
Nessa berjalan menghampiriku dengan tatapan tajam. Dimas pun segera berdiri, menarik tubuhnya agak menjauh dariku. Sampai di dekatku, Nessa langsung mendampratku.
"Kau! Kau adalah pelakor!!" hardikknya seraya melayangkan telunjuknya yang lentik ke depan wajahku.
"Nessa, jangan seperti ini!" Dimas menarik lengan Nessa agar menjauh dariku.
Nessa mengalihkan pandangannya pada Dimas. "Sebegitu tegakah kau padaku? Jadi, apa arti semua ini?"
"Nessa, kumohon ... tenanglah!" Dimas mencoba menenangkan amarah Nessa.
"Tenang kau bilang? Kau pikir aku ini siapa? Aku ini tunanganmu! Dan kau!" Nessa melayangkan telunjuknya ke depan wajah Dimas. "Kau keterlaluan!"
Nessa pun berbalik, kembali menatapku. Ia berjalan menghampiriku. "Imania, kau pelakor!!"
"KAU PELAKOR!!" teriak Nessa seraya melayangkan telunjuknya lagi padaku.
"Bukan, aku bukan pelakor!"
"KAU PELAKOR!!"
"Bukan, aku bukan pelakor!" Aku terus membantah sebutan pelakor itu terhadapku.
"Tidak, Imania. KAU PELAKOR!!"
"AKU BUKAN PELAKOR!!" Aku berteriak keras pada Nessa.
Tiba-tiba Nessa memegangi dadanya seraya terisak. Aku memperhatikan raut wajah Nessa seperti sedang menahan rasa sakit.
"Nia, apa yang kau lakukan!" Dimas tiba-tiba menarahiku. "Seharusnya kau tidak berkata kasar seperti itu!"
Kasar? Siapa yang kasar di sini? Bukankah Nessa yang memulai duluan? Dimas ... apa yang terjadi padamu? Mengapa kau justru membela Nessa?
Napas Nessa tiba-tiba tersengal-sengal. Ia masih memegangi dadanya. Dan ... Nessa tiba-tiba jatuh. Untungnya Dimas segera menangkap tubuhnya. Dimas pun panik dan segera menggendong Nessa yang sudah tak sadarkan diri.
"Nia!" Dimas menatapku tajam, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi bibirnya menahannya.
"Di-Dimas ...." Aku memanggilnya lirih, menatapnya tak mengerti.
Dimas pun beranjak dari kamar rawatku. Dia menggendong Nessa dan membawanya keluar dari kamar rawatku.
Aku menatapnya heran. Di sini aku yang disalahkan, padahal Nessa yang bicara kasar padaku. Apa aku harus diam? Apa aku tidak berhak membantah? Dan mengapa Dimas justru membela Nessa?
Apa kembali teringat kata-kata Nessa waktu itu .... (Episode 85)
"Kemarin Dimas menemuiku. Dia mengatakan padaku untuk membatalkan pertunangan kami. Kau tahu, kan? Aku sangat mencintainya! Aku sangat mencintainya, Imania!"
"Kau sangat jahat, Imania! Kau ingin menghancurkan kebahagiaanku! Kau jahat!"
"Apa aku egois? Aku juga bisa membahagiakan Dimas. Aku bisa menjadi istri yang baik untuknya. Dan aku juga bisa menjadi seperti yang dia inginkan. Apapun itu!"
"Lalu apa maumu? Kau ingin aku yang berkorban demi kalian? Kau ingin aku membatalkan pertunangan kami? Tidak! Jangan harap! Asal kau tahu! Keluarga Dimas sangat menyayangiku. Dan kau, hanyalah seorang janda, yang tidak mungkin bisa diterima oleh keluarga Dimas! Kau harus tahu itu!"
"Satu lagi! Kau harus camkan ini! AKU TIDAK AKAN MEMBATALKAN PERTUNANGANKU DENGAN DIMAS!!"
