BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Happy Anniversary Ke-3


__ADS_3

Sejak perkenalan bersama cowok berambut ikal, bernama Muhammad Bastian itu, kami mulai berteman. Kami sering bertemu. Lagi pula dia mahasiswa semester III di universitas yang sama denganku. Ya, selisih usia kami tiga tahun. Dia tiga tahun lebih dulu dari usiaku.


Awalnya, aku hanya menganggapnya teman. Kami sering bertemu dan jalan-jalan mengelilingi indahnya kota Gudeg --Yogyakarta. Dia pribadi yang tidak banyak bicara, tapi perhatian. Dia juga selalu menghiburku. Perlahan dari teman berubah menjadi perasaan nyaman.


Aku mulai terbiasa untuk hidup tanpa pangeran elangku-- Dimas Adi Wibowo. Lambat laun aku bisa move on darinya. Lagi pula aku tidak bisa terus menerus berkutat di dalam hubungan yang tak pasti. Hingga akhirnya, setahun kemudian Bastian menembakku. Dan dengan senang hati aku menerimanya. Kami berpacaran. Tidak lama kemudian, dia berjanji untuk melamarku setelah selesai wisuda.


Beberapa tahun kemudian aku pun wisuda, dan mendapatkan gelar S1 Pendidikan Seni. Setelah itu, aku pulang ke tanah kelahiranku--Banjarnegara-- kota yang sama dengan mas Bastian. Beberapa hari kepulanganku di desa, Bastian benar-benar datang melamarku. Bastian selalu menepati perkataannya. Berbeda dengan Dimas, yang tak kunjung menepati janjinya.


Bersyukur, orang tua kami masing-masing merestui hubungan kami. Mereka ingin agar kami segera menikah. Jadi, tidak lama kemudian kami pun sepakat untuk menikah.


Saat hari spesial itu tiba. Aku berdiri di depan cermin menatap wajah yang telah dipoles bak bidadari, oleh penata rias. Rambut panjangku disanggul indah. Gaun pengantin putih melekat indah di tubuhku yang langsing. Ada kesedihan dan kebahagiaan yang terpancar dari hatiku. Sesaat aku mengingatnya, sosok lelaki tampan yang rela memilih cita-citanya dibanding dengan cintanya. Aku tidak menyalahkannya. Itu keputusannya. Ya, itu adalah keputusannya.


Ibarat sebuah balon. Udara adalah cinta yang telah mengisi ruang kalbuku. Dimas adalah balon udara yang siap kulepas seutuhnya. Hari ini, bertepatan dengan pernikahan kami, kulepas balon tersebut di udara. Aku takkan pernah lagi memikirkannya, mengingatnya, dan mencintainya. Sepenuhnya, aku sudah melepasmu untuk terbang dan menggapai masa depan, bersama gadis yang kelak menemaninya untuk hidup dan mengarungi bahtera rumah tangga yang indah. Hari ini, aku IMANIA SARASWATI. Telah mengikhlaskan kepergian sang Elang, lahir batin. Kututup lembaran kertas masa lalu, akan kugantikan dengan kertas-kertas yang baru. Bersama lelaki pilihanku, MUHAMMAD BASTIAN. Selamat tinggal DIMAS ADI WIBOWO.


Begitulah seklumit kisah tentang kami. Bagaimana aku dan mas Bastian menjalin hubungan. Dan bagaimana aku dan Dimas pada akhirnya benar-benar lepas.


***


Suara klakson mobil membuyarkan nostalgiaku. Kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Selarut ini, dari mana saja mas Bastian. Ingin rasanya aku langsung menginterogasinya. Ingin meminta alasan dan kejelasan darinya. Mengapa sampai tega mengkhianatiku!


Segera kuseka air mata yang masih terus meluncur dari pelupuk mata. Aku beranjak membukakan pintu. Mas Bastian masuk dan segera duduk di sofa. Meletakkan tas dan melepas sepatunya.


