BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Maafkan Aku, Ayah ....


__ADS_3

"Tidak, Ibu. Aku tidak apa-apa," ucapku seraya tersenyum. "Masuklah, Bu, Ayah."


Ayah dan ibu mertuaku pun masuk. Mereka duduk di ruang keluarga. Sedangkan Arka sangat manja hari ini. Ia terus mengekorku sambil memegangi tanganku. Aku beranjak ke dapur untuk membuat secangkir kopi dan secangkir teh.


"Arka, ayolah? Kamu ikut sama nenek, ya?"


"Enggak mau!"


"Arka? Mama mau bikin minum dulu untuk kakek dan nenekmu."


"Tidak mau! Arka maunya sama Mama!"


Aku pun memintanya memegang gamisku, karena aku memerlukan kedua tanganku untuk membuatkan minuman. Setelah itu, aku membawanya ke depan. Dan meletakkan minuman tersebut di atas meja. Kemudian aku duduk di sofa, berhadapan dengan mertuaku. Arka bertingkah aneh hari ini. Ia dengan sangat manja meletakkan kepalanya di atas pangkuanku. Aku hanya tersenyum memperhatikannya.


"Ima? Apa kau habis menangis?" tanya ibu.


"Tidak, Ibu," jawabku berbohong.


Ibu pun menghampiriku. Ia duduk di sebelahku.


"Ima? Kau tidak bisa membohongi Ibu, Nak?" Ia pun meraih tanganku. "Katakanlah! Apa yang terjadi antara kau dan Iyan?"


"Tidak ada, Bu. Kami ... kami baik-baik saja."


Aku tidak tahu harus mulai dari mana mengatakannya agar ibu tidak shock. Aku ingin mengatakan semuanya. Hanya saja, aku takut ibu kecewa. Dia sangat menyayangiku. Bahkan, aku sangat bersyukur memiliki mertua seperti mereka.


"Ima? Aku adalah seorang ibu. Aku bisa menangkap perasaan berbeda hanya lewat tatapan anaknya. Dan kau adalah anakku. Jadi ... tolong jangan ditutup-tutupi. Katakanlah, tentang apa yang terjadi!"


"Ibu ... aku ...." Aku benar-benar ragu untuk mengatakannya.


"Ima? Katakanlah, Nak! Kami orang tuamu. Sudah seharusnya bagi kami untuk mengetahui permasalahanmu itu," kata Ayah.


Aku menunduk dalam. Mencoba memikirkan terlebih dahulu, tentang apa yang akan kukatakan. Mungkin, ini saat yang tepat untuk memberitahu kepada mereka tentang hubunganku dan mas Bastian.


"Ibu ... Ayah ..., sebelumnya Ima minta maaf, bila selama ini belum bisa menjadi menantu yang terbaik untuk kalian. Tapi, sungguh ... Ima sangat menyayangi kalian."


"Kenapa kau bicara seperti itu? Kau sudah menjadi menantu yang baik. Bahkan, kami tidak ingin kehilanganmu, Ima!" kata ibu.


"Bagi kami, seorang menantu tidak perlu sempurna. Cukup kau menyayangi kami dengan tulus. Itu sudah cukup. Tetapi bagi kami, kau sudah lebih dari seorang menantu yang sempurna." Ayah berkata dengan nada yang lembut.


"Ayah ... Ibu ..., selamanya kalian adalah orang tuaku. Apapun yang terjadi--" Tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku sudah mencoba menahannya. Tapi tak bisa.


"Ima? Ada apa?" Ibu mengusap pundakku lembut.

__ADS_1


Aku menarik napas dalam-dalam. Mengembuskannya pelan. "Aku harap, Ayah dan Ibu tetap tenang mendengarkanku."


"Dulu, aku dan mas Bastian menikah atas dasar nyaman. Kami bahkan tidak tahu, apa arti cinta di dalam kehidupan kami. Kami saling mengasihi, dan saling mengkhawatirkan. Kami hidup berumah tangga selama sejauh ini. Hampir empat tahun lamanya," lanjutku.


"Aku bahagia bisa menjalani hidup dengannya. Mas Bastian adalah laki-laki yang baik. Dia pendiam, sampai-sampai aku tidak tahu bahwa dia tak mencintaiku. Kami jarang ngobrol. Mas Bastian sibuk bekerja. Kami hanya menjalani kehidupan dengan pikiran masing-masing."


"Apa maksudmu?" Ibu menatapku bingung.


Aku mengulum senyum di tengah wajah yang basah. "Cinta di dalam sebuah hubungan itu sangat penting. Apa gunanya sebuah hubungan tanpa saling mencintai. Apa gunanya kebersamaan, tapi hati dan pikiran malah tertuju pada yang lain."


"Ima ...." Sepertinya ibu sudah menangkap jelas pernyataanku.


"Malam itu, setelah aku pulang dari rumah sakit, kami sudah memutuskan, bahwa--" Bibirku bergetar, tubuhku gemetar. Melihat netra ibu yang harap-harap cemas membuatku tidak tega. Namun, aku harus mengatakannya.


