BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Di Rumah Dokter Elang


__ADS_3

Mobil melaju cepat.


"Hati-hati, Di!" Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku tak pernah menyebut namanya. Kepanikan membuatku lupa, bahwa aku sedang berusaha keras mengenyahkan dirinya.


Dokter itu tetap fokus mengendalikan stir mobilnya. Arka sudah lebih tenang. Dia hanya diam dalam pangkuanku.


Dokter itu menghentikan laju mobil di depan rumah mewah, berhalaman cukup luas. Dibunyikannya klakson. Tidak lama, seorang lelaki berseragam satpam itu membukakan gerbang.


"Mengapa kita ke sini?" Aku menatapnya bingung. Mobil pun berhenti tepat di depan rumah.


"Turunlah!" suruhnya seraya melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


"Tunggu!" Refleks kutahan lengan kekarnya. "Maaf."


Tersungging senyum di bibirnya. "Apa kamu lupa?"


"Apa?"


"Aku seorang dokter."


"Tapi ... kamu ... bukan dokter anak, kan?" Aku menatapnya ragu.


Dia tertawa kecil. "Tetap saja aku seorang dokter."


"Tapi?"


"Ayo, turunlah!"


Sebenarnya aku tidak yakin. Tetapi, dia benar. Dia juga seorang dokter. Kami pun turun, mengikuti langkah dokter elang.


Aku terpana melihat halaman rumah ini yang luas. Rumah ini sangat besar. Mungkinkah ini rumah milik dokter elang?


"Di. Ma-maksudku ... Dok." Kuhentikan langkah tepat di depan pintu.


"Aku senang kau mengingat namaku."


Kuembus napas dalam. "Ini rumahmu?"


Ia membalikkan tubuhnya, satu meter di hadapanku. "Menurutmu?"


Kupalingkan mataku dari tatapannya.


Lagi-lagi ia tersenyum melihat ekspresi masa bodo di wajahku.


"Masuklah!" Seraya membuka pintu. "Kamu mau minum apa?"


"Aku tidak ingin apa pun! Aku hanya ingin kau periksa anakku!"

__ADS_1


"Kalau begitu, bawa Arka ke kamar."


"Apa kau gila?" Aku merasa ada tujuan tertentu, dokter ini membawaku kemari. Jangan-jangan dia ada maksud buruk.


"Kamu mau anakmu diperiksa atau tidak?"


Sesaat kuterdiam. Mencoba berprasangka baik terhadapnya. "Baiklah. Cepat periksa Arka!"


Arka masih diam dalam gendonganku. Dokter itu membawa kami menuju sebuah kamar di lantai atas. Kunaiki tangga yang berkelok, membuat kakiku lemas.


"Capek?" Menatapku yang tertinggal jauh di bawah. "Ini belum seberapa, Nia. Jalan yang akan kita lalui, lebih berliku nantinya."


"Kau gila!" umpatku.


Kuteruskan menapaki satu per satu anak tangga. Sampailah kami di sebuah kamar. Kubaringkan Arka di atas kasur yang sangat empuk itu. Kamar ini sangat luas.


Dokter itu keluar dari kamar. Dan tak lama ia pun kembali dengan membawa sebuah kotak berisi peralatan medis.


Meski sempat meragukannya. Memperhatikan dokter elang, yang tengah memeriksa anakku, melukis secercah kekaguman.


"Nia ... Arka hanya terkilir." Dipijatnya punggung kaki Arka lembut dengan jari-jarinya.


"Sakit ...." Arka mengerang kesakitan.


"Di!" Kutatap dokter itu agar memelankan pijatannya.


***


Suara adzan berkumandang.


Hari berganti malam. Aku lupa mengabarkan Mas Bastian, tentang Arka, dan keberadaanku di sini. Arka tertidur setelah kakinya pulih. Mungkin tubuhnya sudah enakkan.


Bagaimana ini? Jika memberi tahunya, aku tak yakin dia tidak curiga. Apa lagi, di rumah ini hanya ada Aku, Dimas, dan Arka. Apa lebih baik aku diam saja?


Kuputuskan untuk shalat Maghrib terlebih dahulu.


***


Sudah pukul tujuh malam. Arka tak kunjung bangun. Biasanya, Mas Bastian pulang pukul delapan. Aku harus ada di rumah sebelum pukul delapan. Lebih baik kubangunkan saja Arka.


Baru saja menggoyang tubuh Arka agar dia terbangun, dokter itu masuk


"Biarkan saja. Sebentar lagi Arka bangun, kok."


"Aku harus pulang, Di."


"Ya, aku tahu." Seraya meraih lenganku.

__ADS_1


"Di! Lepaskan!" Kutarik lengan ini kasar. "Jangan sentuh aku."


"Ikut aku!"


"Tidak mau!"


"Kalau begitu aku memaksa." Sambil mencoba meraih pergelangan tanganku.


Dengan terpaksa kuturuti langkahnya. Ia membawaku ke balkon. Di sini udaranya sejuk. Ia melepas tanganku pelan. Kami berdiri, memandang langit. Apa indahnya? Tiada bintang. Hanya tampak separuh sinar bulan, separuhnya lagi yang tertutup awan hitam.


Dia masih diam. Menatap langit, kemudian menutup kelopak matanya. Senyum tipis-tipis bertengger di wajahnya yang tampan. Entah apa yang dipikirkannya.


Perlahan kelopaknya terbuka. "Nia."


"Hm ...."


"Kamu tahu kenapa aku membawamu kemari?" Bertanya seraya menatap langit hitam.


"Itu karena ... aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," lanjutnya.


"Rumah ini luas, besar, mewah, kan?" Dia menoleh. "Tapi sepi. Sangat sepi."


Kulihat binar kesedihan di mata elangnya. Namun, aku sama sekali acuh.


"Lihat ... langit itu gelap. Tiada bintang. Kamu tahu kenapa?" Ditengadahkannya kepala ke atas. "Karena bintang itu sudah pergi."


Diam lagi.


"Sama halnya hidupku." Dihadapannya tubuh atletis itu ke arahku. "Bintangku sudah pergi meninggalkanku."


Aku menyeringai. "Bukankah masih ada bulan?"


"Aku tidak suka bulan."


"Kenapa? Sinarnya lebih terang. Bulan lebih besar, dan lebih menonjol dibandingkan dengan bintang."


Sudut bibirnya terangkat. "Sinar bulan memang jauh lebih terang. Tetapi tidak lebih berarti dari sinar bintang."


"Bodoh!"


"Aku memang bodoh! Sudah meninggalkan bintang, membiarkannya pergi menjauh dariku. Seharusnya aku tidak gegabah. Kini ... tanpanya, gelar dokterku jadi tak berarti apa-apa. Bintangku sudah pergi menjadi milik orang lain. Tapi ... entah mengapa ... kurasa ia dekat."


Didekatkannya tubuh itu. Aku terus mundur, hingga terpojok ke tembok.


"Di ... apa yang kamu lakukan?" Jantungku berdegup kencang ketika kedua tangan itu mengunci tubuhku ke tembok.


"Nia ... boleh kutanya sesuatu? Jawablah jujur!"

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2