Kututup pintu. Aku duduk di sebelahnya. Sesekali kupandangi wajahnya yang lelah. Mas Bastian menghela napas panjang, mengusir lelahnya. Saat aku ingin membuka percakapan, mas Bastian mengambil sesuatu dari dalam saku celana.


"Mas!"


"Kejutan ...?" ucapnya sembari menyodorkan kotak kecil berwarna merah di hadapan wajahku.

__ADS_1


Aku menatap sebuah cincin emas yang tergolek dalam kotak merah tersebut.


"Happy anniversary, Sayang," ucapnya lagi.


Sedangkan mataku masih terpaku menatapnya. Niat hati ingin melampiaskan segala rasa sakit dan sesak, yang masih bersemayam di dada. Aku sampai lupa, bahwa hari ini memang anniversary kami, 13 April. Ini pertama kalinya aku melupakan hari anniversary kami. Pikiranku sudah kacau sejak tadi siang. Sehingga seharian aku hanya memikirkan tragedi screenshot yang Dewi tunjukkan itu.


Mas Bastian mengembangkan senyumnya, seraya menatapku. "Ulurkan tanganmu!"


"Mas, aku ...." Aku bingung. Haruskah aku menginterogasinya pada moment seperti ini. Sedangkan hatiku masih sangat gelisah untuk mempertanyakan semua itu.


"Ayo, ulurkan jemarimu!" perintahnya bersemangat.


Melihat wajah mas Bastian, aku jadi ragu untuk menginterogasinya sekarang. Lagi pula, dia baru pulang. Dia tentu sangat lelah. Aku pun menurutinya, mengulurkan jemariku. Mas Bastian memakaikan cincin tersebut di jari tengahku.


"Apa kamu suka?"


"Apa kamu tidak senang?"


"Bu-bukan begitu. Terima kasih ...," ucapku seraya menarik sudut bibir untuk melukiskan seuntai senyum.


Mas Bastian mendekatkan wajahnya, lalu mencium keningku.


"Ada apa? Tidak biasanya kamu begini. Biasanya kamu selalu senang di hari anniversary kita."


"Maafkan aku, Mas. Aku sampai lupa, jadi aku tidak sempat memesan kue."


"Oh ... tak apa, besok kita akan pergi jalan-jalan."

__ADS_1


"Bukankah besok kamu kerja?"


"Aku sudah mengambil cuti, Sayang. Besok, tiga hari, kita akan pergi liburan. Aku ingin meluangkan waktu berdua bersamamu."


"Berdua?" Aku menatapnya bingung.


"Besok, kita akan pergi ke villa."


"Berdua?" ulangku lagi.


"Ya, kita hanya berdua. Arka sementara kita tinggal bersama ayah dan ibu. Bukankah kita jarang berpacaran?" katanya seraya tersenyum nakal dan memainkan kedua alisnya.


Sesaat aku terdiam. Mengingat screenshot percakapan itu. Hatiku dirundung bimbang. Hati ini memang merasa sakit. Namun melihat wajah suamiku yang begitu semangat dan antusias untuk merayakan anniversary pernikahan kami, itu membuatku cukup dirundung dilema. Apakah lebih baik, sementara ini aku diam saja? Berpura-pura tidak mengetahuinya? Atau kutanyakan saja sekarang?


"Mas!"


"Iya, Sayang, kenapa?"


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Hai, Readers Tersayang? Masih stay on IMANIA & DOKTER TAMVAN, kan? Iya, donk! Kalian masih penasaran, kan? Bagaimana kelanjutan hubungan Imania dan Bastian. Yuk, ikuti terus kisahnya.


Kira-kira besok Imania mau enggak, ya, diajak ke villa sama suaminya?


Eh, jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT, VOTE, ya? Bantu Author menaikkan performa novel kesayangan kalian ini? Biar Author semakin semangat ngetiknya, demi apa coba? Demi kalian ... iya, kalian ....

__ADS_1


Jangan sampai ketinggalan GIVE AWAY-nya menjelang ending, loh! Salam sayang dari Author Keceh .... 😘


__ADS_2