BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Terjebak Keputusan


__ADS_3

"Tidak perlu berterima kasih. Aku mendapatkan itu juga gratis," ucapku kemudian keluar dari ruangan pak Wibowo dan menuju ruangan kerjaku.


***


Pukul empat sore, seperti biasa jam kerja telah usai. Kukemasi barang-barang. Handphone-ku tiba-tiba berbunyi, sebuah pesan masuk. Kuambil handphone dari atas meja.


[Imania, tunggu aku, ya? Maaf, aku telat menjemputmu. Tadi ada urusan penting.]


[Tidak apa-apa, Rud.]


[I love you.]


[I love you, too.]


Kuletakkan kembali handphone di atas meja. Aku tidak mengerti, apakah aku salah mengambil keputusan untuk menerima Rudi. Padahal, jelas-jelas aku tak mencintainya. Sejujurnya, aku hanya berusaha membuat Dimas cemburu dan membalas rasa sakit yang ia torehkan padaku.


"Imania, aku memperhatikan mimik Dimas saat kau dan Rudi berdekatan. Wajahnya itu, tampak seperti ingin membantai orang. Aku yakin, dia sangat terbakar cemburu."


"Imania, apa kau serius menerima Rudi? Atau ... kau hanya menggunakan Rudi untuk membalas perbuatan Dimas padamu?"


"Aku hanya khawatir, bila sampai kau membohongi perasaanmu sendiri, sekaligus perasaan Rudi. Jangan sampai kau hanya menggunakan Rudi untuk pelarian. Atau sekadar balas dendam kepada Dimas. Itu akan melukai Rudi. Dan itu pasti menyakitkan sekali. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal tersebut."


"Jangan lakukan itu, Imania. Apa bedanya kau dengan Dimas? Kau sama saja egois jika sampai itu terjadi. Kau juga akan melukai perasaan Rudi. Aku tidak tega membiarkan Rudi terluka."


Benar. Fania benar. Aku tidak seharusnya menggunakan Rudi sebagai pelarian. Itu bisa melukai perasaan Rudi. Apa bedanya aku dengan Dimas? Hanya untuk membalas rasa sakitku, aku harus menggunakan Rudi. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Lebih baik aku mengatakan yang sejujurnya pada Rudi. Daripada membiarkan dia berlarut dalam harapan kosong.


Setelah menunggu Rudi selama 15 menit, akhirnya Rudi meneleponku.


"Halo."


"Aku sudah berada di depan pintu gerbang."


"Baik, aku keluar."


Kututup telepon tersebut, memasukkan handphone ke dalam tas. Kemudian beranjak keluar dari ruanganku.


Sesampainya di depan gerbang, mobil Rudi sudah menungguku. Aku pun masuk.


"Maaf, membuatmu menunggu, Imania."


Aku tersenyum mendengar kata 'maaf' yang sering terucap dari mulut Rudi. "Terima kasih."


Rudi melebarkan matanya. "Maaf ... aku meminta maaf."


Aku kembali tersenyum geli melihat ekspresi Rudi. "Terima kasih."


"Sama-sama," ucapnya dengan tatapan datar.

__ADS_1


Aku pun menjadi tertawa kecil. Mengapa Rudi sepolos itu.


Rudi pun menyalakan mobilnya, sembari berkata, "Aku senang kau bisa tertawa."


Sontak itu membuatku berhenti tertawa dan mengingat kembali, bahwa aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Rudi. Tentang kesalahanku yang telah membuat hubungan ini terjadi, adalah semata-mata sengaja agar Dimas cemburu.


"Imania."


"Rud."


Tiba-tiba saja, kami berkata bersamaan.


"Kau dulu," ucap Rudi.


"Tadi kau ingin bilang apa?"


"Aku dulu atau kau dulu?"


"Kau dulu, Rud."


Rudi tersenyum sembari menyetir mobilnya. "Minggu besok, apa kau ada waktu?"


"Minggu besok? Hari Minggu?" tanyaku.


"Iya."


"Ke Bali?" tanya Rudi terkejut.


"Hm ... aku akan pergi bersama pak Wibowo ke Bali. Urusan pekerjaan," jelasku.


"Wah, senang, donk. Sambil refreshing," ucap Rudi dengan ekspresi sumringah.


"Masalahnya, Arka akan kutinggal, Rud."


"Bukankah ada Fania?"


Aku menghela napas kasar. "Hm ...."


"Jangan khawatir. Aku akan sering ke rumahmu. Untuk membantu Fania menjaga Arka."


"Benarkah?"


"Ya, dengan senang hati. Arka akan aman bersamaku. Dia tidak akan kesepian." Rudi berkata dengan antusias.


Kasihan Rudi. Dia sudah begitu baik padaku dan pada anakku. Aku semakin tidak tega melukai perasaaannya.


"Bagaimana? Bisa, kan, hari Minggu kuajak pergi ke rumahku."

__ADS_1


"Ke rumahmu?"


"Ya, aku akan memperkenalkanmu pada ibuku," ujar Rudi dengan senyum mengembang.


Ya, Tuhan ... Rudi begitu serius menjalani hubungan denganku. Sangat berbeda dengan Dimas, yang sama sekali belum pernah mengajakku menemui ibunya.


"Imania."


Aku terbangun dari lamunan. "Ah, i-iya. Em ... bagaimana, ya?"


"Please ...."


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku memutuskan. "Baiklah."


"Yes! Terima kasih, Imania."


Ini benar-benar membuatku semakin sulit. Aku terjebak dengan keputusanku sendiri. Maafkan aku, Rudi.


"Imania."


"Ya."


"Apa yang tadi ingin kau katakan?"


"Tidak jadi, Rud."


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Readers Keceh?


Sudah tahu, kan? Author Keceh sedang mengadakan GIVE AWAY VOTING.


Bagi TIGA VOTING TERBANYAK akan Author Keceh kasih hadiah.


Dan TIGA KOMENTAR TERKECEH.


Pengumuman hasil VOTE .masih sebulan lagi, ya?


Oh, iya. Wajib Follow, ya? Jangan lupa masuk grup, agar tahu kabar tentang UPDATE dan bisa ngobrol langsung bersama Author Keceh dan Para Sahabat Keceh yang ada di grup.


Jangan lupa juga untuk FAVORITKAN novel BUKAN PELAKOR ini, ya? Agar tidak ketinggalan NOTIFIKASI pas novel ini UP EPISODE.


Jangan lupa untuk LIKE, KOMENTAR, RATING BINTANG LIMA DITUNGGU, YA?


Thank you ...!

__ADS_1


__ADS_2