BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Mr. R


__ADS_3

Ibu kembali dengan membawa secangkir kopi untuk disuguhkan kepada Dimas. Dengan senyum mengembang, ibu meletakkannya di atas meja.


"Silakan, Nak Dimas," ucap ibu.


"Terima kasih, Bibi."


Ibu pun duduk di sebelahku. Sejenak suasana hening. Kami saling memandang satu sama lain. Ini terasa aneh dan lucu. Ayah dan ibu pun saling memandang. Kami bingung ingin mengobrol tentang apa.


"Nak Dimas, ada apa kemari?" tanya ayah membuka pembicaraan setelah beberapa saat hening.


Dimas mengambil sesuatu dari saku jas dokternya. "Aku mau memberikan ini untuk Nia." Sembari mengulurkan satu kantong plastik berisi obat padaku.


Aku pun menerimanya. "Terima kasih."


"Ima, kau sakit?" tanya ibu khawatir.


"Hanya ... sakit kepala biasa, Bu," jawabku.


"Wah, Nak Dimas perhatian sekali," puji ibu.


"Sudah tugasku, Bibi," ujar Dimas seraya tersenyum.


Rudi meraih kopi yang kusuguhkan untuknya. Lalu menyesapnya. "Kopi buatanmu sangat enak, Imania. Beruntung sekali bisa dibuatkan kopi olehmu," kata Rudi.


Dimas pun mengambil kopinya. "Puff!" Dimas kepanasan setelah menyesapnya sedikit.


"Itu masih panas, Nak?" kata ibu mengingatkan.


"Tidak apa-apa, Bibi. Aku merasakan kehangatan kasih seorang ibu, yang kelak juga akan menjadi ibuku, saat menyesap kopi ini panas-panas, he-he," timpal Dimas menutupi rasa malu dan panas yang melanda lidahnya.


"Wah, menyentuh sekali. Kau benar-benar menantu idaman," ujar ibu seraya tersenyum senang.


"Imania, kopimu ini manis sepertimu," kata Rudi.


"Bibi, kopimu juga hangat seperti kasihmu," kata Dimas tak mau kalah.


"Imania, ada rasa cinta yang kau seduh bersama larutan gula dan kopi ini." Rudi berkata lagi.


"Bibi, ada rasa mertua yang kau ciptakan dari perpaduan gula dan kopi ini." Lagi-lagi Dimas ikut memuji.


"Eghem! Eghem!"


Deheman ayah membuat mereka berhenti bicara. Mereka pun segera menyesap kopi tersebut dan meletakkan gelas bersamaan.


"Imania, Paman, dan Bibi, boleh datang ke resto Rudi, gratis makan sepuasnya. Kami siap melayani sepenuh hati." Rudi mulai lagi.


"Nia, Paman, dan Bibi juga boleh menghubungiku jika sakit atau memerlukan penanganan dokter. Dimas siap meluncur sewaktu kalian membutuhkan." Dimas pun mulai lagi.


"Kebetulan, aku tidak mau sakit. Aku lebih suka makan, ha-ha!" kata ayah seraya tertawa.


"Iya, betul, Paman. Paman tidak boleh sakit. Harus tetap sehat, ya? Agar bisa makan tanpa pantangan di restoran Rudi," timpal Rudi.


"Tapi Bibi tidak apa-apa sakit, asal yang mengobati dokter seganteng Nak Dimas," ujar ibu.


"Ibu jangan bilang begitu," larangku seraya menyentuh lengannya.


"Sebenarnya, pacar Ima itu yang mana?" tanya ayah tiba-tiba.


"Saya, Paman." Dimas dengan percaya diri menunjuk dirinya.


"Oh ...," gumam ayah datar.


"Kenapa, Paman? Bukankah, selama janur kuning belum melengkung, Imania bisa menjadi jodoh siapapun?" ujar Rudi yang membuatku terkejut.


"Apa maksudmu?" Dimas menatap Rudi dengan tajam.


"Ya, itu benar. Selama janur kuning belum melengkung, siapapun boleh mendapatkan hati putriku!" ucap ayah tegas.


Dimas sepertinya kalah telak. Rudi pun tersenyum lebar seraya menatapku. Padahal, aku tidak menyukai Rudi. Apakah ... Rudi ternyata menyukaiku?


"Aku akan segera membuat janur kuningnya melengkung, Paman," ujar Dimas.

__ADS_1


Aku pusing mendengar perdebatan mereka. Aku pun berdiri. "Aku mau mandi dulu, ya? Tubuhku lengket sekali."


"Kebetulan, Rudi juga harus kembali ke restoran sekarang." Rudi turut berdiri.


"Dimas juga, harus kembali ke rumah sakit." Dimas pun berdiri.


Mereka berdua pun segera berpamitan dengan ayah dan ibuku. Aku menatap kepergian mereka dengan cemas. Meski mereka pulang dengan mobil masing-masing, tapi aku khawatir Dimas akan melakukan sesuatu terhadap Rudi.


***


Malamnya, Arka diantarkan mas Bastian pulang. Aku rindu sekali pada Arka. Begitupun Arka, dia tak henti memelukku, hingga tertidur. Kuelus rambutnya yang lebat, rambut yang persis mirip dengan milik ayahnya. Kemudian kukecup keningnya lembut, melepaskan tangannya perlahan dari tubuhku.


Setelah itu, aku tiba-tiba teringat Fania. Sedang apa dia? Apa dia baik-baik saja? Gara-gara aku sakit, jadi tidak bisa mengunjunginya di lapas. Oh, lebih baik kuhubungi sekertaris Ve. Aku bangkit dan mengambil handphone-ku di nakas. Kulakukan sebuah panggilan.