Kalimat-kalimat itu, kembali terngiang di pikiranku. Apa Nessa sebegitunya mencintai Dimas? Mengapa dia terus mengejar Dimas? Bukankah Dimas hanya mencintaiku? Akan tetapi, kenapa Nessa selalu merasa kesakitan seperti itu saat emosi? Apa yang terjadi pada diri Nessa? Apa dia hanya berakting, agar Dimas memperhatikannya?
Sejujurnya, aku merasa kesal terhadap Dimas. Seharusnya dia membelaku. Sekarang ... dia pergi meninggalkanku sendirian demi Nessa. Apa sebaiknya aku pergi saja dari sini? Kehadiranku akan mengganggu ketenangan mereka. Dimas ... tidak tahukah kau? Aku cemburu.
Kulepaskan paksa selang infus yang menancap di tanganku. Kuambil tas dan kupakai sepatu pantofelku. Kemudian aku beranjak dari kamar tempatku dirawat. Bergegas keluar dari rumah sakit ini. Biar saja Dimas mengkhawatirkanku. Agar dia tidak terus menerus mengkhawatirkan wanita itu. Aku lelah memahaminya.
Akhirnya, aku berhasil keluar dari rumah sakit ini. Aku terus berjalan kaki. Biasanya aku tidak pernah bingung untuk bepergian bila ada Fania. Namun, saat ini ... aku merasakan betapa berartinya Fania untukku. Ia yang selalu siap menjemputku dimanapun dan kapanpun itu.
Fania ... semoga kau lekas kembali. Saat mengingat Fania, tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Jalanan terik sekali. Aku mengambil handphone dari tasku. Kutatap layar handphone, pantas saja, ini pukul satu siang. Oh ... aku memesan ojek online saja.
__ADS_1
Kuhubungi ojek online yang dulu sering mengantarku bepergian. Aku pun segera mencari tempat untuk berteduh. Mataku menatap sekeliling. Ah, lebih baik aku menunggu ojek di sana.
Aku berjalan menuju sebuah minimarket. Dan duduk di depan minimarket. Kukirim share location kepada tukang ojek online yang sedang menuju ke sini.
Aku sudah menunggunya selama sepuluh menit. Kenapa lama sekali? Kepalaku masih pusing. Aku pun kembali menelepon tukang ojek tersebut.
"Halo, Pak. Kenapa lama sekali?"
"Sebentar, sepuluh menit lagi sampai, kok?"
"Sepuluh menit lagi? Apa kau belum berangkat menuju ke sini?"
"Iya, ini sedang berangkat!" Terdengar suara motor di-starter. "Maaf, tadi bannya bocor!"
Aku menghela napas kasar. "Baiklah."
Kututup telepon, kembali menunggu ojek datang menjemput. Saat aku sedang fokus mengatur napas, karena kepalaku terasa semakin pusing, tiba-tiba sebuah mobil muncul. Aku memandang ke arah seseorang yang tengah turun dari mobil tersebut.
"Imania, sedang apa kau duduk di sini?"
"Aku sedang menunggu ojol, Rud. Kau sendiri mau belanja kah?"
"Kebetulan saja aku lewat. Dan melihat bidadari yang sedang duduk di depan minimarket," katanya seraya tersenyum.
"Kau bisa saja menggombal."
Rudi pun duduk di sebelahku. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya seraya memandangiku.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi wajahmu pucat. Apa kau sakit?" Rudi menatapku dengan penuh perhatian.
Aku menggeleng. "Tidak, kok?"
"Sebentar. Tunggu di sini, ya?" Rudi berdiri dan beranjak masuk ke minimarket.
"Ayo, minum ini, ya?" Rudi pun menyodorkan tablet vitamin itu padaku, dan mengeluarkan sebotol air mineral dari kantong plastik tersebut.
"Tidak usah repot-repot, Rud?"
"Minumlah! Aku bukan dokter seperti Dimas, yang tahu tentang obat dan vitamin yang kau butuhkan. Namun, aku selalu siap memberikan apapun yang kau butuhkan, sebisaku," katanya lembut seraya tersenyum.
