
Hola, para penduduk Mangatoon yang Keceh nan Membadai!
Masih punya stok tissue, kan?
Kemarin ada yang minta. "Kak Keceh, beliin tissue, donk?"
Ada juga yang bilang. "Kak, tissue-ku habis sekotak."
Aduhae, andai kalian deket, nih. Atau Author Keceh punya pintu ajaibnya Doramemon. Udah pasti kukasih satu-satu. WKWK.
By the way, masih sanggup mewek, kan?
Yuk, mewek lagi. Selalu siapkan tissue sebelum membaca, ya?
Yuk, simak torehan pena Author Keceh nan Melankolis, yang karyanya mengobrak-abrik hati. Yang kadang kala bisa bikin mewek sampai nangis-nangis. Kadang juga bisa bikin gigi kalian meringis.
Selamat membaca! Tissue, oh, tissue!
_____________________________________________
"Fa-Fania ... di-dia ...."
"Ya, dia putriku."
Aku masih menatap pak Wibowo tak percaya. Fania adalah putri pak Wibowo. Dia anak dari hasil cintanya dengan wanita bernama Arumi. Jadi ... dugaanku benar? Itulah mengapa mereka memiliki foto yang sama. Itulah mengapa pak Wibowo selalu memperhatikan Fania. Lalu ... apa hubungannya dengan sekertaris Ve? Mengapa semasa muda, mereka berdua sangat mirip?
Pak Wibowo mengulurkan hasil tes DNA tersebut padaku yang masih terpaku. Aku pun membacanya masih dengan terkejut. Ya, benar. 'Surat Identifikasi DNA' tersebut menyatakan bahwa Fania adalah putri kandung pak Wibowo. Jadi ... dia adalah kakak tiri perempuan dari Dimas?
Pintu ruangan terbuka. Sekertaris Ve masuk bersama Dimas dan Nessa di belakangnya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya sekertaris Ve langsung kepada dokter yang berdiri di sampingku.
"Akibat benturan yang cukup keras. Pasien mengalami cedera pada kepala yang sangat serius. Dan itu menyebabkan pendarahan di otak. Untuk sementara ... saya belum bisa memastikan apakah ini bisa diselamatkan. Kebanyakan pasien tidak dapat bertahan dalam kondisi hematoma berat seperti ini."
"Lakukan yang terbaik, Dok! Kumohon ... dia sudah sangat menderita. Kumohon ...." Sekertaris Ve memohon kepada dokter yang menangani Fania.
"Kami sudah melakukan operasi untuk menghentikan pendarahan di otak. Akan tetapi ... saya tidak menjamin pasien akan dapat terselamatkan. Jika pun pasien siuman, saya juga tidak yakin otaknya dapat berfungsi secara normal. Dan ... kemungkinan untuk melewati masa-masa kritis ini sangat kecil," papar dokter tersebut.
"Dokter, kerahkan seluruh dokter spesialis. Saya akan bayar berapa pun biayanya. Selamatkan putriku!" pinta pak Wibowo dengan mata berkaca-kaca.
Dimas dan Nessa mengalihkan pandangannya kepada pak Wibowo. Mereka tampak sangat terkejut atas pernyataan pak Wibowo, yang mengatakan bahwa Fania adalah putrinya.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Pak. Mohon agar semuanya bersabar dan tabah. Berdoalah kepada Yang Maha Kuasa, segala sesuatu yang terjadi adalah atas takdirnya. Kami para dokter hanyalah perantara saja. Tentang kesembuhan pasien itu kembali lagi di tangan Tuhan. Berdoalah, meminta keajaiban kepada Tuhan," kata sang dokter.
"Ayah, apa yang kau katakan tadi?" tanya Dimas sembari mendekatkan dirinya pada pak Wibowo.
Pak Wibowo menunduk sesaat, seperti tengah mengambil keyakinan dalam hatinya untuk mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ayah, apa ... apa yang kau katakan? Di-dia ...." Dimas menunjuk Fania yang tengah terbaring tak berdaya.
Pak Wibowo mengangguk. "Ya, dia adalah putriku. Dia putri kandungku. Dia adalah kakak tirimu."
Dimas dan Nessa sama-sama terkejut mendengar pernyataan dari pak Wibowo.
"Tidak. Itu tidak mungkin. Ini salah. Tidak mungkin," ucap Dimas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini hasil tes DNA mereka," ucapku sembari menyodorkan selembar kertas berisi pernyataan kecocokan genetik antara pak Wibowo dan Fania.
Dimas pun berbalik padaku dan membaca surat tersebut. Kemudian ia kembali menghadap ayahnya. "Ayah, bagaimana mungkin ini terjadi?"