"Halo." Suara di seberang telepon.


"Halo, Kak Ve."


"Ya, Imania. Ada apa?"


"Bagaimana kasus Fania? Dimas bilang, kau mengunjunginya setelah mengantarku ke rumah sakit?"


"Oh, itu. Kau tenang saja. Aku sudah menyewa pengacara, sahabatku sendiri, Elza Syarief. Semua akan beres secepatnya. Besok, aku akan mengajakmu pergi mengunjungi Fania. Asal kau sudah benar-benar sehat."


"Aku sudah sehat, Kak Ve? Jemput aku besok. Tapi ...."


"Tapi kenapa, Imania?"


"Bagaimana dengan pekerjaan? Aku sudah bolos sehari."


Terdengar suara tawa melengking sekertaris Ve. Dan itu membuatku merasa heran. Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?


"Kak Ve?"


"Iya, ha-ha!"


"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"


"Tapi Kak."


"Tenanglah. Masalah pekerjaan kau tenang saja. Mau kau bolos sebulan pun, kau tidak akan dipecat. Kedudukanku mungkin lebih tinggi darimu di kantor. Tetapi faktanya, kau adalah kewajibanku sekarang. Segala sesuatu mengenai mu di kantor adalah urusanku. Jadi ... kenyataannya kau adalah majikanku, ha-ha!"


"Jangan berkata seperti itu, Kak Ve. Kau tetaplah atasanku."


"Ya, terserah persepsimu. Oh, ya, Fania baik-baik saja. Kau bisa tidur nyenyak sekarang. Besok pagi aku menjemputmu."


"Baik, Kak."


Panggilan pun berakhir. Aku bisa sedikit lega setelah mendengar informasi dari kak Ve. Saat aku hendak meletakkan handphone ke nakas, tiba-tiba sebuah pesan masuk.


[Hai, selamat malam?]


Nomor tidak kukenal. Aku tidak memiliki kontaknya. Dan tidak ada foto profilnya pula. Jadi, aku tidak bermaksud membalasnya.


[Kok, enggak dibales?] Satu pesan masuk lagi.


[Imania.]


Dia tahu namaku?


[Kau tidak bisa melihat foto profilku, jika kau tak menyimpan kontakku.]


Itu membuatku penasaran. Tapi aku tidak suka menyimpan kontak yang tidak jelas.


[Simpan dulu kontakku. Maka kau akan mengenaliku.]


Aku menghela napas kasar. Iseng-iseng aku menyimpannya dengan nama 'Mr. X'. Aku tidak tahu apa dia wanita atau laki-laki, tapi aku menyimpannya dengan nama itu.


Setelah nomor berhasil tersimpan. Sebuah foto pun muncul. Aku tertawa melihatnya. Oh, ternyata itu kau.


Kubalas pesan. [Bagaimana kau mendapatkan nomorku?]

__ADS_1


[Tuhan yang mengirimkannya lewat mimpiku,] balasnya.


Aku tersenyum membacanya. [Serius?] balasku lagi.


[Iya, aku serius.]


Aku kembali mengingat kejadian tadi siang. Jangan-jangan ... dia mengambil nomorku saat handphone-ku tertinggal di mobilnya.


[Kau mencuri nomorku?]


[Iya. Maafkan aku sudah lancang.] Disertai emot memohon.


[Hm ... iya.]


[Kau tidak marah?] Disertai emot terkejut.


[Tidak.]


[Terima kasih ....] Disertai emot senyum.


[Untuk apa?]


[Karena kau tidak marah.]


[Iya,] balasku.


[Tadi, kau menyimpan kontakku dengan nama apa?] tanyanya.


[Mr. X,] balasku.


[Ganti Mr. R, ya?]


[Iya, nanti.]


[Nanti kau lupa dan tidak membalas pesanku.] Disertai emot cemberut.


[(Emot tertawa)]


[Kenapa tertawa?]


[Tidak apa-apa, Rud.]


[Kau sedang apa?]


[Aku mau tidur, Rud.]


[Ya, sudah. Tidurlah. Terima kasih untuk kopinya tadi siang, ya?]


[Tidak perlu berterima kasih, Rud. Tamu yang datang ke rumahku, sudah pasti kubuatkan kopi.] Kuikuti emot senyum.


[Kalau begitu, aku akan sering-sering ke rumahmu, agar kau buatkan kopi.]


[Di restoranmu lebih enak kopinya.]


[Enak buatanmu, Imania.]


Aku tersenyum membalasnya. Akhirnya, chat pun diakhiri dengan kalimat selamat tidur. Dan aku mengganti nama kontak tersebut dengan nama Mr. R.


Aku tahu Rudi menyukaiku. Tapi aku hanya menganggapnya sahabat. Di hatiku hanya ada 'Dimas', pria yang kucintai selain ayah dan putraku—Arka. Kuharap, aku bisa membatasi perasaan Rudi dengan baik. Karena aku tahu, Rudi hanya tertarik padaku, bukan mencintaiku.


*Kalian tahu apa itu cinta? Cinta dan ketertarikan itu beda tipis. Alurnya, tertarik dulu baru timbul rasa cinta. Bedanya, tertarik itu berawal dari rasa penasaran. Sedangkan cinta berawal dari rasa ingin memiliki.


— Thamie AK* —


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Have a nice dream, Readers terKeceh ...! Besok sambung lagi, ya? Kita jemput Fania di lapas. Kalian sudah kangen, kan, sama Fania? Sama, Author juga. So, stay on!


Thank you ...!

__ADS_1


__ADS_2