Aku pun menanggapinya seraya tersenyum. "Terima kasih, Rud."
Rudi membukakan vitamin tersebut dari bungkusnya. Kemudian memberikannya padaku. Aku pun segera meminumnya.
Tiba-tiba ojek yang kupesan datang. Aku pun bangkit dan berpamit kepada Rudi.
"Rud, aku pulang dulu, ya?"
"Em ... tunggu!" Rudi menahan lenganku.
"Maaf ...," katanya seraya melepaskan tangannya dari lenganku.
Rudi pun berdiri dan beranjak menghampiri ojek online pesananku. Kemudian ia meraih dompet dari saku celananya. Beberapa lembar uang bergambar Ir. Soekarno diberikannya kepada tukang ojek tersebut.
"Pak, dia akan pulang bersamaku. Jadi, ini, ambillah sebagai gantinya."
"Wah, ini banyak sekali, Mas."
"Tidak apa-apa. Ini rejeki Bapak dan keluarga Bapak. Ambillah!"
Tukang ojek tersebut pun menerima uang pemberian Rudi dengan mimik sangat bahagia. "Terima kasih banyak, Mas. Semoga Allah SWT selalu melindungi Mas dan selalu memberkati Mas."
__ADS_1
Setelah itu, tukang ojek pun pergi. Dan Rudi mengajakku untuk naik ke mobilnya. Rudi membukakan pintu mobil tersebut untukku, kemudian ia mengambil sesuatu yang tergeletak di depan minimarket. Dan ia pun segera masuk ke mobil.
"Ini handphone-mu!" katanya seraya menyerahkan handphone tersebut padaku.
"Oh, iya, aku sampai lupa. Terima kasih."
Rudi hanya membalas ucapan terima kasihku dengan senyuman.
"Apa kau mau langsung pulang?" tanyanya.
"Ya, aku mau pulang saja."
"Baiklah."
Rudi pun menyalakan mobilnya. Kemudian membawa mobilnya meninggalkan tempat ini.
"Imania, sebenarnya kau dari mana, sih?" tanya Rudi.
"Oh, aku ...."
Belum sempat menjawab pertanyaan Rudi, handphone-ku berdering. Kutatap layar handphone. Dimas meneleponku. Dia pasti sudah tahu kalau aku pergi dari rumah sakit. Sebenarnya aku masih kecewa padanya. Tetapi jika aku tidak mengangkatnya, dia pasti cemas.
"Halo," jawabku tak bersemangat.
"Kau dimana?" tanyanya.
Aku pun diam.
"Halo, Nia?"
"Tidak usah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja."
"Kau dimana?" tanyanya dengan suara cemas.
"Aku pulang."
"Nia, aku ... aku ingin meminta maaf ...."
"Imania, apa kau mau mampir ke restoranku terlebih dahulu?" Tiba-tiba Rudi bicara dengan cukup keras. Dan itu membuatku terkejut.
"Siapa itu?" Dimas pun terdengar terkejut.
"Ah, itu ... hanya ...." Aku tidak boleh jujur. Dimas tidak akan menerima alasanku.
"Imania, aku baru saja menghidangkan menu baru. Kau harus mencobanya!" Lagi-lagi Rudi berkata dengan suara lantang.
"Nia! Kau bersama si berengs*k itu?!"
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Hai, hai, Readers Keceh Sedunia ...!
Sudah tahu, kan, pengumuman GIVE AWAY!
Yuk, ikuti terus kisah BUKAN PELAKOR ini, ya?
Wah, Author Keceh selalu siap dan berusaha UP setiap hari demi memenuhi request kalian, loh?
Maaf, ya, Author belum bisa CRAZY UP lagi?
Semoga kalian selalu setia dan semangat mengikuti kisah IMANIA ya?
__ADS_1
Oh, ya? Untuk Cast Piguran masih terus berjalan dan dilengkapi.
THANK YOU ...!