenyak? Selama tiga hari di sini, dia hanya makan dan tidur! Aku yang harus selalu menjaganya karena tidak mau diborgol! Aku pun tidak tidur selama tiga malam. Aku sungguh berharap dia cepat keluar dari sini. Sangat merepotkan!" keluh Fadil.


Aku tertawa mendengar penuturan Fadil. Itu berarti, Fania tidak diperlakukan seperti tahanan pada umumnya. Bahkan, dia seperti ratu di sini.


"Jika saja Dimas tidak memintaku berlebihan terhadapnya. Namun, Dimas adalah sahabat karibku. Tentu saja, apa yang menjadi titahnya, pasti kulakukan,” tambah Fadil lalu menguap.


"Dan kau tahu? Sejak dia masuk ke sini semua polisi dibuat kerepotan. Minta kasur, minta selimut, minta kipas angin, oh ... lebih baik dia cepat keluar dari sini!" Lagi-lagi Fadil bercerita dengan kesal.


Aku sangat bahagia mendengar semua cerita tentang Fania di sini. Sepertinya, kecemasanku tidak penting lagi. Fania diperlakukan sangat baik di sini.


"Hei, kau tidak dengar, ya? Aku lapar!" seru Fania kepada Fadil. "Mana makananku yang semalam?"


"Tidak ada!" jawab Fadil.


"Apa kau bilang?" Fania langsung beranjak dari kasur dan menghampiri Fadil.


"Tidak ada!"


"Kau memakannya?"


"Iya."


Fania langsung menyeret kerah seragam polisi Fadil. Aku yang terkejut langsung beranjak dan menahannya.


"Fania, apa yang kau lakukan?" Aku menahan lengan Fania.


"Kau memakan makananku?" omel Fania yang mencekal kerah Fadil.


"Fania, aku bisa membelikanku sepulang dari sini. Oh, ayolah!" bujukku.


Fania pun melepaskan tangannya.


"Ya, Tuhan. Seandainya kau bukan temannya Dimas. Mungkin sudah ...," ucap Fadil.


"Sudah apa?" tanya Fania dengan tatapan tajam.


"Pulanglah! Aku sudah tidak tahan kau berada di sini."


"Kau pikir aku betah berada di sini?"


Setelah mereka selesai bertengkar, akhirnya seorang komandan polisi menyatakan bahwa Fania sudah bebas dan boleh pulang. Kami pun keluar dari lapas ini. Dan saat kami baru saja keluar, sebuah mobil muncul. Itu milik Dimas. Ya, Dimas pun turun dari mobil tersebut.


Dengan senyum yang mengembang, Dimas menatap kami bertiga yang berdiri dan menatapnya serentak. Fania tiba-tiba berlari ke arah Dimas. Fania langsung memeluk Dimas erat.


"Hei, Alien Pencopet! Mungkin ini karma karena kau pernah mencopetku," kata Dimas meledeknya.


Fania melepas pelukannya sesaat, memandang Dimas kesal. Namun, dia pun kembali memeluk Dimas dengan erat.


"Apapun kata-katamu itu. Terima kasih ... terima kasih ...."


Dimas pun membalas pelukan Fania. Sesaat aku memperhatikan mereka. Mengapa ada rasa yang aneh di benakku? Mengapa ada sebersit rasa cemburu?


Sekertaris Ve mengusap pundakku pelan. "Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada mereka. Kau tidak perlu cemburu."


"Fania! Apa kau tidak mau berterima kasih padaku?" seru sekertaris Ve.


Fania melepas pelukannya pada Dimas, lalu berbalik memandang sekertaris Ve. "Serigala betina!" ucapnya seraya mengangkat satu sudut bibirnya.


"Bisakah kau memanggilku sopan? Sungguh ... tidak ada akhlak!" balas sekertaris Ve kesal.


"Apa kau tidak memangsa hari ini?"


Sekertaris Ve menyadari warna lipstiknya yang sudah diganti itu. "Aku bernafsu untuk memangsamu hari ini."


Fania pun segera berlari dan memeluk sekertaris Ve. "Serigala Betina!"


"Menjengkelkan!"


"Terima kasih ...."


"Kau bau sekali!" Sekertaris Ve melepaskan pelukannya. "Apa kau tidak mandi sama sekali?"


Fania hanya tertawa. Tapi benar sekertaris Ve. Fania menang bau sekali.


Kami pun segera pergi dari tempat ini. Aku masuk ke mobil Dimas. Sedangkan Fania masuk ke mobil sekertaris Ve. Sebelum pulang, kami akan makan dulu di restoran. Fania sudah sangat lapar katanya.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2