BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Selamat Tinggal Kenangan


__ADS_3

Seminggu kemudian, ayah mertuaku pun diizinkan untuk pulang. Aku sangat senang. Hanya saja, mulai sekarang, ayah mertuaku itu harus benar-benar menjaga pola dan asupan makanan. Sesuai yang dianjurkan oleh dokter Dimas.


Hari ini aku mengunjungi ayah mertuaku, bersama Arka, dan kedua orang tuaku. Setelah itu, aku meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Aku ingin mengunjungi rumahku, yang tentunya sudah tak terawat. Sebenarnya bukan hanya alasan itu, aku ingin mengemasi pakaianku, dan pakaian Arka.


Aku pergi ke sana naik ojek online. Sebenarnya, jarak dari rumah mertuaku ke rumahku—rumah bersama mas Bastian— tidak terlalu jauh. Jadi, setelah beberapa menit, aku pun sampai.


Kulihat mobil mas Bastian terparkir di garasi. Itu berarti, mas Bastian berada di rumah. Aku pun mengetuk pintu tersebut. Dan tidak lama pintu tersebut terbuka. Mas Bastian sedikit terkejut melihat kedatanganku. Ia segera mempersilakanku masuk.


"Ada apa kau ke mari?" tanyanya langsung.


"Aku ... aku mau mengambil pakaianku. Dan pakaian Arka," jawabku seraya masuk ke dalam kamar.


Mas Bastian pun mengikutiku. Ia hanya memperhatikanku yang sedang mengemasi pakaian. Suasana hening, tiada satu obrolan pun. Dia tampak mengamatiku, matanya terus memperhatikanku. Tatapan itu sangat berbeda, dari tatapan mas Bastian biasanya.


Seperti ... ada sesuatu yang tersimpan. Namun, sulit untuk dikatakan. Cepat-cepat kukemasi pakaianku. Dan juga ... sebuah buku bergambar kartun Naruto, yang selalu tersimpan baik di dalam laci. Aku mengamati buku tersebut sembari tersenyum. Buku ini ... adalah buku pemberian Dimas saat kami akan berpisah dulu. Di Taman Bunga Pelangi. Bagaimana aku bisa melupakannya. Bahkan, mulai sekarang aku tak lagi ingin melupakannya.


Kumasukkan buku itu ke dalam koper. Setelah selesai, aku pun segera berpamit untuk pulang ke rumah ibu.


"Mas, aku pulang ...."


Mas Bastian masih saja diam. Namun, matanya terus menatapku. Ia masih terduduk diam di ranjang.


"Kalau begitu, aku pamit ...," kataku lagi.


Aku pun melangkah keluar dari kamar. Tetapi tiba-tiba, mas Bastian memelukku. Ia memelukku seraya terisak.


"Mas, ada apa denganmu?"


Lagi-lagi ia tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya padaku.


"Mas?"


Akhirnya, aku pun membiarkan tubuhku dipeluknya. Mungkin, untuk terakhir kalinya. Aku bingung dengan dirinya. Mas Bastian tidak mengatakan apa-apa. Dia seperti sedang meluapkan amarahnya. Dan setelah puas ia terisak, ia pun melepas pelukannya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu tersebut.


Aku tertegun sesaat. Kemudian melanjutkan langkah, keluar dari rumah tersebut. Kututup pintu rapat-rapat. Seakan ingin kututup segala kenanganku di rumah ini, bersama mas Bastian.


Aku berdiri di teras. Mengingat sejenak masa-masa indah keluarga kecilku bersama mas Bastian. Perlahan, memori itu terputar satu per satu. Senyuman-senyuman di wajah Arka, senyuman-senyuman di wajah mas Bastian, serta senyum di wajahku sendiri. Bulir-bulir bening yang sedari tadi tertahanpun mulai tumpah. Kuseka satu per satu dengan punggung tanganku.


Aku menghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba otakku memutar sebuah memori paling memilukan. Memori itu ... titik awal runtuhnya hubungan kami. Memori yang paling menguras air mata. Malam itu ....


"Imania ... aku tahu ini sulit. Aku sudah menyakitimu. Mengecewakan ketulusanmu, kesetiaanmu. Aku sadari itu."

__ADS_1


"Imania ... jika kau masih mau mengetahui segalanya. Biar kuceritakan. Kau tidak perlu menyahut, jika kau memang tak mau. Namun, kau cukup mendengarkan saja. Kau boleh marah padaku. Kau juga boleh menamparku. Kau boleh melakukan apapun padaku. Termasuk membenciku."


"Imania ... izinkan aku menceritakan segala kisah. Bahwa sejujurnya, sejujurnya ... aku ... aku belum bisa meninggalkan masa laluku. Aku masih mencintainya."


"Dulu, kami adalah sepasang kekasih. Yang telah berjanji untuk saling melengkapi, saling mencintai, sampai maut memisahkan kita. Tetapi orang tuaku sama sekali tiada merestui. Mereka menghina pacarku. Dia diperlakukan seperti sampah. Dan aku sudah pernah menceritakan sedikit tentangnya padamu. Saat kita akan ke puncak. Kau ingat?"


