BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Dihajar Orang


__ADS_3

Meski lelah berjalan jauh, aku tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah. Masih dengan Arka yang tertidur di gendonganku. Setelah menempuh perjalanan kaki sekitar tiga kilometer, akhirnya kami pun sampai.


Lega rasanya. Kuambil kunci dari dalam tas, lalu masuk ke dalam rumah. Kubaringkan Arka di ranjang. Kuamati wajahnya yang pucat. Kutempelkan kembali telapak tangan ke dahinya. Masih demam.


"Ma?" Arka tiba-tiba terbangun.


"Sayang? Kita makan dulu, ya? Setelah itu minum obat," bujukku.


"Enggak mau?"


Aku pun duduk di sampingnya seraya mengelus rambutnya yang tebal. "Arka Sayang? Kalau Arka tidak mau makan dan minum obat, nanti gimana bisa sembuh?"


Pantang menyerah aku pun membujuk Arka agar dia mau makan. Dan ia pun mau, meski hanya beberapa suapan. Setelah itu Arka meminum obatnya.


***


Waktu menunjukkan pukul 22.30 malam. Seperti biasa, mas Bastian belum juga pulang. Sebenarnya apa yang ia kerjakan di kantornya, hingga ia harus bekerja sampai larut malam. Jika ditanya, mas Bastian selalu menjawab bahwa ia lembur kerja.


Aku masih belum bisa tidur. Sesekali kutempelkan telapak tanganku ke dahi Arka. Mengeceknya apakah demamnya sudah turun. Bersyukur, demamnya semakin turun. Aku mulai lega.


Selang beberapa menit, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Kupikir itu pasti mas Bastian. Aku pun beranjak untuk membukakan pintu. Betapa terkejutnya diriku saat pintu terbuka. Seorang wanita cantik nan seksi keluar dari mobil mas Bastian. Kemudian ia membuka pintu mobil sebelah kiri. Ada mas Bastian di sana. Wanita tersebut pun segera memapah mas Bastian. Membawanya keluar dari mobil.


"Mas Bastian!" seruku. "Dia kenapa?" Aku pun segera menghampiri mereka. Betapa terkejutnya, mas Bastian pulang dalam kondisi babak belur.


"Cepat, bantu aku memapahnya!" kata wanita cantik berambut pirang tersebut.


"Fania ... apa--"


"Sudahlah, nanti saja menjelaskannya. Ayo, bawa dia masuk. Dia terluka."


Tanpa bertanya lagi, aku pun membantu Fania membawa mas Bastian masuk. Kubaringkan mas Bastian di sofa. Mas Bastian tak sadarkan diri. Tercium bau alkohol dari mulutnya. Wajahnya memar, tersisa darah segar di sudut mata dan bibirnya.


"Mas? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku cemas.


"Imania, jangan bahas itu dulu. Ambillah air hangat, cepat!" Fania menyuruhku.


Aku pun segera mengambil air hangat dari dapur, lalu membawanya ke tempat mas Bastian terbaring.


"Bersihkan luka di wajahnya!" Fania yang berdiri di samping mas Bastian kembali memerintah.

__ADS_1


Aku pun segera mengelap pelan wajah mas Bastian dengan kain bersih yang telah terendam air hangat, dengan perasaan yang masih penuh tanya. Apa yang terjadi padanya? Mas Bastian tidak pernah minum alkohol sebelumnya. Setahuku, dia tidak pernah mabuk.


"Imania, bubuhi lukanya dengan obat merah!" Lagi-lagi Fania memerintah.


Dan dengan konyolnya, aku langsung melakukan apa yang ia perintahkan. Padahal, tanpa ia perintahkan, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Usai membersihkan luka dan memberinya obat merah, aku pun langsung meminta penjelasan dari Fania.


"Apa yang terjadi pada suamiku, Fania? Mengapa dia bersamamu?" tanyaku langsung.


Fania menghela napas dalam. "Dia dihajar orang."


"Siapa yang menghajarnya?" tanyaku terkejut.


"Tidak tahu namanya."


Aku semakin terkejut. Setahuku, mas Bastian tidak pernah memiki musuh. Dia pribadi yang baik dan ramah.


"Di mana dia dihajar?"


"Di cafe."


"Kenapa kau bisa bersamanya?"


"Kau tahu, kan, ciri-ciri orang yang telah berani menghajar suamiku?"


Fania memutar bola matanya. "Kau ini, seperti wartawan saja!" celetuknya.


Aku semakin bingung memahami situasi ini. Suamiku babak belur, tercium bau alkohol dari mulutnya, dan tiba-tiba Fania mengantarkannya pulang. Ini aneh. Apa ... jangan-jangan ... Fania memang benar-benar selingkuhan mas Bastian.


"Sudah, ya? Aku mau pulang!" Fania beranjak untuk pergi, tetapi aku mengejarnya. Menarik lengannya.


"Tunggu!"


Fania pun menghentikan langkahnya. Dan berbalik menghadapku. "Apa lagi?"


"Apa ... kau adalah selingkuhan mas Bastian?"


Fania menatapku tajam. "Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, aku sama sekali tidak tertarik untuk merebut milik orang lain? Apalagi menjadi pelakor. Aku tak semurahan itu!"


"Jangan bohong! Buktinya kau bersama mas Bastian di cafe!"

__ADS_1


Dia menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Seharusnya kau berterima kasih padaku. Bukannya malah menuduhku macam-macam!"


"Fania! Katakan saja sejujurnya!"


"Hei! Berapa kali aku harus bilang padamu? Aku bukan pelakor! Aku hanya penggoda! Apa jawabanku kurang jelas?" Fania tiba-tiba mendorongku. Aku pun terjatuh ke lantai.


"Kau!" Aku pun bangkit dan menamparnya. Plak!


Fania melotot marah padaku. "Apa kau sekasar ini? Sungguh ... pantas saja Bastian berpaling darimu!" cibirnya sembari memegangi pipi mulusnya itu.


"Apa maksudmu?"


"Imania, jujur, aku sangat kasihan padamu," katanya seraya menyerahkan kunci mobil mas Bastian padaku. Lalu ia pergi meninggalkan rumahku.


Aku menatap wanita berpakaian mini itu dari kejauhan. Apakah dia berjalan kaki? Ini sudah larut malam. Aku segera mengambil selimut, memakaikannya ke tubuh mas Bastian. Lalu beranjak ke luar rumah.


Aku terus berjalan mencari sosok wanita seksi itu. Tampak Fania yang sedang berdiri di tepi jalan. Dalam gelapnya malam, wanita tersebut terlihat sedang menelepon seseorang.


"Ya, cepatlah ke sini, Sayang," perintahnya, lalu menutup sambungan telepon tersebut.


Aku masih mengamatinya dari gang kompleks perumahan. Kenapa aku mengkhawatirkannya? Bukankah wanita itu sangat menyebalkan? Oh ... seharusnya kubiarkan saja dia. Apa peduliku! Aku pun berbalik dan beranjak untuk kembali ke rumah. Akan tetapi tiba-tiba ....


"Hei!" seru Fania.


Aku menghentikan langkah, masih membelakanginya.


"Sedang apa kau di sana? Apa kau menguntitku?"


Aku berusaha tak menanggapinya. Kuteruskan langkah kakiku, beranjak menjauh.


"Hei! Terima kasih, sudah mengkhawatirkan aku, ya!" serunya.


Aku pun berhenti, lalu berkata, "Ini, sudah larut. Pulanglah!"


Aku pun mempercepat langkah, meninggalkannya.


-- BERSAMBUNG --


__ADS_1


__ADS_2