BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Memberi Pengertian Kepada Anakku


__ADS_3

"Arka!" seruku seraya membalikkan badan.


"Mama!"


Arka langsung melepaskan tangannya dari lengan mas Bastian. Ia langsung berlari ke arahku. Aku pun membungkukkan badan untuk memeluknya.


"Mama kangen sama kamu, Nak?"


"Arka juga, Ma?"


Kami saling memeluk. Melepaskan kerinduan. Bak bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Beginilah perasaan seorang ibu yang berpisah sehari semalam dengan anaknya. Masalahnya, bukan soal berapa lama waktu terpisah. Akan tetapi, kehangatan yang tertunda untuk mendekapnya setiap saat. Sungguh ... aku tidak mampu berpisah lama-lama dengan anakku.


"Imania." Suara mas Bastian menghentikantikan diriku yang terus memeluk dan menciumi Arka.


"Iya, Mas," jawabku seraya berdiri.


"Apa kau sudah lama berada di sini?"


Pertanyaan mas Bastian sontak membuatku gugup. "Ah, a-aku baru saja kesini. Kupikir kalian sudah tidur. Jadi ... jadi kami memutuskan untuk pulang. Eh, ternyata Arka belum tidur," jawabku diiringi tawa kecil untuk menutupi rasa gugupku.


"Oh ... pulanglah. Arka sudah mengantuk," katanya.


"Selamat malam, Mas. Terima kasih, sudah menjaga Arka," ucapku seraya melempar senyum.


Mas Bastian hanya menanggapiku dengan seuntai senyuman, yang sepertinya sengaja ia cetak di wajahnya. Kemudian ia masuk, dan menutup pintu tersebut.


Aku sempat memperhatikan wajah mas Bastian. Dia pasti sangat malu, karena aku mengetahui pertikaiannya dengan Bella. Aku menjadi merasa tidak enak hati, karena terkesan menguping pembicaraan mereka berdua.


"Ayo, buruan masuk! Kelamaan kutinggal, nih!"


Suara Fania dari dalam mobil, membuatku cepat-cepat ikut masuk ke dalam mobil.


"Ayo, Arka!"


Kami pun pulang ke rumah orang tuaku.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung mandi. Tubuhku sudah sangat lengket. Begitupun Fania, ia bergantian mandi setelahku. Tumben sekali dia mandi. Biasanya sangat malas bila disuruh mandi.


Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB. Ini sudah terlalu larut untuk ukuran anak-anak tidur. Seperti biasa, kuusap-usap punggung Arka, sembari memijat tubuhnya. Arka sudah menguap berkali-kali. Dia pasti sangat mengantuk.

__ADS_1


"Mama ...," panggil Arka lirih.


"Iya, Sayang. Kenapa?"


"Kenapa Tante Bella tidak menyukaiku?"


Pertanyaan Arka sontak membuatku terkejut. Bagaimana dia tahu bahwa Bella tidak menyukainya? Atau, jangan-jangan, Arka mendengar dan menyaksikan pertikaian antara mas Bastian dan Bella tadi.


"Ah, kata siapa Tante Bella tidak menyukaimu?"


"Tadi Arka mendengar sendiri, Ma? Papa sama Tante Bella bertengkar gara-gara Arka!" terangnya.


Ya, Tuhan .... Jadi, Arka benar-benar mengetahuinya sendiri. Seharusnya, mereka menjaga sikap terhadap anak-anak. Kasihan anakku. Dia pasti sangat sedih.


"Oh ... mereka tidak bertengkar, kok? Mungkin Papa sama Tante Bella sedang membicarakan tentang sesuatu hal yang lain." Aku mencoba memberi pengertian kepada Arka.


"Tapi, Ma? Tadi Arka jelas-jelas mendengar sendiri. Tante Bella menyuruh Papa untuk memulangkan Arka," katanya sedih.


Aku memeluk tubuh Arka yang berbaring di sampingku. Kuelus rambutnya. Aku pun menatap mata Arka dengan lembut.


"Sayang ... kalau misalnya, Arka berkunjung ke rumah teman. Terus teman Arka meminta Arka untuk pulang. Apakah itu berarti, teman Arka benci sama Arka?" tanyaku lembut.