"Dia adalah wanita kesayanganku. Aku belum bisa move on darinya. Bahkan kurasa ... aku takkan dapat mengenyahkannya dari pikiranku. Sejauh ini, aku membangun rumah tangga denganmu. Aku belum bisa mencintaimu."


"Imania ... daripada aku berlarut menyimpan kebohongan-kebohongan darimu. Bukankah lebih baik aku jujur? Aku sudah tidak tega lagi menyembunyikan ini darimu. Yang ada, kita akan sama-sama tersiksa. Terlebih lagi, kau adalah wanita yang sangat baik. Tiada pantas bagiku untuk menyakitimu terus menerus."


"Sejujurnya, sejak kita bertemu dulu, aku memang tertarik padamu. Kau cantik, memiliki pribadi yang baik."


"Aku menembakmu waktu itu ... hanya untuk pelarian saja."


"Maafkan aku ... dosaku begitu besar padamu. Bahkan, kau tak pantas memaafkan diriku. Tapi sungguh ... aku sudah bersikeras mencintaimu. Namun, tetap tak bisa."


"Aku masih berhubungan dengan pacarku selama ini. Sepulang bekerja, aku pergi ke rumah yang sudah kami kontrak. Dan aku menghabiskan waktu berdua di sana, dengannya. Kami merajut cinta dengan cara yang salah. Kami sudah banyak melakukan dosa, pada Tuhan ... dan padamu."


"Pacarku ... dia ... dia hamil."


"Imania Saraswati! Malam ini, aku, Muhammad Bastian, menjatuhkan talak tiga kepadamu!"


Seluruh memori itu kembali terputar di otakku. Membuatku semakin terisak. Rasa nyeri dan sesak itu kembali menyeruak. Membuncah di dalam benak.


Dan saat aku berbalik untuk pergi dari rumah ini. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman. Seorang wanita berambut pirang itu lagi. Ia pun turun dan menghampiriku.


"Imania! Kau kenapa?" tanyanya terkejut melihat wajahku yang basah.


Aku pun mengusap air mataku. "Aku ... aku tidak apa-apa!"


"Kau mau ke mana?" tanya Fania seraya menahan koperku.


"Pulang," jawabku.


Fania mengamatiku. Ia seperti sedang mencari jawaban lewat kedua mataku. Kemudian ia geleng-gelengkan kepalanya. "Sungguh! Cengeng sekali!"


Kubelalakkan kedua mataku. Kupikir dia ingin mengatakan sesuatu untuk menguatkanku. Kupikir dia benar-benar tahu kesedihanku. Keadaan yang tengah kualami. Ternyata, dia tidak sepeka itu.


"Antarkan aku pulang!" pintaku.


"Ke mana?"

__ADS_1


"Ke rumah orang tuaku!"


"Pulangkan saja, aku pada ibuku, atau ayahku?" Tiba-tiba Fania bernyanyi keras sekali. Aku pun segera menutup telinga.


"Dulu, segenggam emas, kau pinang aku ... huo ... huo ...." Suara Fania sungguh berisik. Dia bernyanyi dengan suara yang fals, dan keras sekali.


"Dulu, bersumpah janji, di depan saksi ... huo ... huo ...."


Aku tak menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam mobil Fania.


"Namun semua! Hilanglah sudah! Ditelan dusta! Huo ... huo ...."


Tiba-tiba salah seorang tetanggaku menghampiri Fania, seraya menggendong bayinya yang sedang menangis.


"Hei! Berisik! Suaramu itu sangat cempreng! Fals lagi! Gara-gara kamu, anakku jadi terbangun!" omel ibu-ibu berpakaian daster tersebut.


Fania tak menghiraukannya. Ia justru bernyanyi lebih keras lagi. "Namun semua! Tinggal cerita! Hati yang luka?!"


Ibu tersebut pun melepas sandalnya, lalu mengancam Fania. "Hei! Nyanyi lagi! Kutimpuk kau pakai sandal!"


Fania hanya tertawa. Kemudian berlari masuk ke dalam mobil. Ia membuka kaca mobilnya kemudian menjulurkan lidahnya kepada ibu berdaster tersebut. Dan kembali bernyanyi.


"Pulangkan saja! Aku pada ibuku! Atau ayahku!"


"Dasar wanita gila! Sinting!" umpat ibu tersebut seraya menenangkan bayinya yang masih terus menangis. Aku geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fania.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Notes : Lagu yang dinyanyikan Fania berjudul, HATI YANG LUKA. (Betharia Sonata)


Malam ini, cukup di sini, ya? Besok lanjut lagi!


Author mau ngetik lagi yang banyak.


Buat kalian Readers Tersayang ....


Ciyeee?


Sampai jumpa besok, ya?

__ADS_1


Jangan bosen! Entar Author Keceh sedih ....


Love ...


__ADS_2