"Kami ... kami ... kami sepakat untuk berpisah."


Entah apa yang ibu rasakan di benaknya. Tangan ibu gemetar. Ibu memeluk tubuhku erat-erat. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Mengapa? Mengapa harus berpisah? Tidak bisakah kau tetap tinggal?"


"Ibu ... Ibu jangan seperti ini. Ima tidak tega jadinya."


"Ibu tidak mau kehilanganmu, Ima!"


"Tidak, Ayah. Ini atas dasar keputusan kami berdua. Kami memutuskan ini secara damai, Ayah."


"Ima? Tetaplah menjadi menantuku! Jangan pergi!" Ibu terus memelukku erat. Ia tak menghiraukan ada Arka yang tengah tertidur di pangkuanku.


"Ibu ... Ima, kan, sudah bilang. Ima akan menjadi putrimu selamanya. Ima hanya mengganti status, bukan memutuskan tali silaturahmi. Jadi, Ibu tidak usah khawatir. Ima akan tetap mengunjungi Ibu bila sempat, ya?"


"Tidak! Tidak boleh! Kalian tidak boleh bercerai!" rengek ibu.


Aku terus membelai rambut ibu mertuaku yang sudah ditumbuhi uban. Aku mencoba menenangkannya. Sedangkan kulihat, ayah terus memegangi kepalanya sambil bersandar di sofa.


Suasana hening. Hanya Isak tangis yang terdengar. Hingga suara mobil milik mas Bastian terdengar berhenti di depan rumah. Kemudian sosok laki-laki itu tampak berjalan menghampiri kami. Mas Bastian mengamati kami satu per satu. Ia berdiri terpaku, seolah menyadari bahwa telah terjadi sesuatu.


"Bas! Duduk!" perintah ayah.


Mas Bastian pun duduk di di sebelah ayah.


"Bas! Jelaskan, mengapa kalian memutuskan untuk bercerai! Apa kau membuat kesalahan fatal!"


"Ayah ...."

__ADS_1


"Kau diamlah, Ima. Biar Bastian yang menjelaskan!"


Mas Bastian terlihat gugup. Sesekali ia meremas tangannya sendiri.


"Ayah ... aku ... aku ...." Mas Bastian memejamkan kedua netranya rapat-rapat. Menghela napas panjang. Kemudian berkata, "Aku sudah menghamili seseorang," katanya dengan nada gemetar.


Kulihat wajah ayah semakin geram. "Siapa? Siapa wanita yang kau hamili itu?"


"Bella," ucap mas Bastian seraya menunduk.


Ayah pun berdiri. Ia mengepalkan kedua tangannya. Kemudian menyeret leher mas Bastian dengan kasar. "Kau! Dasar anak kurang ajar!" Suara ayah semakin berat. Dada ayah kembang kempis. Aku dan ibu pun sangat panik. Mas Bastian hanya menunduk saat lehernya dicekik ayah.


"Kau, sungguh anak tidak berguna!" Dan saat ayah melayangkan kepalan tangannya. Tiba-tiba tubuh ayah bergetar hebat. Ayah jatuh dan tak sadarkan diri. Kami semua terkejut.


"Ayah!" Mas Bastian segera memeluk tubuh ayah sembari menangis.


Aku meraih kepala Arka dari pangkuan. Lalu membaringkannya di sofa. Setelah itu, aku dan ibu langsung berlari memeluk tubuh ayah yang tergeletak di lantai.


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Hai, Readers Tersayang?


Author Keceh mau ingetin, nih!


Give Away periode pertama akan diumumkan besok, tanggal 27, ya?


Karena pengambilan pemenang yaitu ditentukan pada tanggal 25 Maret 2020 pukul 00.00 WIB.


Bagi yang belum beruntung nantinya, jangan patah semangat, ya? Ini baru GIVE AWAY periode pertama. Semoga saja, Author semakin sukses. Doakan! Semoga juga Readers Tersayang selalu sukses juga!


Untuk GIVE AWAY selanjutnya, Author belum bisa umumkan sekarang. Pokoknya kalian terus VOTE yang banyak, ya? Sambil nunggu GIVE AWAY selanjutnya.


Oh, ya, kalian pasti mikir, kok, Kak Thamie alias Author Keceh banyak memberikan hadiah, sih?


Begini, ya? Author berjuang dari nol sampai sekarang, itu juga berkat kalian Readers Tersayang. Jadi, Author ingin berterima kasih atas dukungan dan kesetiannya, selalu menunggu karya-karya Author Keceh.


Nah, bagi yang terpilih memenangkan GIVE AWAY, Author menilai berdasarkan hasil VOTING plus pantauan selama ini. Jadi, tidak ada pilih kasih atau apalah. Ini pure atas pantauan Author.


Sekali lagi Author ucapkan, terima kasih banyak sudah setia dan sedia menunggu Author UP. Author akan selalu menerima kritik dan saran dari kalian semua, apapun itu.


I Love U So Much My Readers? 💖😘

__ADS_1


(Yang belum masuk grup, ayo buruan)


__ADS_2