"Maafkan ayah, Nak. Sebenarnya ... sebelum menikahi ibumu. Aku sudah menghamili seseorang. Ibunya Fania."
Dimas menatap pak Wibowo tak percaya atas semua ini. Tangannya mengepal erat. Rahangnya mengeras. Mata elangnya menatap tajam pada ayahnya. "Jadi ... kau mengkhianati mama?!"
Dengan penjelasan dari pak Wibowo, Dimas pun mengetahui segalanya. Tentang kisah pak Wibowo dengan Arumi. Tentang Fania, kakak tirinya. Dan ... tentang sekertaris Ve, yang juga aku baru mengetahuinya. Bahwa sekertaris Ve adalah saudara kandung ibunya Fania. Sekertaris Ve adalah kakak dari Arumi.
***
Kami keluar dari ruang ICU, kecuali pak Wibowo yang masih terus menjaga Fania di sampingnya.
Di depan ruang ICU, sekertaris Ve tiba-tiba memelukku dan menciumi pipiku berkali-kali.
"Imania, maafkan aku ... aku baru bisa memelukmu. Aku lupa kalau kau tengah berduka," ucap sekertaris Ve sembari terisak.
"Jika aku bisa melawan takdir. Aku ingin putraku kembali. Tetapi aku sadar, keputusan Tuhan tidak dapat diganggu gugat," ucapku lirih.
"Ya, Tuhan. Matamu bengkak sekali. Sudah berapa banyak air mata yang kau keluarkan, Sayang. Suaramu sampai hampir hilang juga. Tabahkan hatimu, Imania." Sekertaris Ve kembali memelukku.
"Yang kuat, ya," ucap sekertaris Ve sembari menepuk-nepuk punggungku lembut.
Setelah kami saling melepaskan pelukan. Pandanganku tertuju kepada Dimas dan Nessa yang juga berdiri di dekat kami. Untuk beberapa detik, mataku dan Dimas saling bertemu. Namun, Nessa segera meraih jemari tangan Dimas, menggenggamnya erat.
Aku pun berpamitan untuk pulang pada sekertaris Ve.
***
Aku berniat untuk mengambil beberapa barang di rumahku. Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke rumahku terlebih dahulu. Kupesan taksi online untuk mengantarku ke sana.
Sesampainya di depan rumah, aku berdiri di depan pintu gerbang. Wajah ceria Fania dan Arka saat berlari membeli es krim terbayang lagi di otakku. Saat mereka berlari menyambutku pulang dari bekerja. Dan saat kami berpamitan, ketika akan pergi ke Bali. Arka memelukku erat sekali, seakan tidak ingin melepaskanku pergi.
Masih sangat jelas terputar di memoriku, ketika Arka, Fania, dan Rudi melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum pada mereka. Aku tidak merasa ada firasat aneh pada saat itu. Kupikir, ini hanyalah perpisahan biasa. Perpisahan sementara antara aku dan putraku. Tidak menyangka, itu adalah perpisahan terakhir kami. Juga ... senyuman terakhir dari wajah putraku.
Tak terasa juga bulir-bulir bening kembali menetes membasahi pipiku. Aku terisak di depan pintu gerbang. Kubuka pintu gerbang tersebut dengan air mata yang terus mengalir.
Sebenarnya ... aku tidak begitu kuat untuk masuk ke dalam rumah ini. Rumah ini terlalu sesak akan kenangan-kenangan indah bersama putraku. Akan tetapi ... aku harus mengambil sesuatu dari kamar Fania.
__ADS_1
Kulangkahkan kaki menuju pintu rumah. Dengan langkah yang terus dialiri embun mata yang basah. Aku kembali terisak di depan pintu. Masih tertinggal bayangan Arka yang berlarian kecil di halaman rumah. Ia tertawa begitu riangnya bercanda bersamaku dan Fania. Ia begitu semangat, ketika mendengar kata, 'jalan-jalan'. Kini ... dia bisa jalan-jalan begitu bebas dan riang di surga.
Kuambil kunci dari tas. Kubuka pintu rumah itu. Dan terbukalah seluruh kenangan yang menyelimuti atmosfer hunian ini. Aku masuk sembari menatap sekeliling. Dan ... selalu saja. Ada bayangan Arka yang berlarian kecil mengejar Fania. Kemudian aku menangkapnya dan menggendongnya menuju kamar.
Aku tertawa geli ketika ia berkata, "Turunkan aku Mama? Arka bukan anak kecil! Arka sudah besar!" Dia selalu menganggap dirinya dewasa. Dia begitu lucu ketika mengelak dipanggil anak kecil.