"Sayang ... mungkin saja teman Arka itu lelah. Mungkin juga ingin istirahat, tanpa terganggu dulu. Sama seperti Tante Bella. Mungkin, Tante Bella ingin istirahat. Arka tahu, kan? Di dalam perut tante Bella itu ada dedek bayi. Jadi ... Tante Bella harus banyak-banyak istirahat, agar dedeknya tumbuh sehat dan kuat. Arka mau, kan lihat dedek bayinya Tante Bella nanti kalau sudah lahir?" Aku menasehatinya dengan hati-hati, agar Arka tidak memiliki perasaan sedih dan merasa dibenci. Itu tidak akan baik untuk perkembangan mentalnya.


"Arka tidak ingin melihat dedek bayinya Tante Bella! Arka mau punya dedek sendiri! Arka ingin Mama juga hamil, seperti Tante Bella!" katanya dengan polosnya.


Aku terhenyak mendengar perkataan Arka. Sekaligus merasa lucu. Wajar, Arka masih anak-anak. Dia masih terlalu polos.


"Ma ...."


"Iya, Sayang ...." Kuelus rambut lebat Arka, sembari terus menatapnya lembut.


"Kenapa Mama tidak tinggal sama Papa lagi? Mama berantem sama Papa, ya?" tanyanya polos.


Aku berpikir sejenak untuk menyusun kalimat yang tepat untuk dilontarkan kepada Arka. "Sayang ... mama sama Papamu itu tidak bertengkar. Kami hanya tidak tinggal bersama lagi. Akan tetapi, kasih sayang mama dan Papa buat Arka pasti lengkap."


Aku tidak tahu harus berkata apa. Hanya itu yang bisa kukatakan.


"Tapi, Ma. Kenapa Tante Bella tinggal sama Papa?"


Ya, Tuhan. Bagaimana menjelaskannya, ya? Dia masih kecil, masih sangat polos. Dia belum saatnya mengetahui apa itu perpisahan dan perceraian. Karena pada saatnya nanti, sejalan dengan usianya yang semakin bertambah, aku yakin dia akan mengerti. Namun, bukan sekarang.

__ADS_1


"Oh ... itu karena ... tante Bella ...."


"Tara? Kalian lagi apa, nih! Serius amat!"


Untung Fania langsung datang. Jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan Arka yang bak wartawan kecil. Fania yang baru saja mandi, masuk dan langsung duduk untuk mengeringkan rambut pirangnya di depan meja rias menggunakan handuknya.


"Arka, apa kabar kamu? Kangen enggak sama Tante?"


"Arka kangen, Tante. Bacain Arka cerita lagi, donk?" pinta Arka seraya bangkit dan mendudukkan tubuhnya.


Fania langsung meletakkan handuk dan beranjak untuk menghampiri Arka. Arka kembali berbaring. Fania pun akhirnya duduk di sebelah Arka, sembari membacakan sebuah novel fantasi di Noveltoon.


Selang lima belas menit, Arka pun tertidur. Fania menghentikan bacaannya. Kemudian berbaring dan memeluk Arka yang sudah terlelap.


"Fania, tumben kau mandi."


"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin membuang sial!"


"Membuang sial? Apa maksudmu?"


Fania melepaskan pelukannya dari tubuh Arka. Kemudian mengambil posisi terlentang. "Gara-gara Rudi, hari baikku menjadi hari buruk. Aku sangat kesal padanya. Dia laki-laki arogan! Aku benci Rudi!"


"Jangan begitu? Biasanya dari benci bisa berubah menjadi cinta, loh?" godaku.


"Ih, jangan sampai aku mencintainya! Sorry to say, NO!!"


"Tapi sepertinya, ada baiknya kau bertemu Rudi. Dengan begitu, kau akan sering-sering mandi," ledekku.


"Sudahlah! Jangan bahas dia! Dia itu menyebalkan! Kita baca novel saja, yuk?"


Aku dan Fania pun akhirnya mengambil handphone masing-masing, dan membaca novel kesayangan kami yang berjudul 'BUKAN PELAKOR' Novelnya Author Keceh. Setelah itu kami pun tidur nyenyak.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Hai ... hai ... Readers Keceh ...!


Jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE, KASIH KOIN JUGA BOLEH BANGET TUH!


THANK YOU ...!

__ADS_1


__ADS_2