Kemudian aku berjalan menuju ruang makan. Kutahan langkahku sejenak. Tanganku menopang tubuhku ke dinding. Aku masih ingat jelas, kebersamaan dan kehangatan kami bertiga, aku, Arka, dan Fania, ketika duduk dan makan bersama.
Mereka begitu antusias menyantap makanan hasil masakanku. Arka dan Fania selalu bilang, bahwa masakanku enak sekali. Mereka sangat menyukai masakanku. Meja makan memiliki kenangan indah tersendiri bagi kami.
Aku kembali beranjak menuju meja makan. Kusingkap penutup saji dari atas meja. Di situ tersisa makanan-makanan basi. Beberapa menu makanan yang sepertinya dibawa oleh Rudi dari restoran. Sepeninggalku, Fania pasti tidak memasak. Tentu Rudi yang membawa makanan dari restorannya.
Aku terisak melihat makanan-makanan yang telah berbau menyengat itu. Baru beberapa hari kami meninggalkan rumah ini. Semuanya langsung berubah. Sepi. Hening.
Kuambil piring-piring berisi makanan basi tersebut. Kubawa ke wastafel untuk mencucinya. Air mataku terus mengalir, seakan ikut turun untuk mencuci piring-piring kotor. Mengingatkanku kembali, saat pertama kali sekertaris Ve makan di sini dan mengumumkan bahwa aku telah menjadi manager. Semua tampak gembira. Semua memberi selamat padaku. Dan kini ... jabatan itu tiada arti lagi. Aku telah kehilangan hartaku paling berharga. Semangat hidupku untuk bekerja. Putraku, Jagoan Kecilku, Arka.
Selanjutnya, aku berjalan menaiki tangga. Tangga yang biasanya terasa pendek itu, kini tiba-tiba terasa panjang dan sangat melelahkan. Aku seperti ... tengah mendaki masa lalu. Kaki dan hatiku benar-benar ekstra menahan beban pilu.
Tempat pertama yang kutemui di lantai atas adalah, sofa ruang keluarga. Tempat di mana itu adalah favorit kami. Kami selalu bersantai, bercanda bersama di tempat ini.
Aku masih teringat jelas, ketika Arka sedang duduk di sofa. Kami tengah bersantai di sore dan malam hari sembari menikmati camilan dan juice. Sedangkan Fania tengah asyik menikmati camilan dan softdrink favoritnya. Kami asyik bercanda. Atmosfer yang sangat hangat dan menyenangkan.
Kujatuhkan tubuhku di sofa. Lalu mataku tertuju pada setumpuk puzzle milik Arka, yang tergeletak di bawah meja. Kurauk beberapa puzzle tersebut, membawanya naik ke pangkuan. Lagi-lagi wajah ceria Arka muncul. Saat ia tengah asyik bermain puzzle dengan begitu seriusnya.
Dadaku sesak, terisak meronta-ronta. Arkaku telah pergi. Arkaku telah bersama para bidadari. Aku berdoa, semoga di surga, Arka bisa bermain puzzle yang sama. Puzzle kesukaannya.
"Sayang ... Arka sedang apa sekarang? Apa Arka bahagia berada di surga. Mama kangen. Mama kangen sekali sama Arka."
Kuseka air mataku dengan tissue yang kuambil dari atas meja. Tissue yang biasa kami gunakan untuk membersihkan tangan dan mulut, usai makan camilan sembari menonton televisi.
Arka adalah putraku yang sangat mandiri. Dia tidak pernah rewel. Dia adalah anak yang sangat pengertian. Dia juga penurut. Bahkan, jika ia mengantuk. Ia selalu tidur di pangkuanku.
Kualihkan pandangan ke arah pangkuan. Tiba-tiba sosok Arka terbayang jelas.
"Mama, Arka mengantuk."
Kuusap punggungnya, lalu memijatnya pelan. "Tidurlah, Sayang."
Dan ... dia benar-benar tertidur di pangkuanku.
"Sekarang ... Arka sudah tidur di surga. Selamat tidur, sayang ...." Kuseka kembali air mataku dengan tissue.
Setelah puas mengenang Arka di ruang favorit kami. Aku menuju kamarku. Dan aku kembali teringat akan dirinya. Saat Arka tidur pulas, berbaring di sebelahku. Aku selalu mengelus rambutnya yang lebat. Dan menciumi keningnya lembut. Mendoakannya, agar kelak dia bisa menjadi anak yang hebat, anak yang kuat, anak yang berbakti kepada orang tua.
"Sekarang ... kau sudah cukup menjadi putraku yang hebat, putraku yang kuat, dan putraku yang berbakti. Semoga Arka tenang berada bersama Allah, ya ...."
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1